Jumat, 05 April 2019

KANĪSAH AL-QIYAMAH (GEREJA KEBANGKITAN), YERUSALEM: SAKSI BISU PASANG SURUT TOLERANSI DI KOTA SUCI

KANĪSAH AL-QIYAMAH (GEREJA KEBANGKITAN), YERUSALEM: SAKSI BISU PASANG SURUT TOLERANSI DI KOTA SUCI 
(Suatu Refleksi Menyambut Pilpres 2019) 

Oleh Bambang Noorsena
 

1. CATATAN AWAL 

Kota suci Yerusalem dikuasai Muslim sejak Khalifah Umar bin Khattab, yang mengirim pasukannya di bawah pimpinan Khalid bin Walid dan Amr bin Ash. Ekspedisi militer yang dikenal dengan perang Yarmuk ini merupakan pukulan maut bagi Bizantium. Sejak saat itu sejumlah kota jatuh ke tangan Muslim, satu demi satu. Setelah Damascus, Syria, disusul kemudian dengan kota suci Yerusalem pada tahun 637 M. 

Konon, ketika pasukan Muslim telah  mengepung Yerusalem, Shafranius, Patriarkh Gereja Ortodoks Yunani di Yerusalem, tak bersedia menyerah kecuali Khalifah Umar sendiri yang datang untuk menerima peralihan kekuasaan itu secara langsung. Sang Khalifah yang terkenal bersahaja itu memutuskan berangkat dari Madinah ke Yerusalem. Setibanya di kota suci, Umar disambut ramah oleh Shafranius, lalu diajaknya untuk mengelilingi kota Yerusalem, tak terkecuali Gereja Kubur Suci, tempat tubuh suci Sang Kristus pernah dimakamkan.

Sebenarnya Gereja Kubur Suci adalah situs kubur kosong, sebab akhirnya Kristus bangkit dari antara orang mati dan ارْتَفَعَ إِلَى السَّمَاءِ "irtafa'a ila as-sama'i" (Mrk.16:19, The Arabic Gospel: "terangkat ke surga"). Karena itu, nama asli dari gereja ini dalam bahasa Yunani adalah Ναὸς τῆς Ἀναστάσεως "Naos tes Anastaseos", yang sekarang lebih populer dikenal dalam bahasa Arab: كنيسة القيامة  "Kanīsah al-Qiyāmah" (Gereja Kebangkitan). Nah, gereja paling penting bagi umat Kristiani di seluruh dunia ini menjadi saksi bisu pasang surutnya sejarah toleransi antarumat beragama, khususnya antara Islam-Kristen di Tanah Suci. 

2. ANTARA TOLERANSI UMAR DAN SHALAHUDDIN VS. FANATISME AL-HAKIM

Relasi kekerabatan Kristen-Islam di Yerusalem dibuka dengan kisah toleransi luar biasa yang ditunjukkan oleh Umar. Sejarawan Muslim Ibnu Khaldun (1333-1406 M) mencatat, ketika Sang Khalifah mengunjungi Kanīsah Al-Qiyamah, tibalah waktu shalat, Patriarkh mempersilahkan Umar untuk shalat di gereja ini, namun Umar menolaknya. Mengapa? "Kalau aku shalat di gereja ini", kata Umar memberi alasan, "kaum Muslim kelak sesudahku akan mengambil gereja ini dan berkata: "Di sini dahulu Umar pernah shalat". Umar menjamin hak-hak orang Kristen di Tanah Suci yang dituangkan dalam  ميثاق إيليا, "Mitstāq Iliyā" (Perjanjian Iliya). 

Lalu Khalifah Umar minta ditunjukkan situs بيت المقدس "Bait al-Maqdis" (Ibrani: בֵּית־הַמִּקְדָּשׁ "Beit HaMiqdash"), yang disebutnya dalam term Islam مسجد "masjid". "Sekarang tunjukkan padaku tempat itu", pinta Umar kepada Shafranius, "yang di atasnya aku dapat mendirikan sebuah masjid!". "Di atas Karang Suci (Shakhrah)", jawab Sang Parriarkh, "tempat dahulu Allah berfirman kepada Nabi Ya'qub". Umar mendapati banyak darah, sampah dan kotoran di atas karang suci itu, lalu membersihkannya, yang diikuti oleh para tentaranya. 

Umar dan kaum Muslimin kemudian shalat di atas shakhrah yang sudah dibersihkan itu. Dahulu pernah dibangun masjid sederhana dari kayu, yaitu Masjid Umar yang terletak di Bukit Bait Suci, yang kini berdiri "Masjid Qubbat Al-Shakrah". Masjid yang lebih populer disebut dalam bahasa Inggris "Dome of the Rock" ini, dibangun oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan (691 M), sedangkan Al-Walid, putranya, pada tahun 715 M juga membangun الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى "al-Masjid al-Aqsha".  Penamaan masjid ini diambil dari Al-Qur'an:  سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى  "Subhāna
alladzi bi'abdihi asrā laylan min al-Masjīd al-Harām ila al-Masjīd al-Aqshā". Artinya: "Maha suci Allah yang telah menjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha..." (Q.s. Al-Isra'/17:1).

Konon timbunan sampah di atas karang suci itu akibat kemarahan St. Helena, seperti tulis Ibnu Khaldun: وأمرت بطرح الزبل والقمامات على الصخرة حتى غطاهها وخفي مكانها جزاء بزعمها لما فعلوه بقبر المسيح "Wa amarat bitarḥa al-zabalu wa al-qumāmātu 'ala ash-shakhrat hattā ghathāhihā wa khafiya makānuhā jazā'un biza'mihā lahā fa'alûhu bi qabr al-Masīḥ (Dan Helena memerintahkan agar kotoran dan sampah dilemparkan ke atas karang itu hingga seluruhnya tertutup oleh sampah dan kotoran itu dan letak karang itu tersembunyi. Helena menganggap tindakan ini sebagai balasan kepada kaum Yahudi karena perbuatan penghinaan mereka terhadap kubur Kristus). 

Toleransi yang sama dari pemerintahan Muslim juga diperlihatkan oleh Sultan Saladin al-Ayubi, bahkan di saat berkecamuknya pernah salib. Saksi hidup yang masih bisa dilihat di Yerusalem sampai hari ini adalah fakta bahwa pembuka pintu Gereja al-Qiyāmah adalah Muslim, yaitu dari عائلة نسيبة 'Āilat Nusaybah" (keluarga Nusaibah) .  نسيبة "Nusaybah" (dialek Arab setempat "Nuseibeh") adalah keluarga Muslim tertua di Yerusalem. Nama keluarga ini diambil dari salah seorang kaum Anshar di Madinah, sahabat nabi Muhammad, yaitu Nusayibah binti Ka'ab. Sedangkan pemegang kunci gereja juga seorang Muslim, yaitu keluarga Joudeh Al-Goudia, yang mengemban tugas mulia ini turun temurun sejak zaman Sultan Saladin Al-Ayubi pada tahun 1192.

Meskipun pembukaan pintu gereja ini simbolis, namun pelibatan dua keluarga Muslim sejak zaman Kalifah Umar dan Sultan Saladin ini telah membantu menciptakan stabilitas di kalangan Kristen, karena Kanīsah al-Qiyamah dibagi dalam beberapa kapling gereja yang tak jarang saling  bertikai. Aturan yang ditegakkan Umar ini menjadi bukti toleransi yang luar biasa di kota suci Yerusalem sampai sekarang. Namun sejarah panjang relasi Islam-Kristen di Tanah Suci juga pernah mengalami pasang surut.

Lembaran sejarah hitam fanatisme agama, juga dengan mudah dapat dikenukakan di sini. Misalnya, pada zaman dinasti Fathimiyya, era kekuasaan Abu Ali Manshur Al-Hakim (996-1021 M), ditandai tindakan-tindakan kejam, pembunuhan dan penghancuran gereja-gereja di wilayah kekuasaannya, salah satunya pada tahun 1009 penghancuran Gereja Makam Kudus di Yerusalem. Selanjutnya, pada masa dinasti Mamluk Al-Bahri, umat Kristen Koptik kehilangan lebih dari separuh anggotanya karena pemaksaan agama, penganiayaan dan pembunuhan. Donald P. Little dalam "Coptic Conversion to Islam under the Bahri's Mamluk (692-755/ 1293-1354) mencatat bahwa masa ini benar-benar "was a key turning point in the history of the Copts under Islamic rule because it was at this time that they were reduced to a small minority" (1976:552-569).

3. "KHALIFAH" DALAM SISTEM KHILAFAH HIZBUT TAHRIR: NEGARA ABSOLUT DAN PEMERINTAHAN AUTOKRATIS

Para pendukung ideologi khilafah suka mengutip dan mengulang-ulang kisah toleransi Khalifah Umar untuk meyakinkan bahwa kaum non-Muslim akan dilindungi kalau mereka berkuasa. Padahal kisah-kisah toleransi seperti yang diperlihatkan pada kasus Umar dan Saladin lebih disebabkan oleh kebijakan personal sang pemimpin, bukan terletak pada keunggulan ideologisnya yang menjamin kesetaraan di setiap warga negara di depan hukum (the equality before the law).

Jadi, sebaik-baik sistem teokrasi yang ditawarkan selalu mengandung kelemahan, karena klaim kebenaran agama penguasa yang men-"subordinasi"-kan agama-agama lain di bawah Islam, sehingga kedudukan warga negata tidak setara. Sebaliknya, seburuk-buruk sistem demokrasi, kelemahannya lebih terletak pada penegakannya, sedangkan asas-asasnya relatif lebih universal. Apalagi kalau teokrasi yang ditawarkan adalah "Khilafah" a la Hizbut Tahrir, yang mengidentikkan Sang Khalifah dengan negara itu sendiri. "Khalifah adalah negara", tegas Taqiyuddin an-Nabhani (1909-1977), pendiri Hizbut Tahrir dalam bukunya ميثاق الأمة Mitstāq al-Ummah, "dan ia mempunyai seluruh kekuatan dan fungsi negara" (Rofiq, 2012:182-183).

Jelaslah bahwa model seperti ini tidak berbeda  dengan penyerapan teori personalitas dalam negara absolut dan ciri otoriterianisme dari pemerintahan autokratis. Jadi, dalam sistem teokrasi seperri itu tidak ada jaminan kebebasan beragama, kecuali tergantung belas kasihan khalifahnya. Kasus khalifah Al-Hakim menjadi contoh buruk kehidupan beragama. Ketika khalifah terhasut, secepat putusan hukum yang keluar dari mulutnya, Gereja Al-Qiyamah di Yerusalem dan gereja-gereja lainnya telah diratakan menjadi tanah dan banyak nyawa melayang dalam sekejap. Sebailknya, ketika hatinya tersanjung, Khalifah menjadi bak "dewa penolong" bagi siapa pun juga yang bisa menyenangkan hatinya.

4. REFLEKSI AKHIR

Seperti dikatakan oleh Hendropriyono, Pilpres 2019 bukan lagi sekedar kompetisi antara Jokowi vs. Prabowo, tetapi pertarungan ideologis antara Pancasila vs. Khilafah, antara Demokrasi vs. Otoriterianisme yang bersolek kesalehan Islam. Hanya orang-orang dungu yang memilih "Golput" karena tidak bisa memuaskan idealisme subyektifnya, sementara negerinya darurat Ideologi. Ibarat orang sedang mengecat rumah, bingung memilih warna yang paling "kinclong", percikan api sudah merambat dan seluruh bangunan rumah segera "kobong". 

Pihak sana mungkin bisa saja berkata "Kami Pancasilais, mana mungkin mendukung Khilafah". Mungkin benar, mereka bukan pendukung Khilafah. Tetapi mengapa mereka ber-"asyik masyuk" dengan HTI, organisasi yang di negara-negara Islam sendiri justru dilarang? Apakah mereka tidak mengetahui sistem "Khilafah" yang diperjuangkan HTI, sehingga mereka diam saja ada yang menumpangi dengan slogan "2019: Ganti Sistem, Ganti Presiden!"? Jadi. tanpa sadar ditunggangi HTI dengan  "Khilafah"-nya, atau malah "main api" dengan mereka? Padahal jelas Khilafah a la HTI adalah Ideologi anti Nasionalisme dan anti Demokrasi.

Karena itu, merujuk kepada Perpu Nomor 2 Tahun 2017, pemerintah membubarkan HTI dengan SK Menkumham Nomor AHU-30.AH.01.08 tahun 2017. Nah, kalau memang pihak sana tidak mendukung Khilafah, mengapa ketika HTI dibubarkan mereka hanya diam? Malah mereka turut mengajukan gugatan ke MK? Tahukah mereka bahwa kelompok HTI ini pernah berani dengan kurang ajar berkata: البنصاسيلا فلسفة كفر لا تتفق مع الاسلام "Al-Banshāsīlā falsafah kufur lā tattafiq ma'a al-Islām". Pancasila adalah falsafah kafir yang tidak sesuai dengan Islam (Rofiq, 2012:62,  Nuruzzaman. 2017:107).

So, jangan diam dan jangan anggap enteng bahaya ideologi transnasional yang kini menabuh genderang perang menantang Pancasila, perjanjian luhur bangsa Indonesia. Orang yang merasa bisa mengendalikan mereka demi ambisi politik sesaat, setelah meraih kemenangan mereka pasti akan mengkhianatinya. Karena dalam "world of views" mereka, dunia ini hanya terbagi dalam 2 kutub: دار الإسلام "Dār al-Islām" (wilayah Islam) dan دار الحرب "Dār al-Harb" (wilayah perang). Di luar sistem politik yang mereka anut adalah kafir yang wajib  di perangi. 

Dan kalaupun mereka memegang komitmen terhadap sekutu politik mereka dalam Pilpres 2019, bukankah itu hanya lima tahun? Sementara kalian terlanjur menyerahkan masa depan bangsa kepada gerombolan fanatik anti-Pancasila, dan membiarkan mereka mengembangkan ideologi Khilafah mereka dengan segala fasilitas negara melalui "bagi-bagi kekuasaan" di kabinet? Ingat, Bung! Manusia dibatasi dsngan usia, sementara militansi ideologis mereka tidak akan mati selama mental ta'ashub (fanatisme) masih terus mereka tanamkan melalui halakah-halakah mereka. "Mikir!", kata Cak Lontong. ¶

Cairo, 24 Maret 2019.

*catatan: artikel-artikel lain Dr. Bambang Noorsena bisa dilihat di www.bambangnoorsena.com


REFERENSI
1. Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun. Juz. 2 (Beirut: Dar al-Fikr, 1981).
2. Muhammad Suheil Thaqqusy, Bangkit dan Runtuhnya Dinasti Fathimiyah. Alih Bahasa: Masfuro Irham dan M. Abidun Zuhri ( Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2015).
3. Ainur Rafiq al-Amin, Membongkar Proyek Khilafah (Yogjakarta: LkIS, 2012).
4. Donald P. Little dalam "Coptic Conversion to Islam Under the Bahri's Mamluk (692-755/1293-1354)" , Bulletin of the School of Oriental and African Studies, London, Vol. 39, No. 3, 1976.
5. Muhammad Nuruzzaman, Catatan Hitam Hizbut Tahrir (Jogjakarta: Bdlibus Pustaka, 2017).


--
Victor Christianto
Founder of The Second Coming Institute, www.sci4God.com
Promoting Javanese "batik" as an Indonesia cultural heritage, www.mybatique.com
Promoting cultural and music events in Jakarta and other cities, www.acaraindo.com
Founder of www.ketindo.com, A renewable energy consultant 
1 New book: From Hilbert to Dilbert at UNM site, url: http://fs.unm.edu/FromHilbertToDilbert.pdf
My books and papers can be found at:
 You can also check the Neutrosophic Journal: 

http://fs.unm.edu/NSS/NSSArticles.htm  

==
We love you all nations, but time is very very limited. Be hurry to repent and receive Jesus Christ. Find a guide to help you repent and receive Jesus Christ, in this link http://www.esnips.com/web/Guidetorepent,
http://www.esnips.com/web/RepentanceGuide.
Print this guide, copy as many as you can, and distribute this to as many countries as you can, including Asian countries such as China, Burma, Thailand, Campuchea, Laos, Srilanka, and Vietnam. Pray and ask to God first before you select a language for your country. That is the message: be hurry be very very very very very hurry to repent and receive Jesus Christ, all corners of the world.
Don't you know that Jesus Christ will come again soon? That is why you should be hurry and quickly to repent and do your repentance. Tweet this message quickly and distribute this message to as many countries as you can including to all your friends quickly, quickly, quickly today. Follow Jesus only at http://www.twitter.com/Christianto2013.
Send this message quickly to all your colleagues and to all your friends. Thank you, Jesus Christ already help you. 

blog: http://guidetorepent.blogspot.com, http://findtheTruthnow.blogspot.com,
http://evangelismwithsocialmedia.blogspot.com
guide: http://GoodNews.getfreehosting.co.uk/digfile/cms/index.php (login with 'visitor')
video: http://youtube.com/guidetorepent,
facebook: http://www.facebook.com/VChristianto,
and follow Jesus only at www.twitter.com/Christianto2013

**KINDLE BOOKS:
authorpage: http://www.amazon.com/-/e/B00AZEDP4E
Articles dictated by Jesus Christ. Book Two. http://www.amazon.com/dp/B00AYR3F9C
Articles dictated by Jesus Christ. Book One. http://www.amazon.com/dp/B00AYR6TJU
by Jesus Christ: How social darwinism ruin America and the World. http://www.amazon.com/dp/B00AZDJJQI
by Jesus Christ: Evangelism for Difficult People. http://www.amazon.com/dp/B00AZDJCLA
by Jesus Christ: How you can do Evangelism with Social Media. http://www.amazon.com/dp/B00AZDXZLI
by Jesus Christ: The Nicene Creed. http://www.amazon.com/dp/B00AZDYMJ2
by Jesus Christ: Logos, Memra, and other letter for Economists. http://www.amazon.com/dp/B00AZDY7JW
by Jesus Christ: our Father in Heaven prayer. http://www.amazon.com/dp/B00AZKZUNM
Some problems of Nuclear Energy development in Asia: A literature survey. http://www.amazon.com/dp/B00B4LW5ZW

Some papers at www.vixra.org:
www.vixra.org/abs/0912.0036
www.vixra.org/abs/0912.0037
www.vixra.org/abs/1001.0005
www.vixra.org/abs/1001.0003
www.vixra.org/abs/0912.0053


Selasa, 02 April 2019

who was Saint Luke?

Jesus' disciples are often portrayed as a ragtag group of uneducated misfits. This made the transforming power of the Holy Spirit that much more apparent when they preached, as unschooled fishermen were suddenly speaking God's wisdom in the sanhedrin (Acts 4:13).

But not all of the early Christians were uneducated. Some, like Paul, were formally schooled in the law and well on their way to becoming prominent Jewish leaders.

And then there's Luke: the physician, companion of Paul, and traditional author of the Gospel of Luke and Acts. Even if the Bible didn't tell us he was a doctor (Colossians 4:14), his education shines through his writings. He uses precise medical terminology that was common in Greek medical texts, but is found nowhere else in the Bible. And his writings follow the model of the most reliable historical records of his time.

Some consider the Book of Acts a monumental work of ancient history.

Luke wasn't an eyewitness to Jesus' life or ministry, but he was fiercely dedicated to transmitting the facts as they were reported. He never includes himself in the gospel (outside of his introduction), and he only appears briefly in Acts.

So who was this minor biblical figure who played such an important role in producing the Bible?

---

Saint Luke, also known as Luke the Evangelist, is widely regarded as the author of both the Gospel of Luke and the Book of Acts. He wrote more of the New Testament than anyone else—even the Apostle Paul.

Luke wasn't an eyewitness to Jesus' ministry, but he lived during the first century, and according to his own writings, he "carefully investigated everything from the beginning" (Luke 1:1–4). As a traveling companion of Paul, he also likely had direct access to the apostles and other accounts of Jesus' life and ministry (such as the Gospel of Mark).

While he was presumably educated as a physician (Colossians 4:14), today Luke is celebrated as one of the church's earliest historians. His methodical, detailed writings give us the only thorough record of what happened after Jesus ascended to heaven. Without his account in Acts, it would be hard to imagine how Christianity grew from a small, fragile movement within Judaism to what would eventually become the largest religion in the world.

So who was "Luke the Evangelist"? What do we really know about him? Can we trust him? In this guide, we'll explore what the Bible says about him and how we know what he wrote, and we'll answer important questions about his authority and reliability.



===
Victor Christianto
Founder of The Second Coming Institute, www.sci4God.com
Promoting Javanese "batik" as an Indonesia cultural heritage, www.mybatique.com
Promoting cultural and music events in Jakarta and other cities, www.acaraindo.com
Founder of www.ketindo.com, A renewable energy consultant 
1 New book: From Hilbert to Dilbert at UNM site, url: http://fs.unm.edu/FromHilbertToDilbert.pdf
My books and papers can be found at:
 You can also check the Neutrosophic Journal: 

http://fs.unm.edu/NSS/NSSArticles.htm  

==
We love you all nations, but time is very very limited. Be hurry to repent and receive Jesus Christ. Find a guide to help you repent and receive Jesus Christ, in this link http://www.esnips.com/web/Guidetorepent,
http://www.esnips.com/web/RepentanceGuide.
Print this guide, copy as many as you can, and distribute this to as many countries as you can, including Asian countries such as China, Burma, Thailand, Campuchea, Laos, Srilanka, and Vietnam. Pray and ask to God first before you select a language for your country. That is the message: be hurry be very very very very very hurry to repent and receive Jesus Christ, all corners of the world.
Don't you know that Jesus Christ will come again soon? That is why you should be hurry and quickly to repent and do your repentance. Tweet this message quickly and distribute this message to as many countries as you can including to all your friends quickly, quickly, quickly today. Follow Jesus only at http://www.twitter.com/Christianto2013.
Send this message quickly to all your colleagues and to all your friends. Thank you, Jesus Christ already help you. 

blog: http://guidetorepent.blogspot.com, http://findtheTruthnow.blogspot.com,
http://evangelismwithsocialmedia.blogspot.com
guide: http://GoodNews.getfreehosting.co.uk/digfile/cms/index.php (login with 'visitor')
video: http://youtube.com/guidetorepent,
facebook: http://www.facebook.com/VChristianto,
and follow Jesus only at www.twitter.com/Christianto2013

**KINDLE BOOKS:
authorpage: http://www.amazon.com/-/e/B00AZEDP4E
Articles dictated by Jesus Christ. Book Two. http://www.amazon.com/dp/B00AYR3F9C
Articles dictated by Jesus Christ. Book One. http://www.amazon.com/dp/B00AYR6TJU
by Jesus Christ: How social darwinism ruin America and the World. http://www.amazon.com/dp/B00AZDJJQI
by Jesus Christ: Evangelism for Difficult People. http://www.amazon.com/dp/B00AZDJCLA
by Jesus Christ: How you can do Evangelism with Social Media. http://www.amazon.com/dp/B00AZDXZLI
by Jesus Christ: The Nicene Creed. http://www.amazon.com/dp/B00AZDYMJ2
by Jesus Christ: Logos, Memra, and other letter for Economists. http://www.amazon.com/dp/B00AZDY7JW
by Jesus Christ: our Father in Heaven prayer. http://www.amazon.com/dp/B00AZKZUNM
Some problems of Nuclear Energy development in Asia: A literature survey. http://www.amazon.com/dp/B00B4LW5ZW

Some papers at www.vixra.org:
www.vixra.org/abs/0912.0036
www.vixra.org/abs/0912.0037
www.vixra.org/abs/1001.0005
www.vixra.org/abs/1001.0003
www.vixra.org/abs/0912.0053

Selasa, 26 Maret 2019

An introduction to Biblical Cosmology (10' lecture in hermeneutics of science)

An introduction to Biblical Cosmology

ini adalah sebuah kuliah singkat (sekitar 10menit) sebagai perkenalan akan topik kosmologi biblika yang penulis tekuni sejak tahun 2014-2018. Kuliah singkat ini diberikan tgl 01/3/2019 di Jakarta.




March 26th, 2019. 23:16 WIB
The Second Coming Institute ministry, url: http://www.sci4God.com

Kamis, 21 Maret 2019

Etika mil ekstra

Etika mil ekstra

Shalom para sahabat dalam Kristus, selamat pagi. Apakah Anda pernah terpikir bagaimana sebaiknya "Etika Kerajaan Surga" bisa diterapkan di abad ke-21 ini? 
Sepintas ini persoalan mudah tapi jika direnungkan ternyata tidak terlalu sederhana. 
Sejauh yang saya pahami, Etika Kerajaan Surga sebagaimana yang kita baca dalam Keempat Injil, dapat disarikan menjadi 3 hal:  a. Etika cintakasih, b. Etika transformatif, dan c. Etika mil ekstra. 

Etika Cintakasih
Kiranya yang dimaksud dengan etika cintakasih cukup jelas. Jadi tidak perlu banyak penjelasan tambahan. 
Dan yang saya maksud dengan etika transformatif, adalah bagaimana setiap respons kita dimaksudkan untuk mengusik hati nurani sesama agar mereka mau bertranformasi, misalnya: mengasihi musuh dan memberi pipi kanan jika yang ditampar pipi kiri. Ini pun sudah cukup jelas meski bukan berarti mudah dilakukan. 

Etika Mil Ekstra
Lalu bagaimana dengan etika mil ekstra? 
Ini merupakan ajakan Yesus untuk memberikan lebih dari yang diminta dari kita. 
Ijinkan saya memberi 5 contoh ringkas, yang saya amati dalam beberapa hari terakhir: 

a. Beberapa hari ini saya bepergian menggunakan kereta, ternyata kondisi secara umum bersih dan layanan baik, baik di dalam stasiun maupun kereta.
Jam berangkat dan kedatangan juga tepat waktu. Tidak heran bahwa kereta api kembali menjadi moda yang digemari karena bersih, aman dan nyaman; dan kabarnya setahun dapat melayani lebih dari 470 juta penumpang. 

b. Ketika di Bandung, saya mencari laundry yang cepat, karena sore itu saya mesti pulang ke jawa tengah. Puji Tuhan, ada laundry ekspress yang bisa mengerjakan cucian dalam hitungan 3-4 jam. Tidak hanya itu, mereka juga menawarkan layanan ambil ke tempat saya menginap; ini contoh lain dari layanan mil ekstra. Ternyata siang hari, cucian saya betul sudah selesai. 

c. Sebelum pulang, saya juga menyempatkan untuk melihat-lihat koleksi Museum Geologi Nasional di Jl. Diponegoro, Bandung. Kondisi sangat terawat meski museum ini sudah dikenal sejak jaman kolonial. Koleksi batuannya lumayan lengkap dan yang hebat tiket masuknya sangat terjangkau. Tidak heran museum ini banyak dikunjungi anak-anak sekolah. 

d. Sehari sebelumnya, ketika saya naik kereta menuju Bandung, baru tersadar bahwa kabel charger saya tertinggal di salah satu hotel di jawa tengah. Lalu saya cari no HP hotel tersebut, dan minta tolong kabel tersebut agar disimpan. Ternyata staf hotel tidak hanya menyimpan kabel tersebut, namun ketika saya kembali, staf hotel dengan ramah menawarkan untuk mengantarkan kabel tersebut ke tempat saya. Ini contoh yang lain akan layanan mil ekstra. 

e. Dan kemarin lusa, saya membaca bagaimana pak Presiden dan juga Ibu negara menyempatkan diri untuk mencoba sendiri kereta MRT yang baru beroperasi di Jakarta. Contoh yang lain lagi tentang etika mil ekstra.

Mungkin ini hal yang tidak luar biasa namun bagi banyak orang yang masih memimpikan transportasi pribadi, tentunya merupakan teladan yang sangat baik dari seorang pemimpin bahwa transportasi publik seperti MRT dan TransJakarta adalah pilihan yang aman, murah, bersih dan nyaman, meski kadang mesti rela berdesakan. 
Tentu kita berharap bahwa secara berangsur masyarakat akan lebih menghargai dan menyukai transportasi umum seperti budaya di negara-negara maju. Misalnya di Jepang, banyak orang yang tiap pagi pulang-pergi kerja menggunakan kereta Shinkansen. 

Penutup
Semoga artikel singkat ini berguna sebagai ilustrasi bahwa "etika mil ekstra" masih sangat relevan di abad 21 ini. 
Jika dihubungkan dengan konsep pemasaran, mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa layanan pelanggan yang menerapkan "etika mil ekstra" akan membuat merk (brand) suatu perusahaan dapat menjadi "top of mind" - atau senantiasa melekat di benak pelanggan. Catatan: Ada beberapa buku pemasaran yang menekankan pendekatan non-konvensional yang bukan sekadar menggelontor dana besar untuk advertensi masif, di antaranya: Mike Schultz & John E. Doerr. Lihat (1). 

Bagaimana dengan Anda? 

Tuhan memberkati Anda sekalian. 

Versi 1.0: 21 maret 2019, pk. 8.56
Versi 1.1:  21 maret 2019, pk. 15:51
VC

Bacaan: 
(1)  Mike Schultz & John E. Doerr. Professional Services Marketing. New Jersey, Wiley & Sons Inc, 2009. EBook version

Senin, 18 Maret 2019

Tuhan atas bejana-bejana yang retak

Tuhan atas bejana-bejana yang retak

Teks: 2 Korintus 4:6-7
"6 Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.
7 Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami."

Shalom, saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus. Beberapa hari terakhir ini, saya melakukan beberapa perjalanan keluar kota menggunakan moda kereta. Karena ada cukup banyak waktu di perjalanan, saya jadi sempat membaca buku Steven Furtick, (Un)qualified, edisi terjemahan. Judul versi terjemahannya adalah (Tidak) memenuhi syarat.

Retakan, dan retakan di mana-mana
Awalnya saya tidak begitu paham dengan desain sampulnya yang menampilkan gambar tidak beraturan, meski bab pembukanya cukup menarik. Ternyata di bagian akhir baru dijelaskan, bahwa desain sampulnya diambil dari sebuah ornamen gereja yang terdiri dari pecahan-pecahan kaca.
Hal ini terinspirasi dari kalimat bijak dari Leonard Cohen:

"Ada retakan dalam segala sesuatu. Melaluinya cahaya dapat masuk."

Buku ini sangat bagus dan mengena, terutama karena bab pertama dibuka dengan pengalaman hidup Furtick sendiri yang pernah dikomentari sebagai "tidak memenuhi syarat."
Furtick menunjukkan bahwa di hampir seluruh Alkitab, Tuhan menunjukkan bagaimana Ia dapat memakai dan bekerja bersama orang-orang yang tidak layak menurut ukuran dunia pada umumnya. Tuhan menyatakan diriNya paling baik bukan "walaupun" mereka lemah, namun "justru" dalam kelemahan mereka.
Bahkan seringkali Ia sendiri yang menunjuk dan memberi semangat, baik kepada Abram yang kemudian menjadi Abraham, kepada Musa, kepada Gideon ketika ia bersembunyi di pengirikan terpencil, kepada Yakub si pemegang tumit, kepada Kefas si nelayan yang "hopeless" menurut ukuran duniawi, dan bahkan kepada perempuan Samaria yang telah menikah beberapa kali.

Penerimaan
Memang salah satu kebutuhan dasar manusia adalah aktualisasi diri, yang mewujud antara lain dalam kebutuhan akan rasa aman dan penerimaan. Namun Alkitab menegaskan, bahwa pada akhirnya penerimaan dari Tuhan adalah cukup, bahkan sekalipun Tuhan tidak menyembuhkan semua kelemahan itu.
Kepada Paulus yang memohon berulangkali agar duri dalam dagingnya segera disembuhkan, Tuhan hanya menjawab singkat:

9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
10 Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat. (2 Kor. 12:9-10)

Furtick mengajukan argumen sepanjang buku ini, bahwa frase "dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna," berlaku tidak saja untuk Paulus. Namun lebih merupakan pola yang sering digunakan Tuhan sepanjang sejarah. It's a rule rather than exception.
Dalam kalimat lain, Tuhan tidak pernah ragu untuk menggunakan bejana tanah liat yang paling berantakan sekalipun, bukan walaupun bejana itu rapuh dan hancur lebur, namun justru dalam kelemahan itulah. Bukankah saat-saat kita menyadari betapa rapuhnya kita, maka seringkali itu justru saat kita mau mendekat kepada Tuhan?
Yesus sendiri melukiskan betapa Tuhan senantiasa dekat dan dengan sabar menanti anak-anakNya kembali, seperti pada perumpamaan anak yang hilang. Namun bukankah sering terjadi bahwa Tuhan terpaksa mesti "menekuk" seseorang pada kegagalan atau mungkin sakit penyakit, agar orang tersebut tidak lagi terlalu angkuh?*

Penutup
Lalu apa maksud semuanya itu? Tidak lain hanyalah agar pada akhirnya hanya Tuhanlah yang berhak atas segala puji dan sembah. Soli Deo Gloria!

Semoga renungan singkat ini ada gunanya bagi Anda sekalian.

Tuhan memberkati Anda sekalian. Amin

Versi 1.0: 18 maret 2019, pk. 22:41

Catatan:
* istilah "ditekuk Tuhan" ini saya dengar dari seorang teman SMA yang suatu kali menceritakan betapa ia mesti mengalami proses yang panjang sebelum dapat menerima kehidupan yang lebih berwarna bersama anaknya yang mengalami disleksia.

Referensi:
(1) Steven Furtick. (Un)qualified. Light Publisher. Url: https://mikeforchrist.com/2016/07/18/book-review-unqualified-by-steven-furtick/





Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://nulisbuku.com/books/view_book/9694/sastra-harjendra-ajaran-luhur-dari-tuhan-a5
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains
http://nulisbuku.com/books/view_book/9693/jalan-yang-lurus-manual-anak-anak-terang-a5
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Catatan kecil buat para penggiat OJS

Catatan kecil buat para penggiat OJS*

Shalom para sahabat, khususnya para penggiat jurnal teologi di STT di seluruh nusantara.
Akhir-akhir ini saya mengikuti perkenmbangan di beberapa STT yang sibuk mempersiapkan jurnal dalam format OJS. Tentu adalah hal yang baik jika Anda bergiat dalam penulisan makalah-makalah teologi yang berbobot untuk memajukan khazanah pemikiran teologi di nusantara, demikian juga jika artikel Anda diterima oleh jurnal-jurnal teologi top yang terindeks Scopus.
Namun, mari kita renungkan sedikit mendalam.
Jika artikel yang Anda tulis dengan susah payah lalu ditolak Editor, apalagi tanpa review apapun, bukankah Anda bisa jadi frustasi? Di dasar hati Anda, mungkin Anda bertanya-tanya apakah Anda tidak cukup bagus menulisnya.
Lebih buruk lagi, saya mendengar dan melihat sendiri bahwa jurnal-jurnal top mensyaratkan artikel yang diterima mesti dibuat terbuka : Open Access, yang artinya biaya menerbitkan bisa mencapai $500 - $2000 per artikel bahkan lebih. Dan ini jelas merupakan rintangan sendiri bagi penulis atau teolog dari negara berkembang.

Hwa Yung
Masih ada problem yang lebih besar, setidaknya menurut Hwa Yung, seorang teolog Malaysia. Dalam bukunya, Mangga atau Pisang (sudah diterjemahkan), ia antara lain menyatakan adanya kecenderungan berteologi kontekstual yang di luarnya saja Asia, namun inti pemikiran masih banyak diwarnai oleh filsafat dan metode berteologi yang kebarat-baratan.
Tanpa maksud membuat dikhotomi usang Barat-Timur, tampaknya kritik Hwa Yung tersebut ada baiknya diperhatikan oleh para teolog nusantara juga. Bagaimana mau disebut berteologi yang lokal dan membumi, kalau persoalan yang digeluti tetap bercorak teologi atau filsafat kontinental.
Lebih buruk lagi, kita sibuk agar artikel-artikel kita berterima di jurnal-jurnal bergengsi yang justru berpotensi menjadikan kita teolog-teolog yang tercerabut dari akarnya (semoga tidak sampai sefatal itu).
Ada baiknya kita memilah tulisan teologi yang hanya menyenangkan manusia (baca: editor), dan mana yang berkenan pada Tuhan. Pada hemat saya, teolog yang baik seyogyanya berpikir bukan agar tulisannya berdampak pada indeks Scopus atau Google scholar, namun bagaimana agar berdampak pada kekekalan.

Sekian catatan singkat mengenai OJS, ijinkan saya memparafrasakan salah satu ayat terkenal dari 1 Korintus 13:

"1 Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
2 Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku telah menerbitkan lebih dari 50 artikel di jurnal-jurnal terindeks Scopus, dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna."

Tuhan memberkati Anda semua, Amin.

Versi 1.0: 18 maret 2019, pk. 23:22


Note:
* OJS: open journal system

Bacaan lanjutan:
(1) Hwa Yung. Mangga atau Pisang. Literatur Perkantas. Url: https://literaturperkantas.net/produk/mangga-atau-pisang/




Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://nulisbuku.com/books/view_book/9694/sastra-harjendra-ajaran-luhur-dari-tuhan-a5
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains
http://nulisbuku.com/books/view_book/9693/jalan-yang-lurus-manual-anak-anak-terang-a5
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Sabtu, 02 Maret 2019

What Biblical Discipling Is Not

What Biblical Discipling Is Not

Discipling is a much talked about topic, but often people have a wrong idea of what discipling entails. Let me describe a few things that biblical discipling is not.

1. It is not a case of one person controlling another person's life. Sometimes insecure disciplers have so much control over those they disciple that they attempt to conform the disciplee's will to their own like what happened with the popular discipleship (or shepherding) movement in the United States in the 1970s and 1980s. Leaders started having an unhealthy influence over their people, and the groups became like cults. This is why I prefer to use the terms discipler and disciplee rather than master and disciple.

The discipler's task is to help people to become disciples of Jesus, not of the discipler. While our example plays a key role in this (1 Cor. 11:1), the key factor in discipling is for them but God's will for them, especially as taught in the Scriptures. We feed them the Word to the point that they can feed on the Word themselves and gradually become less dependent on us. Indeed, those we disciple will end up as our lifelong friends. After some time, they are our friends, not our disciplees. Sometimes another may take on the role of discipling this person. Mark was first discipled by Barnabas. But later Peter took him under his wing, so that Peter referred to him as his son (1 Pet. 5:13).

2. It is not a relationship that separates the discipler and disciplee from the rest of the body. Though Jesus dealt personally with issues in the lives of individual disciples, like Peter and Judas, he discipled them as a group. Christians are made in the image of God who has eternally lived in the community of the Trinity. Consequently, God's people do not think of life outside of community. Relating to one's family and the body of Christ are vital aspects of being a Christian. This is why discipling must always be viewed as an activity of the body of Christ.

A small group can provide a good context for discipling because it is sufficiently small enough to practically facilitate individual attention to the growth of each disciplee. But the small group is a part of the body of Christ. It cannot become an exclusive clique within the church. While I spend unhurried times alone with those I disciple, I try not to be with them in larger gatherings. I encourage those in the discipleship group to chat with others rather than sticking with their group.

If disciplees are to relate well to the body of Christ, their disciplers need to relate healthily to the rest of the church. They need to willingly submit to being accountable to the church. Their attitude helps those they lead to think positively of the wider Christian community of which they are a part. Such involvement with this wider community may at times be messy and inconvenient. But the result is that disciplees are active long term in the church even after the discipleship group has disbanded.

3. It is not as simple as what happens in many fellowship groups today. There has been a welcome revival of small group activity in the church today. However, what happens in many groups falls short of giving a good opportunity for the members to be discipled. They usually have a vibrant time of worship, and time is given for testimony, for sharing and praying for needs. Someone shares a short devotion. People leave feeling that they have been spiritually blessed.

However, these groups miss two important aspects of biblical discipling. They miss providing adequate teaching of the Word, which is a major means of sanctifying believers (John 17:17; 2 Tim. 3:16–17). The thoughts from the Word that come through the short devotion may be emotionally inspiring and give some good biblical points, but they fall short of covering what Paul called "the whole counsel of God" (Acts 20:27).

This kind of group also fails to provide an opportunity for spiritual accountability, which is a key aspect of discipling. God intends for other Christians to help us in our pursuit of holiness (Ecc. 4:9–12; 2 Tim. 2:22; Heb. 10:24–25). A group meeting where people have come for spiritual refreshment may not lend itself to serious discussion about the challenging issues faced by an individual. It is not easy to be open about sensitive and difficult issues in a person's life in such a setting. That is best done one-on-one or in the context of a group that has developed an openness and trust that gives people the freedom to share without fear of embarrassment or betrayal.

Today many Christians come to church to receive blessings, but they are not close enough to anyone to share about key issues in their personal lives. Many are struggling to put their Christianity into practice at home, neighborhood, work or school. But no one knows about their struggles until something serious surfaces. An opportunity to grow healthily has been missed by missing out on spiritual accountability.

4. It is not a highly structured Bible study program devoid of interpersonal impact. There are some excellent Bible study group resources that can effectively impart knowledge to members of a church. But that is not enough. Jesus' method of nurturing his disciples included times of long conversations and of ministering and experiencing life together. In fact, some of his most important teaching emerged out of conversations he had with his disciples, many of which were triggered by ministry situations or by challenges the group faced. They were able listen to his teaching, observe his life and were impacted by both these. Paul told Timothy, "You, however, have followed my teaching, my conduct, my aim in life, my faith, my patience, my love, my steadfastness, my persecutions and sufferings …" (2 Tim. 3:10–11). Paul teaches about all these points in his epistles to Timothy. But these values were also communicated to Timothy through his observing Paul's life.

Disciplers must "hang around" with their disciplees, in personal conversations and group activities. Jesus did that with his disciples, often hiding away from the crowd and teaching them. One of his reasons for choosing the 12 was "that they might be with him" (Mark 3:14), and at the end of his ministry he described them as his "friends" (John 15:15).

This, of course, takes a lot of time. In our busy world people are unable or unwilling to devote so much time to personally spend with disciplees. I believe this is the primary reason many people do not disciple, even though they know there is a great need for it. However, people give time for the things that they have accepted as important priorities. If we believe that the call to disciple comes from God and meets a vital need in the church, we could persuade ourselves to give the time it demands of us.




===
Victor Christianto
Founder of The Second Coming Institute, www.sci4God.com
Promoting Javanese "batik" as an Indonesia cultural heritage, www.mybatique.com
Promoting cultural and music events in Jakarta and other cities, www.acaraindo.com
Founder of www.ketindo.com, A renewable energy consultant 
1 New book: From Hilbert to Dilbert at UNM site, url: http://fs.unm.edu/FromHilbertToDilbert.pdf
My books and papers can be found at:
 You can also check the Neutrosophic Journal: 

http://fs.unm.edu/NSS/NSSArticles.htm  

==
We love you all nations, but time is very very limited. Be hurry to repent and receive Jesus Christ. Find a guide to help you repent and receive Jesus Christ, in this link http://www.esnips.com/web/Guidetorepent,
http://www.esnips.com/web/RepentanceGuide.
Print this guide, copy as many as you can, and distribute this to as many countries as you can, including Asian countries such as China, Burma, Thailand, Campuchea, Laos, Srilanka, and Vietnam. Pray and ask to God first before you select a language for your country. That is the message: be hurry be very very very very very hurry to repent and receive Jesus Christ, all corners of the world.
Don't you know that Jesus Christ will come again soon? That is why you should be hurry and quickly to repent and do your repentance. Tweet this message quickly and distribute this message to as many countries as you can including to all your friends quickly, quickly, quickly today. Follow Jesus only at http://www.twitter.com/Christianto2013.
Send this message quickly to all your colleagues and to all your friends. Thank you, Jesus Christ already help you. 

blog: http://guidetorepent.blogspot.com, http://findtheTruthnow.blogspot.com,
http://evangelismwithsocialmedia.blogspot.com
guide: http://GoodNews.getfreehosting.co.uk/digfile/cms/index.php (login with 'visitor')
video: http://youtube.com/guidetorepent,
facebook: http://www.facebook.com/VChristianto,
and follow Jesus only at www.twitter.com/Christianto2013

**KINDLE BOOKS:
authorpage: http://www.amazon.com/-/e/B00AZEDP4E
Articles dictated by Jesus Christ. Book Two. http://www.amazon.com/dp/B00AYR3F9C
Articles dictated by Jesus Christ. Book One. http://www.amazon.com/dp/B00AYR6TJU
by Jesus Christ: How social darwinism ruin America and the World. http://www.amazon.com/dp/B00AZDJJQI
by Jesus Christ: Evangelism for Difficult People. http://www.amazon.com/dp/B00AZDJCLA
by Jesus Christ: How you can do Evangelism with Social Media. http://www.amazon.com/dp/B00AZDXZLI
by Jesus Christ: The Nicene Creed. http://www.amazon.com/dp/B00AZDYMJ2
by Jesus Christ: Logos, Memra, and other letter for Economists. http://www.amazon.com/dp/B00AZDY7JW
by Jesus Christ: our Father in Heaven prayer. http://www.amazon.com/dp/B00AZKZUNM
Some problems of Nuclear Energy development in Asia: A literature survey. http://www.amazon.com/dp/B00B4LW5ZW

Some papers at www.vixra.org:
www.vixra.org/abs/0912.0036
www.vixra.org/abs/0912.0037
www.vixra.org/abs/1001.0005
www.vixra.org/abs/1001.0003
www.vixra.org/abs/0912.0053

Selasa, 26 Februari 2019

Dari hermeneutik konflik menuju hermeneutik dialog

Dari hermeneutik konflik menuju hermeneutik dialog:
Menemukan ulang bahasa cintakasih

Victor Christianto
The Second Coming Institute
www.sci4God.com

Prakata
Sudah sejak dahulu saya memiliki satu copy buku kontroversial Samuel Huntington: the clash of civilizations.
Tapi entah kenapa saya tidak pernah menyempatkan membaca tuntas buku tersebut, selain hanya membaca sekilas versi awalnya yang terbit di Foreign Affairs. Akhirnya, suatu kali saya berikan buku itu ke seorang sahabat.

Apa itu hermeneutika dialog?
Namun baru-baru ini ada artikel mas Bambang Noorsena yang mengutip seorang intelektual dari gereja Koptik, yaitu Milad Hanna, yang tidak setuju dengan pola pikir yang ditularkan baik oleh Marx maupun Huntington.
Jika boleh dicari kemiripan di antara kedua pemikir itu, adalah mereka mengembangkan sekaligus hermeneutika kecurigaan dan hermeneutika konflik. Baik itu disebut konflik antar kelas maupun antar -konon- peradaban.
Padahal, demikian argumen Prof. Milad Hanna, setiap kali manusia menjumpai Yang Lain, senantiasa terbuka kemungkinan untuk berdialog menuju saling pemahaman dan saling menerima sebagai sesama.
Pada hemat saya, hal tersebut sejalan dengan pemikiran Martin Buber, filsuf eksistensialis dan pelopor pendekatan dialogis, yang juga tidak setuju dengan pandangan Freud maupun Marx.

Sedikit catatan mengenai landasan Biblika
Kalau hendak menemukan landasan Biblika dari hermeneutika dialog, saya kira salah satu tempat terbaik adalah Kisah Para Rasul dan surat-surat Kiriman. Meski demikian, teladan Yesus yang berdialog secara terbuka dengan Rabbi Nicodemus dan perempuan Samaria di tepi sumur Yakub, kiranya membuka wawasan kita bahwa selain pilihan kesatuan dalam perbedaan dan konflik dalam perbedaan, juga ada pilihan ketiga:  dialog dalam perbedaan (tentunya dialog di sini dimaknai dalam terang I-Thou nya Martin Buber).

Bahwa memang ada perbedaan pendapat antara berbagai faksi dalam gereja perdana, itu mesti diakui (lihat Kis. 15 dan Surat Galatia). Namun juga ada kesatuan dan saling menghormati di antara para pelopor dalam gereja perdana, seperti terlihat dalam 3 ayat berikut:

Kisah Para Rasul 21:18
Pada keesokan harinya pergilah Paulus bersama-sama dengan kami mengunjungi Yakobus; semua penatua telah hadir di situ.

Galatia 2:9
Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat;

1 Korintus 3:6
Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. 

Dari hermeneutika dialog ke hermeneutika cintakasih.
Kalau kita bisa melangkah lebih maju dari hermeneutika konflik menjadi hermeneutika dialog, maka selangkah lagi kita akan menjumpai hermeneutika cintakasih.
Apakah itu hermeneutika cintakasih?
Secara sederhana, hermeneutika adalah Kacamata yang kita gunakan untuk melihat dan memahami segala hal yang ada dalam ruang pengalaman kita. Seperti ada tertulis:

Lukas 11:34
Matamu adalah pelita tubuhmu. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu.

Demikianlah orang yang telah menerapkan hermeneutika cintakasih, mungkin pekerjaannya tetap mengepel lantai atau memelihara bebek atau memotong bambu. Namun ia akan mengepel dengan sukacita, dan memelihara bebek dengan ucapan syukur, atau mengubah bambu menjadi seruling yang berbunyi merdu.

Ada sebuah kisah yang sangat saya sukai dari Ps. Anthony de Mello, alkisah ada seorang murid Zen di pertapaan yang protes kepada gurunya: "Guru, kenapa bapak tidak pernah mengajar hal-hal atau pengetahuan yang istimewa kepada saya?  Pasti Guru menyembunyikan sesuatu, ya kan?"
Setelah didesak berulangkali, Gurunya hanya menjawab: "Apakah kau mendengar bunyi burung berkicau di pohon itu? ". Jawab sang murid: "ya."
Lalu gurunya menyahut: "Lihat, aku tidak menyembunyikan apapun, kan? "

Demikianlah juga yang kita dengar dari pengajaran Yesus orang Nazaret itu:

Matius 6:26
"Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?"

Pertanyaan untuk direnungkan:
- dapatkah Anda merasakan bisikan kasih Tuhan yang mengalir dalam denyut nadi Anda?
- dapatkah Anda mendengar suara Tuhan dalam angin sepoi?

1 Raja-raja 19:12
Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa.

Penutup: Menemukan kembali bahasa cintakasih.
Kiranya menjadi jelas bahwa perjumpaan bisa membuka ruang dialog. Seperti ditegaskan oleh Prof. Milad Hanna dari gereja koptik, perjumpaan dengan The Other (yang lain) tidak harus menghasilkan konflik, namun lebih mungkin dialog yang saling mencerahkan.(3) Itu sebabnya Martin Buber,  pelopor pendekatan dialogis, juga tidak setuju dengan Marx (dan Freud). (2)
Karena hermeneutika bukan saja tentang pemahaman, namun juga tentang eksplanasi (1), maka sebagaimana kacamata yang baik menolong kita melihat lebih jelas demikianlah hermeneutika yang baik mengarahkan bahasa yang kita keluarkan dari hati.
Karena apa yang keluar dari mulut asalnya dari hati.

Matius 5:22
"Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala."

Dan jika hati kita telah dicerahkan oleh hermeneutika cintakasih, maka apapun yang kita lakukan dam katakan akan senantiasa diwarnai dengan bahasa kasih.
Ijinkan saya menutup tulisan ini dengan doa St. Fransiskus dari Asisi:(5)

Tuhan,
jadikanlah aku pembawa damai
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cintakasih
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kebenaran
Bila terjadi kecemasan, jadikanlah aku pembawa harapan
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang
Tuhan,
Semoga aku ingin menghibur daripada dihibur,
Memahami daripada dipahami,
Mencintai daripada dicintai
Sebab
Dengan memberi aku menerima
Dengan mengampuni aku mengampuni
Dengan matisuci aku bangkit lagi
Untuk hidup selama-lamanya
Amin.

Bagaimana dengan Anda?

Kiranya Tuhan yang Mahabaik dan Mahacinta memberkati Anda.

Versi 1.0:  24 February 2019, pk. 21:58
VC

Referensi
(1)  Paul Riceour. Interpretation theory. URL: https://books.google.co.id/books/about/Interpretation_Theory.html?id=TS98mJVaxqIC&redir_esc=y
(2) Martin Buber. The self in relationship. URL:  http://selfinrelationship.blogspot.com/2011/03/martin-bubers-i-thou-relationships.html?m=1
(3) Milad Hanna. Acceptance of the other. https://www.amazon.com/Acceptance-other-Dr-Milad-Hanna/dp/9772271613
(4)  V. Christianto. Kesatuan dan perbedaan dalam Gereja Perdana. IJT, 2014. URL: https://www.researchgate.net/publication/272831753_Kesatuan_dan_Perbedaan_dalam_Gereja_Perdana_IJT_Volume_2_Nomor_2_Desember_2014
(5)  doa Fransiskus Dari Asisi, dikutip dari liturgi Ibadah di salah satu gereja di Jakarta sore ini

From hermeneutic of conflict to hermeneutic of dialogue

From hermeneutic of conflict to hermeneutic of dialogue:
Rediscovering the love language

Victor Christianto,
The Second Coming Institute, www.sci4God.com


Foreword
For a few years, one of us had a copy of Samuel Huntington's controversial book for a long time: the clash of civilizations. But for some reason he never took the time to read the book thoroughly, besides just glimpsing the initial version published in Foreign Affairs. Finally, one time he gave the book to a friend.

What is dialogue hermeneutics?
But recently there was an article that quoted an intellectual from the Coptic church, namely Prof. Milad Hanna, who disagreed with the mindset transmitted both by Marx and Huntington. If we can look for similarities between the two thinkers, they are developing at the same time "hermeneutics of suspicion" and "hermeneutics of conflict". Both are called inter-class conflicts or between civilization.
In fact, as argued by Prof. Milad Hanna, whenever people meet the Other, it is always possible to dialogue towards mutual understanding and accepting each other as one another. In our opinion, this is in line with the thoughts of Martin Buber, the existentialist philosopher and the pioneer of the dialogical approach, who also disagrees with the views of Freud and Marx.

A little note about the foundation of Biblical
If you want to find the Biblical foundation of the 'hermeneutics of dialogue' instead of hermeneutics of conflict, perhaps one of the best places is Acts and the Epistles. However, Jesus's example of open dialogue with Rabbi Nicodemus and the Samaritan woman at the edge of Jacob'swell, would open our horizons that in addition to the choice of "unity in differences" and "conflict in differences", there is also a third choice: "dialogue in difference" (of course the dialogue is interpreted in explained Martin Buber's I-Thou).
That there were indeed differences of opinion between various factions in the early church, it must be recognized (see Acts 15 and Galatians). But there was also unity and mutual respect among the pioneers in the early church, as seen in the following 3 verses:
Acts 21:18
The next day Paul went with us to visit James; all the elders were there. Galatians 2: 9 When he saw the grace that was given to me, James, Cephas, and John, who were seen as pillars of the church, shook hands with me and with Barnabas as a sign of fellowship, so that we would go to the uncircumcised and to them circumcised people;
1 Corinthians 3: 6
I planted, Apollos watered, but God gave growth.

From the hermeneutics of dialogue to the hermeneutics of love.
If we can move forward from the hermeneutics of conflict to a hermeneutic of dialogue, then one more step we will find the hermeneutics of love.
Is that hermeneutics of love? In simple terms, hermeneutics is the Glasses that we use to see and understand everything that is in our experience space. As it is written:

Luke 11:34
Your eyes are the lamp of your body. If your eyes are good, your whole body will be clear, but if your eyes are evil, your body will be darkened.

Such is the person who has applied the hermeneutics of love, maybe the work is still mopping the floor or raising ducks or cutting bamboo. But he will mop joyfully, and keep ducks with thanksgiving, or turn bamboo into flutes that sound melodious. There is a story that we really like from Anthony de Mello, as follows : there is a Zen student in the hermitage who protested to his teacher: "Teacher, why have you never taught me special things or knowledge? You must have hidden something, right?" After being repeatedly pressured, the teacher simply answered: "Do you hear the sound of birds singing on the tree?" Answer the student: "Yes". Then the teacher replied: "See, I am not hiding anything."
Likewise what we hear from the teaching of Jesus the Nazarene:

Matthew 6:26
Look at the birds in the sky, who do not sow and do not reap and do not gather provisions in barn, but fed by your Father in heaven. Did you not exceed the birds?

Questions to ponder:
- can you feel the whisper of God's love flowing in your pulse?
- can you hear God's voice in the breeze?

1 Kings 19:12
And after the earthquake a fire came. But there is no LORD in the fire. And after the fire came the sound of a gentle breeze.

Concluding remark: Rediscovering the language of love.
It should be clear that "meeting can open up a dialogue space." As confirmed by Prof. Milad Hanna from the Coptic church, encounters with The Other (others) do not have to produce conflict, but more likely dialogue that enlightens each other. (3) That is why Martin Buber, the pioneer of the dialogical approach, also disagrees with Marx (and Freud). (2)
In other words, we should move from hermeneutics of conflict (a la Hegel and Baur) towards hermeneutics of dialogue, as will be explored in a next article. (From logical perspective, dialogue can be viewed as accepting the otherness, just like Smarandache's Neutrosophic Logic.)
Because hermeneutics is not only about understanding, but also about explanation (1), then as good glasses help us to see more clearly, hermeneutics is good at directing the language we emit from the heart. Because what comes out of the mouth comes from the heart.

Matthew 5:22
But I say to you, "Everyone who is angry with his brother must be punished; whoever says to his brother, 'Unbelievers'; must be brought before the Sanhedrin and who says: Impossible must be delivered to a fiery hell.

And if our hearts have been enlightened by the hermeneutical love, whatever we do and say will always be colored with the language of love.
Let us close this paper with the peace prayer of St. Francis of Assisi: (5)

Lord, make me a peacemaker,
Where there is hatred, let me sow love;
where there is injury, pardon;
where there is doubt, faith;
where there is despair, hope;
where there is darkness, light;
where there is sadness, joy;

O Divine Master, grant that I may not so much seek to be consoled as to console;
to be understood as to understand;
to be loved as to love.

For it is in giving that we receive;
it is in pardoning that we are pardoned;
and it is in dying that we are born to eternal life.


Version 1.0: 25 February 2019, pk. 22: 54
VC & FS

References:
(1) Paul Riceour. Interpretation theory. URL: https://books.google.co.id/books/about/Interpretation_Theory.html?id=TS98mJVaxqIC&redir_esc=y
(2) Martin Buber. The self in relationship. URL: http://selfinrelationship.blogspot.com/2011/03/martin-bubers-i-thou-relationships.html?m=1
(3) Milad Hanna. Acceptance of the other. https://www.amazon.com/Acceptance-other-Dr-Milad-Hanna/dp/9772271613
(4) V. Christianto. Kesatuan dan perbedaan dalam Gereja Perdana. IJT, 2014. URL: https://www.researchgate.net/publication/272831753_Kesatuan_dan_Perbedaan_dalam_Gereja_Perdana_IJT_Volume_2_Nomor_2_Desember_2014
(5) Peace prayer from St. Francis from Assisi: url: https://www.catholicnewsagency.com/resources/saints/saints/peace-prayer-of-st-francis-of-assisi

----

Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://nulisbuku.com/books/view_book/9694/sastra-harjendra-ajaran-luhur-dari-tuhan-a5
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains
http://nulisbuku.com/books/view_book/9693/jalan-yang-lurus-manual-anak-anak-terang-a5
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

KANĪSAH AL-QIYAMAH (GEREJA KEBANGKITAN), YERUSALEM: SAKSI BISU PASANG SURUT TOLERANSI DI KOTA SUCI

KANĪSAH AL-QIYAMAH (GEREJA KEBANGKITAN), YERUSALEM: SAKSI BISU PASANG SURUT TOLERANSI DI KOTA SUCI  (Suatu Refleksi Menyambut Pilpres 2019) ...