Melihat Yesus di Awan Kehidupan
My Utmost (B. Indonesia)
Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan ... — Wahyu 1:7
Renungan hari ini mengatakan bahwa awan-awan dukacita, yaitu penderitaan, sering datang dalam kehidupan kita. Yang kita rasakan benar-benar tampak berkontradiksi dengan kedaulatan Tuhan (yang berkuasa, yang mengasihi, dll.). Namun, melalui awan-awan ini, Roh Tuhan mengajar kita dalam iman. Dan, yang penting apakah kita tetap melihat Yesus dalam awan-awan tersebut?
Melihat Yesus di Awan Kehidupan
Dalam Alkitab, awan-awan selalu dikaitkan dengan Tuhan. Awan-awan adalah dukacita, penderitaan atau situasi kemujuran (providential circumstances), di dalam atau di luar kehidupan pribadi kita, yang benar-benar tampak berkontradiksi dengan kedaulatan Tuhan. Namun, adalah melalui awan-awan ini Roh Kudus mengajar kita cara berjalan dengan iman. Jika awan-awan tidak pernah ada dalam hidup kita, kita tidak akan mempunyai iman. “Awan adalah debu kaki-Nya” (Nahum 1:3). Awan-awan itu menandai bahwa Tuhan hadir.
Hanyalah pengungkapan yang membuat kita dapat mengetahui bahwa dukacita, perkabungan dan penderitaan sebenarnya adalah awan-awan yang datang bersama Tuhan! Tuhan tidak dapat datang mendekati kita tanpa awan-awan -- Dia tidak datang dalam langit cerah bersih tanpa awan.
Tidaklah benar untuk mengatakan bahwa Tuhan ingin mengajarkan sesuatu di dalam pencobaan kita. Melalui setiap awan yang didatangkan-Nya, Dia ingin kita belajar melupakan atau melepas (unlearn) sesuatu. Maksud Tuhan menggunakan awan ialah untuk “menyederhanakan” kepercayaan kita sampai hubungan kita dengan Dia sama seperti yang ada pada seorang anak kecil -- hanya hubungan antara Tuhan dan jiwa kita sendiri, sedangkan orang lain hanya bagaikan bayang-bayang. Sebelum orang lain menjadi bayang-bayang bagi kita, maka sesekali awan dan kegelapan akan menjadi bagian kita.
Apakah hubungan kita dengan Tuhan menjadi semakin sederhana dibanding sebelumnya?
Ada kaitan antara situasi “kemujuran aneh” (strange providential) yang diizinkan Bapa dengan hal yang kita ketahui tentang Dia, dan kita harus belajar untuk mengerti akan rahasia kehidupan menurut terang pengetahuan kita tentang Tuhan .
Sebelum kita dapat berhadapan langsung dengan fakta kehidupan yang terdalam dan paling gelap tanpa merusak pandangan kita tentang sifat Bapa, maka kita sesungguhnya belum mengenal Dia.
“Ketika mereka masuk ke dalam awan itu, takutlah mereka” (Lukas 9:34). Adakah orang lain, kecuali Yesus dalam awan Anda? Jika demikian, keadaan akan menjadi semakin gelap sampai Anda masuk di tempat di mana “tidak ada seorang pun, kecuali Yesus” (lihat Markus 9:8; lihat juga ayat 2-7).*
*meneruskan dari renungan My utmost, Oswald Chambers
Note
Ada bagian yang sulit dimengerti dalam “My Utmost” hari ini, mungkin karena kedalaman materinya, sehingga memang tidak mudah ditangkap. Pertama pengertian “strange providential” (yang kita coba terjemahkan sebagai “kemujuran aneh”) yang diizinkan oleh Tuhan”. Kedua, pengertian “sebelum orang lain menjadi bayang-bayang (shadows) bagi kita”. Please, any comment? (Admin)
Komentar
Posting Komentar