Memaknai zaman edan di era disrupsi AI
Memaknai zaman edan di era disrupsi AI
Dear readers,
Serat kuno yang mungkin lebih dikenal dengan istilah "Jaman Edan," sebuah ramalan kuno dari tanah Jawa, telah menjadi topik perbincangan hangat di era perkembangan AI yang pesat ini. Ramalan ini dipercaya dapat memprediksi kejadian-kejadian penting di masa depan, termasuk perubahan besar dalam teknologi dan masyarakat.
Dalam konteks era AI, Serat Jaman Edan tersebut dapat diartikan sebagai peringatan akan perubahan besar yang akan terjadi dalam masyarakat. Salah satu contoh adalah prediksi tentang adanya "kereta tanpa jaran" (kereta tanpa kuda), yang dapat diartikan sebagai mobil atau kendaraan modern lainnya. Ramalan ini juga menyebutkan tentang "prahu mlaku ing dhuwur awang-awang" (perahu yang berjalan di angkasa), yang dapat dihubungkan dengan perkembangan teknologi penerbangan dan ruang angkasa,
Namun, perlu diingat bahwa Serat Jaman Edan bukanlah sebuah prediksi ilmiah, melainkan sebuah ramalan yang berdasarkan pada kepercayaan dan tradisi. Oleh karena itu, interpretasi atas ramalan ini dapat berbeda-beda tergantung pada perspektif dan konteksnya.
Dalam era (disrupsi) AI yang pesat ini, Serat Jaman Edan dapat menjadi inspirasi untuk memikirkan tentang masa depan dan bagaimana teknologi dapat mempengaruhi masyarakat. Namun, kita juga harus tetap kritis dan tidak terlalu percaya pada ramalan-ramalan yang tidak terbukti secara ilmiah.
*Apa yang dapat kita pelajari dari Serat Jaman Edan?*
- Perubahan besar dapat terjadi dalam masyarakat dan teknologi.
- Ramalan kuno dapat menjadi inspirasi untuk memikirkan tentang masa depan.
- Tetap kritis dan tidak terlalu percaya pada ramalan-ramalan yang tidak terbukti secara ilmiah.
*Bagaimana AI dapat membantu memahami Serat Jaman Edan?*
- Analisis teks dan interpretasi dapat dilakukan dengan lebih cepat dan akurat menggunakan teknologi AI.
- AI dapat membantu mengidentifikasi pola-pola dan hubungan antara ramalan dan kejadian-kejadian di masa depan ².
Namun, perlu diingat bahwa AI bukanlah sebuah alat yang selalu manjur dan dapat memprediksi masa depan dengan pasti.* Oleh karena itu, kita harus tetap waspada dan tidak terlalu bergantung pada teknologi.**
Bagaimana pendapat Anda?
*AI: kecerdasan imitasi / akal imitasi ( lihat misalnya, artikel sebelumnya mengenai metafora Midas Touch yang diperkenalkan Prof Stuart Russell).
**
Note: ditulis dengan bantuan large language model. (7 Feb. 2026)
Komentar
Posting Komentar