Minggu, 10 Februari 2019

5G Gigantic health hazard

5G Gigantic health hazard: Discussion by Dr Barrie Trower & Sir Julian Rose
 

https://www.youtube.com/watch?v=DLVIbPtNrVo

Dr. Trower mentions the fact that 5G will cause 720 factorial different kinds of maladies to happen to humans, in a short while. 5G must be stopped. It is genocidal and ecocidal. The fact that China is rolling out 5G should concern the Chinese populace. All 5G technology should be destroyed and made permanently illegal.

Then all the WiFi and 3G and 4G need to get taken out. They are disastrous as well, but not nearly as bad as 5G. 5G is a microwave weapon system which was banned by international treaty which was constructed in the 1970, prohibiting microwave weapons. The US military abandoned those treaties, and many other weapons limitations treaties, during the GW Bush administration, just prior to the invasion of Iraq. 

There are perfectly safe ways to communicate that do not require high frequency radio broadcasts. If you want portable communications, go to QM and aether physics methods, relying on deviations from the expectation values of quantum noise in the Schrodinger equations, for example. 

The foundational circuit was designed and constructed and tested by me, in 1992. It works. So where are we now? Nothing has happened with it, since that time, because no one will fund the required holographic AI software development.

Best Wishes,

Neil

Rabu, 06 Februari 2019

ALQIDIS SAM'AN AL-KHARAJ DAN MUKJIZAT BUKIT MUQATAM CAIRO

Et'fatah ISCS, 1 Februari 2019

IMAN YANG MEMINDAHKAN GUNUNG: ALQIDIS SAM'AN AL-KHARAJ DAN MUKJIZAT BUKIT MUQATAM CAIRO*) 

Oleh: Dr. Bambang Noorsena
 
*) Artikel ini hasil rewriting salah satu bahan Refleksi Ziarah "Petra-Egypt-Holy Land Biblical Tours", 11-21 April 2018. 
  
1. CATATAN AWAL

Akibat gempa dan tsunami sebesar 7,4 SR, desa Petobo telah pindah kira-kira 1 km dari letak semula. Peristiwa pergeseran ini dapat dijadikan rujukan untuk memahami mukjizat berpindahnya gunung Muqatam yang terjadi pada tahun 975 M di Cairo pada masa dinasti Fatimiyyah. Sebelumnya gunung itu terletak di Birket el-Fil, dekat Al-Azhar sekarang, telah bergerak kurang lebih 3 km ke arah luar kota Cairo, hingga letaknya yang sekarang.

Terus terang sebelum peristiwa tsunami di Aceh tahun 2004, ketika masih tinggal di Cairo, saya belum bisa membayangkan bagaimana bukit Muqatam itu bisa pindah meskipun karena mukjizat Ilahi. Pasca-peristiwa tsunami Aceh ketika letak pantai bergerak dari tempat semula, saya mulai bisa membayangkan mukjizat itu. Lebih-lebih ketika melihat tsunami Palu tahun ini, khususnya berpindahnya desa Petobo, kini saya baru lebih bisa membayangkan peristiwa mukjizat Mokatam dengan lebih jelas lagi. Memang tidak ada deskripsi secara detail peristiwa Muqatam itu, tetapi tidak ada sumber sejarah sezaman yang menyangkal peristiwa ini. 

2. BERAWAL DARI PERDEBATAN AGAMA YAHUDI-KRISTEN

Kalifah Muiz lidinillah, seorang penguasa dinasti Fathimiyya (969-975 M), sangat terkenal dengan sikap toleransinya terhadap agama-agama lain, khususnya Yahudi dan Kristen, yang waktu itu hidup berdampingan secara damai dengan Islam. Tetap Kalifah. Mu'iz mempunyai hobi yang aneh, yaitu menyaksikan perdebatan agama. 

Pemimpin tertinggi Gereja Ortodoks Koptik saat itu, yaitu Patriarkh Abram Ibnu Zahra al-Suryani (975-979 M), hubungannya sangat dekat dengan Sang Khalifah. Hal itu menyebabkan iri hati Ya'kub bin Killis, seorang Yahudi berkedudukan tinggi, yang terkenal sangat ambisius. Anba Abram yang dikenal sebagai "manusia doa"  ini tinggal di دير السريان "Deir el-Suryan" (Biara Syria),  di Wadi el-Natroun, seorang putra Syria yang terpilih sebagai Patriarkh Gereja Ortodoks Koptik, menggantikan Baba Mina II pada bulan Toba 687 tahun Koptik, yang bertepatan dengan bulan Januari 975 M.  Ya'qub bin Kilis tidak suka kepadanya,  karena kedekatan Sang Patriarkh dengan Kalifah Mu'iz li Dinillah. 

Pada suatu hari,  Sang Kalifah memanggil Ya'qub bin Kilis dan Patriarkh Abram untuk mcengadakan perdebatan agama. Ya'qub bin Kilis  memanggil rekannya, Rabbi Musa,  sedangkan Patriarkh Abram menghadirkan teolog Koptik terkenal, Anba Saweris Ibn Al-Muqaffa', Uskup Asmunain, Mesir utara.  Anba Saweris dikenal ssbagai seorang teolog dan menulis beberapa buku,  antara lain: كتاب التوحيد  "Kitab At-Tauhid" (Kitab Monotheisme)  dan كتاب الاتحاد الباهر في الرد على اليهود  "Kitab al-Itihad al-Bahri fi al-Radd 'ala al-Yahudi" (Buku kesatuan pengajian dalam menjawab kaum Yahudi).

Perdebatan pun berlangsung. Rabbi Musa sangat marah ketika Anba Saweris menyebutnya  الجهل  "al-Jahlu" (bodoh,  ignorence),  karena sang rabbi sulit memahami kebenaran iman dalam Kristus.
"Jangan marah,  hai Rabbi Musa, karena memang seorang nabi telah menyebut kaum Yahudi demikian",  kata Anba Saweris. من يكون هذا النبي؟ "Man yakûnu hadzā al-nabi?" (Siapakah nabi yang telah berkata begitu?),  kejar Rabbi Musa. . انه إِشَعْيَاءَ النبي الذي قال عنكم "Innahu Ish'aya al-nabī alladzī qāla  'ankum" (Dialah Nabi Yesaya yang berkata demikian tentang kalian). "Lembu mengenal pemiliknya, tetapi bani Israel tidak", Anba Seweis mengutip Yesaya 1:3.  "Keledai mengenal. palungan yang disediakan tuanya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya". 

Kalifah tertawa terbahak-bahak. "Benarkah memang ada tertulis demikian dalam kitab Nabi Yesaya?", tanya Kalifah kepada rabbi Musa. "Betul,  Baginda",  jawabnya. Ya'qub bin Kilis sangat malu,  begitu juga rabbi Musa tambah naik pitam atas kejadian yang memalukan itu. Mereka merancang suatu perdebatan lanjutan untuk membalas perlakuan orang Kristen, bahkan kalau perlu menghabisinya.

Sampai suatu hari, ketika kedua orang Yahudi itu menemukan sabda Yesus dalam Injil yang mengatakan:

فَالْحَقَّ أَقُولُ لَكُمْ: لَوْ كَانَ لَكُمْ إِيمَانٌ مِثْلُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ لَكُنْتُمْ تَقُولُونَ لِهَذَا الْجَبَلِ: انْتَقِلْ مِنْ هُنَا إِلَى هُنَاكَ فَيَنْتَقِلُ وَلاَ يَكُونُ شَيْءٌ غَيْرَ مُمْكِنٍ لَدَيْكُمْ.
Falḥaqqa aqûlu lakum lau kāna lakum īmān mitslu ḥabbati khardalin likuntum taqûlûna li hadzā al-jabali: intaqil min hunā ila hunāka fayantaqil, wa lā yakûnu syai'un ghaira mumkin ladzaikum. 
Artinya: Sebab Aku berkata kepadamu: "Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu" (Injil Matius 17:20). 

Ya'qub bin Kilis menyampaikan ayat ini kepada Kalifah: "Kami menemukan ayat ini tertulis dalam Injil, bahwa kalau seorang mempunyai iman sebesar biji sesawi ia akan mampu memindahkan gunung". "Karena itu" , hasut Ya'qub bin Kilis, "Perintahkanlah mereka untuk membuktikan kebenaran ayat dalam kitab suci mereka, wahai Baginda Raja, apabila mereka tidak bisa melakukannya,  mereka harus dihukum karena kepalsuan dan kebohongan agama mereka".  

3. MUKJIZAT BERPINDAHNYA BUKIT MUQATAM 

Akhirnya,  demi keadilan Kalifah memanggil Patriarkh Abram bin Zahra,  supaya orang-orang Kristen membuktikan kebenaran yang ditulis dalam Kitab Injil.  Mereka disuruh meminta Allah untuk memindahkan bukit yang berdiri mengelilingi Birkat Elphil, dekat Al-Azhar sekarang. Tentu saja ini tantangan yang mustahil secara manusia. Tetapi sebagai pemimpin tertinggi umat Kristen di Mesir,  hal itu harus dilakukannya demi mempertaruhkan eksistensi hidup umat Kristen di Mesir pada zaman itu. 

Apalagi, Kalifah sudah setuju dengan empat opsi yang ditawarkanlan oleh kedua orang Yahudi itu:
1. Memenuhi dan mewujudkan perintah Injil untuk secara harfiah memindahkan gunung. 
2. Seluruh umat Kristen harus masuk Islam, apabila imannya tidak terbukti.
3. Jika tidak mau masuk Islam, umat Kristen haus meninggalkan Mesir dan berpindah ke negara lain.
4. Jika mereka tidak mau meninggalkan Mesir, sementara mereka tidak mau masuk Islam, mereka harus dibunuh (Anba Matheus, 2003:51).

Menghadapi pilihan yang sangat sulit itu, Sang Patriarkh menyerukan agar seluruh umat Kristen berdoa dan berpuasa selama tiga hari tiga malam.  Dan selama hari-hari puasa tersebut banyak fenomena surgawi terjadi untuk meneguhkan agar Patriarkh tetap berpegang teguh kepada imannya.  Pertolongan Allah terjadi tepat pada waktunya, ketika akhirnya datang seorang bernama سمعان الخراز‎ "Sam'ān al-Kharrāz" (Simon pengamat kulit),  yang mendapat pesan surgawi melalui Sayidatina Maryam al-Adra' (Bunda Perawan Maryam) agar disampaikan kepada imam terringgi Gereja Ortodoks Koptik itu. 

"Wahai Patriarkh yang mulia, naiklah ke bukit itu bersama-sama dengan semua pemimpin gereja,  imam-imam, diaken dan kepala-kepala diaken,  bawalah Alkitab, salib Kristus,  dan lilin-lilin sebagai penerang di bukit itu.  Setelah melakukan sakramen suci,  tegakkanlah mukamu ke surga, dan serukanlah dengan suara nyaring: كبريا ليسون "Kyrie eleison!"، كبريا ليسون "Kyrie eleison!"، يا رب ارحم "Ya Rabbu irham!" , يا رب ارحم  "Ya Rabbu irham!" .... Bersujudlah kepada Allah yang Maha tinggi,  setiap berdiri buatlah tanda salib ke arah bukit itu,  nanti engkau akan menyaksikan kemuliaan Allah tepat wpada waktunya! ". 

Setelah Kalifah dan seluruh warga kerajaan bertemu dengan Patriarkh Abraham,  mereka siap menyaksikan apa yang akan terjadi.  Sang Patriarkh melakukan apa yang disampaikan oleh Sam'an al-Kharaj.  Setelah melakukan sakramen dan doa-doa,  Patriarkh,  imam-iman, para rahib dan para diaken berseru dengan suara nyaring:  كبريا ليسون  "Kyrie eleison!" كبريا ليسون "Kyrie eleison!",  berulang-ulang sampai 400 kali ke arah timur,  barat,  utara dan selatan,  tiba-tiba bukit itu perlahan mulai bergerak,  kemudian benar-benar berpindah oleh kuasa Allah dalam nama Kristus. 

Menyaksikan mukjizat yang terjadi di depan mata semua orang,  Kalifah Mu'iz li dinillah berseru: عظيم هو الله تعلي  'Adzimu Huwallah ta'ala!",  عظيم هو الله تعلي  'Adzimu Huwallah ta'ala"،  تبارك اسمك  "Tabaraka ismuka" (Allah Maha Agung dan Maha Tinggi, Allah Maha Agung dan Maha Tinggi, Terpujilah nama-Mu). "Cukup. Cukup, ya Patriarkh!", seru Sang Kalifah.  لقد اثبتم ان أيمانكم هو ايمان حقيفي "Laqad atsbatam anna  imanukum huwa imanun haqiqi!" (Telah kalian buktikan bahwa  iman kalian adalah iman yang benar!).

Bukit yang semula berada di Birket Elphil itu memang benar-benar berpindah berjalan sekitar 3 kilometer dari tempatnya semua, suatu fenomena adikodrati yang mungkin mirip bergesernya pantai-pantai akibat tsunami beberapa tahun yang lalu. Karena itu bukit tersebut smapai kini dikenal  مقطم "Muqatam",  ynag berasal dari kata مقطع "maqtha'un"  (terbelah). Sampai hari ini,  Gereja Ortodoks Koptik memperingati mukjizat berpindahnya bukit Muqatam ini dengan puasa 3  hari sebelum 40 hari صوم الصغير "Shaum al-Shaghir" (Puasa kecil), yaitu tmenjelang perayaan Natal ('Id al-Milad), yaitu tanggal 25-27 Nopember. 

Mukjizat ini dicatat oleh seorang saksi mata dan pelaku peristiwa itu,  yaitu Anba Saweris Al-Muqaffa' dalam bukunya  تاريخ بطاركة كنيسة الإسكندرية القبطية  "Tarikh Al-Bathrikiyyah al-Kanisah al-Iskandariya al-Qibhtiya" (Sejarah Kepatriarkhan Gereja Koptik Alexandria). Bahkan Aziz S. Atiya dalam bukunya  تاريخ  المسيحية الشرقية "Tarikh Al-Masihiyya al-Syarqiyya" (Cairo, 2005:88), mencatat dari sumber lain demikian: شهد المعز بصحة الايمان المسيحي  و تعرف عليه، وتم تعميده. وقضي بقية حياته في دير، و تنازل عن العرش لإبنه  "shahada al-Mu'izz bishihat al-iman al-Masihi wa ta'rif 'alaihi watama ta'amidihi wa qudi baqiyat hayatihi fi dir wa tanazul 'an al-'arsy li ibnih" (Al-Mu'izz menyaksikan dan mengetahui keabsahan iman Kristiani akhirnya dibaptiskan, lalu menghabiskan sisa hidupnya di biara, setelah turun takhta dan mewariskannya kepada anaknya).

Sebuah tempat baptisan kuno yang berbeda dengan tempat-tempat baptisan Koptik lain di Gereja "Abu Sifain", Old Cairo, yang masih eksis sampai hari ini, dikenal sebagai معمودية السلطان  أن المعز لدين الله الخليفة الفاطمى قد تعمد فى هذه المعمودية "Ma'mudiya al-Sultan an Al-Mu'izz li Din Allah al-Khalifa al-Fathimi qad ta'amid di hadzihi al-Ma'mudiyah" (Baptisan Sultan, di sini "Mu'iz li dinillah, Khalifah Fatimiyyah, telah dibaptiskan dalam pembaptisan ini). Sebelum pengunduran dirinya, Al-Mu'iz telah menunjuk putranya, Abu Manshur Nizar Al-Aziz Billah ssbagai putra mahkota, yang akhirnya menjadi penggantinya, yang bertakhta antara  365-386 H/975-996 M. 

4. CATATAN PENUTUP 

Tentu saja, ada beragam sikap orang dalam menganggapi kisah mukjizat ini, khususnya di era sekarang. "Para penulis Muslim", tulis Aziz S. Atiya selanjutnya, "seperti Ahmad Zaki Basha dan 'Abdullah 'Enan, menolak kisah mukjizat ini". Meskipun tidak menulis terjadinya mukjizat Muqatam, penulis Muslim Muhammad Suheil dalam  تاريخ الفطميين "Tarikh al-Fathimiyyin" (2015:338), mencatat bahwa Al-Mu'iz sendiri mengawasi langsung pembangunan Gereja "Abu Sifain" dan Gereja "Al-Mua'alaqah", karena sekelompok kaum Muslim Sunni yang menghalang-halangi pembangunan kedua gereja tersebut.

Sejarah mencatat, Kalifah Al-Muiz li Dinillah meninggal di Cairo, pada tanggal 11 Rabi' al-Akhir 365 H/18 Desember 975 M. "Abu Manshur Nizar, putra mahkota. yang meggantikan takhtanya, selama delapan bulan tidak mengumumkan kematian ayahnya", tulis Muhammad Suheil Thaqqusy. Mengapa? Tidak ada catatan sejarah tentang hal itu. Namun seandainya tradisi Ortodoks Koptik yang sekilas  kita kutip benar, maka kebijakan Al-Aziz Billah tersebut dengan mudah bisa dijelaskan. Barangkali karena pertimbangan stabilitas politik, karena Kalifah Al-Mu'iz li Dinillah telah wafat di sebuah biara sebagai seorang pengikut Kristus.¶

Yogyakarta, 31 Januari 2019

Minggu, 03 Februari 2019

KISAH TUJUH PENGHUNI GUA EFESUS DAN RELASI AGAMA-NEGARA DALAM PERSPEKTIF PANCASILA

*ET'PATAH ISCS*
Jum'at, 25 Januari 2019


*ASHHAB AL-KAHFI: KISAH TUJUH PENGHUNI GUA EFESUS DAN RELASI AGAMA-NEGARA DALAM PERSPEKTIF PANCASILA*

Oleh *Bambang Noorsena*


*1. ADICARITA*

Syahdan, tersebutlah tujuh pemuda yang bersembunyi di sebuah gua dekat kota Efesus. Mereka adalah Akhilius, Dionisius, Uknius, Stefanus, Faritius, Sebastius, dan Fariakus, yang menyelamatkan diri karena dikejar-kejar oleh Dakius, Kaisar Roma yang sangat bengis dan tanpa ampun menyiksa para pengikut Kristus, karena mereka menolak penyembahan berhala.

Para pemuda itu merasa sangat letih lalu tertidur nyenyak. Mereka merasa tertidur hanya dalam hitungan jam atau hari, padahal Allah menidurkan mereka di gua itu lebih dari 200 tahun lamanya. Mereka masuk dalam gua pada zaman Kaisar Dakius memerintah antara tahun 249-251 M, dan tidak keluar dari gua itu sampai tahun 447 M, yaitu ketika Kaisar Theodosius II mendaki takhta kekisaran.

Ketujuh pemuda itu benar-benar tercengang, ketika terbangun dari tidur panjang mereka, sebab Kekristenan benar-benar telah tersiar luas. Salib yang dahulu adalah simbol aib dan kehinaan, saat terbangun dari tidur mereka, telah tersemat pada mahkota Kaisar dan para pembesar kerajaan. Sementara itu, pada waktu itu orang-orang Kristen lagi berdebat mengenai kebangkitan orang mati, karena sebagian rakyatnya tidak percaya. Sang Kaisar yang sedang memohon bukti dari Allah mengenai kebenaran ajaran itu, mendapat laporan bahwa tujuh orang pemuda dari Efesus ratusan tahun lampau telah dibangunkan dari tidur panjang mereka.

Mula-mula kisah itu diketahui dari seorang pemilik kedai makanan, karena salah seorang dari tujuh pemuda itu membeli makanan dengan "mata uang Dakius". *اعلم ايها الملك _"A'lam, ayyuhâ al-Malik!_ (Ketahuilah, wahai Baginda)"*, kata Akhilius *، ان الرب قد بعثنا لأجلك ببل الميعاد العظيم _"anna ar-Rabba qad ba'itsnâ li ajlika qabla al-mî'âd al-'adzîm"_ (Sesungguhnya Tuhan telah membangkitkan kami demi paduka sebelum kebangkitan pada akhir zaman)*.

Kaisar sangat bersyukur kepada Allah. *اذن عش في سلام في ايمانك الكامل _"idzan asya fî salâm fî îmânika al-kāmil"_ (Karena itu, hiduplah damai dalam iman yang sempurna)*, pesan seorang dari *_ashhab al-Kahfi_* itu. Setelah itu, mereka diwafatkan kembali oleh Allah, dan Kaisar membangun gereja di dekat gua tersebut, lengkap dengan *inskripsi _(raqîm)_* demi mengenang dan mengabadikan iman ketujuh pemuda Efesus itu *(Taufiq Hafidz, tt: 26-32)*.


*2. SUMBER KISAH DAN APLIKASINYA DALAM RELASI*
     *AGAMA-NEGARA DI TIMUR TENGAH*

Kisah *اصحاب الکهف‎ _"Aṣḥāb al-Kahfi"_ (Penghuni Gua)* yang sangat terkenal di gereja-gereja Timur ini dikenal sejak abad keenam Masehi, bersumber dari buku *مجد الشهداء _"Majdu as-Syuhada"_ (Glory of the Martyrs)*, yang ditulis oleh Mar Gregorius dari Tour (538-594), yang berasal dari sumber bahasa Syriac/Aramaik yang lebih tua lagi, antara lain Mar Ya'qub Serugh (450-521) dalam "Acta Sanctorum"-nya. Kisah Tujuh Pemuda Efesus ini sangat populer di Gereja Ortodoks Syria, karena dicatat dalam "Chronice" Moran Mar Dionysius I Tell Mahre *(ܕܝܘܢܢܘܣܝܘܣ ܬܠܡܚܪܝܐ, _Dionysius Telmaharoyo_)*, Patriarkh Antiokia (818-845).

Taufiq Hadidz dalam bukunya *_"Ahl al-Kahfi fī al-Mashādid al-Suryāniyyah"_* (Cairo: Nahdhat al-Mishr, t.t.), membandingkan paralel kisah ini dengan *surah ke-18 Al-Qur'an*, yaitu *Surah Al-Kahfi*. Kisah _Aṣḥāb al-Kahfi_ (baca: _Aṣḥābul Kahfi_ ) secara dramatis melukiskan sejarah perjumpaan agama dan politik pada masa-masa awal sejarah Kekristenan, bahwa agama akan kehilangan "asin garam"-nya dan tidak terdengar lagi fungsi profetisnya tatkala berselingkuh dengan kekuasaan.

Agama tersubordinasi di bawah kekuasaan akan menjadi "alat legitimasi" belaka dari kemauan politik kelompok yang sedang berkuasa. Tak jarang pula agama memaksakan klaim kebenaran teologisnya dengan meminjam tangan kekuasaan. Itulah awal tindakan kekerasan atas nama agama. Sejarah perkembangan agama-agama besar sendiri telah membuktikan itu.

Ketika Kaisar Theodoseus II (406-450) menjadikan Kristen sebagai "agama negara", Kekristenan seperti "naik kelas" dari agama rakyat teraniaya yang secara sembunyi-sembunyi beribadah di _katakombe-katakombe_ (gua-gua) menjadi agama penguasa dengan segala atribut kebanggaan-nya. Euphoria yang merayakan gegap gempitanya masa transisi dari "agama rakyat" ke "agama negara" ini yang hendak digambarkan dalam kisah para penghuni gua ini.

Ternyata situasi tidak menjadi lebih baik ketika Kristen menjadi "agama negara". Justru lembaran sejarah gereja selanjutnya dipenuhi dengan penindasan demi penindasan, yang ironisnya dilakukan oleh saudara seiman mereka sendiri. Gereja-gereja di wilayah Timur Tengah, yang paling sering menjadi korban sasaran fitnah, dicap sebagai aliran heresy (bidah).

Dan pada saat puncak penganiayaan sesama Kristen itu, justru tentara Arab Muslimlah yang membebaskan mereka. Misalnya, pengalaman Gereja Koptik di Mesir, seperti dicatat oleh Aziz S. Atiya, dalam bukunya *تاريخ المسيحية الشرقية _"Tārīkh Al-Masihīyyat al-Syarqiyyah"_* (Cairo: Maktabah Al-Mahabbah, 2003). Kisah kemartyran Mar Mina (St. Menas), saudara Patriarkh Koptik Benyamin, pada tahun 632 AD sebagai martyr di tangan Cyrus, utusan Kaisar Heraklius, yang dalam sejarah Islam dikenal dengan Mauwaqis ini, telah mendorong mereka lebih menyambut Islam sebagai pembebas, tujuh tahun sesudah peristiwa itu.

Tetapi lembaran hitam sejarah tak ayal terulang, ketika Islam juga dijadikan pendukung "status quo" dinasti Ummayah, seperti yang tampak pada zaman pemerintahan Kalifah 'Umar bin 'Abd al-Aziz atau Umar II (682-720) yang terkenal adil di kalangan rakyat jelata, dalam urusan agama bersikap sangat diskriminatif terhadap kaum Yahudi dan Kristen.


*3. SEKULARISASI BUKAN SEKULARISME ANTI-AGAMA _(LÂ DÎNIYAH)_*

Sayangnya, ide pemisahan agama dari negara ini sering disalahpahami dan dicap sebagai ide "sekuler". Istilah "sekuler" sudah sejak lama menimbulkan alergi dan reaksi yang apriori. Tetapi sebenarnya, reaksi itu lebih diarahkan pada penerapan sistem itu yang sebaliknya terlalu ekstrim di Barat, dimana proses penyelenggaraan negara disterilkan sama sekali dari moralitas agama.

Fenomena ini lebih populer disebut dengan sekularisme. Padahal istilah sekularisasi (Latin: _"saeculum"_, artinya "dunia"), justru mula-mula diarahkan untuk menghantam paham kekuasaan "totalitas kosmik" (ontokrasi) yang mengeramatkan segala yang ada, termasuk pendewaan terhadap raja dan negara. Nah, dalam kekuasaan-kekuasaan absolut inilah agama dijadikan justifikasi untuk merebut dan melanggengkan kekuasaan.

Sebaliknya, justru melalui sekularisasi ditempatkan kembali "(kekuasaan) dunia" yang selama itu disakralkan, sebagai dunia _(saeculum)_ yang bersifat _profan_ belaka. Dalam sejarah agama-agama semitik, proses desakralisasi kekuasaan itu dimulai dari Israel (agama Musa) yang dilukiskan oleh Th. Van Leuwen seperti _"a breaks is made with the everlasting cycle of nature and the timeless presentness of myth"_ (suatu pemutusan lingkaran alami yang melilit abadi dan mitos tanpa waktu).

Melalui proses tersebut selanjutnya Barat melalui _Renaisance_ dan _Aufklaerung_ – meminjam padanan istilah Cak Nur (Dr. Nurcholish Madjid) – melakukan proses desakralisasi tanpa ampun yang akhirnya menghantam dan membabat kekuasaan absolut _"droit divin"_ (kekuasaan ilahi raja), yang di belahan dunia Timur paralel dengan paham kekuasaan "dewa-raja".


*4. CATATAN PENUTUP*

Pengalaman sejarah ini yang telah mengantarkan Bung Karno untuk memilih paradigma simbiotik relasi agama dan negara. Bagi Bung Karno, gagasan yang bisa kita sebut *paradigma Pancasila* ini, sama sekali bukan berarti mendepak agama dari penyelenggaraan negara, melainkan justru *"memberikan kepada agama itu satu singgasana yang mahakuat di dalam kalbunya orang percaya" (Di bawah Bendera Revolusi, Jilid I, 1964)*.

Jadi, kita memilih Pancasila untuk menghindari 2 pilihan yang sama-sama buruk: *"bukan negara agama"*, dan *"bukan negara sekuler"*. Meminjam istilah Th. Van Leuwen dalam _Christinity in the World History_ (London: Edinburg House Press, 1986:331), dengan memilih Dasar Negara Pancasila yang sila pertamanya Ketuhanan Yang Mahaesa, _"a connection between the state and the religion could be maintained without the proclamation of an Islamic state"_ (hubungan antara negara dan agama dapat tetap dipertahankan, namun tanpa harus memproklamasikan sebuah negara Islam). ¶


*"De Museum Cafe" Malang, 25 Januari 2019*

*2018 ¶ ISCS©All Rights Reserved*



"Artikel Seri Natal" dalam *program ET'PATAH ISCS*, bisa diakses melalui tautan-tautan berikut ini:

*1. ET'PATAH ISCS*, Jum'at, 14 Desember 2018
_Answering The Anti-X'mas Myths_ : Sejarah Perayaan Natal 25 Desember

*2. ET'PATAH ISCS*, Jum'at, 21 Desember 2018
_Answering The Anti-X'mas Myths_: Migdal Eder, Natal dan Mitos Betlehem Bersalju

*3. ET'PATAH ISCS*, Jum'at, 28 Desember 2018
Dialog Imajiner St. Nicolas dari Myra dan Patriarkh Demetrius I dari Alexandria: 25 Desember Kelahiran Dewa Matahari?

*4. ET'PATAH ISCS*, Jum'at, 4 Januari 2019
Dialog Imajiner Kabar dari Efesus: Sejak Dulu Dajjal Nggak Suka Natalan

*5. ET'PATAH ISCS*, Jum'at, 11 Januari 2019
Dialog Imajiner Rahib Dionysius Exiguus dan Kyai Tunggul Wulung: Kontroversi Perayaan Tahun Baru

*6. ET'PATAH ISCS* Jum'at, 18 Januari 2019
Dialog Imajiner Rahib Dionysius Exiguus dan Kyai Tunggul Wulung: Bintang Betlehem dan The Magi Code

Senin, 28 Januari 2019

Siapa Engkau Tuhan?

My Utmost (B. Indonesia) - 29/01/2019

Siapa Engkau Tuhan? — Kisah 26:15

Bagaimana Seorang (Pelayan) Bisa Begitu Bodoh? Judul renungan hari ini cukup keras. Renungan ini mengingatkan kita, antara lain apakah "kita melayani Yesus dengan roh yang bukan Roh-Nya", kita berbicara dengan kata-kata yang terdengar baik, tetapi roh di balik kata-kata itu adalah roh seorang musuh, melayani dengan menggebu-gebu menurut cara saya sendiri dan untuk kepuasan diri sendiri.

Bagaimana Seseorang (Pelayan) Bisa Begitu Bodoh

"Beginilah firman Tuhan kepadaku," kata Yesaya, "... ketika tangan-Nya menguasai aku ....(Yesaya 8:11) Firman Tuhan ini menyatakan, tidak ada tempat untuk melarikan diri bila Tuhan berbicara. Dia selalu datang dengan menggunakan otoritas-Nya dan menguasai pengertian kita.

Sudahkah suara Allah mendatangi Anda secara langsung? Jika sudah, Anda tidak akan dapat salah dengan suasana keakraban yang mengiringinya, yang disampaikan kepada Anda. Karena Allah berbicara dengan bahasa yang paling Anda kenal, bukan melalui telinga Anda, melainkan melalui situasi yang Anda alami.

Allah harus menghancurkan kepercayaan kita terhadap keyakinan atau pendirian kita sendiri. Kita berkata, "Aku tahu bahwa inilah yang harus kulakukan!" Lalu, tiba-tiba Allah berbicara dalam cara yang meliputi kita dengan menyingkapkan kebodohan dan ketidakacuhan kita. Kita memperlihatkan kebodohan kita tentang Dia dalam cara kita membuat keputusan untuk melayani Dia. Kita melayani Yesus dengan roh yang bukan Roh-Nya dan menyakiti Dia melalui pembelaan kita terhadap Dia. Kita mengesampingkan tuntutan-Nya dalam roh iblis. Kata-kata kita terdengar baik, tetapi roh di balik kata-kata itu adalah roh seorang musuh. "Akan tetapi, Ia berpaling dan menegur mereka" (Lukas 9:55), Yesus menegur murid-murid-Nya karena ada roh lain pada mereka. Roh Tuhan di dalam para pengikut-Nya tertulis dalam 1 Korintus 13.

Adakah saya telah menganiaya Yesus dengan tekad yang menggebu-gebu untuk melayani Dia menurut cara saya sendiri? Jika saya merasa telah melakukan kewajiban saya, tetapi telah menyakiti Dia dalam cara saya melayani, saya dapat memastikan yang saya lakukan bukanlah kewajiban saya. Cara saya tidak akan mengembangkan roh yang lemah lembut dan tenang, melainkan hanya roh kepuasan diri sendiri. Kita menyangka bahwa apa pun yang tidak menyenangkan adalah kewajiban kita. Adakah seperti itu Roh Tuhan kita? "Aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku ....(Mazmur 40:9) Demikianlah seharusnya roh pelayanan kita.

Hal kekhawatiran

My Utmost (B. Indonesia)


Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang ... tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu? — Matius 6:30


Membiarkan "kekhawatiran dunia ini" masuk dalam pikiran kita dan melupakan janji "terlebih lagi" dari Bapa surgawi, seperti yang disebutkan dalam Matius 13:22, merupakan pikiran yang tidak hormat pada firman Tuhan. Hal ini dapat mengakibatkan kita surut dalam persekutuan dengan Tuhan. Bagaimana seharusnya? Mari, kita simak dalam renungan hari ini.

Lihat juga Bobby McFerrin: http://www.metrolyrics.com/dont-worry-be-happy-lyrics-bobby-mcferrin.html

Pandanglah pada Allah

Pernyataan Yesus yang sederhana selalu menjadi teka-teki bagi kita karena kita tidak bersikap sederhana. Bagaimana kita dapat memperoleh kesederhanaan Yesus agar kita dapat memahami Dia?

Dengan menerima Roh-Nya, mengenal, dan mengandalkan Dia, serta mematuhi-Nya (mengenal, mengandalkan Dia, dan mematuhi-Nya). Ketika Dia membawa kita kepada kebenaran firman-Nya, hidup akan menjadi sederhana, tetapi mengagumkan.

Yesus meminta kita merenungkan, "... jika demikian Allah mendandani rumput di ladang," betapa "terlebih lagi" Dia akan mendandani Anda, asalkan Anda tetap menjalin hubungan yang benar dengan Dia. Setiap kali kita surut atau mundur dalam persekutuan kita dengan Allah, itu karena kita mempunyai pemikiran yang sangat tidak patut, tidak hormat, merasa lebih tahu daripada Yesus Kristus. Kita telah membiarkan "kekhawatiran dunia ini" masuk (pikiran kita) (Matius 13:22), dan melupakan janji "terlebih lagi" dari Bapa surgawi.

"Pandanglah burung-burung di langit ...." (Matius 6:26) Tugas burung-burung tersebut ialah mematuhi naluri yang telah diberikan Allah dan Allah menjaga mereka. Yesus berkata bahwa bila Anda mempunyai hubungan yang baik dengan Dia dan mematuhi Roh-Nya (dalam diri Anda), Allah akan memelihara Anda.

"Perhatikanlah bunga bakung di ladang ...."(Matius 6:28) Mereka tumbuh di lahan tempat mereka ditanam. Banyak di antara kita menolak untuk tumbuh di tempat Allah menempatkan kita. Oleh karena itu, kita tidak berakar sama sekali.

Yesus mengatakan bahwa jika kita mematuhi Allah, Dia akan mengurus semua hal yang lain. Berdustakah Yesus kepada kita? Apakah kita sedang mengalami "terlebih lagi" yang dijanjikan-Nya itu?

Jika tidak, itu karena kita tidak mematuhi Allah dan mengusutkan hari kita dengan pikiran-pikiran yang membingungkan dan mencemaskan. Berapa banyak waktu yang terbuang karena menanyakan pertanyaan bodoh tanpa arti kepada Allah, padahal seharusnya kita sepenuhnya memusatkan perhatian terhadap pelayanan kita bagi-Nya?

Pengudusan adalah tindakan memisahkan diri (saya) secara terus-menerus dari segala sesuatu, selain yang ditetapkan Allah untuk dilakukan. Hal itu bukanlah suatu pengalaman sesaat melainkan proses yang terus berlangsung. Apakah saya terus-menerus memisahkan diri sambil memandang kepada Allah setiap hari dalam hidup saya?

Trinitas

Trinitas (revisi dari edisi juni 2017)

Teks: Kej. 1:1-2:4, Mat. 28:16-20

Shalom, selamat petang saudaraku. Beberapa waktu lalu penulis pernah menulis artikel singkat membahas seputar Trinitas. Kini ijinkan saya merevisi sedikit artikel tersebut untuk meluruskan dan menjawab beberapa pertanyaan yang kerap ditanyakan oleh para saudara dan sahabat yang non-Kristen mengenai konsep Trinitas.
Doktrin Trinitas sangatlah penting bagi iman Kristen, meskipun orang-orang Kristen sendiri acapkali mengalami kesulitan untuk mengerti atau menjelaskan hal ini. Sebenarnya, kesalahpahaman tersebut sering terjadi karena kita berusaha memahami Allah secara matematis. Padahal, mungkinkah kita menghitung Tuhan yang omnipresent? Konsep tentang identitas matematis lalu menjadi tumpul.
Secara garis besar, setidaknya ada 5 hal yang kerap ditanyakan berhubungan dengan Trinitas:
a. Benarkah Trinitas baru dikenal pada abad ke-3?
b. Adakah petunjuk kuat akan Trinitas pada PB?
c. Adakah petunjuk kuat akan Trinitas dalam PL? Apakah teologi Trinitas dapat diperdamaikan dengan monoteisme Israel?
d. Bagaimana memahami Yesus sebagai Anak Allah namun tetap menjunjung tinggi keesaan Allah?
e. Bagaimana relasi Yesus sebagai Firman Allah dengan Allah Bapa?
Artikel ini akan berupaya membahas beberapa pertanyaan tersebut berdasarkan beberapa sumber yang tersedia pada penulis, selain dari sumber googling. Penulis berusaha memaparkan sejelas dan seringkas mungkin pokok-pokok iman Kristen tentang Trinitas, dengan sedapat mungkin meminimalkan penggunaan istilah-istilah filosofis yang sulit dimengerti.
Perlu ditegaskan bahwa artikel ini ditujukan untuk membantu meluruskan berbagai kesulitan dalam memahami konsep Trinitas, namun tentunya tidak akan menjawab semua keberatan yang mungkin muncul. Mari kita mulai.

a. Benarkah Trinitas baru dikenal pada abad ke-3? (8)
Salah satu tuduhan yang kerap dilontarkan adalah bahwa Trinitas adalah gagasan abad ke-3 dan tidak ada landasannya dalam Alkitab. Benarkah demikian?
Tidak benar bahwa doktrin Trinitas baru diformulasikan dalam konsili Nicea pada 325AD, lewat sebuah konsili yang diadakan oleh Kaisar Constantine. Yang benar adalah pada konsili Nicea hanya ditegaskan mengenai keilhin Yesus, lalu mengenai Trinitas diteguhkan dalam Konsili Konstantinopel (381AD). Namun konsepnya sesungguhnya bersumber dari Alkitab, termasuk dalam PL secara parsial. Pewahyuan lengkap muncul di PB.
Secara sederhan, kita bisa merangkum pengajaran Alkitab ke dalam 3 pernyataan:
(1) Tuhan adalah 3 pribadi (namun "tiga yang satu (Esa)" bukan "tiga yang bersatu"; dari istilah para bapa gereja: "diskresi non separasi").
(2) Setiap pribadi adalah Tuhan seutuhnya
(3) Hanya ada satu Tuhan (Ul. 6:4)
Trinitas sebagai tiga pribadi Tuhan yang sepenuhnya setara, harus dengan hati-hati diseimbangkan dengan kesatuan Tuhan. Terminologi yang lebih tepat untuk dipakai menjelaskan hal ini adalah: "Tuhan Trinitas."

b. Adakah petunjuk kuat akan Trinitas pada PB?
Meski ada beberapa teks yang dapat dirujuk, secara sederhana ada 2 teks di mana ketiga figur Trinitas dinyatakan secara paling jelas, berkaitan dengan Injil Sinoptik:

(1)Teks Mat. 28:19
"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,"
Jelas dalam ayat ini bahwa Yesus memerintahkan para murid untuk membaptis dalam nama Bapa, dan Anak dan Roh Kudus. Perintah Yesus tersebut ingin menekankan adanya ketunggalan karya Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya. Ketiganya tidak dapat dipisah-pisahkan berdasarkan batasan ruang dan waktu. Ketiganya saling berpartisipasi untuk mewujudkan karya Allah yang sempurna bagi ciptaan-Nya.(12) 

(2) Teks Luk. 3:21-22
     21  Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit  
    22  dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan."  
Kiranya cukup jelas dalam teks ini bahwa ada 3 pribadi yang terlibat: Allah Bapa yang bersabda, Yesus (Allah Anak) yang sedang dibaptis, dan Roh Kudus yang turun ke atas Yesus.

c. Adakah petunjuk kuat akan Trinitas dalam PL? Apakah teologi Trinitas dapat diperdamaikan dengan monoteisme Israel?
Ada beberapa petunjuk dalam PL yang menyiratkan Trinitas walaupun tidak se-eksplisit dalam PB:

(1) Teks Kej. 1:1-3
    2  Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.  
    3  Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi.  
Dari teks ini, para teolog menyimpulkan bahwa Trinitas terlibat secara utuh dalam proses penciptaan: Bapa yang berkarya, Roh Allah yang mengerami, dan Firman Allah yang melaksanakan.
Kisah penciptaan yang terdapat dalam Kejadian 1 menggambarkan betapa indahnya relasi yang terjalin di dalam Allah Trinitas, bahkan relasi itu membentuk tarian kosmis (perikoresis) sejak awal mula semesta, yang dikenal sebagai proses penciptaan. Semua karya Allah di dalam dunia adalah karya bersama ketiga pribadi Allah. Jadi, semua itu berlangsung di dalam Sang Anak. Ia menjadi penampung seluruh karya Ilahi. Bandingkan dengan hymne Kristus dalam Kol. 1:15-17 berikut:
    15  "Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,  
    16  karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.  
    17  Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia."  

(2) Teks Kej. 1:26
    26  Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."  
Meski teks ini oleh para ahli biblika biasa ditafsirkan sebagai bentuk ungkapan jamak sebagai sapaan penghormatan (pluralis majestatis), namun sebenarnya juga tidak menutup kemungkinan penafsiran bahwa memang yang dimaksud dengan "Kita" di sini adalah pribadi Allah yang esa sekaligus jamak. Mungkin ini salah satu dasar yang kuat akan konsep "complex monotheism." (Jika dianalogikan dengan operasi bilangan, maka monoteisme simple dalam Yudaisme: 1+1+1=3, sedangkan monoteisme complex lebih dekat dengan perkalian atau pembagian: 1:1:1=1, atau 1x1x1=1.)

(3) nama Elohim, walaupun merupakan nama diri Tuhan yang esa (singular), namun secara gramatikal bermakna jamak (plural). Ini menyiratkan pemahaman Israel akan kejamakan yang tunggal dari Tuhan (plural identity), mirip dengan Kej. 1:26.

(4) ada juga banyak orang yang berusaha membuktikan bahwa teks Ul. 6:4 yang berbunyi sebagai berikut:

"Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! "

Bahwa ikrar Israel yang biasa disebut Shema tersebut lalu diklaim oleh sebagian orang sebagai petunjuk akan plural identity, karena kata "echad" bukan berarti satu yang numeris (bilangan), karena untuk satu yang bersifat bilangan ada kata Ibrani yang lain yaitu "yachid." 
Sejujurnya saya bukan ahli bahasa Ibrani, jadi saya tidak memastikan apakah benar demikian halnya, namun saya telah menanyakan hal ini kepada 3 orang hamba Tuhan dan saya mendapat 3 jawaban yang berbeda sebagai berikut:*
- editor LAI: echad rasanya tak seperti itu. Satu, tunggal. Kalau Elohim ya, satu tapi seperti jamak.
- pendeta senior GKJW: echad dalam ul. 6:4 itu satu dalam kerangka omni-present bukan locally present. 
- pendeta muda: kata echad bentuknya plural, satu bukan matematik, lebih Keluar ada unity, yang sederajat sama dalam keberadaannya mungkin kalau dalam ciptaan seperti air, udara, api.
Untuk diskusi yang lebih lengkap, pembaca yang berminat akan diskusi seputar makna kata echad dipersilakan melihat (1)-(7).

d. Bagaimana memahami Yesus sebagai Putera Allah namun tetap menjunjung tinggi keesaan Allah?(8)
Sebagai orang Kristen, kita percaya bahwa Yesus adalah Putra Tuhan. Yesus adalah batu penjuru dan pusat iman kita. Di dalam Dialah terletak keyakinan kita. 
Kedua gelar-Nya, Putra Tuhan dan Firman Tuhan, memastikan bahwa kita memahami Dia sebagai manifestasi personal keilahian, dan yang setara dengan Bapa. Dia adalah penyataan dari kemuliaan dan pribadi Tuhan sendiri. Yesus tidak hanya serupa dengan Bapa-Nya, tetapi Ia pun "satu substansi (hupostasis) dengan Bapa-Nya." Dia dan Bapa adalah satu (ESA). Ia digambarkan sebagai Sang Firman, pre-eksistensi Kristus, dalam suatu relasi yang unik dengan Bapa. 
Mari kita baca dua ayat berikut untuk lebih memahami Yesus:

"Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran." (Yoh. 1:14)

"Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan,..." (Kol. 2:9)

e. Bagaimana relasi Yesus sebagai Firman Allah dengan Allah Bapa?(8)
Kata "diperanakkan" (begotten), bukan "dibuat" (made) dipakai untuk menggambarkan kedatangan Kristus ke dalam dunia. Hal ini mengindikasikan bahwa Ia bukan diciptakan, sebagaimana halnya para malaikat. Di sini kita bisa melihat natur kekal ketuhanan Kristus. Ia adalah Putera Tuhan bahkan sebelum waktu dimulai. 
Dalam Yoh. 1:18 kita membaca:

"Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. "

Yoh. 17:5 mengatakan: 

"Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada."

Dan dalam I Yoh. 4:9 kita membaca:

"Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya."

Dalam Yohanes 1:1, istilah "logos" atau "firman" atau "kalam" diaplikasikan kepada pribadi yang sama. Hubungan ke-Putra-an Ilahi Yesus sebagai Firman Allah itu, dalam tulisan-tulisan patristik, yang antara lain dari murid-murid para rasul sendiri, lalu direnungkan, didalami dan direfleksikan dalam kehidupan iman gereja pada zamannya. Permenungan itu, sudah dimulai sejak era kekristenan yang paling dini, seperti tampak dalam doa kesyahidan Mar Polikarpus, seorang murid rasul Yohanes, yang memuji Allah Bapa dan Yesus, Sang Imam Surgawi yang kekal, serta memuliakan Roh Kudus-Nya. Lihat dokumen gereja perdana: The Martyrdom of Polycarp.(9)**
Begitu juga, Mar Ignatius al-Anthaki (67–100M), murid langsung Rasul Petrus dan Patriarkh gereja Antiokhia, yang menulis lebih konseptual: "Sesungguhnya Allah itu Esa, Ia telah menyatakan Diri-Nya sendiri melalui Yesus Kristus Putra-Nya, yaitu Firman-Nya yang keluar dari keheningan kekal." Dalam suratnya kepada orang-oang Efesus, Mar Ignatius juga menyebut Yesus sebagai "en anthropo theos" (Manunggaling kawula Gusti).(9)
Dalam konteks inilah penegasan akan keilahian Yesus harus kita pahami, bahwa frase-frase kontra bidat Arianisme dalam pengakuan iman Nicea antara lain berbunyi:

"Putra Allah yang tunggal yang lahir dari Sang Bapa yang sehakekat dengan Dzat Sang Bapa...dilahirkan, tidak diciptakan, satu dengan Sang Bapa dalam Dzat-Nya, yang melalui-Nya segala sesuatu baik di langit dan di bumi telah diciptakan."(9)

Pembaca yang agak sulit memahami bagaimana proses fisika dari Sabda Tuhan dapat menjadi benda-benda langit, mungkin akan merasa terbantu dengan membaca artikel penulis yang mencoba memahami Yoh. 1 dalam terang ilmu "cymatic" (visible sound). Penulis menyebutnya sebagai "theo-cymatic." Lihat (10).

Penutup
Secara ringkas, para bapa gereja membayangkan Trinitas bagaikan kesatuan sebuah kelompok tari yang bergerak saling melingkar, berjejalin, berkelindan membentuk kesatuan yang harmonis nan indah. Gagasan tentang tarian Trinitas yang indah tersebut kerap disebut "perichoresis."(12) Lihat juga (13)(14).
Sebagai catatan akhir, meski penulis bukanlah ahli bahasa, namun tidaklah sulit untuk menemukan padanan ide tentang identitas yang esa sekaligus kompleks-plural itu setidaknya dalam 3 hal berikut:

(a) uncountable noun: dalam bahasa Inggris misalnya, air atau kopi tidak dapat dihitung, jadi untuk menyebut digunakan, jadi digunakan ungkapan: a glass of water atau a cup of coffee dst.

(b) plural unity: misalnya dalam ungkapan sehati, sepikir, seia sekata, sekeluarga dst tersirat makna sekumpulan yang menjadi satu.

(c) unity in diversity: ide keesaan gereja, ungkapan "bhinneka tunggal ika" juga memuat ide akan kesatuan dalam keberbedaan. Lihat artikel penulis (11).

Demikianlah pemaparan sederhana di atas kiranya dapat menolong pembaca untuk lebih memahami konsep Trinitas. Sekali lagi perlu ditegaskan di sini, bahwa artikel ini ditujukan untuk membantu meluruskan berbagai kesulitan dalam memahami konsep Trinitas, namun tentunya sangat jauh dari memadai untuk menjawab semua keberatan yang mungkin muncul. 
Jika ada hal-hal yang masih samar atau belum begitu jelas, silakan Anda cari seorang pendeta di daerah Anda yang mau berdialog dengan Anda. Namun jika tidak ada, silakan Anda berdoa mohon pencerahan langsung dari Gusti Allah. Ia akan menjawab Anda jika Anda memohonkan doa dengan bersungguh-sungguh. 
Tuhan menyertai langkah Anda. Jbu

Versi 1.0: 10 juni 2017, pk. 16:49
Versi 1.1: 14 juni 2017, pk. 18:29
Versi 1.2: 15 juni 2017, pk. 3:05
Versi 1.3: 25 january 2019, pk. 16:33
VC

catatan:
* terimakasih kepada Dr. Paskalis Edwin, Pdt. Chrysta Andrea, dan pak Iran
** terimakasih kepada Mas Bambang Noorsena.

Referensi:
(1) http://torahofmessiah.org/meaning-of-elohim-echad/
(2) http://www.bible.ca/trinity/trinity-oneness-unity-yachid-vs-echad.htm
(3) http://www.christianissues.biz/pdf-bin/trinity/theechadofgod.pdf
(4) http://www.messianictorah.org/en/pdf/tricha-1.pdf
(5) http://ncbf.homestead.com/What_does_the_Hebrew_word_echad_mean.pdf
(6) http://www.whoisjesus.com/echad.html
(7) http://examiningthetrinity.blogspot.co.id/2011/04/echad-one.html
(8) Rosemary Sookhdeo. Breaking through the barriers. McLean: Isaac Publishing, 2010
(9) Bambang Noorsena. Answering Misunderstanding. Malang: Rumah Boekoe, 2016.
(10) Victor Christianto. A theo-cymatic reading of prolegomena of St. John's Gospel. Scientific God journal, 2017. Url: http://scigod.com/index.php/sgj/article/view/544/595
(11) Victor Christianto. Kesatuan dan perbedaan dalam gereja perdana. IJT vol. 2 no. 2, 2014. Url: https://journalteologi.files.wordpress.com/2015/02/05-ijt2-2-kesatuandanperbedaandalamgerejaperdana.pdf
(12) John Polkinghorne. Science and the Trinity: The Christian encounter with reality. Yale University Press, 2004.





Kamis, 24 Januari 2019

Seputar Schleiermacher, Baur, dan Mazhab Tuebingen

Seputar Schleiermacher, Baur, dan Mazhab Tuebingen

Oleh Victor Christianto

Shalom para sahabat dalam Kristus. Kemarin siang, selagi berdiskusi dengan mas Bambang Noorsena (lihat artikel sebelumnya), saya jadi teringat rencana menulis ulasan singkat tentang Mazhab Tuebingen.

Alumni Tuebingen
Jika Anda pernah belajar teologi, tentu pernah belajar atau setidaknya mendengar nama nama lulusan Fakultas Teologi Tuebingen, yang disebut sebut sebagai salah satu yang terbaik di Jerman, di antaranya: Karl Barth, Ferdinand Baur, Jurgen Moltmann, Dietrich Bonhoeffer, Paul Tillich, Strauss dan Miroslaf Volf. Lihat lampiran. (1)
Meski yang kerap dianggap sebagai peletak dasar teologi modern adalah Friedrich Schleiermacher (Univ. Halle dan Univ. Berlin), namun tidak urung nama nama seperti Barth dan Baur sangat mewarnai studi teologi.
Saya tidak cukup dekat mengenal pemikiran Schleiermacher dan Barth, namun pernah ada semacam pertentangan antara keduanya.(2)
Yang satu mengusung pendekatan antroposentris sementara Barth dikenal sebagai pelopor neo-ortodoksi. Ringkasnya, Schleiermacher tampak lebih suka bottom-up, sementara Barth lebih cenderung top-down.
Selain para teolog lulusan Tuebingen banyak juga saintis terkenal lulusan Tuebingen, sebut saja misalnya: Johannes Kepler dan Arthur Geiger, penemu alat pencacah Geiger.

Mazhab Tuebingen
Suatu kali saya membaca berbagai makala yang membahas Ferdinand Baur, yang merupakan pencetus Mazhab Tuebingen. Asumsi dasar dari Baur adalah sejarah gereja perdana mengikuti teori dialektika sejarahnya Hegel. (3)
Dan Hegel juga salah satu alumnus Tuebingen.
Misalnya, Baur menulis bahwa ada pertentangan antara Kekristenan Yahudi (Jewish Christianity) sebagai tesis dan Kekristenan Paulus sebagai antitesis, yang kemudian berresultan menjadi Kekristenan model komunitas Yohanin (tercermin dalam Injil Yohanes) sebagai sintesis (mengikuti pola tesis-antitesis-sintesis dari Hegel). (3)
Setelah beberapa dekade berhasil memimpin pemikiran teologi PB pada masanya, akhirnya Mazhab ini ditinggalkan setelah terbit buku dari von Harnack. (4)
Ijinkan saya memberikan ringkasan mengenai 5 kelemahan mencolok dari Mazhab tersebut:

a. Pseudo-Clementine. Baur tampaknya mendasarkan teorinya tentang pertentangan dalam gereja perdana dari perselisihan antara Simon Magus dan Petrus yang disebut dalam naskah Pseudo Clementine. (5)
Namun naskah ini dari abad ke-4 dan non kanonik, jadi tidak layak untuk membangun Teori sejarah gereja perdana. Lagipula naskah ini diduga memang bercorak anti-Pauline (mirip dengan Mazhab Ebionite). Temuan temuan terbaru seperti naskah Laut Mati juga membuat hipotesis Baur ditinggalkan.

b. Historisitas injil Yohanes. Gagasan bahwa Injil Yohanes adalah sintesis menjadi mentah, saat temuan terbaru menunjukkan bahwa Injil ke4 tersebut diduga dari periode yang tidak jauh atau mungkin mendahului Injil Sinoptik. Untuk studi tentang historisitas Injil Yohanes, lihat karya CH Dodd. (6)

c. Kesatuan dalam perbedaan.(7)
Bahwa memang ada perbedaan pendapat antara berbagai faksi dalam gereja perdana, itu mesti diakui (lihat Kis. 15 dan Surat Galatia). Namun juga ada kesatuan dan saling menghormati di antara para pelopor dalam gereja perdana, seperti terlihat dalam 3 ayat berikut:

Kisah Para Rasul 21:18
Pada keesokan harinya pergilah Paulus bersama-sama dengan kami mengunjungi Yakobus; semua penatua telah hadir di situ.

Galatia 2:9
Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat;

1 Korintus 3:6
Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. 

d. Perbedaan itu tidak muncul dalam literatur karya bapa-bapa gereja. Seandainya ada pertentangan antara Petrus dan Paulus atau antara Paulus dan Yakobus, tentu akan bisa ditelusuri jejaknya pada literatur bapa bapa gereja yaitu murid murid langsung para rasul. Lalu kenapa Baur bisa melakukan kesalahan fatal seperti itu? Setidaknya ada 2 penyebab:
- Baur berasal dari lingkungan Protestan yang asing dengan studi studi patristik, jadi dia hanya mengandalkan Pseudo Clementine.
- Baur terlalu percaya pada hipotesis dialektika sejarahnya Hegel.

e. Perjumpaan bisa berupa dialog. Seperti ditegaskan oleh Prof. Milad Hanna dari gereja koptik, perjumpaan dengan The Other (yang lain) tidak harus menghasilkan konflik, namun lebih mungkin dialog yang saling mencerahkan. Itu sebabnya Martin Buber,  pelopor pendekatan dialogis, juga tidak setuju dengan Marx (dan Freud).

Penutup
Kiranya menjadi jelas, bahwa gagasan Hegel tentang dialektika sejarah tidak dapat dipertahankan. Apalagi gagasan materialisme-dialektika seperti pada Marx (Marx juga bertolak dari Hegel).
Meski artikel ini mengkritik Mazhab Tuebingen, bukan berarti tidak ada yang  penulis kagumi di antara para lulusan Tuebingen yang sohor tersebut.
Di antara yang saya kagumi ada 4 setidaknya; Johannes Kepler, Dietrich Bonhoeffer yang gigih melawan Hitler, Eta Linemann, dan Olaf Schumann (keduanya pernah mengajar di seminari di negeri ini).

Versi 1.0:  24 januari 2019, pk. 8:29
VC

Sumber:
(1) https://en.m.wikipedia.org/wiki/University_of_Tübingen
(2) http://www.faith-theology.com/2007/07/matthias-gockel-barth-and.html?m=1
(3) https://m.huffpost.com/us/entry/us_4776679
(4) http://self.gutenberg.org/articles/Tübingen_School
(5) http://www.philipharland.com/Blog/2005/10/17/peter-vs-simon-magus-alias-paul-in-the-pseudo-clementines-nt-apocrypha-17/
(6) https://www.bookdepository.com/Historical-Tradition-Fourth-Gospel-C-H-Dodd/9780521291231
(7) lihat juga V. Christianto. Kesatuan dan perbedaan dalam Gereja Perdana. IJT, 2014. URL: https://www.researchgate.net/publication/272831753_Kesatuan_dan_Perbedaan_dalam_Gereja_Perdana_IJT_Volume_2_Nomor_2_Desember_2014

Lampiran:
Daftar beberapa alumni fakultas teologi Tuebingen: (sumber:  ref. 1) 


Theology

Karl Barth, Swiss, Reformed, one of the most influential Protestant theologians of the 20th century

Ferdinand Christian Baur, Protestant theologian and historian of early Christianity and the New Testament

Dietrich Bonhoeffer, Lutheran, one of the most influential Protestant theologians of the 20th century, pastor and opponent of the Nazi Regime

Rudolf Bultmann, one of the most influential Protestant theologians of the 20th century, famous for existential biblical interpretation

Gerhard Ebeling, Protestant theologian, former student of Rudolf Bultmann, expert on philosophical hermeneutics

Johannes Eck (1486–1543), Catholic theologian, counter-Reformer

David F. Ford, Regius Professor of Divinity at the University of Cambridge (since 1991)[42]

Romano Guardini, Roman Catholic priest, author and academic

Walter Kasper, Cardinal in the Roman Catholic Church, very influential Roman Catholic theologian of today

Hans Küng, influential Roman Catholic theologian, critic of Catholic doctrine

Philipp Melanchthon (1497–1560), Protestant reformer, first systematic theologian of the Protestant Reformation

Eduard Mörike, Protestant theologian, famous German poet

Jürgen Moltmann, one of the most influential Protestant theologians of today

Konrad Raiser, Protestant theologian, former General Secretary of the World Council of Churches (WCC)

Charles-Frédéric Reinhard (1761–1837), Württembergian-born French diplomat, essayist, and politician

Friedrich Wilhelm Joseph von Schelling, Protestant theologian, influential philosopher

Adolf Schlatter, influential Protestant theologian

David Strauss, very influential Protestant theologian and writer who revolutionized the study of the New Testament

Paul Tillich, German-American theologian at Harvard University, one of the most influential Protestant theologians of the 20th century

Miroslav Volf, Christian theologian at Yale University

Karl Heinrich Weizsäcker, Protestant theologian and chancellor of the University of Tübingen. 




Antara Monoteisme, Trinitas, dan Triteisme

Antara Monoteisme, Trinitas, dan Triteisme

Oleh Victor Christianto

Shalom para sahabat. Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha ESA, kemarin pagi saya berkesempatan mengikuti kelas studi biblika yang disampaikan oleh Dr. Bambang Noorsena. Di antara pemaparan beliau, ada kisah tentang pengakuan Polycarpus tentang Allah Tritunggal, saat dia menjalani hukuman dibakar karena menolak menyangkali Yesus.
Lalu, saya teringat sebuah buku yang membahas tentang pemikiran Jurgen Moltmann.
Jadi saya tanyakan tentang hal ini ke mas Bambang. Berikut rangkuman jawaban beliau, ditambah sisipan dari saya di sana sini:

Memang disebutkan bahwa Moltmann menghidupkan kembali pemikiran bapabapa Kapadokia, namun tidak sepenuhnya konsisten.
Trinitas bukan tiga yang bersatu tapi yang satu (ESA). Trinitas menekankan kesatuan wujud yang tidak terpisah (diskresi non separasi); ini yang tidak terbaca oleh para teolog barat seperti Jurgen Moltmann,  sehingga lebih condong ke triteisme.  (1)
Mengapa demikian?
Karena mereka menekankan pada transliterasi dari yunani kata "hupostasis"(2) (3) menjadi Latin personae, menganggap Trinitas sebagai "3 person"; sebagai tiga yang terpisah.
Lalu akibatnya ya ada film seperti The Shack yang menuai kontroversi. (4)

Asal usul Trinitas
Bapa bapa Kapadokia mengembangkan dari bapa bapa gereja termasuk Polycarpus, seperti dikisahkan dalam Martyrdom of Polycarpus (murid rasul Yohanes). (5)
Trinitas diperkenalkan sebagai Triathos oleh Theophilus dari Antiokhia. Dengan demikian, tidak benar anggapan banyak apologet non-Kristen termasuk Dan Brown dalam Da Vinci Code, bahwa Trinitas ditetapkan pada konsili Nicea th 325M.
Pada tahun itu sebenarnya yang dipermasalahkan adalah keilahian Yesus. Mengenai Trinitas baru ditetapkan pada konsili sekitar tahun 380 an.

Kesimpulan:
a. Tidak betul bahwa Trinitas identik dengan 3-person (Triteisme). Dalam hal ini Moltmann kurang cermat.
b. Para teolog Kristen mesti membekali diri dengan pemahaman tentang pemikiran para bapa gereja sejak para Rasul abad pertama sehingga dapat menangkal pemikiran teologis yang keliru (heresiology).
c. Film da Vinci code dan juga The Shack tidak tepat secara teologis dan bermuatan menyesatkan.

NB:  trims untuk mas Bambang Noorsena.

Versi 1.0:  23 januari 2019, pk. 17: 54.
VC

Referensi:
(1) Randall E. Otto. URL: https://www.researchgate.net/publication/229599353_Moltmann_and_the_Anti-Monotheism_Movement
(2) hupostasis. URL:  https://biblehub.com/greek/5287.htm
(3) hupostasis original meaning. URL: https://www.biblestudytools.com/lexicons/greek/kjv/hupostasis.html
(4) The Shack. http://www.theshackheresy.com
(5) Martyrdom of Polycarpus. URL. http://www.earlychristianwritings.com/martyrdompolycarp.html

Sabtu, 19 Januari 2019

The Way to a New Phased Array Radar Architecture (Beware of 5G technologies)

The Way to a New Phased Array Radar Architecture

15 January, 2018

Sponsored Article: Digital beamforming phased arrays are now common, and rapid proliferation is expected with a huge range of frequencies and architectures being developed from L-band through to W-band.

By Peter Delos, Analog Devices, Inc.
A large proliferation of digital beamforming phased array technology has emerged in recent years. The technology has been spawned by both military and commercial applications, along with the rapid advancements in RF integration at the component level. Although there is a lot of discussion of massive MIMO and automotive radar, it should not be forgotten that most of the recent radar development and beamforming R&D has been in the defense industry, and it is now being adapted for commercial applications.
While phased array and beamforming moved from R&D efforts to reality in the 2000s, a new wave of defense focused arrays are now expected, enabled by industrial technology offering solutions that were previously cost prohibitive. In classical phased arrays, the analog beamforming subsystem combines all the elements to centralized receiver channels. Every element in digital beamforming phased array has waveform generators and receivers behind every front-end module, and the analog beamforming layer is eliminated. In many systems today, some level of analog beamforming is common.
The waveform generator and receiver channels serve to convert digital data to the operating band RF frequencies. Digital beamforming is accomplished by first equalizing the channels, then applying phase shifts and amplitude weights to the ADC data, followed by a summation of the ADC data across the array. Many beams can be formed simultaneously, limited only by digital processing capability.
Analog Devices has solutions for every section of a beamforming system illustrated, and for both analog and digital beamforming architectures.

ANALOG VS. DIGITAL BEAMFORMING
The objective of a digital beamforming phased array is the simultaneous generation of many antenna patterns for a single set of receiver data. The Figure (right) shows the antenna patterns at an element, the combined elements in a subarray, and the beamformed data at the antenna level. The primary obstacle of the subarrayed approach is that beamformed data must be within the pattern of the subarray. With a single subarray, simultaneous patterns cannot be generated at widely different angles. It would be desirable to eliminate the analog beamformer and produce only digital beamforming system. With today’s technology, this is now possible at L- and S-band. At higher frequencies, size and power constraints often necessitate some level of analog beamforming.

Beamforming goes Digital

However, the quest remains to approach near elemental digital beamforming, which places significant demands on the waveform generators and receivers. While the beamforming challenges place demands on the waveform generators and receivers to reduce size and power, there is a simultaneous demand to increase bandwidth for most system applications.
These objectives work against each other, as increased bandwidth typically requires additional current and additional circuit complexity. Digital beamforming relies on the coherent addition of the distributed waveform generator and receiver channels. This places additional challenges on both synchronization of the many channels and system allocations of noise contributions.

New Technologies Needed

The superheterodyne approach, which has been around for a 100 years now, provides exceptional performance. Unfortunately, it is also the most complicated. It typically requires the most power and the largest physical footprint relative to the available bandwidth, and frequency planning can be quite challenging at large fractional bandwidths. The direct sampling approach has long been sought after, the obstacles being operating the converters at speeds commensurate with direct RF sampling and achieving large input bandwidth.
Today, converters are available for direct sampling in higher Nyquist bands at both L- and S-band. In addition, advances are continuing with C-band sampling soon to be practical, and X-band sampling to follow. Direct conversion architectures provide the most efficient use of the data converter bandwidth. The data converters operate in the first Nyquist, where performance is optimum and low-pass filtering is easier. The two data converters work together sampling I/Q signals, thus increasing the user bandwidth without the challenges of interleaving.
The dominant challenge that has plagued the direct conversion architecture for years has been to maintain I/Q balance for acceptable levels of image rejection, LO leakage, and DC offsets. In recent years, the advanced integration of the entire direct conversion signal chain, combined with digital calibrations, has overcome these challenges, and the direct conversion architecture is well positioned to be a very practical approach in many systems. The future will bring increased bandwidth and lower power, while maintaining high levels of performance, and integrating complete signal chains in system on chips (SoC), or system in packages (SiP) solutions.

Digital Data Converter

Data converter analog performance will continue to improve and these improvements at the analog level will include increased sampling rates for wider bandwidth, increased channel count, and maintaining the key performance metrics of noise, density, and linearity. These benefits will drive all of the RF signal chain solutions described, aiding new phased array solutions. An area of increased importance at the system level is the recent addition of many digital functions (as shown in the Figure below) that can be used to offload FPGA processing and help the overall system.


source:
[1]Delos, Peter. “The Way to a New Phased Array Radar Architecture.” TechTime: Electronics & Technology News. January 15, 2018. Accessed January 1, 2019. https://techtime.news/2018/01/ 15/analog-devices-phased-array-radar/. “Although there is a lot of discussion of massive MIMO and automotive radar, it should not be forgotten that most of the recent radar development and beamforming R&D has been in the defense industry, and it is now being adapted for commercial applications. While phased array and beamforming moved from R&D efforts to reality in the 2000s, a new wave of defense focused arrays are now expected, enabled by industrial technology offering solutions that were previously cost prohibitive.”
[2] “Electrosensitive Testimonials.” We Are The Evidence. 2018. Accessed January 1, 2019. https://wearetheevidence.org/adults-who-developed-electro-sensitivity/. “WATE intends to expose the suppressed epidemic of sickness, suffering and human rights crisis created by wireless technology radiation; elevate the voice of those injured; defend and secure their rights and compel society and governments to take corrective actions and inform the public of the harm.”

[3] Glaser, Lt. Z. “Cumulated Index to the Bibliography of Reported Biological Phenomena (‘effects’) and Clinical Manifestations Attributed to Microwave and Radio-frequency Radiation: Report, Supplements (no. 1-9).” BEMS Newsletter B-1 through B-464 (1984). Accessed January 1, 2019. https://www.cellphonetaskforce.org/wp-content/uploads/2018/06/Zory-Glasers-index.pdf. Lt. Zorach Glaser, PhD, catalogued 5,083 studies, books and conference reports for the US Navy through 1981.
[4] “Space Sustainability: A Practical Guide.” Secure World Foundation, 2014, 21. Accessed January 1, 2019. https://swfound.org/media/206289/swf_space_sustainability-a_practical_guide_2018__1.pdf.

“However, as more countries integrate space into their national military capabilities and rely on space-based information for national security, there is an increased chance that any interference (either actual or perceived) with satellites could spark or escalate tensions and conflict in space or on Earth. This is made all the more difficult by the challenge of determining the exact cause of a satellite malfunction: whether it was due to a space weather event, impact by space debris, unintentional interference, or deliberate act of aggression.”
[5] “Space Law: Liability for Space Debris.” Panish, Shea & Boyle LLP. 2018. Accessed January 1, 2019. https://www.aviationdisasterlaw.com/liability-for-space-debris/. “Filing a lawsuit against SpaceX for space debris is a little different than one against the commercial industry or state-sponsored launch. Since SpaceX is a private company, injured parties can file claims directly against the establishment in accord with the state’s personal injury laws. For the claim to be successful, the plaintiff will have to prove that SpaceX was negligent in some way that caused the space debris collision. Space law is notoriously complex, making it very difficult for injured parties to recover for [sic] their damages in California.”

5G Gigantic health hazard

5G Gigantic health hazard: Discussion by Dr Barrie Trower & Sir Julian Rose   https://www.youtube.com/watch?v=DLVIbPtNrVo Dr. Trower men...