PYONGYANG 1907: KETIKA API KEBANGUNAN ROHANI MENYALA DI KOREA

PYONGYANG 1907: KETIKA API KEBANGUNAN ROHANI MENYALA DI KOREA

Shalom, Bpk Ibu, para sahabat dan poro dulur, 

Pyongyang, adalah ibu kota Korea Utara. Jika melihat Korea Utara sekarang ini, hanya ada sedikit sekali kekristenan, tetapi di Pyongyang pernah terjadi kebangunan Rohani besar, sehingga dijuluki sebagai  Jerusalem of the East.
Revival ini terjadi pada tahun 1907. Saat itu, Korea Utara dan Selatan belum terpisah. Korea masih merupakan satu negara dengan Seoul sebagai ibu kotanya. Bahkan, sebelum Korea terbagi pada 1945, jumlah orang Kristen di bagian utara diperkirakan lebih besar daripada di bagian selatan. Tetapi sekarang berbeda.
Pada awal abad kedua puluh, seorang dokter dan misionaris Methodist asal Kanada bernama Robert Alexander Hardie (1865–1949) melayani di Wonsan, Korea.
Hardie telah bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi ia merasa pelayanannya tidak menghasilkan buah sebagaimana yang diharapkannya. Dalam sebuah pertemuan doa dan pendalaman Alkitab pada 1903, Hardie mengalami pergumulan rohani yang mendalam.
Ia menyadari bahwa persoalannya bukan hanya terletak pada orang-orang yang dilayani, melainkan juga dalam dirinya sendiri. Ia mengakui kesombongan, sikap "lebih super" sebagai orang Barat, dan kurangnya kasih terhadap masyarakat Korea.
Hardie kemudian mengakui kesalahannya secara terbuka di hadapan para misionaris dan orang-orang Korea yang dilayaninya.
Peristiwa ini menggugah banyak orang. Seorang misionaris yang biasanya mengajar orang lain justru merendahkan dirinya dan mengakui bahwa ia sendiri membutuhkan pembaruan oleh Roh Kudus.
Pengakuan tersebut diikuti oleh pertobatan dan pembaruan kehidupan orang-orang percaya. Mereka mulai berkumpul untuk berdoa, mendalami Firman Tuhan, dan memeriksa kehidupan masing-masing. (Api kebangunan tidak dimulai dari keberhasilan seorang pengkhotbah, melainkan dari kesediaan seorang pelayan Tuhan untuk bertobat.)
Gerakan pembaruan di Wonsan kemudian menyebar ke berbagai wilayah Korea, termasuk Pyongyang.
Pada Januari 1907, pertemuan pendalaman Alkitab berlangsung di Gereja Jangdaehyeon, Pyongyang. Ratusan hingga ribuan orang mengikuti rangkaian pertemuan tersebut.
Salah satu tokoh pentingnya ialah Kil Sun-ju (1869–1935), seorang pemimpin Kristen Korea.
Dalam pertemuan-pertemuan itu, banyak orang mengalami kesadaran yang mendalam akan dosa. Mereka menangis, berdoa, dan mengakui kesalahan yang selama ini disembunyikan.

Kil Sun-ju sendiri mengakui dosa pribadinya di hadapan jemaat. Pengakuannya mendorong orang lain untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan.
Para misionaris yang menyaksikan peristiwa tersebut memandangnya sebagai pekerjaan Roh Kudus yang luar biasa.
Namun, yang paling menarik bukanlah tangisan atau suasana emosional dalam ibadah.
Orang-orang yang mengakui dosa mulai melakukan perubahan yang nyata. Ada yang mengembalikan barang yang dicuri, memperbaiki kesalahan, melunasi kewajiban, dan memulihkan hubungan dengan sesamanya.
Pertobatan tidak berhenti pada pengakuan melalui perkataan, tetapi menghasilkan perbuatan.

Inilah salah satu ciri penting dari kebangkitan Pyongyang. (Karya Roh Kudus tidak hanya terlihat dalam pengalaman rohani yang luar biasa, tetapi juga melalui kehidupan yang berubah.)
Kebangunan tersebut kemudian dikenal sebagai "Korean Pentecost," atau Pentakosta Korea. Sebutan ini menggambarkan kuatnya pengalaman pembaruan rohani yang terjadi, walaupun gerakannya terutama berlangsung dalam lingkungan gereja Presbyterian dan Methodist.

Kebangunan Pyongyang tidak berhenti di dalam gedung gereja.
Orang-orang Kristen Korea mulai terlibat semakin aktif dalam pelayanan. Pada September 1907, tujuh orang Korea ditahbiskan menjadi pendeta Presbyterian, termasuk Kil Sun-ju dan Lee Ki-poong.
Gereja Korea yang sebelumnya terutama menerima pelayanan dari misionaris asing mulai mengutus pekerja Injil dari bangsanya sendiri.
Semangat tersebut kemudian berkembang melalui gerakan penginjilan besar pada 1909–1911 yang dikenal sebagai Million Souls Movement, atau Gerakan Satu Juta Jiwa.
Orang-orang Kristen berkumpul untuk berdoa, mengunjungi rumah-rumah, membagikan literatur Injil, dan mengajak masyarakat mengenal Kristus. Meskipun target satu juta jiwa tidak tercapai, gerakan ini memperlihatkan semangat penginjilan yang luar biasa.
Bahkan, pengutusan misionaris Korea mulai menjangkau daerah lain, termasuk Pulau Jeju dan kemudian China.
Di sinilah kita menemukan salah satu buah terpenting kebangunan rohani. (Gereja yang mengalami pembaruan oleh Roh Kudus tidak hanya menikmati hadirat Tuhan, tetapi juga terdorong untuk memberitakan Injil kepada orang lain.)
Yesus berkata dalam Kisah Para Rasul 1:8 bahwa murid-murid-Nya akan menerima kuasa ketika Roh Kudus turun ke atas mereka, dan mereka akan menjadi saksi-Nya sampai ke ujung bumi.
Kebangunan rohani yang sejati tidak boleh berhenti pada pengalaman di dalam gereja. Kuasa Roh Kudus harus membawa orang percaya kepada kesaksian dan penginjilan.
Penganiayaan
Namun, sejarah Pyongyang kemudian berubah secara drastis. ... 
Setelah Jepang menyerah pada 1945, Korea terbagi menjadi dua wilayah pendudukan. Pada 1948, Korea Utara dan Korea Selatan berdiri sebagai dua negara terpisah.
Pemerintahan komunis di Korea Utara kemudian memberlakukan pembatasan yang semakin berat terhadap kehidupan beragama. Banyak pemimpin Kristen mengalami penangkapan, penindasan, atau terpaksa meninggalkan wilayah utara.
Perang Korea 1950–1953 memperburuk keadaan. Gereja-gereja hancur, banyak orang kehilangan tempat tinggal, dan keluarga-keluarga terpisah.
Pyongyang yang dahulu dikenal sebagai Yerusalem dari Timur kehilangan kedudukannya sebagai pusat kehidupan Kristen yang terbuka.
Akan tetapi, sejarah kebangunan itu tidak berakhir begitu saja.
Banyak orang Kristen dari wilayah utara mengungsi ke Korea Selatan. Mereka membawa iman, kebiasaan berdoa, kecintaan kepada Firman Tuhan, dan semangat penginjilan.

Salah seorang di antaranya ialah Han Kyung-jik (1902–2000), seorang pendeta Presbyterian dari Korea Utara. Setelah pindah ke Seoul, ia ikut mendirikan gereja yang kemudian dikenal sebagai Youngnak Presbyterian Church pada 1945.
Gereja ini berkembang menjadi salah satu gereja Presbyterian yang berpengaruh di Korea Selatan.
Dengan demikian, sebagian warisan kekristenan dari utara diteruskan melalui orang-orang percaya yang membangun kehidupan dan pelayanan baru di selatan. (Bangunan gereja dapat dihancurkan dan kebebasan beribadah dapat dirampas, tetapi iman dan kesaksian orang percaya dapat terus dibawa ke tempat lain.)
Lebih dari satu abad telah berlalu sejak kebangunan Pyongyang 1907. Namun, sejarahnya masih berbicara kepada gereja masa kini.
Di Wonsan, seorang misionaris mengalami pertobatan. Di Pyongyang, para pemimpin dan anggota jemaat merendahkan diri, mengakui dosa, dan memperbarui kehidupan mereka. Dari pembaruan tersebut lahir semangat penginjilan yang menjangkau berbagai wilayah.

Penutup
Sejarah ini mengingatkan kita bahwa kebangunan rohani bukan sekadar ibadah yang ramai, tangisan yang mengharukan, atau pengalaman supernatural yang mengguncang.
Kebangunan harus menghasilkan pertobatan, kekudusan, kecintaan akan Firman, kehidupan doa, dan keberanian untuk memberitakan Injil.
Ada sesuatu yang patut kita renungkan: para pelayan Tuhan di Korea tidak memulai dengan meminta orang lain berubah. Mereka terlebih dahulu bersedia untuk diperbarui oleh Tuhan.
Dan ketika Roh Kudus bekerja dalam kehidupan jemaat, pembaruan itu tidak berhenti pada mereka sendiri. Mereka bergerak keluar untuk memberitakan Injil. (Gereja masa kini tidak hanya membutuhkan kegiatan yang semakin banyak, tetapi juga pembaruan oleh Roh Kudus yang menghasilkan kehidupan kudus dan semangat penginjilan.)
Kiranya sejarah kebangunan Pyongyang membangkitkan kerinduan kita untuk kembali berdoa, merendahkan diri, hidup dalam kebenaran Firman, dan menjadi saksi Kristus dengan keberanian yang baru. Sebab tujuan kebangunan bukan hanya memenuhi gedung gereja, melainkan membawa manusia kepada Kristus dan memperlengkapi mereka untuk menjadi saksi-Nya. *

*meneruskan dari seorang sahabat
(Penulis: Pdt. Isak Suria) –


Komentar

Postingan Populer