Senin, 28 Januari 2019

Siapa Engkau Tuhan?

My Utmost (B. Indonesia) - 29/01/2019

Siapa Engkau Tuhan? — Kisah 26:15

Bagaimana Seorang (Pelayan) Bisa Begitu Bodoh? Judul renungan hari ini cukup keras. Renungan ini mengingatkan kita, antara lain apakah "kita melayani Yesus dengan roh yang bukan Roh-Nya", kita berbicara dengan kata-kata yang terdengar baik, tetapi roh di balik kata-kata itu adalah roh seorang musuh, melayani dengan menggebu-gebu menurut cara saya sendiri dan untuk kepuasan diri sendiri.

Bagaimana Seseorang (Pelayan) Bisa Begitu Bodoh

"Beginilah firman Tuhan kepadaku," kata Yesaya, "... ketika tangan-Nya menguasai aku ....(Yesaya 8:11) Firman Tuhan ini menyatakan, tidak ada tempat untuk melarikan diri bila Tuhan berbicara. Dia selalu datang dengan menggunakan otoritas-Nya dan menguasai pengertian kita.

Sudahkah suara Allah mendatangi Anda secara langsung? Jika sudah, Anda tidak akan dapat salah dengan suasana keakraban yang mengiringinya, yang disampaikan kepada Anda. Karena Allah berbicara dengan bahasa yang paling Anda kenal, bukan melalui telinga Anda, melainkan melalui situasi yang Anda alami.

Allah harus menghancurkan kepercayaan kita terhadap keyakinan atau pendirian kita sendiri. Kita berkata, "Aku tahu bahwa inilah yang harus kulakukan!" Lalu, tiba-tiba Allah berbicara dalam cara yang meliputi kita dengan menyingkapkan kebodohan dan ketidakacuhan kita. Kita memperlihatkan kebodohan kita tentang Dia dalam cara kita membuat keputusan untuk melayani Dia. Kita melayani Yesus dengan roh yang bukan Roh-Nya dan menyakiti Dia melalui pembelaan kita terhadap Dia. Kita mengesampingkan tuntutan-Nya dalam roh iblis. Kata-kata kita terdengar baik, tetapi roh di balik kata-kata itu adalah roh seorang musuh. "Akan tetapi, Ia berpaling dan menegur mereka" (Lukas 9:55), Yesus menegur murid-murid-Nya karena ada roh lain pada mereka. Roh Tuhan di dalam para pengikut-Nya tertulis dalam 1 Korintus 13.

Adakah saya telah menganiaya Yesus dengan tekad yang menggebu-gebu untuk melayani Dia menurut cara saya sendiri? Jika saya merasa telah melakukan kewajiban saya, tetapi telah menyakiti Dia dalam cara saya melayani, saya dapat memastikan yang saya lakukan bukanlah kewajiban saya. Cara saya tidak akan mengembangkan roh yang lemah lembut dan tenang, melainkan hanya roh kepuasan diri sendiri. Kita menyangka bahwa apa pun yang tidak menyenangkan adalah kewajiban kita. Adakah seperti itu Roh Tuhan kita? "Aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku ....(Mazmur 40:9) Demikianlah seharusnya roh pelayanan kita.

Hal kekhawatiran

My Utmost (B. Indonesia)


Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang ... tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu? — Matius 6:30


Membiarkan "kekhawatiran dunia ini" masuk dalam pikiran kita dan melupakan janji "terlebih lagi" dari Bapa surgawi, seperti yang disebutkan dalam Matius 13:22, merupakan pikiran yang tidak hormat pada firman Tuhan. Hal ini dapat mengakibatkan kita surut dalam persekutuan dengan Tuhan. Bagaimana seharusnya? Mari, kita simak dalam renungan hari ini.

Lihat juga Bobby McFerrin: http://www.metrolyrics.com/dont-worry-be-happy-lyrics-bobby-mcferrin.html

Pandanglah pada Allah

Pernyataan Yesus yang sederhana selalu menjadi teka-teki bagi kita karena kita tidak bersikap sederhana. Bagaimana kita dapat memperoleh kesederhanaan Yesus agar kita dapat memahami Dia?

Dengan menerima Roh-Nya, mengenal, dan mengandalkan Dia, serta mematuhi-Nya (mengenal, mengandalkan Dia, dan mematuhi-Nya). Ketika Dia membawa kita kepada kebenaran firman-Nya, hidup akan menjadi sederhana, tetapi mengagumkan.

Yesus meminta kita merenungkan, "... jika demikian Allah mendandani rumput di ladang," betapa "terlebih lagi" Dia akan mendandani Anda, asalkan Anda tetap menjalin hubungan yang benar dengan Dia. Setiap kali kita surut atau mundur dalam persekutuan kita dengan Allah, itu karena kita mempunyai pemikiran yang sangat tidak patut, tidak hormat, merasa lebih tahu daripada Yesus Kristus. Kita telah membiarkan "kekhawatiran dunia ini" masuk (pikiran kita) (Matius 13:22), dan melupakan janji "terlebih lagi" dari Bapa surgawi.

"Pandanglah burung-burung di langit ...." (Matius 6:26) Tugas burung-burung tersebut ialah mematuhi naluri yang telah diberikan Allah dan Allah menjaga mereka. Yesus berkata bahwa bila Anda mempunyai hubungan yang baik dengan Dia dan mematuhi Roh-Nya (dalam diri Anda), Allah akan memelihara Anda.

"Perhatikanlah bunga bakung di ladang ...."(Matius 6:28) Mereka tumbuh di lahan tempat mereka ditanam. Banyak di antara kita menolak untuk tumbuh di tempat Allah menempatkan kita. Oleh karena itu, kita tidak berakar sama sekali.

Yesus mengatakan bahwa jika kita mematuhi Allah, Dia akan mengurus semua hal yang lain. Berdustakah Yesus kepada kita? Apakah kita sedang mengalami "terlebih lagi" yang dijanjikan-Nya itu?

Jika tidak, itu karena kita tidak mematuhi Allah dan mengusutkan hari kita dengan pikiran-pikiran yang membingungkan dan mencemaskan. Berapa banyak waktu yang terbuang karena menanyakan pertanyaan bodoh tanpa arti kepada Allah, padahal seharusnya kita sepenuhnya memusatkan perhatian terhadap pelayanan kita bagi-Nya?

Pengudusan adalah tindakan memisahkan diri (saya) secara terus-menerus dari segala sesuatu, selain yang ditetapkan Allah untuk dilakukan. Hal itu bukanlah suatu pengalaman sesaat melainkan proses yang terus berlangsung. Apakah saya terus-menerus memisahkan diri sambil memandang kepada Allah setiap hari dalam hidup saya?

Trinitas

Trinitas (revisi dari edisi juni 2017)

Teks: Kej. 1:1-2:4, Mat. 28:16-20

Shalom, selamat petang saudaraku. Beberapa waktu lalu penulis pernah menulis artikel singkat membahas seputar Trinitas. Kini ijinkan saya merevisi sedikit artikel tersebut untuk meluruskan dan menjawab beberapa pertanyaan yang kerap ditanyakan oleh para saudara dan sahabat yang non-Kristen mengenai konsep Trinitas.
Doktrin Trinitas sangatlah penting bagi iman Kristen, meskipun orang-orang Kristen sendiri acapkali mengalami kesulitan untuk mengerti atau menjelaskan hal ini. Sebenarnya, kesalahpahaman tersebut sering terjadi karena kita berusaha memahami Allah secara matematis. Padahal, mungkinkah kita menghitung Tuhan yang omnipresent? Konsep tentang identitas matematis lalu menjadi tumpul.
Secara garis besar, setidaknya ada 5 hal yang kerap ditanyakan berhubungan dengan Trinitas:
a. Benarkah Trinitas baru dikenal pada abad ke-3?
b. Adakah petunjuk kuat akan Trinitas pada PB?
c. Adakah petunjuk kuat akan Trinitas dalam PL? Apakah teologi Trinitas dapat diperdamaikan dengan monoteisme Israel?
d. Bagaimana memahami Yesus sebagai Anak Allah namun tetap menjunjung tinggi keesaan Allah?
e. Bagaimana relasi Yesus sebagai Firman Allah dengan Allah Bapa?
Artikel ini akan berupaya membahas beberapa pertanyaan tersebut berdasarkan beberapa sumber yang tersedia pada penulis, selain dari sumber googling. Penulis berusaha memaparkan sejelas dan seringkas mungkin pokok-pokok iman Kristen tentang Trinitas, dengan sedapat mungkin meminimalkan penggunaan istilah-istilah filosofis yang sulit dimengerti.
Perlu ditegaskan bahwa artikel ini ditujukan untuk membantu meluruskan berbagai kesulitan dalam memahami konsep Trinitas, namun tentunya tidak akan menjawab semua keberatan yang mungkin muncul. Mari kita mulai.

a. Benarkah Trinitas baru dikenal pada abad ke-3? (8)
Salah satu tuduhan yang kerap dilontarkan adalah bahwa Trinitas adalah gagasan abad ke-3 dan tidak ada landasannya dalam Alkitab. Benarkah demikian?
Tidak benar bahwa doktrin Trinitas baru diformulasikan dalam konsili Nicea pada 325AD, lewat sebuah konsili yang diadakan oleh Kaisar Constantine. Yang benar adalah pada konsili Nicea hanya ditegaskan mengenai keilhin Yesus, lalu mengenai Trinitas diteguhkan dalam Konsili Konstantinopel (381AD). Namun konsepnya sesungguhnya bersumber dari Alkitab, termasuk dalam PL secara parsial. Pewahyuan lengkap muncul di PB.
Secara sederhan, kita bisa merangkum pengajaran Alkitab ke dalam 3 pernyataan:
(1) Tuhan adalah 3 pribadi (namun "tiga yang satu (Esa)" bukan "tiga yang bersatu"; dari istilah para bapa gereja: "diskresi non separasi").
(2) Setiap pribadi adalah Tuhan seutuhnya
(3) Hanya ada satu Tuhan (Ul. 6:4)
Trinitas sebagai tiga pribadi Tuhan yang sepenuhnya setara, harus dengan hati-hati diseimbangkan dengan kesatuan Tuhan. Terminologi yang lebih tepat untuk dipakai menjelaskan hal ini adalah: "Tuhan Trinitas."

b. Adakah petunjuk kuat akan Trinitas pada PB?
Meski ada beberapa teks yang dapat dirujuk, secara sederhana ada 2 teks di mana ketiga figur Trinitas dinyatakan secara paling jelas, berkaitan dengan Injil Sinoptik:

(1)Teks Mat. 28:19
"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,"
Jelas dalam ayat ini bahwa Yesus memerintahkan para murid untuk membaptis dalam nama Bapa, dan Anak dan Roh Kudus. Perintah Yesus tersebut ingin menekankan adanya ketunggalan karya Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya. Ketiganya tidak dapat dipisah-pisahkan berdasarkan batasan ruang dan waktu. Ketiganya saling berpartisipasi untuk mewujudkan karya Allah yang sempurna bagi ciptaan-Nya.(12) 

(2) Teks Luk. 3:21-22
     21  Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit  
    22  dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan."  
Kiranya cukup jelas dalam teks ini bahwa ada 3 pribadi yang terlibat: Allah Bapa yang bersabda, Yesus (Allah Anak) yang sedang dibaptis, dan Roh Kudus yang turun ke atas Yesus.

c. Adakah petunjuk kuat akan Trinitas dalam PL? Apakah teologi Trinitas dapat diperdamaikan dengan monoteisme Israel?
Ada beberapa petunjuk dalam PL yang menyiratkan Trinitas walaupun tidak se-eksplisit dalam PB:

(1) Teks Kej. 1:1-3
    2  Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.  
    3  Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi.  
Dari teks ini, para teolog menyimpulkan bahwa Trinitas terlibat secara utuh dalam proses penciptaan: Bapa yang berkarya, Roh Allah yang mengerami, dan Firman Allah yang melaksanakan.
Kisah penciptaan yang terdapat dalam Kejadian 1 menggambarkan betapa indahnya relasi yang terjalin di dalam Allah Trinitas, bahkan relasi itu membentuk tarian kosmis (perikoresis) sejak awal mula semesta, yang dikenal sebagai proses penciptaan. Semua karya Allah di dalam dunia adalah karya bersama ketiga pribadi Allah. Jadi, semua itu berlangsung di dalam Sang Anak. Ia menjadi penampung seluruh karya Ilahi. Bandingkan dengan hymne Kristus dalam Kol. 1:15-17 berikut:
    15  "Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,  
    16  karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.  
    17  Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia."  

(2) Teks Kej. 1:26
    26  Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."  
Meski teks ini oleh para ahli biblika biasa ditafsirkan sebagai bentuk ungkapan jamak sebagai sapaan penghormatan (pluralis majestatis), namun sebenarnya juga tidak menutup kemungkinan penafsiran bahwa memang yang dimaksud dengan "Kita" di sini adalah pribadi Allah yang esa sekaligus jamak. Mungkin ini salah satu dasar yang kuat akan konsep "complex monotheism." (Jika dianalogikan dengan operasi bilangan, maka monoteisme simple dalam Yudaisme: 1+1+1=3, sedangkan monoteisme complex lebih dekat dengan perkalian atau pembagian: 1:1:1=1, atau 1x1x1=1.)

(3) nama Elohim, walaupun merupakan nama diri Tuhan yang esa (singular), namun secara gramatikal bermakna jamak (plural). Ini menyiratkan pemahaman Israel akan kejamakan yang tunggal dari Tuhan (plural identity), mirip dengan Kej. 1:26.

(4) ada juga banyak orang yang berusaha membuktikan bahwa teks Ul. 6:4 yang berbunyi sebagai berikut:

"Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! "

Bahwa ikrar Israel yang biasa disebut Shema tersebut lalu diklaim oleh sebagian orang sebagai petunjuk akan plural identity, karena kata "echad" bukan berarti satu yang numeris (bilangan), karena untuk satu yang bersifat bilangan ada kata Ibrani yang lain yaitu "yachid." 
Sejujurnya saya bukan ahli bahasa Ibrani, jadi saya tidak memastikan apakah benar demikian halnya, namun saya telah menanyakan hal ini kepada 3 orang hamba Tuhan dan saya mendapat 3 jawaban yang berbeda sebagai berikut:*
- editor LAI: echad rasanya tak seperti itu. Satu, tunggal. Kalau Elohim ya, satu tapi seperti jamak.
- pendeta senior GKJW: echad dalam ul. 6:4 itu satu dalam kerangka omni-present bukan locally present. 
- pendeta muda: kata echad bentuknya plural, satu bukan matematik, lebih Keluar ada unity, yang sederajat sama dalam keberadaannya mungkin kalau dalam ciptaan seperti air, udara, api.
Untuk diskusi yang lebih lengkap, pembaca yang berminat akan diskusi seputar makna kata echad dipersilakan melihat (1)-(7).

d. Bagaimana memahami Yesus sebagai Putera Allah namun tetap menjunjung tinggi keesaan Allah?(8)
Sebagai orang Kristen, kita percaya bahwa Yesus adalah Putra Tuhan. Yesus adalah batu penjuru dan pusat iman kita. Di dalam Dialah terletak keyakinan kita. 
Kedua gelar-Nya, Putra Tuhan dan Firman Tuhan, memastikan bahwa kita memahami Dia sebagai manifestasi personal keilahian, dan yang setara dengan Bapa. Dia adalah penyataan dari kemuliaan dan pribadi Tuhan sendiri. Yesus tidak hanya serupa dengan Bapa-Nya, tetapi Ia pun "satu substansi (hupostasis) dengan Bapa-Nya." Dia dan Bapa adalah satu (ESA). Ia digambarkan sebagai Sang Firman, pre-eksistensi Kristus, dalam suatu relasi yang unik dengan Bapa. 
Mari kita baca dua ayat berikut untuk lebih memahami Yesus:

"Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran." (Yoh. 1:14)

"Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan,..." (Kol. 2:9)

e. Bagaimana relasi Yesus sebagai Firman Allah dengan Allah Bapa?(8)
Kata "diperanakkan" (begotten), bukan "dibuat" (made) dipakai untuk menggambarkan kedatangan Kristus ke dalam dunia. Hal ini mengindikasikan bahwa Ia bukan diciptakan, sebagaimana halnya para malaikat. Di sini kita bisa melihat natur kekal ketuhanan Kristus. Ia adalah Putera Tuhan bahkan sebelum waktu dimulai. 
Dalam Yoh. 1:18 kita membaca:

"Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. "

Yoh. 17:5 mengatakan: 

"Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada."

Dan dalam I Yoh. 4:9 kita membaca:

"Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya."

Dalam Yohanes 1:1, istilah "logos" atau "firman" atau "kalam" diaplikasikan kepada pribadi yang sama. Hubungan ke-Putra-an Ilahi Yesus sebagai Firman Allah itu, dalam tulisan-tulisan patristik, yang antara lain dari murid-murid para rasul sendiri, lalu direnungkan, didalami dan direfleksikan dalam kehidupan iman gereja pada zamannya. Permenungan itu, sudah dimulai sejak era kekristenan yang paling dini, seperti tampak dalam doa kesyahidan Mar Polikarpus, seorang murid rasul Yohanes, yang memuji Allah Bapa dan Yesus, Sang Imam Surgawi yang kekal, serta memuliakan Roh Kudus-Nya. Lihat dokumen gereja perdana: The Martyrdom of Polycarp.(9)**
Begitu juga, Mar Ignatius al-Anthaki (67–100M), murid langsung Rasul Petrus dan Patriarkh gereja Antiokhia, yang menulis lebih konseptual: "Sesungguhnya Allah itu Esa, Ia telah menyatakan Diri-Nya sendiri melalui Yesus Kristus Putra-Nya, yaitu Firman-Nya yang keluar dari keheningan kekal." Dalam suratnya kepada orang-oang Efesus, Mar Ignatius juga menyebut Yesus sebagai "en anthropo theos" (Manunggaling kawula Gusti).(9)
Dalam konteks inilah penegasan akan keilahian Yesus harus kita pahami, bahwa frase-frase kontra bidat Arianisme dalam pengakuan iman Nicea antara lain berbunyi:

"Putra Allah yang tunggal yang lahir dari Sang Bapa yang sehakekat dengan Dzat Sang Bapa...dilahirkan, tidak diciptakan, satu dengan Sang Bapa dalam Dzat-Nya, yang melalui-Nya segala sesuatu baik di langit dan di bumi telah diciptakan."(9)

Pembaca yang agak sulit memahami bagaimana proses fisika dari Sabda Tuhan dapat menjadi benda-benda langit, mungkin akan merasa terbantu dengan membaca artikel penulis yang mencoba memahami Yoh. 1 dalam terang ilmu "cymatic" (visible sound). Penulis menyebutnya sebagai "theo-cymatic." Lihat (10).

Penutup
Secara ringkas, para bapa gereja membayangkan Trinitas bagaikan kesatuan sebuah kelompok tari yang bergerak saling melingkar, berjejalin, berkelindan membentuk kesatuan yang harmonis nan indah. Gagasan tentang tarian Trinitas yang indah tersebut kerap disebut "perichoresis."(12) Lihat juga (13)(14).
Sebagai catatan akhir, meski penulis bukanlah ahli bahasa, namun tidaklah sulit untuk menemukan padanan ide tentang identitas yang esa sekaligus kompleks-plural itu setidaknya dalam 3 hal berikut:

(a) uncountable noun: dalam bahasa Inggris misalnya, air atau kopi tidak dapat dihitung, jadi untuk menyebut digunakan, jadi digunakan ungkapan: a glass of water atau a cup of coffee dst.

(b) plural unity: misalnya dalam ungkapan sehati, sepikir, seia sekata, sekeluarga dst tersirat makna sekumpulan yang menjadi satu.

(c) unity in diversity: ide keesaan gereja, ungkapan "bhinneka tunggal ika" juga memuat ide akan kesatuan dalam keberbedaan. Lihat artikel penulis (11).

Demikianlah pemaparan sederhana di atas kiranya dapat menolong pembaca untuk lebih memahami konsep Trinitas. Sekali lagi perlu ditegaskan di sini, bahwa artikel ini ditujukan untuk membantu meluruskan berbagai kesulitan dalam memahami konsep Trinitas, namun tentunya sangat jauh dari memadai untuk menjawab semua keberatan yang mungkin muncul. 
Jika ada hal-hal yang masih samar atau belum begitu jelas, silakan Anda cari seorang pendeta di daerah Anda yang mau berdialog dengan Anda. Namun jika tidak ada, silakan Anda berdoa mohon pencerahan langsung dari Gusti Allah. Ia akan menjawab Anda jika Anda memohonkan doa dengan bersungguh-sungguh. 
Tuhan menyertai langkah Anda. Jbu

Versi 1.0: 10 juni 2017, pk. 16:49
Versi 1.1: 14 juni 2017, pk. 18:29
Versi 1.2: 15 juni 2017, pk. 3:05
Versi 1.3: 25 january 2019, pk. 16:33
VC

catatan:
* terimakasih kepada Dr. Paskalis Edwin, Pdt. Chrysta Andrea, dan pak Iran
** terimakasih kepada Mas Bambang Noorsena.

Referensi:
(1) http://torahofmessiah.org/meaning-of-elohim-echad/
(2) http://www.bible.ca/trinity/trinity-oneness-unity-yachid-vs-echad.htm
(3) http://www.christianissues.biz/pdf-bin/trinity/theechadofgod.pdf
(4) http://www.messianictorah.org/en/pdf/tricha-1.pdf
(5) http://ncbf.homestead.com/What_does_the_Hebrew_word_echad_mean.pdf
(6) http://www.whoisjesus.com/echad.html
(7) http://examiningthetrinity.blogspot.co.id/2011/04/echad-one.html
(8) Rosemary Sookhdeo. Breaking through the barriers. McLean: Isaac Publishing, 2010
(9) Bambang Noorsena. Answering Misunderstanding. Malang: Rumah Boekoe, 2016.
(10) Victor Christianto. A theo-cymatic reading of prolegomena of St. John's Gospel. Scientific God journal, 2017. Url: http://scigod.com/index.php/sgj/article/view/544/595
(11) Victor Christianto. Kesatuan dan perbedaan dalam gereja perdana. IJT vol. 2 no. 2, 2014. Url: https://journalteologi.files.wordpress.com/2015/02/05-ijt2-2-kesatuandanperbedaandalamgerejaperdana.pdf
(12) John Polkinghorne. Science and the Trinity: The Christian encounter with reality. Yale University Press, 2004.





Kamis, 24 Januari 2019

Seputar Schleiermacher, Baur, dan Mazhab Tuebingen

Seputar Schleiermacher, Baur, dan Mazhab Tuebingen

Oleh Victor Christianto

Shalom para sahabat dalam Kristus. Kemarin siang, selagi berdiskusi dengan mas Bambang Noorsena (lihat artikel sebelumnya), saya jadi teringat rencana menulis ulasan singkat tentang Mazhab Tuebingen.

Alumni Tuebingen
Jika Anda pernah belajar teologi, tentu pernah belajar atau setidaknya mendengar nama nama lulusan Fakultas Teologi Tuebingen, yang disebut sebut sebagai salah satu yang terbaik di Jerman, di antaranya: Karl Barth, Ferdinand Baur, Jurgen Moltmann, Dietrich Bonhoeffer, Paul Tillich, Strauss dan Miroslaf Volf. Lihat lampiran. (1)
Meski yang kerap dianggap sebagai peletak dasar teologi modern adalah Friedrich Schleiermacher (Univ. Halle dan Univ. Berlin), namun tidak urung nama nama seperti Barth dan Baur sangat mewarnai studi teologi.
Saya tidak cukup dekat mengenal pemikiran Schleiermacher dan Barth, namun pernah ada semacam pertentangan antara keduanya.(2)
Yang satu mengusung pendekatan antroposentris sementara Barth dikenal sebagai pelopor neo-ortodoksi. Ringkasnya, Schleiermacher tampak lebih suka bottom-up, sementara Barth lebih cenderung top-down.
Selain para teolog lulusan Tuebingen banyak juga saintis terkenal lulusan Tuebingen, sebut saja misalnya: Johannes Kepler dan Arthur Geiger, penemu alat pencacah Geiger.

Mazhab Tuebingen
Suatu kali saya membaca berbagai makala yang membahas Ferdinand Baur, yang merupakan pencetus Mazhab Tuebingen. Asumsi dasar dari Baur adalah sejarah gereja perdana mengikuti teori dialektika sejarahnya Hegel. (3)
Dan Hegel juga salah satu alumnus Tuebingen.
Misalnya, Baur menulis bahwa ada pertentangan antara Kekristenan Yahudi (Jewish Christianity) sebagai tesis dan Kekristenan Paulus sebagai antitesis, yang kemudian berresultan menjadi Kekristenan model komunitas Yohanin (tercermin dalam Injil Yohanes) sebagai sintesis (mengikuti pola tesis-antitesis-sintesis dari Hegel). (3)
Setelah beberapa dekade berhasil memimpin pemikiran teologi PB pada masanya, akhirnya Mazhab ini ditinggalkan setelah terbit buku dari von Harnack. (4)
Ijinkan saya memberikan ringkasan mengenai 5 kelemahan mencolok dari Mazhab tersebut:

a. Pseudo-Clementine. Baur tampaknya mendasarkan teorinya tentang pertentangan dalam gereja perdana dari perselisihan antara Simon Magus dan Petrus yang disebut dalam naskah Pseudo Clementine. (5)
Namun naskah ini dari abad ke-4 dan non kanonik, jadi tidak layak untuk membangun Teori sejarah gereja perdana. Lagipula naskah ini diduga memang bercorak anti-Pauline (mirip dengan Mazhab Ebionite). Temuan temuan terbaru seperti naskah Laut Mati juga membuat hipotesis Baur ditinggalkan.

b. Historisitas injil Yohanes. Gagasan bahwa Injil Yohanes adalah sintesis menjadi mentah, saat temuan terbaru menunjukkan bahwa Injil ke4 tersebut diduga dari periode yang tidak jauh atau mungkin mendahului Injil Sinoptik. Untuk studi tentang historisitas Injil Yohanes, lihat karya CH Dodd. (6)

c. Kesatuan dalam perbedaan.(7)
Bahwa memang ada perbedaan pendapat antara berbagai faksi dalam gereja perdana, itu mesti diakui (lihat Kis. 15 dan Surat Galatia). Namun juga ada kesatuan dan saling menghormati di antara para pelopor dalam gereja perdana, seperti terlihat dalam 3 ayat berikut:

Kisah Para Rasul 21:18
Pada keesokan harinya pergilah Paulus bersama-sama dengan kami mengunjungi Yakobus; semua penatua telah hadir di situ.

Galatia 2:9
Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat;

1 Korintus 3:6
Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. 

d. Perbedaan itu tidak muncul dalam literatur karya bapa-bapa gereja. Seandainya ada pertentangan antara Petrus dan Paulus atau antara Paulus dan Yakobus, tentu akan bisa ditelusuri jejaknya pada literatur bapa bapa gereja yaitu murid murid langsung para rasul. Lalu kenapa Baur bisa melakukan kesalahan fatal seperti itu? Setidaknya ada 2 penyebab:
- Baur berasal dari lingkungan Protestan yang asing dengan studi studi patristik, jadi dia hanya mengandalkan Pseudo Clementine.
- Baur terlalu percaya pada hipotesis dialektika sejarahnya Hegel.

e. Perjumpaan bisa berupa dialog. Seperti ditegaskan oleh Prof. Milad Hanna dari gereja koptik, perjumpaan dengan The Other (yang lain) tidak harus menghasilkan konflik, namun lebih mungkin dialog yang saling mencerahkan. Itu sebabnya Martin Buber,  pelopor pendekatan dialogis, juga tidak setuju dengan Marx (dan Freud).

Penutup
Kiranya menjadi jelas, bahwa gagasan Hegel tentang dialektika sejarah tidak dapat dipertahankan. Apalagi gagasan materialisme-dialektika seperti pada Marx (Marx juga bertolak dari Hegel).
Meski artikel ini mengkritik Mazhab Tuebingen, bukan berarti tidak ada yang  penulis kagumi di antara para lulusan Tuebingen yang sohor tersebut.
Di antara yang saya kagumi ada 4 setidaknya; Johannes Kepler, Dietrich Bonhoeffer yang gigih melawan Hitler, Eta Linemann, dan Olaf Schumann (keduanya pernah mengajar di seminari di negeri ini).

Versi 1.0:  24 januari 2019, pk. 8:29
VC

Sumber:
(1) https://en.m.wikipedia.org/wiki/University_of_Tübingen
(2) http://www.faith-theology.com/2007/07/matthias-gockel-barth-and.html?m=1
(3) https://m.huffpost.com/us/entry/us_4776679
(4) http://self.gutenberg.org/articles/Tübingen_School
(5) http://www.philipharland.com/Blog/2005/10/17/peter-vs-simon-magus-alias-paul-in-the-pseudo-clementines-nt-apocrypha-17/
(6) https://www.bookdepository.com/Historical-Tradition-Fourth-Gospel-C-H-Dodd/9780521291231
(7) lihat juga V. Christianto. Kesatuan dan perbedaan dalam Gereja Perdana. IJT, 2014. URL: https://www.researchgate.net/publication/272831753_Kesatuan_dan_Perbedaan_dalam_Gereja_Perdana_IJT_Volume_2_Nomor_2_Desember_2014

Lampiran:
Daftar beberapa alumni fakultas teologi Tuebingen: (sumber:  ref. 1) 


Theology

Karl Barth, Swiss, Reformed, one of the most influential Protestant theologians of the 20th century

Ferdinand Christian Baur, Protestant theologian and historian of early Christianity and the New Testament

Dietrich Bonhoeffer, Lutheran, one of the most influential Protestant theologians of the 20th century, pastor and opponent of the Nazi Regime

Rudolf Bultmann, one of the most influential Protestant theologians of the 20th century, famous for existential biblical interpretation

Gerhard Ebeling, Protestant theologian, former student of Rudolf Bultmann, expert on philosophical hermeneutics

Johannes Eck (1486–1543), Catholic theologian, counter-Reformer

David F. Ford, Regius Professor of Divinity at the University of Cambridge (since 1991)[42]

Romano Guardini, Roman Catholic priest, author and academic

Walter Kasper, Cardinal in the Roman Catholic Church, very influential Roman Catholic theologian of today

Hans Küng, influential Roman Catholic theologian, critic of Catholic doctrine

Philipp Melanchthon (1497–1560), Protestant reformer, first systematic theologian of the Protestant Reformation

Eduard Mörike, Protestant theologian, famous German poet

Jürgen Moltmann, one of the most influential Protestant theologians of today

Konrad Raiser, Protestant theologian, former General Secretary of the World Council of Churches (WCC)

Charles-Frédéric Reinhard (1761–1837), Württembergian-born French diplomat, essayist, and politician

Friedrich Wilhelm Joseph von Schelling, Protestant theologian, influential philosopher

Adolf Schlatter, influential Protestant theologian

David Strauss, very influential Protestant theologian and writer who revolutionized the study of the New Testament

Paul Tillich, German-American theologian at Harvard University, one of the most influential Protestant theologians of the 20th century

Miroslav Volf, Christian theologian at Yale University

Karl Heinrich Weizsäcker, Protestant theologian and chancellor of the University of Tübingen. 




Antara Monoteisme, Trinitas, dan Triteisme

Antara Monoteisme, Trinitas, dan Triteisme

Oleh Victor Christianto

Shalom para sahabat. Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha ESA, kemarin pagi saya berkesempatan mengikuti kelas studi biblika yang disampaikan oleh Dr. Bambang Noorsena. Di antara pemaparan beliau, ada kisah tentang pengakuan Polycarpus tentang Allah Tritunggal, saat dia menjalani hukuman dibakar karena menolak menyangkali Yesus.
Lalu, saya teringat sebuah buku yang membahas tentang pemikiran Jurgen Moltmann.
Jadi saya tanyakan tentang hal ini ke mas Bambang. Berikut rangkuman jawaban beliau, ditambah sisipan dari saya di sana sini:

Memang disebutkan bahwa Moltmann menghidupkan kembali pemikiran bapabapa Kapadokia, namun tidak sepenuhnya konsisten.
Trinitas bukan tiga yang bersatu tapi yang satu (ESA). Trinitas menekankan kesatuan wujud yang tidak terpisah (diskresi non separasi); ini yang tidak terbaca oleh para teolog barat seperti Jurgen Moltmann,  sehingga lebih condong ke triteisme.  (1)
Mengapa demikian?
Karena mereka menekankan pada transliterasi dari yunani kata "hupostasis"(2) (3) menjadi Latin personae, menganggap Trinitas sebagai "3 person"; sebagai tiga yang terpisah.
Lalu akibatnya ya ada film seperti The Shack yang menuai kontroversi. (4)

Asal usul Trinitas
Bapa bapa Kapadokia mengembangkan dari bapa bapa gereja termasuk Polycarpus, seperti dikisahkan dalam Martyrdom of Polycarpus (murid rasul Yohanes). (5)
Trinitas diperkenalkan sebagai Triathos oleh Theophilus dari Antiokhia. Dengan demikian, tidak benar anggapan banyak apologet non-Kristen termasuk Dan Brown dalam Da Vinci Code, bahwa Trinitas ditetapkan pada konsili Nicea th 325M.
Pada tahun itu sebenarnya yang dipermasalahkan adalah keilahian Yesus. Mengenai Trinitas baru ditetapkan pada konsili sekitar tahun 380 an.

Kesimpulan:
a. Tidak betul bahwa Trinitas identik dengan 3-person (Triteisme). Dalam hal ini Moltmann kurang cermat.
b. Para teolog Kristen mesti membekali diri dengan pemahaman tentang pemikiran para bapa gereja sejak para Rasul abad pertama sehingga dapat menangkal pemikiran teologis yang keliru (heresiology).
c. Film da Vinci code dan juga The Shack tidak tepat secara teologis dan bermuatan menyesatkan.

NB:  trims untuk mas Bambang Noorsena.

Versi 1.0:  23 januari 2019, pk. 17: 54.
VC

Referensi:
(1) Randall E. Otto. URL: https://www.researchgate.net/publication/229599353_Moltmann_and_the_Anti-Monotheism_Movement
(2) hupostasis. URL:  https://biblehub.com/greek/5287.htm
(3) hupostasis original meaning. URL: https://www.biblestudytools.com/lexicons/greek/kjv/hupostasis.html
(4) The Shack. http://www.theshackheresy.com
(5) Martyrdom of Polycarpus. URL. http://www.earlychristianwritings.com/martyrdompolycarp.html

Sabtu, 19 Januari 2019

The Way to a New Phased Array Radar Architecture (Beware of 5G technologies)

The Way to a New Phased Array Radar Architecture

15 January, 2018

Sponsored Article: Digital beamforming phased arrays are now common, and rapid proliferation is expected with a huge range of frequencies and architectures being developed from L-band through to W-band.

By Peter Delos, Analog Devices, Inc.
A large proliferation of digital beamforming phased array technology has emerged in recent years. The technology has been spawned by both military and commercial applications, along with the rapid advancements in RF integration at the component level. Although there is a lot of discussion of massive MIMO and automotive radar, it should not be forgotten that most of the recent radar development and beamforming R&D has been in the defense industry, and it is now being adapted for commercial applications.
While phased array and beamforming moved from R&D efforts to reality in the 2000s, a new wave of defense focused arrays are now expected, enabled by industrial technology offering solutions that were previously cost prohibitive. In classical phased arrays, the analog beamforming subsystem combines all the elements to centralized receiver channels. Every element in digital beamforming phased array has waveform generators and receivers behind every front-end module, and the analog beamforming layer is eliminated. In many systems today, some level of analog beamforming is common.
The waveform generator and receiver channels serve to convert digital data to the operating band RF frequencies. Digital beamforming is accomplished by first equalizing the channels, then applying phase shifts and amplitude weights to the ADC data, followed by a summation of the ADC data across the array. Many beams can be formed simultaneously, limited only by digital processing capability.
Analog Devices has solutions for every section of a beamforming system illustrated, and for both analog and digital beamforming architectures.

ANALOG VS. DIGITAL BEAMFORMING
The objective of a digital beamforming phased array is the simultaneous generation of many antenna patterns for a single set of receiver data. The Figure (right) shows the antenna patterns at an element, the combined elements in a subarray, and the beamformed data at the antenna level. The primary obstacle of the subarrayed approach is that beamformed data must be within the pattern of the subarray. With a single subarray, simultaneous patterns cannot be generated at widely different angles. It would be desirable to eliminate the analog beamformer and produce only digital beamforming system. With today’s technology, this is now possible at L- and S-band. At higher frequencies, size and power constraints often necessitate some level of analog beamforming.

Beamforming goes Digital

However, the quest remains to approach near elemental digital beamforming, which places significant demands on the waveform generators and receivers. While the beamforming challenges place demands on the waveform generators and receivers to reduce size and power, there is a simultaneous demand to increase bandwidth for most system applications.
These objectives work against each other, as increased bandwidth typically requires additional current and additional circuit complexity. Digital beamforming relies on the coherent addition of the distributed waveform generator and receiver channels. This places additional challenges on both synchronization of the many channels and system allocations of noise contributions.

New Technologies Needed

The superheterodyne approach, which has been around for a 100 years now, provides exceptional performance. Unfortunately, it is also the most complicated. It typically requires the most power and the largest physical footprint relative to the available bandwidth, and frequency planning can be quite challenging at large fractional bandwidths. The direct sampling approach has long been sought after, the obstacles being operating the converters at speeds commensurate with direct RF sampling and achieving large input bandwidth.
Today, converters are available for direct sampling in higher Nyquist bands at both L- and S-band. In addition, advances are continuing with C-band sampling soon to be practical, and X-band sampling to follow. Direct conversion architectures provide the most efficient use of the data converter bandwidth. The data converters operate in the first Nyquist, where performance is optimum and low-pass filtering is easier. The two data converters work together sampling I/Q signals, thus increasing the user bandwidth without the challenges of interleaving.
The dominant challenge that has plagued the direct conversion architecture for years has been to maintain I/Q balance for acceptable levels of image rejection, LO leakage, and DC offsets. In recent years, the advanced integration of the entire direct conversion signal chain, combined with digital calibrations, has overcome these challenges, and the direct conversion architecture is well positioned to be a very practical approach in many systems. The future will bring increased bandwidth and lower power, while maintaining high levels of performance, and integrating complete signal chains in system on chips (SoC), or system in packages (SiP) solutions.

Digital Data Converter

Data converter analog performance will continue to improve and these improvements at the analog level will include increased sampling rates for wider bandwidth, increased channel count, and maintaining the key performance metrics of noise, density, and linearity. These benefits will drive all of the RF signal chain solutions described, aiding new phased array solutions. An area of increased importance at the system level is the recent addition of many digital functions (as shown in the Figure below) that can be used to offload FPGA processing and help the overall system.


source:
[1]Delos, Peter. “The Way to a New Phased Array Radar Architecture.” TechTime: Electronics & Technology News. January 15, 2018. Accessed January 1, 2019. https://techtime.news/2018/01/ 15/analog-devices-phased-array-radar/. “Although there is a lot of discussion of massive MIMO and automotive radar, it should not be forgotten that most of the recent radar development and beamforming R&D has been in the defense industry, and it is now being adapted for commercial applications. While phased array and beamforming moved from R&D efforts to reality in the 2000s, a new wave of defense focused arrays are now expected, enabled by industrial technology offering solutions that were previously cost prohibitive.”
[2] “Electrosensitive Testimonials.” We Are The Evidence. 2018. Accessed January 1, 2019. https://wearetheevidence.org/adults-who-developed-electro-sensitivity/. “WATE intends to expose the suppressed epidemic of sickness, suffering and human rights crisis created by wireless technology radiation; elevate the voice of those injured; defend and secure their rights and compel society and governments to take corrective actions and inform the public of the harm.”

[3] Glaser, Lt. Z. “Cumulated Index to the Bibliography of Reported Biological Phenomena (‘effects’) and Clinical Manifestations Attributed to Microwave and Radio-frequency Radiation: Report, Supplements (no. 1-9).” BEMS Newsletter B-1 through B-464 (1984). Accessed January 1, 2019. https://www.cellphonetaskforce.org/wp-content/uploads/2018/06/Zory-Glasers-index.pdf. Lt. Zorach Glaser, PhD, catalogued 5,083 studies, books and conference reports for the US Navy through 1981.
[4] “Space Sustainability: A Practical Guide.” Secure World Foundation, 2014, 21. Accessed January 1, 2019. https://swfound.org/media/206289/swf_space_sustainability-a_practical_guide_2018__1.pdf.

“However, as more countries integrate space into their national military capabilities and rely on space-based information for national security, there is an increased chance that any interference (either actual or perceived) with satellites could spark or escalate tensions and conflict in space or on Earth. This is made all the more difficult by the challenge of determining the exact cause of a satellite malfunction: whether it was due to a space weather event, impact by space debris, unintentional interference, or deliberate act of aggression.”
[5] “Space Law: Liability for Space Debris.” Panish, Shea & Boyle LLP. 2018. Accessed January 1, 2019. https://www.aviationdisasterlaw.com/liability-for-space-debris/. “Filing a lawsuit against SpaceX for space debris is a little different than one against the commercial industry or state-sponsored launch. Since SpaceX is a private company, injured parties can file claims directly against the establishment in accord with the state’s personal injury laws. For the claim to be successful, the plaintiff will have to prove that SpaceX was negligent in some way that caused the space debris collision. Space law is notoriously complex, making it very difficult for injured parties to recover for [sic] their damages in California.”

Kamis, 17 Januari 2019

The Red Heifer “Prophecy” vs. the Real Third Temple Requirement/Sign

The Red Heifer “Prophecy” vs. the Real Third Temple Requirement/Sign


Is the birth of a "red heifer" a sign or even an end time prerequisite? The Book of Numbers says that the ashes of a red heifer are required for the cleansing of the Levitical priesthood for Temple service. Given the prophecies about an end time Temple that needs cleansed priests, some Christians therefore herald each birth of a red heifer as an end time sign or precursor to the Third Temple and its altar. Find out what those saying this may be overlooking and also the surprising fine print about the 2018 red cow.


Red Heifer Born in Israel! (Again...)


If you follow Christian "prophecy news" sites or YouTube channels, you'll eventually hear about a "red heifer prophecy." It is accompanied by claims like:

  • "A BIBLE prophecy predicting the end of days is feared to come true after the first ‘red heifer in 2,000 years’ was born in Israel."
  • "We're waiting for the birth of a red heifer before the Third Temple appears..."
  • "The birth of a red heifer is an end time sign..."

In August 2018, this prophecy came around again when it was announced by the Temple Institute in Jerusalem that a red heifer was born that passed inspection by the rabbis. According to Numbers 19, a red heifer is needed to produce ashes for cleansing the Levites for Temple service.

This red heifer birth is significant because red heifers are indeed extremely rare. The rabbis say that there were only nine red heifers in history starting with the first one in Moses' day. In the last 2000 years there has not been a single one.

But that's not the end of the story as I'll explain next.

Two Reasons This Is Not A "Sign"


Before you get too excited, you should know that this is not our first "red heifer rodeo" =). Since I started watching prophecy, two red heifers have been born: one in 1997 and another in 2002. Yet both were eventually disqualified by the rabbis after developing blemishes before they could be sacrificed and burnt into ashes. Those cows lucked out, and the same may happen to this one upon further rabbinic inspection:
Further, this 2018 red heifer is especially underwhelming as a "sign" when you read the fine print. Three years prior, the Temple Institute began a Raise a Red Heifer In Israel (לגדל פרה אדומה בארץ ישראל) program. They hoped to breed a perfect red cow using imported frozen embryos of red angus cows implanted into their domestic cows. 

Therefore, this is not quite a miracle or even a sign from God. For me, it's more like man trying to force things. I'm not saying it's wrong, rather it reminds me too much of how Abraham decided to "help" God out when he was told at nearly 100 years old that he would be the father of a great nation with his elderly wife Sarah. He took Sarah's advice of using her handmaid Hagar to produce offspring "on her knees" (where the Handmaid's Tale got the concept). That resulted in Ishmael, one of the fathers of the Arab peoples. Just as Ishmael was no sign or miracle but the outcome of human plotting, so it is with this "fertility clinic" produced cow.

As for it being a prerequisite, the Jews may not even need a red heifer as I'll explain below.

Red Heifer Requirements


First, let's understand what this is all about better. Numbers 19 details the instructions regarding the red heifer. In the red heifer's ashes is found the only antidote for ritual impurity from contact with a grave (and other related non-living things) (Num 19:11, 14, 16).  The Torah requires that the cow be without blemish (Num 19:2), just like any sacrifice to God (who doesn't want our rejects). Uniquely, it must have never been used to perform any physical labor (Num 19:2).

In addition to this, the Orthodox rabbis with their Oral Law tradition have invented other "halachic" requirements they believe in adhering to:

  • The heifer must be three years old and perfect in its redness. Even its hooves must be red.
  • It must also be totally free from any physical blemish or defect, whether internal or external. The presence of even two hairs of any other color will render it invalid.

Chicken and Egg Situation?


Significantly, Numbers 19 requires already clean priests and Levites (non-sons of Aaron who assist the priests with much of the grunt work) to perform the sacrifice (Num 19:3, 9). This means to produce the red heifer ashes, you need a high priest who does not need the purification of the ashes already!

This was not too hard a requirement for the successive high priests in Israel (such as Aaron's son Eleazor Num 19) since they probably had ashes from previous heifers to use in the preparation of the next sacrifice. They also had the benefit of an priesthood-friendly society they were raised in to protect them from defilement from the dead.

Today this is not so easy without any ashes from the last red heifer and a mostly secular society that does not know or care about ritual impurity and helping people stay ritually clean. To meet this challenge, the Jews have raised young people sequestered from any possible contact that would make them ritually impure. This goes so far as to keep them on rock-floored dwellings to ensure no one is buried below!

Original Red Heifer's Ashes Needed, Too?


Some raise the question that a new red heifer is not enough but the original red heifer ashes are needed, too (found in a container called the kelal). This is because one tradition says the original red heifer's ashes were always mixed with the each new one. Why? The Temple Institute comments:

Some opinions maintain that the newer ashes were always mixed together with a combination of the previous ashes. One way of understanding this, is to the view this mixture of old and new ashes as being yet another precautionary measure... actually, as a kind of insurance policy.

To this end there are groups today searching for the original ashes by following one of the Dead Sea Scrolls known as the Copper Scroll that purports to tell the location. But, again, this requirement is not found in the Torah itself. And according to the last article quoted above, this tradition has "has no basis in the reality of Biblical law or Jewish practice" even if the ashes could be found and proven to be authentic and uncontaminated.
But in the meantime, let the truth be known: there is nothing to stop the people of Israel from raising a new red heifer, from birth, and preparing it in the manner we have described in these pages, and raising children in purity to carry out the procedure - even without the original ashes. On the contrary: we may be in doubt as to the true nature of any discovery that is unearthed whose authenticity cannot be completely verified. But a perfect heifer, born and raised under a controlled environment, would be fit to be used for the Temple. And that is precisely what is being done today.

"Animal Sacrifices!?" = Crucifying Christ Again?

Just a short note here that I know to include for the animal lovers who are reading. I say this because every time I bring up animal sacrifices in prophecy, either before the Great Tribulation at the Third Temple or animal sacrifices in Millennial/Fourth Temple while Jesus reigns as king, I get confused and even angry responses from Christians. Most Christians have never heard of these prophecies or simply think God "would never allow such an affront to Christ to happen, recrucifying Christ" (Heb 6:6).
If this is you, I suggest you read the explanations in the links in the preceding paragraph. Or to remember that God has allowed far worse to happen already in history than animal sacrifices after Jesus' one sacrifice that covers intentional sin (which animal sacrifices never covered nor were intended to cover - Heb 10:4, 3). God will allow even worse than that in the future such as real monsters to be unleased upon the earth that torture people into taking the mark. Therefore, I'm sorry to say that whether Jewish animal sacrifices are right or wrong, and whether you like them or not, according to clear prophecies they are coming and God will allow them.

Summary and Conclusion

Perhaps by now you can understand why I didn't bat an eye nor did my heart flutter when I heard the news of the latest red heifer birth announcement.
For one, I know there is no "red heifer prophecy" of an end time red heifer as a sign or anything else. It's not directly required for end time events by any written prophecy.
Indirectly, it does seem to be required since there must be a cleansed Levitical priesthood as part of the Third Temple prophecies in Daniel and the NT. However, this can be resolved in three possible ways:
  1. The 2018 red heifer or a subsequent one will make it to three years old without blemish and be turned to ashes.
  2. The lost cache of the ashes of the last red heifer will be found. Yes, now that would seem to be a whole lot less likely to happen than #1, but it is not without precedent! The discovery of the Dead Sea Scrolls inside a lost cave by a Bedouin shepherd comes to mind.
  3. Lacking the ashes, but seeing a clear path to Temple construction after the removal of the Dome of the Rock in the Psalm 83 War, the Jews may just make up a another halachic decree that works around ash dilemma. They are very good at this!
If I had to guess, since God wants to encourage and facilitate the construction of the Third Temple for the Antichrist to deceive the world from, I suspect #1 is indeed what will happen. I'm just saying it's not required nor is this red heifer a sign because there is no end time prophecy about it and those two other possibilities exist to work things out with a new red heifer.
For me, the real sign that the Third Temple is coming soon will be after the required and prophesied Psalm 83 War happens. I think this war will result in either the accidental destruction or intentional demolition of the Dome of the Rock which stands over the place where the Jews think the First Temple and Holy of Holies stood. (Although certain Christian experts lately tell the Jews and anyone who will listen that they are wrong on that, you can be quite certain that the Jews don't care and will build the Third Temple where they think it should be! And not without some smoking gun evidence for it.)
When will that war come? Only God knows, but as I wrote earlier, I believe the 2018 US embassy move to Jerusalem has helped it along. Until then, who knows how many more red cows will be born and disqualified?
- Tim McHyde

P.S. "Wait, in the picture above the mother is red, too! Is she 2000 years old, then?"

No, but remember, it's not just enough to look as red as the calf in a grainy photo taken at what looks to be the red light of sunset. The mother would have to be completely red and without blemish, too. We don't hear about all the reddish cows that are immediately disqualified at birth like momma cow in the picture probably was. =)



source: Tim McHyde, https://escapeallthesethings.com/red-heifer/?awt_l=MP1qE&awt_m=JO_TrOaDMlxVB1

YESUS SEJATI DIUNGKAP DALAM BAHASA ARAM ASLI

YESUS SEJATI DIUNGKAP DALAM BAHASA ARAM ASLI Ajaran YESUS NYATA tidak pernah hilang seperti yang pernah di katakan beberapa orang. Alkit...