THE GREAT MUKTI REVIVAL - Kebangunan Rohani Besar di India Tahun 1905
THE GREAT MUKTI REVIVAL
Kebangunan Rohani Besar di India Tahun 1905
Shalom...
Disusun kembali dalam bentuk esai naratif oleh Pdt. Isak Suria.
Berdasarkan laporan sejarah kebangunan rohani Mukti Mission, khususnya karya Minnie F. Abrams, The Baptism of the Holy Ghost & Fire (Kedgaon, India: Mukti Mission Press, 1906), serta kesaksian Pandita Ramabai mengenai kebangunan rohani tahun 1905.
Ketika Api Kebangunan Rohani Melanda India pada Tahun 1905
Pada awal abad kedua puluh, sebuah kebangunan rohani yang luar biasa terjadi di India. Peristiwa ini berlangsung di Mukti Mission, sebuah komunitas yang dipimpin oleh seorang perempuan India bernama Pandita Ramabai. Di tempat inilah ratusan perempuan muda mengalami pertobatan, pembaruan hidup, dan pengalaman rohani yang kemudian dikenal sebagai The Great Mukti Revival, atau Kebangunan Rohani Besar Mukti.
Kebangunan rohani ini tidak dimulai dengan sebuah kampanye besar, kehadiran pengkhotbah terkenal, atau pertemuan yang dirancang untuk menarik ribuan orang. Semuanya bermula dari kerinduan untuk mengalami lawatan Allah melalui doa yang sungguh-sungguh.
Pada Januari 1905, Pandita Ramabai berbicara kepada para perempuan muda di Mukti tentang perlunya kebangunan rohani. Ia mengajak mereka yang bersedia untuk berkumpul setiap hari dan berdoa memohon pencurahan Roh Kudus. Sebanyak tujuh puluh perempuan muda menyambut ajakan tersebut. Mereka mulai berdoa dengan tekun, hari demi hari, memohon agar Tuhan memperbarui hidup mereka.
Semangat doa itu semakin berkembang. Jumlah peserta terus bertambah hingga mencapai sekitar 550 orang yang berkumpul dua kali sehari. Pada pagi dan petang hari, mereka mencari hadirat Tuhan. Mereka tidak mengetahui kapan doa-doa itu akan dijawab, tetapi mereka terus bertekun.
Memasuki Juni 1905, Ramabai mengajak para pelajar Sekolah Alkitab untuk mengambil bagian dalam pemberitaan Injil ke desa-desa di sekitar Mukti. Ia meminta sukarelawan yang bersedia meninggalkan sementara pelajaran sekuler mereka untuk melayani orang-orang yang belum mengenal Kristus. Tiga puluh perempuan muda menyerahkan diri untuk tugas itu.
Sejak saat itu, mereka semakin bersungguh-sungguh berdoa memohon kuasa Roh Kudus. Mereka menyadari bahwa pekerjaan pemberitaan Injil membutuhkan lebih daripada kemampuan manusia. Mereka membutuhkan kuasa dari tempat yang lebih tinggi, sebagaimana dijanjikan Yesus kepada murid-murid-Nya dalam Kisah Para Rasul 1:8.
Pada 29 Juni 1905, sekitar pukul setengah empat sore, sesuatu yang tidak biasa terjadi di Mukti. Seorang perempuan muda yang telah menyerahkan diri untuk pelayanan mengalami apa yang disebut sebagai pencurahan Roh Kudus. Seorang perempuan lain yang sedang tidur di dekatnya terbangun dan melihat sesuatu yang tampak seperti api menyelimuti tubuh perempuan itu. Ia segera berlari mengambil seember air, bermaksud memadamkan api itu. Namun ketika hendak menyiramkannya, ia menyadari bahwa tidak ada api biasa yang sedang membakar tubuh temannya.
Peristiwa itu segera menarik perhatian para penghuni Mukti. Dalam waktu kurang dari satu jam, hampir semua perempuan muda di kompleks itu berkumpul. Mereka mulai menangis, berdoa, dan mengakui dosa-dosa mereka di hadapan Tuhan. Perempuan muda yang pertama mengalami lawatan itu duduk di tengah-tengah mereka, menceritakan apa yang telah dialaminya dan mengajak teman-temannya untuk bertobat.
Keesokan harinya, 30 Juni 1905, Pandita Ramabai sedang memberikan pengajaran Alkitab dari Yohanes pasal 8. Seperti biasanya, ia menguraikan firman Tuhan dengan tenang. Namun, di tengah pengajaran tersebut, suasana pertemuan berubah. Para perempuan muda mulai berdoa dengan suara keras. Sebagian menangis, sebagian berlutut, dan sebagian berdiri dengan tangan terangkat kepada Tuhan.
Suara doa semakin memenuhi ruangan sehingga Ramabai tidak dapat melanjutkan pengajarannya. Mereka begitu tenggelam dalam doa dan pergumulan rohani sehingga tidak lagi memperhatikan orang-orang di sekeliling mereka.
Sejak hari itu, pertemuan doa pagi dan petang berkembang menjadi pertemuan yang lebih besar. Ruang sekolah Alkitab berubah menjadi tempat pelayanan bagi mereka yang bergumul dengan dosa dan mencari keselamatan. Perempuan-perempuan muda yang tiba-tiba mengalami kesadaran mendalam akan dosa, baik saat belajar maupun saat bekerja, dibawa ke ruangan tersebut untuk didampingi dalam doa.
Semakin banyak orang datang sehingga satu ruangan tidak lagi cukup. Tidak lama kemudian, tiga ruangan besar diperlukan untuk menampung mereka yang mencari pertolongan rohani.
Di tengah kebangunan tersebut, pengakuan dosa menjadi salah satu pengalaman yang paling menonjol. Banyak perempuan muda menangisi kesombongan, kecintaan terhadap dunia, keegoisan, dan berbagai dosa yang selama ini menguasai kehidupan mereka. Sebagian mengalami pergumulan batin yang sangat kuat. Namun, setelah melewati pergumulan itu, tangisan mereka berubah menjadi sukacita karena merasa telah menerima pengampunan dan keselamatan di dalam Kristus.
Ada yang mulai menyanyi dan memuji Tuhan. Ada yang menari karena sukacita. Sebagian melaporkan penglihatan dan mimpi. Pengalaman yang mereka sebut sebagai api Roh Kudus juga menjadi bagian dari kesaksian-kesaksian tersebut.
Bagi banyak perempuan muda di Mukti, pengalaman itu bukanlah akhir dari pencarian rohani mereka. Setelah memperoleh kepastian keselamatan, sebagian kembali untuk berdoa memohon baptisan Roh Kudus dan api. Mereka merindukan kuasa untuk hidup kudus dan melayani Tuhan.
Pertemuan-pertemuan doa terus berlangsung dengan intensitas yang luar biasa. Ada yang berdoa selama berjam-jam, bahkan begitu tenggelam dalam pergumulan rohani sehingga untuk sementara waktu mengabaikan makan dan tidur. Setelah mengalami kelegaan dan sukacita rohani, mereka memberikan kesaksian tentang apa yang telah terjadi dalam kehidupan mereka.
Berita mengenai kebangunan rohani Mukti mulai tersebar ke tempat-tempat lain. Para pekerja dan misionaris menyaksikan perubahan yang terjadi. Sebagian dari mereka semula mengira bahwa pengalaman api dan pergumulan rohani yang kuat itu hanya dialami oleh perempuan-perempuan yang sebelumnya hidup dalam penyembahan berhala. Namun ketika orang-orang Kristen yang telah lama percaya juga melaporkan pengalaman serupa, mereka mulai mempelajari kembali ajaran Alkitab mengenai baptisan Roh Kudus.
Pengalaman-pengalaman itu mendorong sebagian pekerja dan misionaris untuk mencari kepenuhan Roh Kudus dalam kehidupan mereka sendiri.
Dalam laporan mengenai kebangunan tersebut, berbagai karunia Roh Kudus juga mulai disebutkan. Ada yang berbicara dalam bahasa-bahasa yang sebelumnya tidak mereka kenal, ada yang menafsirkan bahasa roh, dan ada pula kesaksian mengenai orang sakit yang disembuhkan serta orang yang mengalami kelepasan melalui doa.
Namun di tengah berbagai manifestasi itu, kehidupan doa, pertobatan, kekudusan, dan kerinduan memberitakan Injil tetap menjadi bagian penting dari kebangunan Mukti.
Para perempuan muda yang sebelumnya telah bersedia pergi ke desa-desa kini semakin terdorong untuk memberitakan Injil. Kerinduan mereka tidak berhenti pada pengalaman pribadi. Mereka ingin agar orang lain juga mengenal keselamatan di dalam Yesus Kristus.
Kebangunan yang bermula di sebuah komunitas perempuan India itu kemudian menjadi perhatian orang-orang Kristen di berbagai tempat. Dalam pengantar edisi berikutnya, penulis laporan Mukti menyatakan bahwa pencurahan Roh Kudus juga telah dialami oleh sejumlah gereja India lainnya. Ia menceritakan adanya orang-orang yang bertekun dalam doa syafaat, menerima karunia-karunia Roh, dan mengalami pembaruan kehidupan.
Tidak semua orang menerima berita itu dengan mudah. Sebagian menganggap peristiwa Mukti hanyalah luapan emosi keagamaan yang akan segera berlalu. Mereka memperkirakan bahwa setelah kegembiraan mereda, tidak akan ada hasil yang berarti.
Akan tetapi, lima belas bulan setelah kebangunan dimulai, para pekerja Mukti masih memberikan kesaksian mengenai kehidupan yang berubah. Mereka menceritakan orang-orang yang terus hidup dalam doa, bertumbuh dalam kekudusan, dan semakin bersungguh-sungguh melayani Tuhan. Bagi mereka, apa yang terjadi di Mukti bukan sekadar pengalaman sesaat, melainkan awal dari kehidupan yang diperbarui.
Kebangunan Rohani Mukti berlangsung pada masa ketika berbagai gerakan pembaruan rohani mulai muncul di sejumlah wilayah dunia.
Peristiwa Mukti dimulai pada tahun 1905, setahun sebelum kebangunan Azusa Street yang terkenal di Los Angeles pada tahun 1906. Dengan demikian, pengalaman Pentakostal yang penting telah berlangsung di India sebelum Azusa Street menjadi salah satu pusat perhatian dunia Kristen.
Di tengah masyarakat India pada awal abad kedua puluh, sebuah komunitas perempuan yang dipimpin oleh Pandita Ramabai telah menjadi tempat berlangsungnya suatu kebangunan rohani yang dikenang dalam sejarah Kekristenan. Dari persekutuan doa yang mula-mula diikuti tujuh puluh orang, gerakan itu berkembang menjadi pertemuan ratusan perempuan muda yang berdoa, bertobat, mempelajari firman Tuhan, dan menyerahkan diri untuk memberitakan Injil.
Peristiwa yang bermula di Mukti pada Juni 1905 itu kemudian dikenal sebagai The Great Mukti Revival, salah satu kesaksian penting tentang kebangunan rohani di Asia pada permulaan abad kedua puluh.*
*meneruskan dari tulisan Pdt Isak Suria.


Komentar
Posting Komentar