Minggu, 10 Februari 2019

5G Gigantic health hazard

5G Gigantic health hazard: Discussion by Dr Barrie Trower & Sir Julian Rose
 

https://www.youtube.com/watch?v=DLVIbPtNrVo

Dr. Trower mentions the fact that 5G will cause 720 factorial different kinds of maladies to happen to humans, in a short while. 5G must be stopped. It is genocidal and ecocidal. The fact that China is rolling out 5G should concern the Chinese populace. All 5G technology should be destroyed and made permanently illegal.

Then all the WiFi and 3G and 4G need to get taken out. They are disastrous as well, but not nearly as bad as 5G. 5G is a microwave weapon system which was banned by international treaty which was constructed in the 1970, prohibiting microwave weapons. The US military abandoned those treaties, and many other weapons limitations treaties, during the GW Bush administration, just prior to the invasion of Iraq. 

There are perfectly safe ways to communicate that do not require high frequency radio broadcasts. If you want portable communications, go to QM and aether physics methods, relying on deviations from the expectation values of quantum noise in the Schrodinger equations, for example. 

The foundational circuit was designed and constructed and tested by me, in 1992. It works. So where are we now? Nothing has happened with it, since that time, because no one will fund the required holographic AI software development.

Best Wishes,

Neil

Rabu, 06 Februari 2019

ALQIDIS SAM'AN AL-KHARAJ DAN MUKJIZAT BUKIT MUQATAM CAIRO

Et'fatah ISCS, 1 Februari 2019

IMAN YANG MEMINDAHKAN GUNUNG: ALQIDIS SAM'AN AL-KHARAJ DAN MUKJIZAT BUKIT MUQATAM CAIRO*) 

Oleh: Dr. Bambang Noorsena
 
*) Artikel ini hasil rewriting salah satu bahan Refleksi Ziarah "Petra-Egypt-Holy Land Biblical Tours", 11-21 April 2018. 
  
1. CATATAN AWAL

Akibat gempa dan tsunami sebesar 7,4 SR, desa Petobo telah pindah kira-kira 1 km dari letak semula. Peristiwa pergeseran ini dapat dijadikan rujukan untuk memahami mukjizat berpindahnya gunung Muqatam yang terjadi pada tahun 975 M di Cairo pada masa dinasti Fatimiyyah. Sebelumnya gunung itu terletak di Birket el-Fil, dekat Al-Azhar sekarang, telah bergerak kurang lebih 3 km ke arah luar kota Cairo, hingga letaknya yang sekarang.

Terus terang sebelum peristiwa tsunami di Aceh tahun 2004, ketika masih tinggal di Cairo, saya belum bisa membayangkan bagaimana bukit Muqatam itu bisa pindah meskipun karena mukjizat Ilahi. Pasca-peristiwa tsunami Aceh ketika letak pantai bergerak dari tempat semula, saya mulai bisa membayangkan mukjizat itu. Lebih-lebih ketika melihat tsunami Palu tahun ini, khususnya berpindahnya desa Petobo, kini saya baru lebih bisa membayangkan peristiwa mukjizat Mokatam dengan lebih jelas lagi. Memang tidak ada deskripsi secara detail peristiwa Muqatam itu, tetapi tidak ada sumber sejarah sezaman yang menyangkal peristiwa ini. 

2. BERAWAL DARI PERDEBATAN AGAMA YAHUDI-KRISTEN

Kalifah Muiz lidinillah, seorang penguasa dinasti Fathimiyya (969-975 M), sangat terkenal dengan sikap toleransinya terhadap agama-agama lain, khususnya Yahudi dan Kristen, yang waktu itu hidup berdampingan secara damai dengan Islam. Tetap Kalifah. Mu'iz mempunyai hobi yang aneh, yaitu menyaksikan perdebatan agama. 

Pemimpin tertinggi Gereja Ortodoks Koptik saat itu, yaitu Patriarkh Abram Ibnu Zahra al-Suryani (975-979 M), hubungannya sangat dekat dengan Sang Khalifah. Hal itu menyebabkan iri hati Ya'kub bin Killis, seorang Yahudi berkedudukan tinggi, yang terkenal sangat ambisius. Anba Abram yang dikenal sebagai "manusia doa"  ini tinggal di دير السريان "Deir el-Suryan" (Biara Syria),  di Wadi el-Natroun, seorang putra Syria yang terpilih sebagai Patriarkh Gereja Ortodoks Koptik, menggantikan Baba Mina II pada bulan Toba 687 tahun Koptik, yang bertepatan dengan bulan Januari 975 M.  Ya'qub bin Kilis tidak suka kepadanya,  karena kedekatan Sang Patriarkh dengan Kalifah Mu'iz li Dinillah. 

Pada suatu hari,  Sang Kalifah memanggil Ya'qub bin Kilis dan Patriarkh Abram untuk mcengadakan perdebatan agama. Ya'qub bin Kilis  memanggil rekannya, Rabbi Musa,  sedangkan Patriarkh Abram menghadirkan teolog Koptik terkenal, Anba Saweris Ibn Al-Muqaffa', Uskup Asmunain, Mesir utara.  Anba Saweris dikenal ssbagai seorang teolog dan menulis beberapa buku,  antara lain: كتاب التوحيد  "Kitab At-Tauhid" (Kitab Monotheisme)  dan كتاب الاتحاد الباهر في الرد على اليهود  "Kitab al-Itihad al-Bahri fi al-Radd 'ala al-Yahudi" (Buku kesatuan pengajian dalam menjawab kaum Yahudi).

Perdebatan pun berlangsung. Rabbi Musa sangat marah ketika Anba Saweris menyebutnya  الجهل  "al-Jahlu" (bodoh,  ignorence),  karena sang rabbi sulit memahami kebenaran iman dalam Kristus.
"Jangan marah,  hai Rabbi Musa, karena memang seorang nabi telah menyebut kaum Yahudi demikian",  kata Anba Saweris. من يكون هذا النبي؟ "Man yakûnu hadzā al-nabi?" (Siapakah nabi yang telah berkata begitu?),  kejar Rabbi Musa. . انه إِشَعْيَاءَ النبي الذي قال عنكم "Innahu Ish'aya al-nabī alladzī qāla  'ankum" (Dialah Nabi Yesaya yang berkata demikian tentang kalian). "Lembu mengenal pemiliknya, tetapi bani Israel tidak", Anba Seweis mengutip Yesaya 1:3.  "Keledai mengenal. palungan yang disediakan tuanya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya". 

Kalifah tertawa terbahak-bahak. "Benarkah memang ada tertulis demikian dalam kitab Nabi Yesaya?", tanya Kalifah kepada rabbi Musa. "Betul,  Baginda",  jawabnya. Ya'qub bin Kilis sangat malu,  begitu juga rabbi Musa tambah naik pitam atas kejadian yang memalukan itu. Mereka merancang suatu perdebatan lanjutan untuk membalas perlakuan orang Kristen, bahkan kalau perlu menghabisinya.

Sampai suatu hari, ketika kedua orang Yahudi itu menemukan sabda Yesus dalam Injil yang mengatakan:

فَالْحَقَّ أَقُولُ لَكُمْ: لَوْ كَانَ لَكُمْ إِيمَانٌ مِثْلُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ لَكُنْتُمْ تَقُولُونَ لِهَذَا الْجَبَلِ: انْتَقِلْ مِنْ هُنَا إِلَى هُنَاكَ فَيَنْتَقِلُ وَلاَ يَكُونُ شَيْءٌ غَيْرَ مُمْكِنٍ لَدَيْكُمْ.
Falḥaqqa aqûlu lakum lau kāna lakum īmān mitslu ḥabbati khardalin likuntum taqûlûna li hadzā al-jabali: intaqil min hunā ila hunāka fayantaqil, wa lā yakûnu syai'un ghaira mumkin ladzaikum. 
Artinya: Sebab Aku berkata kepadamu: "Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu" (Injil Matius 17:20). 

Ya'qub bin Kilis menyampaikan ayat ini kepada Kalifah: "Kami menemukan ayat ini tertulis dalam Injil, bahwa kalau seorang mempunyai iman sebesar biji sesawi ia akan mampu memindahkan gunung". "Karena itu" , hasut Ya'qub bin Kilis, "Perintahkanlah mereka untuk membuktikan kebenaran ayat dalam kitab suci mereka, wahai Baginda Raja, apabila mereka tidak bisa melakukannya,  mereka harus dihukum karena kepalsuan dan kebohongan agama mereka".  

3. MUKJIZAT BERPINDAHNYA BUKIT MUQATAM 

Akhirnya,  demi keadilan Kalifah memanggil Patriarkh Abram bin Zahra,  supaya orang-orang Kristen membuktikan kebenaran yang ditulis dalam Kitab Injil.  Mereka disuruh meminta Allah untuk memindahkan bukit yang berdiri mengelilingi Birkat Elphil, dekat Al-Azhar sekarang. Tentu saja ini tantangan yang mustahil secara manusia. Tetapi sebagai pemimpin tertinggi umat Kristen di Mesir,  hal itu harus dilakukannya demi mempertaruhkan eksistensi hidup umat Kristen di Mesir pada zaman itu. 

Apalagi, Kalifah sudah setuju dengan empat opsi yang ditawarkanlan oleh kedua orang Yahudi itu:
1. Memenuhi dan mewujudkan perintah Injil untuk secara harfiah memindahkan gunung. 
2. Seluruh umat Kristen harus masuk Islam, apabila imannya tidak terbukti.
3. Jika tidak mau masuk Islam, umat Kristen haus meninggalkan Mesir dan berpindah ke negara lain.
4. Jika mereka tidak mau meninggalkan Mesir, sementara mereka tidak mau masuk Islam, mereka harus dibunuh (Anba Matheus, 2003:51).

Menghadapi pilihan yang sangat sulit itu, Sang Patriarkh menyerukan agar seluruh umat Kristen berdoa dan berpuasa selama tiga hari tiga malam.  Dan selama hari-hari puasa tersebut banyak fenomena surgawi terjadi untuk meneguhkan agar Patriarkh tetap berpegang teguh kepada imannya.  Pertolongan Allah terjadi tepat pada waktunya, ketika akhirnya datang seorang bernama سمعان الخراز‎ "Sam'ān al-Kharrāz" (Simon pengamat kulit),  yang mendapat pesan surgawi melalui Sayidatina Maryam al-Adra' (Bunda Perawan Maryam) agar disampaikan kepada imam terringgi Gereja Ortodoks Koptik itu. 

"Wahai Patriarkh yang mulia, naiklah ke bukit itu bersama-sama dengan semua pemimpin gereja,  imam-imam, diaken dan kepala-kepala diaken,  bawalah Alkitab, salib Kristus,  dan lilin-lilin sebagai penerang di bukit itu.  Setelah melakukan sakramen suci,  tegakkanlah mukamu ke surga, dan serukanlah dengan suara nyaring: كبريا ليسون "Kyrie eleison!"، كبريا ليسون "Kyrie eleison!"، يا رب ارحم "Ya Rabbu irham!" , يا رب ارحم  "Ya Rabbu irham!" .... Bersujudlah kepada Allah yang Maha tinggi,  setiap berdiri buatlah tanda salib ke arah bukit itu,  nanti engkau akan menyaksikan kemuliaan Allah tepat wpada waktunya! ". 

Setelah Kalifah dan seluruh warga kerajaan bertemu dengan Patriarkh Abraham,  mereka siap menyaksikan apa yang akan terjadi.  Sang Patriarkh melakukan apa yang disampaikan oleh Sam'an al-Kharaj.  Setelah melakukan sakramen dan doa-doa,  Patriarkh,  imam-iman, para rahib dan para diaken berseru dengan suara nyaring:  كبريا ليسون  "Kyrie eleison!" كبريا ليسون "Kyrie eleison!",  berulang-ulang sampai 400 kali ke arah timur,  barat,  utara dan selatan,  tiba-tiba bukit itu perlahan mulai bergerak,  kemudian benar-benar berpindah oleh kuasa Allah dalam nama Kristus. 

Menyaksikan mukjizat yang terjadi di depan mata semua orang,  Kalifah Mu'iz li dinillah berseru: عظيم هو الله تعلي  'Adzimu Huwallah ta'ala!",  عظيم هو الله تعلي  'Adzimu Huwallah ta'ala"،  تبارك اسمك  "Tabaraka ismuka" (Allah Maha Agung dan Maha Tinggi, Allah Maha Agung dan Maha Tinggi, Terpujilah nama-Mu). "Cukup. Cukup, ya Patriarkh!", seru Sang Kalifah.  لقد اثبتم ان أيمانكم هو ايمان حقيفي "Laqad atsbatam anna  imanukum huwa imanun haqiqi!" (Telah kalian buktikan bahwa  iman kalian adalah iman yang benar!).

Bukit yang semula berada di Birket Elphil itu memang benar-benar berpindah berjalan sekitar 3 kilometer dari tempatnya semua, suatu fenomena adikodrati yang mungkin mirip bergesernya pantai-pantai akibat tsunami beberapa tahun yang lalu. Karena itu bukit tersebut smapai kini dikenal  مقطم "Muqatam",  ynag berasal dari kata مقطع "maqtha'un"  (terbelah). Sampai hari ini,  Gereja Ortodoks Koptik memperingati mukjizat berpindahnya bukit Muqatam ini dengan puasa 3  hari sebelum 40 hari صوم الصغير "Shaum al-Shaghir" (Puasa kecil), yaitu tmenjelang perayaan Natal ('Id al-Milad), yaitu tanggal 25-27 Nopember. 

Mukjizat ini dicatat oleh seorang saksi mata dan pelaku peristiwa itu,  yaitu Anba Saweris Al-Muqaffa' dalam bukunya  تاريخ بطاركة كنيسة الإسكندرية القبطية  "Tarikh Al-Bathrikiyyah al-Kanisah al-Iskandariya al-Qibhtiya" (Sejarah Kepatriarkhan Gereja Koptik Alexandria). Bahkan Aziz S. Atiya dalam bukunya  تاريخ  المسيحية الشرقية "Tarikh Al-Masihiyya al-Syarqiyya" (Cairo, 2005:88), mencatat dari sumber lain demikian: شهد المعز بصحة الايمان المسيحي  و تعرف عليه، وتم تعميده. وقضي بقية حياته في دير، و تنازل عن العرش لإبنه  "shahada al-Mu'izz bishihat al-iman al-Masihi wa ta'rif 'alaihi watama ta'amidihi wa qudi baqiyat hayatihi fi dir wa tanazul 'an al-'arsy li ibnih" (Al-Mu'izz menyaksikan dan mengetahui keabsahan iman Kristiani akhirnya dibaptiskan, lalu menghabiskan sisa hidupnya di biara, setelah turun takhta dan mewariskannya kepada anaknya).

Sebuah tempat baptisan kuno yang berbeda dengan tempat-tempat baptisan Koptik lain di Gereja "Abu Sifain", Old Cairo, yang masih eksis sampai hari ini, dikenal sebagai معمودية السلطان  أن المعز لدين الله الخليفة الفاطمى قد تعمد فى هذه المعمودية "Ma'mudiya al-Sultan an Al-Mu'izz li Din Allah al-Khalifa al-Fathimi qad ta'amid di hadzihi al-Ma'mudiyah" (Baptisan Sultan, di sini "Mu'iz li dinillah, Khalifah Fatimiyyah, telah dibaptiskan dalam pembaptisan ini). Sebelum pengunduran dirinya, Al-Mu'iz telah menunjuk putranya, Abu Manshur Nizar Al-Aziz Billah ssbagai putra mahkota, yang akhirnya menjadi penggantinya, yang bertakhta antara  365-386 H/975-996 M. 

4. CATATAN PENUTUP 

Tentu saja, ada beragam sikap orang dalam menganggapi kisah mukjizat ini, khususnya di era sekarang. "Para penulis Muslim", tulis Aziz S. Atiya selanjutnya, "seperti Ahmad Zaki Basha dan 'Abdullah 'Enan, menolak kisah mukjizat ini". Meskipun tidak menulis terjadinya mukjizat Muqatam, penulis Muslim Muhammad Suheil dalam  تاريخ الفطميين "Tarikh al-Fathimiyyin" (2015:338), mencatat bahwa Al-Mu'iz sendiri mengawasi langsung pembangunan Gereja "Abu Sifain" dan Gereja "Al-Mua'alaqah", karena sekelompok kaum Muslim Sunni yang menghalang-halangi pembangunan kedua gereja tersebut.

Sejarah mencatat, Kalifah Al-Muiz li Dinillah meninggal di Cairo, pada tanggal 11 Rabi' al-Akhir 365 H/18 Desember 975 M. "Abu Manshur Nizar, putra mahkota. yang meggantikan takhtanya, selama delapan bulan tidak mengumumkan kematian ayahnya", tulis Muhammad Suheil Thaqqusy. Mengapa? Tidak ada catatan sejarah tentang hal itu. Namun seandainya tradisi Ortodoks Koptik yang sekilas  kita kutip benar, maka kebijakan Al-Aziz Billah tersebut dengan mudah bisa dijelaskan. Barangkali karena pertimbangan stabilitas politik, karena Kalifah Al-Mu'iz li Dinillah telah wafat di sebuah biara sebagai seorang pengikut Kristus.¶

Yogyakarta, 31 Januari 2019

Minggu, 03 Februari 2019

KISAH TUJUH PENGHUNI GUA EFESUS DAN RELASI AGAMA-NEGARA DALAM PERSPEKTIF PANCASILA

*ET'PATAH ISCS*
Jum'at, 25 Januari 2019


*ASHHAB AL-KAHFI: KISAH TUJUH PENGHUNI GUA EFESUS DAN RELASI AGAMA-NEGARA DALAM PERSPEKTIF PANCASILA*

Oleh *Bambang Noorsena*


*1. ADICARITA*

Syahdan, tersebutlah tujuh pemuda yang bersembunyi di sebuah gua dekat kota Efesus. Mereka adalah Akhilius, Dionisius, Uknius, Stefanus, Faritius, Sebastius, dan Fariakus, yang menyelamatkan diri karena dikejar-kejar oleh Dakius, Kaisar Roma yang sangat bengis dan tanpa ampun menyiksa para pengikut Kristus, karena mereka menolak penyembahan berhala.

Para pemuda itu merasa sangat letih lalu tertidur nyenyak. Mereka merasa tertidur hanya dalam hitungan jam atau hari, padahal Allah menidurkan mereka di gua itu lebih dari 200 tahun lamanya. Mereka masuk dalam gua pada zaman Kaisar Dakius memerintah antara tahun 249-251 M, dan tidak keluar dari gua itu sampai tahun 447 M, yaitu ketika Kaisar Theodosius II mendaki takhta kekisaran.

Ketujuh pemuda itu benar-benar tercengang, ketika terbangun dari tidur panjang mereka, sebab Kekristenan benar-benar telah tersiar luas. Salib yang dahulu adalah simbol aib dan kehinaan, saat terbangun dari tidur mereka, telah tersemat pada mahkota Kaisar dan para pembesar kerajaan. Sementara itu, pada waktu itu orang-orang Kristen lagi berdebat mengenai kebangkitan orang mati, karena sebagian rakyatnya tidak percaya. Sang Kaisar yang sedang memohon bukti dari Allah mengenai kebenaran ajaran itu, mendapat laporan bahwa tujuh orang pemuda dari Efesus ratusan tahun lampau telah dibangunkan dari tidur panjang mereka.

Mula-mula kisah itu diketahui dari seorang pemilik kedai makanan, karena salah seorang dari tujuh pemuda itu membeli makanan dengan "mata uang Dakius". *اعلم ايها الملك _"A'lam, ayyuhâ al-Malik!_ (Ketahuilah, wahai Baginda)"*, kata Akhilius *، ان الرب قد بعثنا لأجلك ببل الميعاد العظيم _"anna ar-Rabba qad ba'itsnâ li ajlika qabla al-mî'âd al-'adzîm"_ (Sesungguhnya Tuhan telah membangkitkan kami demi paduka sebelum kebangkitan pada akhir zaman)*.

Kaisar sangat bersyukur kepada Allah. *اذن عش في سلام في ايمانك الكامل _"idzan asya fî salâm fî îmânika al-kāmil"_ (Karena itu, hiduplah damai dalam iman yang sempurna)*, pesan seorang dari *_ashhab al-Kahfi_* itu. Setelah itu, mereka diwafatkan kembali oleh Allah, dan Kaisar membangun gereja di dekat gua tersebut, lengkap dengan *inskripsi _(raqîm)_* demi mengenang dan mengabadikan iman ketujuh pemuda Efesus itu *(Taufiq Hafidz, tt: 26-32)*.


*2. SUMBER KISAH DAN APLIKASINYA DALAM RELASI*
     *AGAMA-NEGARA DI TIMUR TENGAH*

Kisah *اصحاب الکهف‎ _"Aṣḥāb al-Kahfi"_ (Penghuni Gua)* yang sangat terkenal di gereja-gereja Timur ini dikenal sejak abad keenam Masehi, bersumber dari buku *مجد الشهداء _"Majdu as-Syuhada"_ (Glory of the Martyrs)*, yang ditulis oleh Mar Gregorius dari Tour (538-594), yang berasal dari sumber bahasa Syriac/Aramaik yang lebih tua lagi, antara lain Mar Ya'qub Serugh (450-521) dalam "Acta Sanctorum"-nya. Kisah Tujuh Pemuda Efesus ini sangat populer di Gereja Ortodoks Syria, karena dicatat dalam "Chronice" Moran Mar Dionysius I Tell Mahre *(ܕܝܘܢܢܘܣܝܘܣ ܬܠܡܚܪܝܐ, _Dionysius Telmaharoyo_)*, Patriarkh Antiokia (818-845).

Taufiq Hadidz dalam bukunya *_"Ahl al-Kahfi fī al-Mashādid al-Suryāniyyah"_* (Cairo: Nahdhat al-Mishr, t.t.), membandingkan paralel kisah ini dengan *surah ke-18 Al-Qur'an*, yaitu *Surah Al-Kahfi*. Kisah _Aṣḥāb al-Kahfi_ (baca: _Aṣḥābul Kahfi_ ) secara dramatis melukiskan sejarah perjumpaan agama dan politik pada masa-masa awal sejarah Kekristenan, bahwa agama akan kehilangan "asin garam"-nya dan tidak terdengar lagi fungsi profetisnya tatkala berselingkuh dengan kekuasaan.

Agama tersubordinasi di bawah kekuasaan akan menjadi "alat legitimasi" belaka dari kemauan politik kelompok yang sedang berkuasa. Tak jarang pula agama memaksakan klaim kebenaran teologisnya dengan meminjam tangan kekuasaan. Itulah awal tindakan kekerasan atas nama agama. Sejarah perkembangan agama-agama besar sendiri telah membuktikan itu.

Ketika Kaisar Theodoseus II (406-450) menjadikan Kristen sebagai "agama negara", Kekristenan seperti "naik kelas" dari agama rakyat teraniaya yang secara sembunyi-sembunyi beribadah di _katakombe-katakombe_ (gua-gua) menjadi agama penguasa dengan segala atribut kebanggaan-nya. Euphoria yang merayakan gegap gempitanya masa transisi dari "agama rakyat" ke "agama negara" ini yang hendak digambarkan dalam kisah para penghuni gua ini.

Ternyata situasi tidak menjadi lebih baik ketika Kristen menjadi "agama negara". Justru lembaran sejarah gereja selanjutnya dipenuhi dengan penindasan demi penindasan, yang ironisnya dilakukan oleh saudara seiman mereka sendiri. Gereja-gereja di wilayah Timur Tengah, yang paling sering menjadi korban sasaran fitnah, dicap sebagai aliran heresy (bidah).

Dan pada saat puncak penganiayaan sesama Kristen itu, justru tentara Arab Muslimlah yang membebaskan mereka. Misalnya, pengalaman Gereja Koptik di Mesir, seperti dicatat oleh Aziz S. Atiya, dalam bukunya *تاريخ المسيحية الشرقية _"Tārīkh Al-Masihīyyat al-Syarqiyyah"_* (Cairo: Maktabah Al-Mahabbah, 2003). Kisah kemartyran Mar Mina (St. Menas), saudara Patriarkh Koptik Benyamin, pada tahun 632 AD sebagai martyr di tangan Cyrus, utusan Kaisar Heraklius, yang dalam sejarah Islam dikenal dengan Mauwaqis ini, telah mendorong mereka lebih menyambut Islam sebagai pembebas, tujuh tahun sesudah peristiwa itu.

Tetapi lembaran hitam sejarah tak ayal terulang, ketika Islam juga dijadikan pendukung "status quo" dinasti Ummayah, seperti yang tampak pada zaman pemerintahan Kalifah 'Umar bin 'Abd al-Aziz atau Umar II (682-720) yang terkenal adil di kalangan rakyat jelata, dalam urusan agama bersikap sangat diskriminatif terhadap kaum Yahudi dan Kristen.


*3. SEKULARISASI BUKAN SEKULARISME ANTI-AGAMA _(LÂ DÎNIYAH)_*

Sayangnya, ide pemisahan agama dari negara ini sering disalahpahami dan dicap sebagai ide "sekuler". Istilah "sekuler" sudah sejak lama menimbulkan alergi dan reaksi yang apriori. Tetapi sebenarnya, reaksi itu lebih diarahkan pada penerapan sistem itu yang sebaliknya terlalu ekstrim di Barat, dimana proses penyelenggaraan negara disterilkan sama sekali dari moralitas agama.

Fenomena ini lebih populer disebut dengan sekularisme. Padahal istilah sekularisasi (Latin: _"saeculum"_, artinya "dunia"), justru mula-mula diarahkan untuk menghantam paham kekuasaan "totalitas kosmik" (ontokrasi) yang mengeramatkan segala yang ada, termasuk pendewaan terhadap raja dan negara. Nah, dalam kekuasaan-kekuasaan absolut inilah agama dijadikan justifikasi untuk merebut dan melanggengkan kekuasaan.

Sebaliknya, justru melalui sekularisasi ditempatkan kembali "(kekuasaan) dunia" yang selama itu disakralkan, sebagai dunia _(saeculum)_ yang bersifat _profan_ belaka. Dalam sejarah agama-agama semitik, proses desakralisasi kekuasaan itu dimulai dari Israel (agama Musa) yang dilukiskan oleh Th. Van Leuwen seperti _"a breaks is made with the everlasting cycle of nature and the timeless presentness of myth"_ (suatu pemutusan lingkaran alami yang melilit abadi dan mitos tanpa waktu).

Melalui proses tersebut selanjutnya Barat melalui _Renaisance_ dan _Aufklaerung_ – meminjam padanan istilah Cak Nur (Dr. Nurcholish Madjid) – melakukan proses desakralisasi tanpa ampun yang akhirnya menghantam dan membabat kekuasaan absolut _"droit divin"_ (kekuasaan ilahi raja), yang di belahan dunia Timur paralel dengan paham kekuasaan "dewa-raja".


*4. CATATAN PENUTUP*

Pengalaman sejarah ini yang telah mengantarkan Bung Karno untuk memilih paradigma simbiotik relasi agama dan negara. Bagi Bung Karno, gagasan yang bisa kita sebut *paradigma Pancasila* ini, sama sekali bukan berarti mendepak agama dari penyelenggaraan negara, melainkan justru *"memberikan kepada agama itu satu singgasana yang mahakuat di dalam kalbunya orang percaya" (Di bawah Bendera Revolusi, Jilid I, 1964)*.

Jadi, kita memilih Pancasila untuk menghindari 2 pilihan yang sama-sama buruk: *"bukan negara agama"*, dan *"bukan negara sekuler"*. Meminjam istilah Th. Van Leuwen dalam _Christinity in the World History_ (London: Edinburg House Press, 1986:331), dengan memilih Dasar Negara Pancasila yang sila pertamanya Ketuhanan Yang Mahaesa, _"a connection between the state and the religion could be maintained without the proclamation of an Islamic state"_ (hubungan antara negara dan agama dapat tetap dipertahankan, namun tanpa harus memproklamasikan sebuah negara Islam). ¶


*"De Museum Cafe" Malang, 25 Januari 2019*

*2018 ¶ ISCS©All Rights Reserved*



"Artikel Seri Natal" dalam *program ET'PATAH ISCS*, bisa diakses melalui tautan-tautan berikut ini:

*1. ET'PATAH ISCS*, Jum'at, 14 Desember 2018
_Answering The Anti-X'mas Myths_ : Sejarah Perayaan Natal 25 Desember

*2. ET'PATAH ISCS*, Jum'at, 21 Desember 2018
_Answering The Anti-X'mas Myths_: Migdal Eder, Natal dan Mitos Betlehem Bersalju

*3. ET'PATAH ISCS*, Jum'at, 28 Desember 2018
Dialog Imajiner St. Nicolas dari Myra dan Patriarkh Demetrius I dari Alexandria: 25 Desember Kelahiran Dewa Matahari?

*4. ET'PATAH ISCS*, Jum'at, 4 Januari 2019
Dialog Imajiner Kabar dari Efesus: Sejak Dulu Dajjal Nggak Suka Natalan

*5. ET'PATAH ISCS*, Jum'at, 11 Januari 2019
Dialog Imajiner Rahib Dionysius Exiguus dan Kyai Tunggul Wulung: Kontroversi Perayaan Tahun Baru

*6. ET'PATAH ISCS* Jum'at, 18 Januari 2019
Dialog Imajiner Rahib Dionysius Exiguus dan Kyai Tunggul Wulung: Bintang Betlehem dan The Magi Code

5G Gigantic health hazard

5G Gigantic health hazard: Discussion by Dr Barrie Trower & Sir Julian Rose   https://www.youtube.com/watch?v=DLVIbPtNrVo Dr. Trower men...