Senin, 18 Maret 2019

Tuhan atas bejana yang retak

Tuhan atas bejana yang retak

Teks: 2 Korintus 4:6-7
"6 Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.
7 Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami."

Shalom, saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus. Beberapa hari terakhir ini, saya melakukan beberapa perjalanan keluar kota menggunakan moda kereta. Karena ada cukup banyak waktu di perjalanan, saya jadi sempat membaca buku Steven Furtick, (Un)qualified, edisi terjemahan. Judul versi terjemahannya adalah (Tidak) memenuhi syarat.

Retakan, dan retakan di mana-mana
Awalnya saya tidak begitu paham dengan desain sampulnya yang menampilkan gambar tidak beraturan, meski bab pembukanya cukup menarik. Ternyata di bagian akhir baru dijelaskan, bahwa desain sampulnya diambil dari sebuah ornamen gereja yang terdiri dari pecahan-pecahan kaca.
Hal ini terinspirasi dari kalimat bijak dari Leonard Cohen:

"Ada retakan dalam segala sesuatu. Melaluinya cahaya dapat masuk."

Buku ini sangat bagus dan mengena, terutama karena bab pertama dibuka dengan pengalaman hidup Furtick sendiri yang pernah dikomentari sebagai "tidak memenuhi syarat."
Furtick menunjukkan bahwa di hampir seluruh Alkitab, Tuhan menunjukkan bagaimana Ia dapat memakai dan bekerja bersama orang-orang yang tidak layak menurut ukuran dunia pada umumnya. Tuhan menyatakan diriNya paling baik bukan "walaupun" mereka lemah, namun "justru" dalam kelemahan mereka.
Bahkan seringkali Ia sendiri yang menunjuk dan memberi semangat, baik kepada Abram yang kemudian menjadi Abraham, kepada Musa, kepada Gideon ketika ia bersembunyi di pengirikan terpencil, kepada Yakub si pemegang tumit, kepada Kefas si nelayan yang "hopeless" menurut ukuran duniawi, dan bahkan kepada perempuan Samaria yang telah menikah beberapa kali.

Penerimaan
Memang salah satu kebutuhan dasar manusia adalah aktualisasi diri, yang mewujud antara lain dalam kebutuhan akan rasa aman dan penerimaan. Namun Alkitab menegaskan, bahwa pada akhirnya penerimaan dari Tuhan adalah cukup, bahkan sekalipun Tuhan tidak menyembuhkan semua kelemahan itu.
Kepada Paulus yang memohon berulangkali agar duri dalam dagingnya segera disembuhkan, Tuhan hanya menjawab singkat:

9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
10 Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat. (2 Kor. 12:9-10)

Furtick mengajukan argumen sepanjang buku ini, bahwa frase "dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna," berlaku tidak saja untuk Paulus. Namun lebih merupakan pola yang sering digunakan Tuhan sepanjang sejarah. It's a rule rather than exception.
Dalam kalimat lain, Tuhan tidak pernah ragu untuk menggunakan bejana tanah liat yang paling berantakan sekalipun, bukan walaupun bejana itu rapuh dan hancur lebur, namun justru dalam kelemahan itulah. Bukankah saat-saat kita menyadari betapa rapuhnya kita, maka seringkali itu justru saat kita mau mendekat kepada Tuhan?
Yesus sendiri melukiskan betapa Tuhan senantiasa dekat dan dengan sabar menanti anak-anakNya kembali, seperti pada perumpamaan anak yang hilang. Namun bukankah sering terjadi bahwa Tuhan terpaksa mesti "menekuk" seseorang pada kegagalan atau mungkin sakit penyakit, agar orang tersebut tidak lagi terlalu angkuh?*

Penutup
Lalu apa maksud semuanya itu? Tidak lain hanyalah agar pada akhirnya hanya Tuhanlah yang berhak atas segala puji dan sembah. Soli Deo Gloria!

Semoga renungan singkat ini ada gunanya bagi Anda sekalian.

Tuhan memberkati Anda sekalian. Amin

Versi 1.0: 18 maret 2019, pk. 22:41

Catatan:
* istilah "ditekuk Tuhan" ini saya dengar dari seorang teman SMA yang suatu kali menceritakan betapa ia mesti mengalami proses yang panjang sebelum dapat menerima kehidupan yang lebih berwarna bersama anaknya yang mengalami disleksia.

Referensi:
(1) Steven Furtick. (Un)qualified. Light Publisher. Url: https://mikeforchrist.com/2016/07/18/book-review-unqualified-by-steven-furtick/





Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://nulisbuku.com/books/view_book/9694/sastra-harjendra-ajaran-luhur-dari-tuhan-a5
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains
http://nulisbuku.com/books/view_book/9693/jalan-yang-lurus-manual-anak-anak-terang-a5
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Catatan kecil buat para penggiat OJS

Catatan kecil buat para penggiat OJS*

Shalom para sahabat, khususnya para penggiat jurnal teologi di STT di seluruh nusantara.
Akhir-akhir ini saya mengikuti perkenmbangan di beberapa STT yang sibuk mempersiapkan jurnal dalam format OJS. Tentu adalah hal yang baik jika Anda bergiat dalam penulisan makalah-makalah teologi yang berbobot untuk memajukan khazanah pemikiran teologi di nusantara, demikian juga jika artikel Anda diterima oleh jurnal-jurnal teologi top yang terindeks Scopus.
Namun, mari kita renungkan sedikit mendalam.
Jika artikel yang Anda tulis dengan susah payah lalu ditolak Editor, apalagi tanpa review apapun, bukankah Anda bisa jadi frustasi? Di dasar hati Anda, mungkin Anda bertanya-tanya apakah Anda tidak cukup bagus menulisnya.
Lebih buruk lagi, saya mendengar dan melihat sendiri bahwa jurnal-jurnal top mensyaratkan artikel yang diterima mesti dibuat terbuka : Open Access, yang artinya biaya menerbitkan bisa mencapai $500 - $2000 per artikel bahkan lebih. Dan ini jelas merupakan rintangan sendiri bagi penulis atau teolog dari negara berkembang.

Hwa Yung
Masih ada problem yang lebih besar, setidaknya menurut Hwa Yung, seorang teolog Malaysia. Dalam bukunya, Mangga atau Pisang (sudah diterjemahkan), ia antara lain menyatakan adanya kecenderungan berteologi kontekstual yang di luarnya saja Asia, namun inti pemikiran masih banyak diwarnai oleh filsafat dan metode berteologi yang kebarat-baratan.
Tanpa maksud membuat dikhotomi usang Barat-Timur, tampaknya kritik Hwa Yung tersebut ada baiknya diperhatikan oleh para teolog nusantara juga. Bagaimana mau disebut berteologi yang lokal dan membumi, kalau persoalan yang digeluti tetap bercorak teologi atau filsafat kontinental.
Lebih buruk lagi, kita sibuk agar artikel-artikel kita berterima di jurnal-jurnal bergengsi yang justru berpotensi menjadikan kita teolog-teolog yang tercerabut dari akarnya (semoga tidak sampai sefatal itu).
Ada baiknya kita memilah tulisan teologi yang hanya menyenangkan manusia (baca: editor), dan mana yang berkenan pada Tuhan. Pada hemat saya, teolog yang baik seyogyanya berpikir bukan agar tulisannya berdampak pada indeks Scopus atau Google scholar, namun bagaimana agar berdampak pada kekekalan.

Sekian catatan singkat mengenai OJS, ijinkan saya memparafrasakan salah satu ayat terkenal dari 1 Korintus 13:

"1 Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
2 Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku telah menerbitkan lebih dari 50 artikel di jurnal-jurnal terindeks Scopus, dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna."

Tuhan memberkati Anda semua, Amin.

Versi 1.0: 18 maret 2019, pk. 23:22


Note:
* OJS: open journal system

Bacaan lanjutan:
(1) Hwa Yung. Mangga atau Pisang. Literatur Perkantas. Url: https://literaturperkantas.net/produk/mangga-atau-pisang/




Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://nulisbuku.com/books/view_book/9694/sastra-harjendra-ajaran-luhur-dari-tuhan-a5
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains
http://nulisbuku.com/books/view_book/9693/jalan-yang-lurus-manual-anak-anak-terang-a5
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Sabtu, 02 Maret 2019

What Biblical Discipling Is Not

What Biblical Discipling Is Not

Discipling is a much talked about topic, but often people have a wrong idea of what discipling entails. Let me describe a few things that biblical discipling is not.

1. It is not a case of one person controlling another person's life. Sometimes insecure disciplers have so much control over those they disciple that they attempt to conform the disciplee's will to their own like what happened with the popular discipleship (or shepherding) movement in the United States in the 1970s and 1980s. Leaders started having an unhealthy influence over their people, and the groups became like cults. This is why I prefer to use the terms discipler and disciplee rather than master and disciple.

The discipler's task is to help people to become disciples of Jesus, not of the discipler. While our example plays a key role in this (1 Cor. 11:1), the key factor in discipling is for them but God's will for them, especially as taught in the Scriptures. We feed them the Word to the point that they can feed on the Word themselves and gradually become less dependent on us. Indeed, those we disciple will end up as our lifelong friends. After some time, they are our friends, not our disciplees. Sometimes another may take on the role of discipling this person. Mark was first discipled by Barnabas. But later Peter took him under his wing, so that Peter referred to him as his son (1 Pet. 5:13).

2. It is not a relationship that separates the discipler and disciplee from the rest of the body. Though Jesus dealt personally with issues in the lives of individual disciples, like Peter and Judas, he discipled them as a group. Christians are made in the image of God who has eternally lived in the community of the Trinity. Consequently, God's people do not think of life outside of community. Relating to one's family and the body of Christ are vital aspects of being a Christian. This is why discipling must always be viewed as an activity of the body of Christ.

A small group can provide a good context for discipling because it is sufficiently small enough to practically facilitate individual attention to the growth of each disciplee. But the small group is a part of the body of Christ. It cannot become an exclusive clique within the church. While I spend unhurried times alone with those I disciple, I try not to be with them in larger gatherings. I encourage those in the discipleship group to chat with others rather than sticking with their group.

If disciplees are to relate well to the body of Christ, their disciplers need to relate healthily to the rest of the church. They need to willingly submit to being accountable to the church. Their attitude helps those they lead to think positively of the wider Christian community of which they are a part. Such involvement with this wider community may at times be messy and inconvenient. But the result is that disciplees are active long term in the church even after the discipleship group has disbanded.

3. It is not as simple as what happens in many fellowship groups today. There has been a welcome revival of small group activity in the church today. However, what happens in many groups falls short of giving a good opportunity for the members to be discipled. They usually have a vibrant time of worship, and time is given for testimony, for sharing and praying for needs. Someone shares a short devotion. People leave feeling that they have been spiritually blessed.

However, these groups miss two important aspects of biblical discipling. They miss providing adequate teaching of the Word, which is a major means of sanctifying believers (John 17:17; 2 Tim. 3:16–17). The thoughts from the Word that come through the short devotion may be emotionally inspiring and give some good biblical points, but they fall short of covering what Paul called "the whole counsel of God" (Acts 20:27).

This kind of group also fails to provide an opportunity for spiritual accountability, which is a key aspect of discipling. God intends for other Christians to help us in our pursuit of holiness (Ecc. 4:9–12; 2 Tim. 2:22; Heb. 10:24–25). A group meeting where people have come for spiritual refreshment may not lend itself to serious discussion about the challenging issues faced by an individual. It is not easy to be open about sensitive and difficult issues in a person's life in such a setting. That is best done one-on-one or in the context of a group that has developed an openness and trust that gives people the freedom to share without fear of embarrassment or betrayal.

Today many Christians come to church to receive blessings, but they are not close enough to anyone to share about key issues in their personal lives. Many are struggling to put their Christianity into practice at home, neighborhood, work or school. But no one knows about their struggles until something serious surfaces. An opportunity to grow healthily has been missed by missing out on spiritual accountability.

4. It is not a highly structured Bible study program devoid of interpersonal impact. There are some excellent Bible study group resources that can effectively impart knowledge to members of a church. But that is not enough. Jesus' method of nurturing his disciples included times of long conversations and of ministering and experiencing life together. In fact, some of his most important teaching emerged out of conversations he had with his disciples, many of which were triggered by ministry situations or by challenges the group faced. They were able listen to his teaching, observe his life and were impacted by both these. Paul told Timothy, "You, however, have followed my teaching, my conduct, my aim in life, my faith, my patience, my love, my steadfastness, my persecutions and sufferings …" (2 Tim. 3:10–11). Paul teaches about all these points in his epistles to Timothy. But these values were also communicated to Timothy through his observing Paul's life.

Disciplers must "hang around" with their disciplees, in personal conversations and group activities. Jesus did that with his disciples, often hiding away from the crowd and teaching them. One of his reasons for choosing the 12 was "that they might be with him" (Mark 3:14), and at the end of his ministry he described them as his "friends" (John 15:15).

This, of course, takes a lot of time. In our busy world people are unable or unwilling to devote so much time to personally spend with disciplees. I believe this is the primary reason many people do not disciple, even though they know there is a great need for it. However, people give time for the things that they have accepted as important priorities. If we believe that the call to disciple comes from God and meets a vital need in the church, we could persuade ourselves to give the time it demands of us.




===
Victor Christianto
Founder of The Second Coming Institute, www.sci4God.com
Promoting Javanese "batik" as an Indonesia cultural heritage, www.mybatique.com
Promoting cultural and music events in Jakarta and other cities, www.acaraindo.com
Founder of www.ketindo.com, A renewable energy consultant 
1 New book: From Hilbert to Dilbert at UNM site, url: http://fs.unm.edu/FromHilbertToDilbert.pdf
My books and papers can be found at:
 You can also check the Neutrosophic Journal: 

http://fs.unm.edu/NSS/NSSArticles.htm  

==
We love you all nations, but time is very very limited. Be hurry to repent and receive Jesus Christ. Find a guide to help you repent and receive Jesus Christ, in this link http://www.esnips.com/web/Guidetorepent,
http://www.esnips.com/web/RepentanceGuide.
Print this guide, copy as many as you can, and distribute this to as many countries as you can, including Asian countries such as China, Burma, Thailand, Campuchea, Laos, Srilanka, and Vietnam. Pray and ask to God first before you select a language for your country. That is the message: be hurry be very very very very very hurry to repent and receive Jesus Christ, all corners of the world.
Don't you know that Jesus Christ will come again soon? That is why you should be hurry and quickly to repent and do your repentance. Tweet this message quickly and distribute this message to as many countries as you can including to all your friends quickly, quickly, quickly today. Follow Jesus only at http://www.twitter.com/Christianto2013.
Send this message quickly to all your colleagues and to all your friends. Thank you, Jesus Christ already help you. 

blog: http://guidetorepent.blogspot.com, http://findtheTruthnow.blogspot.com,
http://evangelismwithsocialmedia.blogspot.com
guide: http://GoodNews.getfreehosting.co.uk/digfile/cms/index.php (login with 'visitor')
video: http://youtube.com/guidetorepent,
facebook: http://www.facebook.com/VChristianto,
and follow Jesus only at www.twitter.com/Christianto2013

**KINDLE BOOKS:
authorpage: http://www.amazon.com/-/e/B00AZEDP4E
Articles dictated by Jesus Christ. Book Two. http://www.amazon.com/dp/B00AYR3F9C
Articles dictated by Jesus Christ. Book One. http://www.amazon.com/dp/B00AYR6TJU
by Jesus Christ: How social darwinism ruin America and the World. http://www.amazon.com/dp/B00AZDJJQI
by Jesus Christ: Evangelism for Difficult People. http://www.amazon.com/dp/B00AZDJCLA
by Jesus Christ: How you can do Evangelism with Social Media. http://www.amazon.com/dp/B00AZDXZLI
by Jesus Christ: The Nicene Creed. http://www.amazon.com/dp/B00AZDYMJ2
by Jesus Christ: Logos, Memra, and other letter for Economists. http://www.amazon.com/dp/B00AZDY7JW
by Jesus Christ: our Father in Heaven prayer. http://www.amazon.com/dp/B00AZKZUNM
Some problems of Nuclear Energy development in Asia: A literature survey. http://www.amazon.com/dp/B00B4LW5ZW

Some papers at www.vixra.org:
www.vixra.org/abs/0912.0036
www.vixra.org/abs/0912.0037
www.vixra.org/abs/1001.0005
www.vixra.org/abs/1001.0003
www.vixra.org/abs/0912.0053

Selasa, 26 Februari 2019

Dari hermeneutik konflik menuju hermeneutik dialog

Dari hermeneutik konflik menuju hermeneutik dialog:
Menemukan ulang bahasa cintakasih

Victor Christianto
The Second Coming Institute
www.sci4God.com

Prakata
Sudah sejak dahulu saya memiliki satu copy buku kontroversial Samuel Huntington: the clash of civilizations.
Tapi entah kenapa saya tidak pernah menyempatkan membaca tuntas buku tersebut, selain hanya membaca sekilas versi awalnya yang terbit di Foreign Affairs. Akhirnya, suatu kali saya berikan buku itu ke seorang sahabat.

Apa itu hermeneutika dialog?
Namun baru-baru ini ada artikel mas Bambang Noorsena yang mengutip seorang intelektual dari gereja Koptik, yaitu Milad Hanna, yang tidak setuju dengan pola pikir yang ditularkan baik oleh Marx maupun Huntington.
Jika boleh dicari kemiripan di antara kedua pemikir itu, adalah mereka mengembangkan sekaligus hermeneutika kecurigaan dan hermeneutika konflik. Baik itu disebut konflik antar kelas maupun antar -konon- peradaban.
Padahal, demikian argumen Prof. Milad Hanna, setiap kali manusia menjumpai Yang Lain, senantiasa terbuka kemungkinan untuk berdialog menuju saling pemahaman dan saling menerima sebagai sesama.
Pada hemat saya, hal tersebut sejalan dengan pemikiran Martin Buber, filsuf eksistensialis dan pelopor pendekatan dialogis, yang juga tidak setuju dengan pandangan Freud maupun Marx.

Sedikit catatan mengenai landasan Biblika
Kalau hendak menemukan landasan Biblika dari hermeneutika dialog, saya kira salah satu tempat terbaik adalah Kisah Para Rasul dan surat-surat Kiriman. Meski demikian, teladan Yesus yang berdialog secara terbuka dengan Rabbi Nicodemus dan perempuan Samaria di tepi sumur Yakub, kiranya membuka wawasan kita bahwa selain pilihan kesatuan dalam perbedaan dan konflik dalam perbedaan, juga ada pilihan ketiga:  dialog dalam perbedaan (tentunya dialog di sini dimaknai dalam terang I-Thou nya Martin Buber).

Bahwa memang ada perbedaan pendapat antara berbagai faksi dalam gereja perdana, itu mesti diakui (lihat Kis. 15 dan Surat Galatia). Namun juga ada kesatuan dan saling menghormati di antara para pelopor dalam gereja perdana, seperti terlihat dalam 3 ayat berikut:

Kisah Para Rasul 21:18
Pada keesokan harinya pergilah Paulus bersama-sama dengan kami mengunjungi Yakobus; semua penatua telah hadir di situ.

Galatia 2:9
Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat;

1 Korintus 3:6
Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. 

Dari hermeneutika dialog ke hermeneutika cintakasih.
Kalau kita bisa melangkah lebih maju dari hermeneutika konflik menjadi hermeneutika dialog, maka selangkah lagi kita akan menjumpai hermeneutika cintakasih.
Apakah itu hermeneutika cintakasih?
Secara sederhana, hermeneutika adalah Kacamata yang kita gunakan untuk melihat dan memahami segala hal yang ada dalam ruang pengalaman kita. Seperti ada tertulis:

Lukas 11:34
Matamu adalah pelita tubuhmu. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu.

Demikianlah orang yang telah menerapkan hermeneutika cintakasih, mungkin pekerjaannya tetap mengepel lantai atau memelihara bebek atau memotong bambu. Namun ia akan mengepel dengan sukacita, dan memelihara bebek dengan ucapan syukur, atau mengubah bambu menjadi seruling yang berbunyi merdu.

Ada sebuah kisah yang sangat saya sukai dari Ps. Anthony de Mello, alkisah ada seorang murid Zen di pertapaan yang protes kepada gurunya: "Guru, kenapa bapak tidak pernah mengajar hal-hal atau pengetahuan yang istimewa kepada saya?  Pasti Guru menyembunyikan sesuatu, ya kan?"
Setelah didesak berulangkali, Gurunya hanya menjawab: "Apakah kau mendengar bunyi burung berkicau di pohon itu? ". Jawab sang murid: "ya."
Lalu gurunya menyahut: "Lihat, aku tidak menyembunyikan apapun, kan? "

Demikianlah juga yang kita dengar dari pengajaran Yesus orang Nazaret itu:

Matius 6:26
"Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?"

Pertanyaan untuk direnungkan:
- dapatkah Anda merasakan bisikan kasih Tuhan yang mengalir dalam denyut nadi Anda?
- dapatkah Anda mendengar suara Tuhan dalam angin sepoi?

1 Raja-raja 19:12
Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa.

Penutup: Menemukan kembali bahasa cintakasih.
Kiranya menjadi jelas bahwa perjumpaan bisa membuka ruang dialog. Seperti ditegaskan oleh Prof. Milad Hanna dari gereja koptik, perjumpaan dengan The Other (yang lain) tidak harus menghasilkan konflik, namun lebih mungkin dialog yang saling mencerahkan.(3) Itu sebabnya Martin Buber,  pelopor pendekatan dialogis, juga tidak setuju dengan Marx (dan Freud). (2)
Karena hermeneutika bukan saja tentang pemahaman, namun juga tentang eksplanasi (1), maka sebagaimana kacamata yang baik menolong kita melihat lebih jelas demikianlah hermeneutika yang baik mengarahkan bahasa yang kita keluarkan dari hati.
Karena apa yang keluar dari mulut asalnya dari hati.

Matius 5:22
"Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala."

Dan jika hati kita telah dicerahkan oleh hermeneutika cintakasih, maka apapun yang kita lakukan dam katakan akan senantiasa diwarnai dengan bahasa kasih.
Ijinkan saya menutup tulisan ini dengan doa St. Fransiskus dari Asisi:(5)

Tuhan,
jadikanlah aku pembawa damai
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cintakasih
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kebenaran
Bila terjadi kecemasan, jadikanlah aku pembawa harapan
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang
Tuhan,
Semoga aku ingin menghibur daripada dihibur,
Memahami daripada dipahami,
Mencintai daripada dicintai
Sebab
Dengan memberi aku menerima
Dengan mengampuni aku mengampuni
Dengan matisuci aku bangkit lagi
Untuk hidup selama-lamanya
Amin.

Bagaimana dengan Anda?

Kiranya Tuhan yang Mahabaik dan Mahacinta memberkati Anda.

Versi 1.0:  24 February 2019, pk. 21:58
VC

Referensi
(1)  Paul Riceour. Interpretation theory. URL: https://books.google.co.id/books/about/Interpretation_Theory.html?id=TS98mJVaxqIC&redir_esc=y
(2) Martin Buber. The self in relationship. URL:  http://selfinrelationship.blogspot.com/2011/03/martin-bubers-i-thou-relationships.html?m=1
(3) Milad Hanna. Acceptance of the other. https://www.amazon.com/Acceptance-other-Dr-Milad-Hanna/dp/9772271613
(4)  V. Christianto. Kesatuan dan perbedaan dalam Gereja Perdana. IJT, 2014. URL: https://www.researchgate.net/publication/272831753_Kesatuan_dan_Perbedaan_dalam_Gereja_Perdana_IJT_Volume_2_Nomor_2_Desember_2014
(5)  doa Fransiskus Dari Asisi, dikutip dari liturgi Ibadah di salah satu gereja di Jakarta sore ini

From hermeneutic of conflict to hermeneutic of dialogue

From hermeneutic of conflict to hermeneutic of dialogue:
Rediscovering the love language

Victor Christianto,
The Second Coming Institute, www.sci4God.com


Foreword
For a few years, one of us had a copy of Samuel Huntington's controversial book for a long time: the clash of civilizations. But for some reason he never took the time to read the book thoroughly, besides just glimpsing the initial version published in Foreign Affairs. Finally, one time he gave the book to a friend.

What is dialogue hermeneutics?
But recently there was an article that quoted an intellectual from the Coptic church, namely Prof. Milad Hanna, who disagreed with the mindset transmitted both by Marx and Huntington. If we can look for similarities between the two thinkers, they are developing at the same time "hermeneutics of suspicion" and "hermeneutics of conflict". Both are called inter-class conflicts or between civilization.
In fact, as argued by Prof. Milad Hanna, whenever people meet the Other, it is always possible to dialogue towards mutual understanding and accepting each other as one another. In our opinion, this is in line with the thoughts of Martin Buber, the existentialist philosopher and the pioneer of the dialogical approach, who also disagrees with the views of Freud and Marx.

A little note about the foundation of Biblical
If you want to find the Biblical foundation of the 'hermeneutics of dialogue' instead of hermeneutics of conflict, perhaps one of the best places is Acts and the Epistles. However, Jesus's example of open dialogue with Rabbi Nicodemus and the Samaritan woman at the edge of Jacob'swell, would open our horizons that in addition to the choice of "unity in differences" and "conflict in differences", there is also a third choice: "dialogue in difference" (of course the dialogue is interpreted in explained Martin Buber's I-Thou).
That there were indeed differences of opinion between various factions in the early church, it must be recognized (see Acts 15 and Galatians). But there was also unity and mutual respect among the pioneers in the early church, as seen in the following 3 verses:
Acts 21:18
The next day Paul went with us to visit James; all the elders were there. Galatians 2: 9 When he saw the grace that was given to me, James, Cephas, and John, who were seen as pillars of the church, shook hands with me and with Barnabas as a sign of fellowship, so that we would go to the uncircumcised and to them circumcised people;
1 Corinthians 3: 6
I planted, Apollos watered, but God gave growth.

From the hermeneutics of dialogue to the hermeneutics of love.
If we can move forward from the hermeneutics of conflict to a hermeneutic of dialogue, then one more step we will find the hermeneutics of love.
Is that hermeneutics of love? In simple terms, hermeneutics is the Glasses that we use to see and understand everything that is in our experience space. As it is written:

Luke 11:34
Your eyes are the lamp of your body. If your eyes are good, your whole body will be clear, but if your eyes are evil, your body will be darkened.

Such is the person who has applied the hermeneutics of love, maybe the work is still mopping the floor or raising ducks or cutting bamboo. But he will mop joyfully, and keep ducks with thanksgiving, or turn bamboo into flutes that sound melodious. There is a story that we really like from Anthony de Mello, as follows : there is a Zen student in the hermitage who protested to his teacher: "Teacher, why have you never taught me special things or knowledge? You must have hidden something, right?" After being repeatedly pressured, the teacher simply answered: "Do you hear the sound of birds singing on the tree?" Answer the student: "Yes". Then the teacher replied: "See, I am not hiding anything."
Likewise what we hear from the teaching of Jesus the Nazarene:

Matthew 6:26
Look at the birds in the sky, who do not sow and do not reap and do not gather provisions in barn, but fed by your Father in heaven. Did you not exceed the birds?

Questions to ponder:
- can you feel the whisper of God's love flowing in your pulse?
- can you hear God's voice in the breeze?

1 Kings 19:12
And after the earthquake a fire came. But there is no LORD in the fire. And after the fire came the sound of a gentle breeze.

Concluding remark: Rediscovering the language of love.
It should be clear that "meeting can open up a dialogue space." As confirmed by Prof. Milad Hanna from the Coptic church, encounters with The Other (others) do not have to produce conflict, but more likely dialogue that enlightens each other. (3) That is why Martin Buber, the pioneer of the dialogical approach, also disagrees with Marx (and Freud). (2)
In other words, we should move from hermeneutics of conflict (a la Hegel and Baur) towards hermeneutics of dialogue, as will be explored in a next article. (From logical perspective, dialogue can be viewed as accepting the otherness, just like Smarandache's Neutrosophic Logic.)
Because hermeneutics is not only about understanding, but also about explanation (1), then as good glasses help us to see more clearly, hermeneutics is good at directing the language we emit from the heart. Because what comes out of the mouth comes from the heart.

Matthew 5:22
But I say to you, "Everyone who is angry with his brother must be punished; whoever says to his brother, 'Unbelievers'; must be brought before the Sanhedrin and who says: Impossible must be delivered to a fiery hell.

And if our hearts have been enlightened by the hermeneutical love, whatever we do and say will always be colored with the language of love.
Let us close this paper with the peace prayer of St. Francis of Assisi: (5)

Lord, make me a peacemaker,
Where there is hatred, let me sow love;
where there is injury, pardon;
where there is doubt, faith;
where there is despair, hope;
where there is darkness, light;
where there is sadness, joy;

O Divine Master, grant that I may not so much seek to be consoled as to console;
to be understood as to understand;
to be loved as to love.

For it is in giving that we receive;
it is in pardoning that we are pardoned;
and it is in dying that we are born to eternal life.


Version 1.0: 25 February 2019, pk. 22: 54
VC & FS

References:
(1) Paul Riceour. Interpretation theory. URL: https://books.google.co.id/books/about/Interpretation_Theory.html?id=TS98mJVaxqIC&redir_esc=y
(2) Martin Buber. The self in relationship. URL: http://selfinrelationship.blogspot.com/2011/03/martin-bubers-i-thou-relationships.html?m=1
(3) Milad Hanna. Acceptance of the other. https://www.amazon.com/Acceptance-other-Dr-Milad-Hanna/dp/9772271613
(4) V. Christianto. Kesatuan dan perbedaan dalam Gereja Perdana. IJT, 2014. URL: https://www.researchgate.net/publication/272831753_Kesatuan_dan_Perbedaan_dalam_Gereja_Perdana_IJT_Volume_2_Nomor_2_Desember_2014
(5) Peace prayer from St. Francis from Assisi: url: https://www.catholicnewsagency.com/resources/saints/saints/peace-prayer-of-st-francis-of-assisi

----

Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://nulisbuku.com/books/view_book/9694/sastra-harjendra-ajaran-luhur-dari-tuhan-a5
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains
http://nulisbuku.com/books/view_book/9693/jalan-yang-lurus-manual-anak-anak-terang-a5
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Between Baur and Tuebingen School: towards hermeneutics of dialogue

Between Baur and Tuebingen School: towards hermeneutics of dialogue

Victor Christianto

Following an old time plan to write a brief review of the Tuebingen School, here is the article.

Tuebingen Alumni
If you have studied theology, you must have studied or at least heard the names of the Tuebingen Theology Faculty graduates, which is said to be one of the best theology faculty in Germany, including: Karl Barth, Ferdinand Baur, Jurgen Moltmann, Dietrich Bonhoeffer, Paul Tillich, Strauss and Miroslaf Volf. See Attachment. (1)
Although it is often regarded as the basic foundation of modern theology, Friedrich Schleiermacher (Halle University and Berlin University), but names such as Barth and Baur are very coloring theological studies. We are not close enough to know Schleiermacher and Barth's thinking, but there was once a kind of conflict between the two. (2) One carries an anthropocentric approach while Barth is known as the pioneer of neo-orthodoxy. In addition to the Tuebingen graduate theologians there are also many well-known scientists from Tuebingen University, say for example: Johannes Kepler and Arthur Geiger, inventors of the Geiger counter.

Tuebingen School
One of us read various texts which discussed Ferdinand Baur, who was the originator of the Tuebingen School. The basic assumption of Baur is the history of the early church following Hegel's dialectical theory of history. (3) And Hegel was also one of the alumni of Tuebingen. For example, Baur wrote that there is a conflict between Jewish Christianity as Paul's thesis and Christianity as an antithesis, which then becomes the Christian model of the Johanin community (reflected in the Gospel of John) as a synthesis (following Hegel's thesis-antithesis synthesis). (3) After decades of successfully leading PB theological thinking in his time, finally this School was abandoned after a book from von Harnack was published. (4)
Let us give a summary of the 5 striking weaknesses of the Tuebingen School:

a. Pseudo-Clementine. Baur seems to base his theory on contradictions in the early church from the dispute between Simon Magus and Peter referred to in the Pseudo Clementine text. (5) But this manuscript from the 4th century and non-canonical, so it is not feasible to build the early Church history theory. Moreover, this manuscript is allegedly indeed anti-Pauline (similar to the Ebionite School). The findings of the latest findings such as the Dead Sea script also left the Baur hypothesis abandoned.

b. The historicity of the gospel of John. The idea that the Gospel of John is a synthesis becomes raw, when the latest findings indicate that the 4th Gospel was allegedly from a period not far away or might precede the Synoptic Gospels. To study the historicity of the Gospel of John, see the work of CH Dodd. (6)

c. Unity in difference. (7) That there is indeed difference of opinion between various factions in the early church, it must be recognized (see Acts 15 and Galatians). But there is also unity and mutual respect among the pioneers in the early church, as seen in the following 3 verses:
Acts 21:18
The next day Paul went with us to visit James; all the elders were there. Galatians 2: 9 When he saw the grace that was given to me, James, Cephas, and John, who were seen as pillars of the church, shook hands with me and with Barnabas as a sign of fellowship, so that we would go to the uncircumcised and to them circumcised people;
1 Corinthians 3: 6
I planted, Apollos watered, but God gave growth.

d. That difference does not appear in the literature of the church fathers.
If there was a conflict between Peter and Paul or between Paul and James, it would certainly be traceable in the literature of the father of the church, namely the disciples of the apostles. Then why could Baur make such a fatal mistake?
There are at least two causes:
- Baur comes from a foreign Protestant environment with a patristic study, so he only relies on Pseudo Clementine.
- Baur too believes in Hegel's historical dialectical hypothesis.

e. Meetings can be dialogues. As confirmed by Prof. Milad Hanna from the Coptic Church, encounters with The Other (others) do not have to produce conflict, but more likely dialogue that enlightens each other. That is why Martin Buber, the pioneer of the dialogical approach, also disagrees with Marx (and Freud).

Closing
It seems to be clear, that Hegel's ideas about the dialectics of history cannot be maintained. Especially the notion of dialectical materialism as in Marx (Marx also departed from Hegel).
In other words, we should move from hermeneutics of conflict (a la Hegel and Baur) towards hermeneutics of dialogue, as will be explored in a next article. (From logical perspective, dialogue can be viewed as accepting the otherness, just like Smarandache's Neutrosophic Logic.)
Although this article criticizes the Tuebingen School, it does not mean that there is nothing the writers admired among the famous Tuebingen graduates.

References:
(1) https://en.m.wikipedia.org/wiki/University_of_Tübingen
(2) http://www.faith-theology.com/2007/07/matthias-gockel-barth-and.html?m=1
(3) https://m.huffpost.com/us/entry/us_4776679
(4) http://self.gutenberg.org/articles/Tübingen_School
(5) http://www.philipharland.com/Blog/2005/10/17/peter-vs-simon-magus-alias-paul-in-the-pseudo-clementines-nt-apocrypha-17/
(6) https://www.bookdepository.com/Historical-Tradition-Fourth-Gospel-C-H-Dodd/9780521291231
(7) V. Christianto. Kesatuan dan perbedaan dalam Gereja Perdana. IJT, 2014. URL: https://www.researchgate.net/publication/272831753_Kesatuan_dan_Perbedaan_dalam_Gereja_Perdana_IJT_Volume_2_Nomor_2_Desember_2014

----

Victor Christianto
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://nulisbuku.com/books/view_book/9694/sastra-harjendra-ajaran-luhur-dari-tuhan-a5
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains
http://nulisbuku.com/books/view_book/9693/jalan-yang-lurus-manual-anak-anak-terang-a5
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Christlike dialogue - Jeffery L. Rosenau


Christlike dialogue - Jeffery L. Rosenau

Source: outreach magazine.com


Back in 1993, as I listened to Christian leaders respond to the media over social and political concerns, I sensed something was wrong in the way God's people spoke to those with differing views. Not knowing what to do, I prayed, "Father, there is so much wrong with our society and with Christianity, I have no idea what you would like me to do to help, but would you show me what's wrong and what you would like me to do to help?"

To answer my question, God led me to a local organization that offered K-12 sex-ed curricula. After thoroughly studying that material, it was obvious to me that it promoted unhealthy sexual behavior that was dishonoring to God. I was ready to fight for what was right.

But a short time later, God challenged me with two questions: First, "Do you want to follow My Son?"

I quickly replied, "Yes, I do."

Next, "Did My Son fight and quarrel?" God's answer came through Matthew 12:18–19: 

"Here is my servant whom I have chosen, the one I love. … He will not quarrel."

Then I learned from 2 Timothy 2:24, 

"The Lord's servant must not be quarrelsome."

I got the message. 

The next morning I called the executive director of the local organization and asked if she would be willing to dialogue with me, and she said yes.

In our first meeting, we established the common ground of healthier kids and a healthier society.

During our monthly dialogues, I listened as she shared her perspective; then she listened as I shared mine. After several conversations, her organization agreed to rewrite the curriculum. They added an entire chapter on abstinence and stated it to be a wise and desirable choice for young people.

The executive director, who had worked with the public for 22 years, said to me, "I want you to know that in all the years I've been doing this, this is the first time I've been able to sit down with someone who has an opposing view and have honest communication."

God had shown me the need for Christlike dialogue.

What Is Christlike dialogue?

Christlike dialogue is honest conversation guided by the Holy Spirit that includes four characteristics: other-minded listening, seeking and speaking the truth in love, focusing on Christ's interests and trusting God with the outcome.

1. Other-Minded Listening (Phil. 2:3-4; James 1:19–20). 

Listening is an opportunity to pause from the busyness of life to make time to hear what is going on in the life of another human being, to hear their story, to try and understand what they believe and why they believe it and to gain insight into their unmet needs. If we remember that all people were created in the image of God with the same need to know and trust him, our empathy and loving concern for others should grow.

2. Seek and Speak the Truth in Love(John 14:6; 8:32; Eph. 4:15). 

We cannot effectively and consistently speak the truth in love unless we abide in Christ. Grace and truth come through Jesus Christ, and both are needed in Christlike dialogue. Grace is kindly and compassionately conveyed by asking questions and listening attentively. Truth is spoken humbly, yet boldly with great patience and careful, gentle instruction.

Each person agrees to give one another the freedom to speak the truth as each perceives it, without interruption from the other(s), except to ask questions for clarification. In Christlike dialogue, we seek God's wisdom rather than people's opinions, so we encourage people to identify their source of truth and what that source of truth has to say in regard to the matter of concern being discussed.

3. Focus on Christ's Interests (1 Tim. 1:15; Eph. 4:13). 

With Christlike dialogue, the focus moves away from selfish ambition and argumentative monologues to focusing on Christ's two primary interests of seeing the lost saved and the saved sanctified.

4. Trust God With the Outcome (1 Pet. 2:23; 2 Tim. 2:24–26). 

Jesus surrendered to the will of his Father, and trusted him with the outcome, as should we. When it comes to responding to people with opposing views, our answer to each of the following questions will help us know if we are surrendered to the will of God, and willing to trust him with the outcome.

• Am I refraining from quarreling?
• Am I being kind?
• Am I gently instructing?

Agree to leave another person's decision, and the consequences of that decision, between that person and God. (Some situations may require church discipline to be administered in love. Steps one and two of Matthew 18:15–17 offer great opportunities for Christlike dialogue.)

Christlike dialogue is unnatural. It's more natural to argue and want to control the outcome than it is to speak the truth in love and leave the outcome with God. It's more natural to be self-centered and quick to speak than it is to be other-minded and quick to listen.

So Christlike dialogue is about putting off our old natural sinful self, being renewed in the spirit of our minds and putting on the new self so we come to know Christ better and become more like him.

Over the past 25 years, God has taught me many valuable lessons pertaining to Christlike dialogue. Here are a few more:

Christlike dialogue prepares us to represent Jesus well. 

As Christians, we represent Jesus through the words we speak. We either represent him well, or we represent him poorly. If we represent him poorly, we push people away from Christ and remain part of the problem in America.

If we are to engage people with differing views in ways that are pleasing to God, we must examine our own hearts and repent of anger, bitterness, resentment or hatred toward anyone created in the image of God. Those attitudes lead to gossip, quarreling, and speaking unkind, unloving, and judgmental words that grieve the heart of God. As we repent and put Christlike dialogue into practice, we become part of the solution to the brokenness in America.

Relationships are more important than issues. 

When God allows people into our lives who don't see things exactly as we do, it's important to remember that our struggle is not against flesh and blood.

In the spiritual battle between good and evil, Satan is at work trying to deceive people into believing these two lies:

1. Issues are more important than relationships.
2. Being "right" is more important than doing right.

Regardless of what the issue is, Satan uses those two lies to destroy relationships. He succeeds when people withdraw their love from one another. Way too often we hear of divisive church splits over nonessential issues such as the style of worship music.

Persevere in love, despite differences.

If we love Jesus, we will love people as Christ has loved us, even those we perceive to be unreasonable and unlovable—which at times might include us. Disagreeable people give us unending opportunities to extend grace, mercy and kindness as God has to us. While "Satan schemes to cause hatred and division", the Holy Spirit gently reminds us to persevere in love for others, despite differences.

• That doesn't mean we condone or agree with something that is wrong.
• It doesn't mean we compromise truth or stop doing what is right.
• It does mean we stop trying to get people to see things exactly as we do.

God wants his people to be like him. When he allows people with differing views into our lives, may our first response be to pray for guidance and wisdom as we dialogue, for his love for others, and for both parties to know Jesus better. Our culture needs the light only Christ can bring, and we are his conduits—a high calling and privilege. 

When God allows people with differing views into our lives, may we seize the opportunity to intentionally engage in conversations that honor God and bring him glory.


Parts of this article were excerpted fromChristlike Dialogue © 2018 by Jeffery L. Rosenau. All rights reserved. No part of this publication may be reproduced in any form without written permission from Jeff Rosenau, 7622 South Ivanhoe Way, Centennial, Colorado 80112.

Sabtu, 23 Februari 2019

PESAN AKHIR ZAMAN: PENGANGKATAN TIDAK LAMA LAGI

*PESAN AKHIR ZAMAN: PENGANGKATAN TIDAK LAMA LAGI*

Banyak orang bertanya: Pak, kapan pengangkatan terjadi? Saya jawab: Tidak lama lagi, hanya tinggal menghitung beberapa tahun saja. Lalu mereka berkata: Haah.????? Astaga! Apa benar seperti itu pak? Saya jawab: Saya tidak berdusta dan kebenaran ini harus disampaikan kepada Anda.

Saudaraku, Kerajaan Sorga tidak melihat apakah Anda siap atau tidak siap? Apakah Anda percaya atau tidak percaya? Firman TUHAN di Kitab Suci akan segera digenapi saudaraku. Apakah jika Anda tidak siap, maka pengangkatan tidak terjadi saudaraku.????? Apakah jika Anda tidak percaya, maka pengangkatan tidak terjadi saudaraku.????? Langit dan bumi bisa berlalu, tetapi perkataan ALLAH tidak akan berlalu!

"Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu." (Matius 24:35)

Pengangkatan atau rapture adalah cara ALLAH untuk menyelamatkan umat-NYA, sebelum cawan murka ALLAH yang dahsyat yang berisi bencana yang belum pernah dilihat oleh manusia ditumpahkan ke bumi. Ini seperti cara ALLAH menyelamatkan Nuh ke dalam bahtera sebelum membinasakan bumi dengan air bah. Pengangkatan adalah proses dimana ALLAH "mengamankan" Anda, sebelum membinasakan bumi. Firman ALLAH mengatakan kedatangan ANAK MANUSIA akan sama seperti zaman Nuh bukan?

"Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan ANAK MANUSIA." (Matius 24:37)

Mungkin Anda berkata: Tidak ada orang yang tahu hari dan saatnya pak? Saya jawab: Itu benar, karena itu adalah firman ALLAH dan saya tidak menyebutkan "hari" dan "saatnya" bukan.????? Saya berkata di atas: Tidak lama lagi, hanya tinggal menghitung beberapa tahun saja. Ketika perjanjian damai Israel ditandatangani, maka dunia masuk 7 tahun Masa Kesusahan Besar. Hanya tersisa beberapa tahun saja sebelum proses pengangkatan dilakukan. Mengapa? Sebab murka ALLAH akan ditumpahkan ke bumi untuk membinasakan orang fasik dan orang berdosa.

Sebagai anak ALLAH di bumi saya ingin mengatakan hal ini : ALLAH, BAPA ku di sorga, ALLAH Abraham, ALLAH Ishak dan ALLAH Yakub yang saya sembah di muka bumi ini melalui iman kepada ANAK TUNGGAL-NYA, yaitu TUHAN kita YESUS KRISTUS, telah memberi saya 3X "pesan pengangkatan" melalui mimpi. Ini berarti pengangkatan telah ditetapkan di Kerajaan Sorga dan akan segera dilaksanakan! Anda percaya atau tidak percaya, Anda siap atau tidak siap, hal itu akan dilakukan segera!

Saudaraku, mungkin Anda kaget membaca artikel ini, tetapi artikel ini ditulis oleh seorang ANAK ALLAH di bumi yang telah bertemu ALLAH 3X dan berjumpa ANAK ALLAH, yaitu TUHAN kita YESUS KRISTUS sebanyak 5X serta melihat sorga dan neraka. Saya bukan seperti orang yang berkata: TUHAN memberkatimu, ini tahun kelimpahan, di saat tanda-tanda akhir zaman telah dinyatakan dan Masa Kesusahan Besar sudah di depan mata. Saya berkata: Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!

Umat yang dikasihi TUHAN, lihat tanda-tanda akhir zaman yang dinyatakan saat ini dan baca Kitab Suci Anda sekarang dan Anda akan menemukan "kebenaran". Apa itu? Anda hidup di akhir zaman dan berada di hari-hari terakhir kedatangan TUHAN kita YESUS KRISTUS ke bumi. Anda bisa tertawa dan mengejek pesan ini. It's oke, saya tidak membenci Anda dan tetap mengasihimu saudaraku, tetapi kebenaran dari Kerajaan Sorga harus disampaikan kepada Anda, entah Anda senang atau tidak senang. Kebenaran bukan untuk menyenangkan telinga Anda, tetapi kebenaran membawa Anda kepada kehidupan kekal di sorga. Pesan telah disampaikan dan Anda telah menerimanya!

TUHAN YESUS memberkati…

TUHAN YESUS SEDANG MELAKUKAN PENAMPIAN KEPADA GEREJA TUHAN DI AKHIR ZAMAN

*TUHAN YESUS SEDANG MELAKUKAN PENAMPIAN KEPADA GEREJA TUHAN DI AKHIR ZAMAN..*

*UNTUK MENCARI SIAPA YANG LAYAK TURUT DI DALAM PENGANGKATAN / RAPTURE SAAT TUHAN YESUS DATANG KE 2 KALINYA*

Dalam doa malam hari Minggu,TUHAN YESUS memperlihatkan bumi dari angkasa. Bulatan bumi terlihat seluruhnya beserta seluruh penduduk yang ada di dalamnya diliputi awan kelam. TUHAN YESUS berdiam melihat apa yang terjadi di muka bumi.
.
PENAMPIAN
==**==**==**==
Yang sedang terjadi adalah roh-roh setan bekerja dengan keras terhadap satu persatu orang-orang Kristen di seluruh muka bumi. Mereka mendatangkan berbagai masalah, penderitaan, dukacita dan berbagai-bagai pencobaan.

Semua hal itu sekarang ini terjadi melanda setiap orang Kristen untuk MENAMPI mereka, memisahkan gandum dari ilalang dan domba dari kambing. TUHAN YESUS mengijinkan setan bekerja untuk menguji hati setiap orang Kristen apakah teguh mengasihi TUHAN atau menggerutu dan mengutuki TUHAN.

GANDUM - ILALANG / KAMBING - DOMBA
==**==**==**==**==**==**==**==**==*

Ini adalah masa penampian bagi orang Kristen di seluruh dunia untuk memisahkan berkas-berkas gandum dan ilalang, sebagai persiapan masa penuaian jiwa-jiwa pada saat TUHAN YESUS datang yang kedua kali.

Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungKU. (Matius 13:30)

GANDUM DAN ILALANG
==**==**==**==**==**==**=
Diperlihatkan, ada orang Kristen di luar negri yang tadinya hidup mapan berkecukupan tiba-tiba kehilangan pekerjaannya. Untuk menopang hidupnya harus mengandalkan bantuan pemerintah yang setiap tahun dikurangi karena krisis ekonomi semakin parah melanda seluruh negeri. Dalam keputusasaannya dia melarikan diri dari hidup dengan mengkonsumsi miras, dan di tengah kekacauan perasaannya dia mulai mengutuki TUHAN. Kata-kata makian mengutuki nasibnya maupun TUHAN seperti yang sering terdengar di film-film terus keluar dari mulutnya.

Pada saat itu setan yang bertugas menampi orang itu berseru kepada penghulu udara yang mengawasinya, "Satu orang sudah selesai!" Ketika tanda itu diteriakkan, terlihat banyak roh setan yang berwarna hitam langsung menyerbu dan masuk ke dalam diri orang itu dan menetap di dalamnya mendatangkan kehancuran dan penderitaan yang lebih parah.

Ada lagi orang Kristen yang terbaring di rumah menderita sakit. Setan terus menyerang dengan menimpakan rasa sakit yang pedih, tetapi dia menyerahkan hati dan hidupnya kepada TUHAN. Walaupun tubuhnya lemah, dia terus memuji TUHAN dan percaya bahwa semua yang terjadi adalah seijin TUHAN untuk kebaikannya. Dari mulutnya tidak keluar sumpah serapah atau mengutuki TUHAN tetapi selalu penyerahan diri dan ucapan syukur.

Pada saat dia tetap menjaga hati dan mulutnya untuk bersyukur dan memuji TUHAN, maka serangan setan digagalkan dan kemudian ROH KUDUS menolong memulihkan kesehatan dan keadaan keluarganya.

MENAMPI DI TITIK LEMAH
==**==**==**==**==**==**==**=
Dalam menampi, setan tidak hanya mendatang malapetaka, sakit penyakit atau penderitaan tetapi juga segala macam pencobaan yang merupakan kelemahan hidup. Pada titik yang lemah ini, setan terus menerus melakukan serangan gencarnya.

Orang Kristen yang memiliki hati yang sombong, oleh setan justru diberikan segala macam kesuksesan dalam hidup dan jabatan yang tinggi sehingga dia melupakan TUHAN. 

Orang yang hatinya penuh kekuatiran, ditimpakan berbagai masalah pekerjaan dan keuangan sehingga dicekam oleh ketakutan akan masa depan. Orang yang hatinya penuh iri, diperhadapkan dengan teman kerja yang sukses sehingga setiap hari hatinya merana karena tidak mendapat apa yang diingininya. Orang yang pendendam dipertemukan dengan orang-orang yang selalu memojokkan dan melemparkan fitnah, sehingga hatinya pahit.

Anak-anak orang Kristen yang tadinya bersikap manis, sekarang ini menjadi susah diatur dan memberontak. Suami istri mendapati bahwa masalah sedikit saja bisa menjadi pertengkaran yang besar. Orang yang bekerja merasakan teman-teman di kantor tiba-tiba memusuhinya.

Di sekolah, anak-anak orang Kristen dikucilkan dari pergaulan dan dimusuhi. Mertua menjadi tidak bisa memahami menantunya dan bersikap keras. Semua yang tadinya biasa-biasa saja tiba-tiba menjadi begitu rumit dan menyusahkan.

Setiap orang Kristen di seluruh dunia dari anak-anak, orang dewasa sampai lansia, orang perorang dicobai dan diserang oleh setan untuk menampi, memisahkan orang Kristen gandum dan orang Kristen ilalang. Orang Kristen yang tidak tahan dan dari hati dan mulutnya keluar sumpah serapah, kutukan, bersungut-sungut, maka mereka langsung diberkas, dikumpulkan secara roh dalam kelompok ilalang. Orang Kristen yang tetap mengucap syukur dan memuji TUHAN di tengah semua masalah yang dihadapi, dikumpulkan TUHAN YESUS sebagai gandum.

Akan tetapi yang menyedihkan adalah, di dalam masa penampian ini ada lebih banyak orang Kristen di seluruh dunia yang bersungut-sungut dan mengutuki TUHAN dalam hati dan mulutnya. Lebih banyak orang Kristen yang menggerutu dan menyesali hidupnya yang dilanda berbagai masalah. Banyak orang Kristen di seluruh dunia yang menjadi dingin imannya dan sibuk dengan berbagai urusan duniawi seperti mengejar karier di kantor, jabatan di gereja, sibuk sekolah, sibuk kuliah, sibuk mempersiapkan masa depan, sibuk berinvestasi – semuanya sibuk dengan berbagai hal yang mengalihkan fokus iman Kristennya akan kekekalan hidup. Sekarang ini sangat banyak orang Kristen yang imannya sudah dingin dan apinya padam.

Melihat itu semua TUHAN YESUS sedih, karena ternyata di masa penampian ini DIA lebih banyak mendapati orang Kristen ilalang daripada gandum. Padahal penampian ini tidak akan berhenti sampai TUHAN YESUS datang. Hanya anak-anak TUHAN yang bertahan di masa penampian ini yang akan diangkat ke surga pada saat Rapture dan diluputkan dari aniaya iblis di masa Tribulasi yang melanda seluruh bumi. Hanya anak-anak TUHAN yang setiap hari bergaul intim dengan TUHAN saja yang dapat melewati masa penampian yang keras ini.

PERLINDUNGAN KHUSUS
==**==**==**==**==**==**==
Dalam vision ini, ternyata TUHAN YESUS memperlihatkan adanya orang-orang Kristen yang menghadapi penampian oleh setan ini dengan lebih mudah. Setan tidak bisa mendekati mereka dan hanya bisa menyerang dari jauh, tidak seperti orang-orang Kristen yang diserang setan dari dalam tubuhnya pada penglihatan sebelumnya.

Ternyata anak-anak Tuhan ini memiliki tubuh rohani yang berbeda. Mereka memakai baju perang seperti tentara romawi, memakai ikat pinggang, baju zirah, kasut, ketopong, perisai dan membawa pedang. Tubuhnya juga dibungkus oleh cahaya yang melindungi secara tertutup.

Terhadap mereka ini, setan tidak bisa mendekat dan hanya menembakkan panah-panah dari jauh. Dan panah itu lenyap ketika sampai pada cahaya yang meliputi seluruh bagian tubuh anak TUHAN itu. Serangan-serangan setan tidak mempan atas mereka karena pelindungan dari TUHAN yang berlapis-lapis.

Bukan hanya tidak mempan terhadap serangan setan, anak-anak TUHAN ini justru memiliki kuasa untuk menyerang dan mengalahkan setan dengan doa, pujian dan ketika memperkatakan Firman TUHAN. Hidup mereka penuh kuasa yang nyata dari surga.

Kemudian TUHAN YESUS menjelaskan, mereka ini adalah anak-anak TUHAN yang sekarang ini mempersiapkan diri dengan menjaga kekudusan hidup dan berkomitmen untuk menjadi pelaku Firman dengan setia. Mereka ini setiap hari membaca Firman TUHAN dengan tekun, merenungkan dan melakukannya dengan setia. Mereka selalu merendahkan diri di dalam doa dan puasa, dan bertemu secara pribadi dengan TUHAN YESUS dalam pujian dan penyembahan.

Pada saat semua orang Kristen disibukkan oleh segala macam urusan duniawi dan kekuatiran hidup, tetapi ternyata ada anak-anak TUHAN yang mau "membayar harga" dengan kekudusan hidup dan berkomitmen melakukan Firman TUHAN. Di seluruh dunia ada anak-anak TUHAN seperti ini, tetapi jumlah sangat sedikit sekali.

Mereka adalah laskar-laskar Kristus di akhir jaman, yang sekarang ini giat bersama-sama dengan TUHAN YESUS berperang di dalam doa dan puasa untuk merebut jiwa-jiwa diselamatkan. Setiap hari mereka membentengi tubuh Rohnya dengan seluruh perlengkapan senjata ALLAH mulai dari ikat pinggang kebenaran, baju zirah keadilan, kasut kerelaan memberitakan Injil damai sejahtera, ketopong keselamatan, perisai iman dan pedang ROH. Setiap kali doa itu diucapkan, di dalam ROH semua perlengkapan perang ALLAH itu muncul dan melindungi tubuhnya (Efesus 6:14-17).

BERTAHAN DALAM PENAMPIAN SAMPAI PENGANGKATAN - RAPTURE
==**==**==**==**==**==**==**==**==*
Ternyata di tengah masa penampian terhadap semua orang Kristen di seluruh dunia, TUHAN YESUS melindungi anak-anakNYA yang mau berkomitmen untuk merenungkan Firman TUHAN dan tekun melakukannya. TUHAN YESUS sangat menghargai anak-anaknya yang mau membayar harga memilih hidup dalam kekudusan dan merendahkan diri dalam doa puasa. Mereka ini bukan hanya dilindungi dan diluputkan tetapi bahkan diberi kuasa untuk berperang dan mengalahkan setan.

Karena engkau menuruti firman-KU, untuk tekun menantikan AKU, maka AKU pun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi. (Wahyu 3:10)

Dalam vision ini TUHAN YESUS mengingatkan semua orang Kristen bahwa masa penampian ini sedang berlangsung atas satu persatu orang Kristen di seluruh dunia, untuk memisahkan orang Kristen gandum dan ilalang. Penampian ini dilakukan secara keras oleh setan karena mereka tahu masanya sudah semakin singkat. TUHAN YESUS meminta semua orang Kristen untuk bertahan dan menang dengan menjaga hati dan mulutnya tidak bersungut-sungut, mengeluh, menggerutu atau bahkan mengutuki TUHAN karena berbagai masalah hidup yang dialami. Orang Kristen gandum adalah orang Kristen yang selalu mengucap syukur dan mengandalkan TUHAN YESUS dalam menjalani kehidupannya.

Penampian ini akan berlangsung terus menerus berlangsung sampai nanti TUHAN YESUS datang yang kedua pada saat Rapture (Pengangkatan). Hanya orang-orang Kristen yang bertahan dalam kesetiaan iman dan menang, yang akan diangkat ke surga dan mendapat mahkota kehidupan.

Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan ALLAH kepada barangsiapa yang mengasihi DIA (Yakobus 1:12)

Dalam menghadapi penampian yang dilakukan oleh setan ini TUHAN YESUS menjanjikan sebuah perlindungan khusus, jika anak TUHAN mau "mambayar harga" dengan cara hidup dalam kekudusan dan setia melakukan setiap kebenaran Firman TUHAN. Setiap hari bertemu dan bergaul intim dengan TUHAN YESUS di dalam pujian penyembahan dan doa puasa. TUHAN YESUS juga mengingatkan lagi satu pesan yang tegas : "Kerjakanlah keselamatanmu sendiri!"

Shalom Alecheim, 
salam Maranatha

Minggu, 10 Februari 2019

5G Gigantic health hazard

5G Gigantic health hazard: Discussion by Dr Barrie Trower & Sir Julian Rose
 

https://www.youtube.com/watch?v=DLVIbPtNrVo

Dr. Trower mentions the fact that 5G will cause 720 factorial different kinds of maladies to happen to humans, in a short while. 5G must be stopped. It is genocidal and ecocidal. The fact that China is rolling out 5G should concern the Chinese populace. All 5G technology should be destroyed and made permanently illegal.

Then all the WiFi and 3G and 4G need to get taken out. They are disastrous as well, but not nearly as bad as 5G. 5G is a microwave weapon system which was banned by international treaty which was constructed in the 1970, prohibiting microwave weapons. The US military abandoned those treaties, and many other weapons limitations treaties, during the GW Bush administration, just prior to the invasion of Iraq. 

There are perfectly safe ways to communicate that do not require high frequency radio broadcasts. If you want portable communications, go to QM and aether physics methods, relying on deviations from the expectation values of quantum noise in the Schrodinger equations, for example. 

The foundational circuit was designed and constructed and tested by me, in 1992. It works. So where are we now? Nothing has happened with it, since that time, because no one will fund the required holographic AI software development.

Best Wishes,

Neil

Tuhan atas bejana yang retak

Tuhan atas bejana yang retak Teks: 2 Korintus 4:6-7 "6 Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!...