MENGETUK PINTU
MENGETUK PINTU
Shalom aleikhem,
Yesus berdiri di muka pintu dan mengetuk (Why 3:20). Di ayat ini Yesus tidak mengetuk pintu orang kafir (non-Kristen), tetapi mengetuk pintu jemaat-Nya sendiri (Laodikia). Ketukan ini adalah panggilan untuk bertobat dan memulihkan persekutuan yang intim. Yesus, Sang Kepala Gereja, berada di luar rumah-Nya sendiri.
Mengetuk (krouō) menunjukkan bahwa Yesus tidak mendobrak masuk. Ia berdiri dan mengetuk, menunggu respons. Ini menekankan kehendak bebas (free will) manusia untuk merespons kasih dan teguran-Nya. Lukisan terkenal William Holman Hunt berjudul The Light of the World menggambarkan Yesus mengetuk pintu tanpa gagang luar, ini menunjukkan bahwa pintu hati hanya dapat dibuka dari dalam. Tujuan Yesus masuk adalah untuk makan bersama (deipneō). Dalam budaya Timur Tengah kuno, berbagi makanan adalah tanda persekutuan yang intim, persahabatan, dan penerimaan kembali yang mendalam. Ini merujuk pada pemulihan hubungan yang manis di dunia ini, dan menunjuk pada Perjamuan Kawin Anak Domba yang agung di akhir zaman.
Dalam bahasa Aram "mengetuk" ditulis שַׁقְن (neqash) (neqa h) yang arti lainnya adalah memukul Instrumen Musik terutama harpa atau kecapi.
Ketika seseorang memainkan harpa, ia "memukul" atau "memetik" senar dengan sentuhan yang lembut namun ekspresif. Jika kita menerapkan arti ini pada seruan Yesus, "Ketuklah, maka pintu akan dibukakan," maknanya menjadi: "Mainkanlah Harpamu (hati) dihadapan Tuhan, dan pintu akan dibukakan bagimu, atau jika memakai surat Efesus 5;19 "making melody (psallo) in your heart to the Lord" Jadi mengetuk adalah adalah menciptakan melodi indah bagi
Tuhan yaitu ketulusan, kesungguhan hati.
Ketukan Yesus di hadapan gereja Laodikia adalah ketukan yang memainkan sebuah nada di pintu hati Laodikia, tetapi ketukan ini bukan nada yang lembut tetapi seperti memainkan harpa dengan nada yang keras, karena Tuhan menghendaki agar jemaat bertobat. Jadi ada 2 perbedaan mengetuk di Matius 7:7 dengan Wahyu 3:20. Dari konteks Matius 7:7 ketukan ini adalah nada yang lembut, terus menerus dan indah sedangkan dalam Wahyu 3:20, nada yang keras supaya bertobat, sebab dari mulut Yesus keluar pedang. Ini bukan
pedang pendek (makhaira) melainkan pedang panjang dan besar (rhomphaia), sehingga ketukan pintu di Wahyu bagi gereja Laodikia adalah hentakan keras supaya bertobat. Jadi mengetuk pintu adalah membuat suatu melodi baik yang lembut maupun keras. Mengetuk hati Tuhan bagi kita adalah membuat nyanyian yang merdu dari dalam hati kita bagi Tuhan. Nyanyian merdu seperti apa yang Tuhan ingin dengar? Nyanyian ketaatan seperti Abraham ketika mempersembahkan Ishak, nyanyian iman seperti Ayub di tengah kesukaran. Inilah melodi harpa yang indah.*
*note: meneruskan dari catatan seorang sahabat ( Maranatha).
Komentar
Posting Komentar