Selasa, 26 Februari 2019

Dari hermeneutik konflik menuju hermeneutik dialog

Dari hermeneutik konflik menuju hermeneutik dialog:
Menemukan ulang bahasa cintakasih

Victor Christianto
The Second Coming Institute
www.sci4God.com

Prakata
Sudah sejak dahulu saya memiliki satu copy buku kontroversial Samuel Huntington: the clash of civilizations.
Tapi entah kenapa saya tidak pernah menyempatkan membaca tuntas buku tersebut, selain hanya membaca sekilas versi awalnya yang terbit di Foreign Affairs. Akhirnya, suatu kali saya berikan buku itu ke seorang sahabat.

Apa itu hermeneutika dialog?
Namun baru-baru ini ada artikel mas Bambang Noorsena yang mengutip seorang intelektual dari gereja Koptik, yaitu Milad Hanna, yang tidak setuju dengan pola pikir yang ditularkan baik oleh Marx maupun Huntington.
Jika boleh dicari kemiripan di antara kedua pemikir itu, adalah mereka mengembangkan sekaligus hermeneutika kecurigaan dan hermeneutika konflik. Baik itu disebut konflik antar kelas maupun antar -konon- peradaban.
Padahal, demikian argumen Prof. Milad Hanna, setiap kali manusia menjumpai Yang Lain, senantiasa terbuka kemungkinan untuk berdialog menuju saling pemahaman dan saling menerima sebagai sesama.
Pada hemat saya, hal tersebut sejalan dengan pemikiran Martin Buber, filsuf eksistensialis dan pelopor pendekatan dialogis, yang juga tidak setuju dengan pandangan Freud maupun Marx.

Sedikit catatan mengenai landasan Biblika
Kalau hendak menemukan landasan Biblika dari hermeneutika dialog, saya kira salah satu tempat terbaik adalah Kisah Para Rasul dan surat-surat Kiriman. Meski demikian, teladan Yesus yang berdialog secara terbuka dengan Rabbi Nicodemus dan perempuan Samaria di tepi sumur Yakub, kiranya membuka wawasan kita bahwa selain pilihan kesatuan dalam perbedaan dan konflik dalam perbedaan, juga ada pilihan ketiga:  dialog dalam perbedaan (tentunya dialog di sini dimaknai dalam terang I-Thou nya Martin Buber).

Bahwa memang ada perbedaan pendapat antara berbagai faksi dalam gereja perdana, itu mesti diakui (lihat Kis. 15 dan Surat Galatia). Namun juga ada kesatuan dan saling menghormati di antara para pelopor dalam gereja perdana, seperti terlihat dalam 3 ayat berikut:

Kisah Para Rasul 21:18
Pada keesokan harinya pergilah Paulus bersama-sama dengan kami mengunjungi Yakobus; semua penatua telah hadir di situ.

Galatia 2:9
Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat;

1 Korintus 3:6
Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. 

Dari hermeneutika dialog ke hermeneutika cintakasih.
Kalau kita bisa melangkah lebih maju dari hermeneutika konflik menjadi hermeneutika dialog, maka selangkah lagi kita akan menjumpai hermeneutika cintakasih.
Apakah itu hermeneutika cintakasih?
Secara sederhana, hermeneutika adalah Kacamata yang kita gunakan untuk melihat dan memahami segala hal yang ada dalam ruang pengalaman kita. Seperti ada tertulis:

Lukas 11:34
Matamu adalah pelita tubuhmu. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu.

Demikianlah orang yang telah menerapkan hermeneutika cintakasih, mungkin pekerjaannya tetap mengepel lantai atau memelihara bebek atau memotong bambu. Namun ia akan mengepel dengan sukacita, dan memelihara bebek dengan ucapan syukur, atau mengubah bambu menjadi seruling yang berbunyi merdu.

Ada sebuah kisah yang sangat saya sukai dari Ps. Anthony de Mello, alkisah ada seorang murid Zen di pertapaan yang protes kepada gurunya: "Guru, kenapa bapak tidak pernah mengajar hal-hal atau pengetahuan yang istimewa kepada saya?  Pasti Guru menyembunyikan sesuatu, ya kan?"
Setelah didesak berulangkali, Gurunya hanya menjawab: "Apakah kau mendengar bunyi burung berkicau di pohon itu? ". Jawab sang murid: "ya."
Lalu gurunya menyahut: "Lihat, aku tidak menyembunyikan apapun, kan? "

Demikianlah juga yang kita dengar dari pengajaran Yesus orang Nazaret itu:

Matius 6:26
"Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?"

Pertanyaan untuk direnungkan:
- dapatkah Anda merasakan bisikan kasih Tuhan yang mengalir dalam denyut nadi Anda?
- dapatkah Anda mendengar suara Tuhan dalam angin sepoi?

1 Raja-raja 19:12
Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa.

Penutup: Menemukan kembali bahasa cintakasih.
Kiranya menjadi jelas bahwa perjumpaan bisa membuka ruang dialog. Seperti ditegaskan oleh Prof. Milad Hanna dari gereja koptik, perjumpaan dengan The Other (yang lain) tidak harus menghasilkan konflik, namun lebih mungkin dialog yang saling mencerahkan.(3) Itu sebabnya Martin Buber,  pelopor pendekatan dialogis, juga tidak setuju dengan Marx (dan Freud). (2)
Karena hermeneutika bukan saja tentang pemahaman, namun juga tentang eksplanasi (1), maka sebagaimana kacamata yang baik menolong kita melihat lebih jelas demikianlah hermeneutika yang baik mengarahkan bahasa yang kita keluarkan dari hati.
Karena apa yang keluar dari mulut asalnya dari hati.

Matius 5:22
"Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala."

Dan jika hati kita telah dicerahkan oleh hermeneutika cintakasih, maka apapun yang kita lakukan dam katakan akan senantiasa diwarnai dengan bahasa kasih.
Ijinkan saya menutup tulisan ini dengan doa St. Fransiskus dari Asisi:(5)

Tuhan,
jadikanlah aku pembawa damai
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cintakasih
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kebenaran
Bila terjadi kecemasan, jadikanlah aku pembawa harapan
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang
Tuhan,
Semoga aku ingin menghibur daripada dihibur,
Memahami daripada dipahami,
Mencintai daripada dicintai
Sebab
Dengan memberi aku menerima
Dengan mengampuni aku mengampuni
Dengan matisuci aku bangkit lagi
Untuk hidup selama-lamanya
Amin.

Bagaimana dengan Anda?

Kiranya Tuhan yang Mahabaik dan Mahacinta memberkati Anda.

Versi 1.0:  24 February 2019, pk. 21:58
VC

Referensi
(1)  Paul Riceour. Interpretation theory. URL: https://books.google.co.id/books/about/Interpretation_Theory.html?id=TS98mJVaxqIC&redir_esc=y
(2) Martin Buber. The self in relationship. URL:  http://selfinrelationship.blogspot.com/2011/03/martin-bubers-i-thou-relationships.html?m=1
(3) Milad Hanna. Acceptance of the other. https://www.amazon.com/Acceptance-other-Dr-Milad-Hanna/dp/9772271613
(4)  V. Christianto. Kesatuan dan perbedaan dalam Gereja Perdana. IJT, 2014. URL: https://www.researchgate.net/publication/272831753_Kesatuan_dan_Perbedaan_dalam_Gereja_Perdana_IJT_Volume_2_Nomor_2_Desember_2014
(5)  doa Fransiskus Dari Asisi, dikutip dari liturgi Ibadah di salah satu gereja di Jakarta sore ini

From hermeneutic of conflict to hermeneutic of dialogue

From hermeneutic of conflict to hermeneutic of dialogue:
Rediscovering the love language

Victor Christianto,
The Second Coming Institute, www.sci4God.com


Foreword
For a few years, one of us had a copy of Samuel Huntington's controversial book for a long time: the clash of civilizations. But for some reason he never took the time to read the book thoroughly, besides just glimpsing the initial version published in Foreign Affairs. Finally, one time he gave the book to a friend.

What is dialogue hermeneutics?
But recently there was an article that quoted an intellectual from the Coptic church, namely Prof. Milad Hanna, who disagreed with the mindset transmitted both by Marx and Huntington. If we can look for similarities between the two thinkers, they are developing at the same time "hermeneutics of suspicion" and "hermeneutics of conflict". Both are called inter-class conflicts or between civilization.
In fact, as argued by Prof. Milad Hanna, whenever people meet the Other, it is always possible to dialogue towards mutual understanding and accepting each other as one another. In our opinion, this is in line with the thoughts of Martin Buber, the existentialist philosopher and the pioneer of the dialogical approach, who also disagrees with the views of Freud and Marx.

A little note about the foundation of Biblical
If you want to find the Biblical foundation of the 'hermeneutics of dialogue' instead of hermeneutics of conflict, perhaps one of the best places is Acts and the Epistles. However, Jesus's example of open dialogue with Rabbi Nicodemus and the Samaritan woman at the edge of Jacob'swell, would open our horizons that in addition to the choice of "unity in differences" and "conflict in differences", there is also a third choice: "dialogue in difference" (of course the dialogue is interpreted in explained Martin Buber's I-Thou).
That there were indeed differences of opinion between various factions in the early church, it must be recognized (see Acts 15 and Galatians). But there was also unity and mutual respect among the pioneers in the early church, as seen in the following 3 verses:
Acts 21:18
The next day Paul went with us to visit James; all the elders were there. Galatians 2: 9 When he saw the grace that was given to me, James, Cephas, and John, who were seen as pillars of the church, shook hands with me and with Barnabas as a sign of fellowship, so that we would go to the uncircumcised and to them circumcised people;
1 Corinthians 3: 6
I planted, Apollos watered, but God gave growth.

From the hermeneutics of dialogue to the hermeneutics of love.
If we can move forward from the hermeneutics of conflict to a hermeneutic of dialogue, then one more step we will find the hermeneutics of love.
Is that hermeneutics of love? In simple terms, hermeneutics is the Glasses that we use to see and understand everything that is in our experience space. As it is written:

Luke 11:34
Your eyes are the lamp of your body. If your eyes are good, your whole body will be clear, but if your eyes are evil, your body will be darkened.

Such is the person who has applied the hermeneutics of love, maybe the work is still mopping the floor or raising ducks or cutting bamboo. But he will mop joyfully, and keep ducks with thanksgiving, or turn bamboo into flutes that sound melodious. There is a story that we really like from Anthony de Mello, as follows : there is a Zen student in the hermitage who protested to his teacher: "Teacher, why have you never taught me special things or knowledge? You must have hidden something, right?" After being repeatedly pressured, the teacher simply answered: "Do you hear the sound of birds singing on the tree?" Answer the student: "Yes". Then the teacher replied: "See, I am not hiding anything."
Likewise what we hear from the teaching of Jesus the Nazarene:

Matthew 6:26
Look at the birds in the sky, who do not sow and do not reap and do not gather provisions in barn, but fed by your Father in heaven. Did you not exceed the birds?

Questions to ponder:
- can you feel the whisper of God's love flowing in your pulse?
- can you hear God's voice in the breeze?

1 Kings 19:12
And after the earthquake a fire came. But there is no LORD in the fire. And after the fire came the sound of a gentle breeze.

Concluding remark: Rediscovering the language of love.
It should be clear that "meeting can open up a dialogue space." As confirmed by Prof. Milad Hanna from the Coptic church, encounters with The Other (others) do not have to produce conflict, but more likely dialogue that enlightens each other. (3) That is why Martin Buber, the pioneer of the dialogical approach, also disagrees with Marx (and Freud). (2)
In other words, we should move from hermeneutics of conflict (a la Hegel and Baur) towards hermeneutics of dialogue, as will be explored in a next article. (From logical perspective, dialogue can be viewed as accepting the otherness, just like Smarandache's Neutrosophic Logic.)
Because hermeneutics is not only about understanding, but also about explanation (1), then as good glasses help us to see more clearly, hermeneutics is good at directing the language we emit from the heart. Because what comes out of the mouth comes from the heart.

Matthew 5:22
But I say to you, "Everyone who is angry with his brother must be punished; whoever says to his brother, 'Unbelievers'; must be brought before the Sanhedrin and who says: Impossible must be delivered to a fiery hell.

And if our hearts have been enlightened by the hermeneutical love, whatever we do and say will always be colored with the language of love.
Let us close this paper with the peace prayer of St. Francis of Assisi: (5)

Lord, make me a peacemaker,
Where there is hatred, let me sow love;
where there is injury, pardon;
where there is doubt, faith;
where there is despair, hope;
where there is darkness, light;
where there is sadness, joy;

O Divine Master, grant that I may not so much seek to be consoled as to console;
to be understood as to understand;
to be loved as to love.

For it is in giving that we receive;
it is in pardoning that we are pardoned;
and it is in dying that we are born to eternal life.


Version 1.0: 25 February 2019, pk. 22: 54
VC & FS

References:
(1) Paul Riceour. Interpretation theory. URL: https://books.google.co.id/books/about/Interpretation_Theory.html?id=TS98mJVaxqIC&redir_esc=y
(2) Martin Buber. The self in relationship. URL: http://selfinrelationship.blogspot.com/2011/03/martin-bubers-i-thou-relationships.html?m=1
(3) Milad Hanna. Acceptance of the other. https://www.amazon.com/Acceptance-other-Dr-Milad-Hanna/dp/9772271613
(4) V. Christianto. Kesatuan dan perbedaan dalam Gereja Perdana. IJT, 2014. URL: https://www.researchgate.net/publication/272831753_Kesatuan_dan_Perbedaan_dalam_Gereja_Perdana_IJT_Volume_2_Nomor_2_Desember_2014
(5) Peace prayer from St. Francis from Assisi: url: https://www.catholicnewsagency.com/resources/saints/saints/peace-prayer-of-st-francis-of-assisi

----

Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://nulisbuku.com/books/view_book/9694/sastra-harjendra-ajaran-luhur-dari-tuhan-a5
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains
http://nulisbuku.com/books/view_book/9693/jalan-yang-lurus-manual-anak-anak-terang-a5
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Between Baur and Tuebingen School: towards hermeneutics of dialogue

Between Baur and Tuebingen School: towards hermeneutics of dialogue

Victor Christianto

Following an old time plan to write a brief review of the Tuebingen School, here is the article.

Tuebingen Alumni
If you have studied theology, you must have studied or at least heard the names of the Tuebingen Theology Faculty graduates, which is said to be one of the best theology faculty in Germany, including: Karl Barth, Ferdinand Baur, Jurgen Moltmann, Dietrich Bonhoeffer, Paul Tillich, Strauss and Miroslaf Volf. See Attachment. (1)
Although it is often regarded as the basic foundation of modern theology, Friedrich Schleiermacher (Halle University and Berlin University), but names such as Barth and Baur are very coloring theological studies. We are not close enough to know Schleiermacher and Barth's thinking, but there was once a kind of conflict between the two. (2) One carries an anthropocentric approach while Barth is known as the pioneer of neo-orthodoxy. In addition to the Tuebingen graduate theologians there are also many well-known scientists from Tuebingen University, say for example: Johannes Kepler and Arthur Geiger, inventors of the Geiger counter.

Tuebingen School
One of us read various texts which discussed Ferdinand Baur, who was the originator of the Tuebingen School. The basic assumption of Baur is the history of the early church following Hegel's dialectical theory of history. (3) And Hegel was also one of the alumni of Tuebingen. For example, Baur wrote that there is a conflict between Jewish Christianity as Paul's thesis and Christianity as an antithesis, which then becomes the Christian model of the Johanin community (reflected in the Gospel of John) as a synthesis (following Hegel's thesis-antithesis synthesis). (3) After decades of successfully leading PB theological thinking in his time, finally this School was abandoned after a book from von Harnack was published. (4)
Let us give a summary of the 5 striking weaknesses of the Tuebingen School:

a. Pseudo-Clementine. Baur seems to base his theory on contradictions in the early church from the dispute between Simon Magus and Peter referred to in the Pseudo Clementine text. (5) But this manuscript from the 4th century and non-canonical, so it is not feasible to build the early Church history theory. Moreover, this manuscript is allegedly indeed anti-Pauline (similar to the Ebionite School). The findings of the latest findings such as the Dead Sea script also left the Baur hypothesis abandoned.

b. The historicity of the gospel of John. The idea that the Gospel of John is a synthesis becomes raw, when the latest findings indicate that the 4th Gospel was allegedly from a period not far away or might precede the Synoptic Gospels. To study the historicity of the Gospel of John, see the work of CH Dodd. (6)

c. Unity in difference. (7) That there is indeed difference of opinion between various factions in the early church, it must be recognized (see Acts 15 and Galatians). But there is also unity and mutual respect among the pioneers in the early church, as seen in the following 3 verses:
Acts 21:18
The next day Paul went with us to visit James; all the elders were there. Galatians 2: 9 When he saw the grace that was given to me, James, Cephas, and John, who were seen as pillars of the church, shook hands with me and with Barnabas as a sign of fellowship, so that we would go to the uncircumcised and to them circumcised people;
1 Corinthians 3: 6
I planted, Apollos watered, but God gave growth.

d. That difference does not appear in the literature of the church fathers.
If there was a conflict between Peter and Paul or between Paul and James, it would certainly be traceable in the literature of the father of the church, namely the disciples of the apostles. Then why could Baur make such a fatal mistake?
There are at least two causes:
- Baur comes from a foreign Protestant environment with a patristic study, so he only relies on Pseudo Clementine.
- Baur too believes in Hegel's historical dialectical hypothesis.

e. Meetings can be dialogues. As confirmed by Prof. Milad Hanna from the Coptic Church, encounters with The Other (others) do not have to produce conflict, but more likely dialogue that enlightens each other. That is why Martin Buber, the pioneer of the dialogical approach, also disagrees with Marx (and Freud).

Closing
It seems to be clear, that Hegel's ideas about the dialectics of history cannot be maintained. Especially the notion of dialectical materialism as in Marx (Marx also departed from Hegel).
In other words, we should move from hermeneutics of conflict (a la Hegel and Baur) towards hermeneutics of dialogue, as will be explored in a next article. (From logical perspective, dialogue can be viewed as accepting the otherness, just like Smarandache's Neutrosophic Logic.)
Although this article criticizes the Tuebingen School, it does not mean that there is nothing the writers admired among the famous Tuebingen graduates.

References:
(1) https://en.m.wikipedia.org/wiki/University_of_Tübingen
(2) http://www.faith-theology.com/2007/07/matthias-gockel-barth-and.html?m=1
(3) https://m.huffpost.com/us/entry/us_4776679
(4) http://self.gutenberg.org/articles/Tübingen_School
(5) http://www.philipharland.com/Blog/2005/10/17/peter-vs-simon-magus-alias-paul-in-the-pseudo-clementines-nt-apocrypha-17/
(6) https://www.bookdepository.com/Historical-Tradition-Fourth-Gospel-C-H-Dodd/9780521291231
(7) V. Christianto. Kesatuan dan perbedaan dalam Gereja Perdana. IJT, 2014. URL: https://www.researchgate.net/publication/272831753_Kesatuan_dan_Perbedaan_dalam_Gereja_Perdana_IJT_Volume_2_Nomor_2_Desember_2014

----

Victor Christianto
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://nulisbuku.com/books/view_book/9694/sastra-harjendra-ajaran-luhur-dari-tuhan-a5
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains
http://nulisbuku.com/books/view_book/9693/jalan-yang-lurus-manual-anak-anak-terang-a5
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Christlike dialogue - Jeffery L. Rosenau


Christlike dialogue - Jeffery L. Rosenau

Source: outreach magazine.com


Back in 1993, as I listened to Christian leaders respond to the media over social and political concerns, I sensed something was wrong in the way God's people spoke to those with differing views. Not knowing what to do, I prayed, "Father, there is so much wrong with our society and with Christianity, I have no idea what you would like me to do to help, but would you show me what's wrong and what you would like me to do to help?"

To answer my question, God led me to a local organization that offered K-12 sex-ed curricula. After thoroughly studying that material, it was obvious to me that it promoted unhealthy sexual behavior that was dishonoring to God. I was ready to fight for what was right.

But a short time later, God challenged me with two questions: First, "Do you want to follow My Son?"

I quickly replied, "Yes, I do."

Next, "Did My Son fight and quarrel?" God's answer came through Matthew 12:18–19: 

"Here is my servant whom I have chosen, the one I love. … He will not quarrel."

Then I learned from 2 Timothy 2:24, 

"The Lord's servant must not be quarrelsome."

I got the message. 

The next morning I called the executive director of the local organization and asked if she would be willing to dialogue with me, and she said yes.

In our first meeting, we established the common ground of healthier kids and a healthier society.

During our monthly dialogues, I listened as she shared her perspective; then she listened as I shared mine. After several conversations, her organization agreed to rewrite the curriculum. They added an entire chapter on abstinence and stated it to be a wise and desirable choice for young people.

The executive director, who had worked with the public for 22 years, said to me, "I want you to know that in all the years I've been doing this, this is the first time I've been able to sit down with someone who has an opposing view and have honest communication."

God had shown me the need for Christlike dialogue.

What Is Christlike dialogue?

Christlike dialogue is honest conversation guided by the Holy Spirit that includes four characteristics: other-minded listening, seeking and speaking the truth in love, focusing on Christ's interests and trusting God with the outcome.

1. Other-Minded Listening (Phil. 2:3-4; James 1:19–20). 

Listening is an opportunity to pause from the busyness of life to make time to hear what is going on in the life of another human being, to hear their story, to try and understand what they believe and why they believe it and to gain insight into their unmet needs. If we remember that all people were created in the image of God with the same need to know and trust him, our empathy and loving concern for others should grow.

2. Seek and Speak the Truth in Love(John 14:6; 8:32; Eph. 4:15). 

We cannot effectively and consistently speak the truth in love unless we abide in Christ. Grace and truth come through Jesus Christ, and both are needed in Christlike dialogue. Grace is kindly and compassionately conveyed by asking questions and listening attentively. Truth is spoken humbly, yet boldly with great patience and careful, gentle instruction.

Each person agrees to give one another the freedom to speak the truth as each perceives it, without interruption from the other(s), except to ask questions for clarification. In Christlike dialogue, we seek God's wisdom rather than people's opinions, so we encourage people to identify their source of truth and what that source of truth has to say in regard to the matter of concern being discussed.

3. Focus on Christ's Interests (1 Tim. 1:15; Eph. 4:13). 

With Christlike dialogue, the focus moves away from selfish ambition and argumentative monologues to focusing on Christ's two primary interests of seeing the lost saved and the saved sanctified.

4. Trust God With the Outcome (1 Pet. 2:23; 2 Tim. 2:24–26). 

Jesus surrendered to the will of his Father, and trusted him with the outcome, as should we. When it comes to responding to people with opposing views, our answer to each of the following questions will help us know if we are surrendered to the will of God, and willing to trust him with the outcome.

• Am I refraining from quarreling?
• Am I being kind?
• Am I gently instructing?

Agree to leave another person's decision, and the consequences of that decision, between that person and God. (Some situations may require church discipline to be administered in love. Steps one and two of Matthew 18:15–17 offer great opportunities for Christlike dialogue.)

Christlike dialogue is unnatural. It's more natural to argue and want to control the outcome than it is to speak the truth in love and leave the outcome with God. It's more natural to be self-centered and quick to speak than it is to be other-minded and quick to listen.

So Christlike dialogue is about putting off our old natural sinful self, being renewed in the spirit of our minds and putting on the new self so we come to know Christ better and become more like him.

Over the past 25 years, God has taught me many valuable lessons pertaining to Christlike dialogue. Here are a few more:

Christlike dialogue prepares us to represent Jesus well. 

As Christians, we represent Jesus through the words we speak. We either represent him well, or we represent him poorly. If we represent him poorly, we push people away from Christ and remain part of the problem in America.

If we are to engage people with differing views in ways that are pleasing to God, we must examine our own hearts and repent of anger, bitterness, resentment or hatred toward anyone created in the image of God. Those attitudes lead to gossip, quarreling, and speaking unkind, unloving, and judgmental words that grieve the heart of God. As we repent and put Christlike dialogue into practice, we become part of the solution to the brokenness in America.

Relationships are more important than issues. 

When God allows people into our lives who don't see things exactly as we do, it's important to remember that our struggle is not against flesh and blood.

In the spiritual battle between good and evil, Satan is at work trying to deceive people into believing these two lies:

1. Issues are more important than relationships.
2. Being "right" is more important than doing right.

Regardless of what the issue is, Satan uses those two lies to destroy relationships. He succeeds when people withdraw their love from one another. Way too often we hear of divisive church splits over nonessential issues such as the style of worship music.

Persevere in love, despite differences.

If we love Jesus, we will love people as Christ has loved us, even those we perceive to be unreasonable and unlovable—which at times might include us. Disagreeable people give us unending opportunities to extend grace, mercy and kindness as God has to us. While "Satan schemes to cause hatred and division", the Holy Spirit gently reminds us to persevere in love for others, despite differences.

• That doesn't mean we condone or agree with something that is wrong.
• It doesn't mean we compromise truth or stop doing what is right.
• It does mean we stop trying to get people to see things exactly as we do.

God wants his people to be like him. When he allows people with differing views into our lives, may our first response be to pray for guidance and wisdom as we dialogue, for his love for others, and for both parties to know Jesus better. Our culture needs the light only Christ can bring, and we are his conduits—a high calling and privilege. 

When God allows people with differing views into our lives, may we seize the opportunity to intentionally engage in conversations that honor God and bring him glory.


Parts of this article were excerpted fromChristlike Dialogue © 2018 by Jeffery L. Rosenau. All rights reserved. No part of this publication may be reproduced in any form without written permission from Jeff Rosenau, 7622 South Ivanhoe Way, Centennial, Colorado 80112.

Sabtu, 23 Februari 2019

PESAN AKHIR ZAMAN: PENGANGKATAN TIDAK LAMA LAGI

*PESAN AKHIR ZAMAN: PENGANGKATAN TIDAK LAMA LAGI*

Banyak orang bertanya: Pak, kapan pengangkatan terjadi? Saya jawab: Tidak lama lagi, hanya tinggal menghitung beberapa tahun saja. Lalu mereka berkata: Haah.????? Astaga! Apa benar seperti itu pak? Saya jawab: Saya tidak berdusta dan kebenaran ini harus disampaikan kepada Anda.

Saudaraku, Kerajaan Sorga tidak melihat apakah Anda siap atau tidak siap? Apakah Anda percaya atau tidak percaya? Firman TUHAN di Kitab Suci akan segera digenapi saudaraku. Apakah jika Anda tidak siap, maka pengangkatan tidak terjadi saudaraku.????? Apakah jika Anda tidak percaya, maka pengangkatan tidak terjadi saudaraku.????? Langit dan bumi bisa berlalu, tetapi perkataan ALLAH tidak akan berlalu!

"Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu." (Matius 24:35)

Pengangkatan atau rapture adalah cara ALLAH untuk menyelamatkan umat-NYA, sebelum cawan murka ALLAH yang dahsyat yang berisi bencana yang belum pernah dilihat oleh manusia ditumpahkan ke bumi. Ini seperti cara ALLAH menyelamatkan Nuh ke dalam bahtera sebelum membinasakan bumi dengan air bah. Pengangkatan adalah proses dimana ALLAH "mengamankan" Anda, sebelum membinasakan bumi. Firman ALLAH mengatakan kedatangan ANAK MANUSIA akan sama seperti zaman Nuh bukan?

"Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan ANAK MANUSIA." (Matius 24:37)

Mungkin Anda berkata: Tidak ada orang yang tahu hari dan saatnya pak? Saya jawab: Itu benar, karena itu adalah firman ALLAH dan saya tidak menyebutkan "hari" dan "saatnya" bukan.????? Saya berkata di atas: Tidak lama lagi, hanya tinggal menghitung beberapa tahun saja. Ketika perjanjian damai Israel ditandatangani, maka dunia masuk 7 tahun Masa Kesusahan Besar. Hanya tersisa beberapa tahun saja sebelum proses pengangkatan dilakukan. Mengapa? Sebab murka ALLAH akan ditumpahkan ke bumi untuk membinasakan orang fasik dan orang berdosa.

Sebagai anak ALLAH di bumi saya ingin mengatakan hal ini : ALLAH, BAPA ku di sorga, ALLAH Abraham, ALLAH Ishak dan ALLAH Yakub yang saya sembah di muka bumi ini melalui iman kepada ANAK TUNGGAL-NYA, yaitu TUHAN kita YESUS KRISTUS, telah memberi saya 3X "pesan pengangkatan" melalui mimpi. Ini berarti pengangkatan telah ditetapkan di Kerajaan Sorga dan akan segera dilaksanakan! Anda percaya atau tidak percaya, Anda siap atau tidak siap, hal itu akan dilakukan segera!

Saudaraku, mungkin Anda kaget membaca artikel ini, tetapi artikel ini ditulis oleh seorang ANAK ALLAH di bumi yang telah bertemu ALLAH 3X dan berjumpa ANAK ALLAH, yaitu TUHAN kita YESUS KRISTUS sebanyak 5X serta melihat sorga dan neraka. Saya bukan seperti orang yang berkata: TUHAN memberkatimu, ini tahun kelimpahan, di saat tanda-tanda akhir zaman telah dinyatakan dan Masa Kesusahan Besar sudah di depan mata. Saya berkata: Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!

Umat yang dikasihi TUHAN, lihat tanda-tanda akhir zaman yang dinyatakan saat ini dan baca Kitab Suci Anda sekarang dan Anda akan menemukan "kebenaran". Apa itu? Anda hidup di akhir zaman dan berada di hari-hari terakhir kedatangan TUHAN kita YESUS KRISTUS ke bumi. Anda bisa tertawa dan mengejek pesan ini. It's oke, saya tidak membenci Anda dan tetap mengasihimu saudaraku, tetapi kebenaran dari Kerajaan Sorga harus disampaikan kepada Anda, entah Anda senang atau tidak senang. Kebenaran bukan untuk menyenangkan telinga Anda, tetapi kebenaran membawa Anda kepada kehidupan kekal di sorga. Pesan telah disampaikan dan Anda telah menerimanya!

TUHAN YESUS memberkati…

TUHAN YESUS SEDANG MELAKUKAN PENAMPIAN KEPADA GEREJA TUHAN DI AKHIR ZAMAN

*TUHAN YESUS SEDANG MELAKUKAN PENAMPIAN KEPADA GEREJA TUHAN DI AKHIR ZAMAN..*

*UNTUK MENCARI SIAPA YANG LAYAK TURUT DI DALAM PENGANGKATAN / RAPTURE SAAT TUHAN YESUS DATANG KE 2 KALINYA*

Dalam doa malam hari Minggu,TUHAN YESUS memperlihatkan bumi dari angkasa. Bulatan bumi terlihat seluruhnya beserta seluruh penduduk yang ada di dalamnya diliputi awan kelam. TUHAN YESUS berdiam melihat apa yang terjadi di muka bumi.
.
PENAMPIAN
==**==**==**==
Yang sedang terjadi adalah roh-roh setan bekerja dengan keras terhadap satu persatu orang-orang Kristen di seluruh muka bumi. Mereka mendatangkan berbagai masalah, penderitaan, dukacita dan berbagai-bagai pencobaan.

Semua hal itu sekarang ini terjadi melanda setiap orang Kristen untuk MENAMPI mereka, memisahkan gandum dari ilalang dan domba dari kambing. TUHAN YESUS mengijinkan setan bekerja untuk menguji hati setiap orang Kristen apakah teguh mengasihi TUHAN atau menggerutu dan mengutuki TUHAN.

GANDUM - ILALANG / KAMBING - DOMBA
==**==**==**==**==**==**==**==**==*

Ini adalah masa penampian bagi orang Kristen di seluruh dunia untuk memisahkan berkas-berkas gandum dan ilalang, sebagai persiapan masa penuaian jiwa-jiwa pada saat TUHAN YESUS datang yang kedua kali.

Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungKU. (Matius 13:30)

GANDUM DAN ILALANG
==**==**==**==**==**==**=
Diperlihatkan, ada orang Kristen di luar negri yang tadinya hidup mapan berkecukupan tiba-tiba kehilangan pekerjaannya. Untuk menopang hidupnya harus mengandalkan bantuan pemerintah yang setiap tahun dikurangi karena krisis ekonomi semakin parah melanda seluruh negeri. Dalam keputusasaannya dia melarikan diri dari hidup dengan mengkonsumsi miras, dan di tengah kekacauan perasaannya dia mulai mengutuki TUHAN. Kata-kata makian mengutuki nasibnya maupun TUHAN seperti yang sering terdengar di film-film terus keluar dari mulutnya.

Pada saat itu setan yang bertugas menampi orang itu berseru kepada penghulu udara yang mengawasinya, "Satu orang sudah selesai!" Ketika tanda itu diteriakkan, terlihat banyak roh setan yang berwarna hitam langsung menyerbu dan masuk ke dalam diri orang itu dan menetap di dalamnya mendatangkan kehancuran dan penderitaan yang lebih parah.

Ada lagi orang Kristen yang terbaring di rumah menderita sakit. Setan terus menyerang dengan menimpakan rasa sakit yang pedih, tetapi dia menyerahkan hati dan hidupnya kepada TUHAN. Walaupun tubuhnya lemah, dia terus memuji TUHAN dan percaya bahwa semua yang terjadi adalah seijin TUHAN untuk kebaikannya. Dari mulutnya tidak keluar sumpah serapah atau mengutuki TUHAN tetapi selalu penyerahan diri dan ucapan syukur.

Pada saat dia tetap menjaga hati dan mulutnya untuk bersyukur dan memuji TUHAN, maka serangan setan digagalkan dan kemudian ROH KUDUS menolong memulihkan kesehatan dan keadaan keluarganya.

MENAMPI DI TITIK LEMAH
==**==**==**==**==**==**==**=
Dalam menampi, setan tidak hanya mendatang malapetaka, sakit penyakit atau penderitaan tetapi juga segala macam pencobaan yang merupakan kelemahan hidup. Pada titik yang lemah ini, setan terus menerus melakukan serangan gencarnya.

Orang Kristen yang memiliki hati yang sombong, oleh setan justru diberikan segala macam kesuksesan dalam hidup dan jabatan yang tinggi sehingga dia melupakan TUHAN. 

Orang yang hatinya penuh kekuatiran, ditimpakan berbagai masalah pekerjaan dan keuangan sehingga dicekam oleh ketakutan akan masa depan. Orang yang hatinya penuh iri, diperhadapkan dengan teman kerja yang sukses sehingga setiap hari hatinya merana karena tidak mendapat apa yang diingininya. Orang yang pendendam dipertemukan dengan orang-orang yang selalu memojokkan dan melemparkan fitnah, sehingga hatinya pahit.

Anak-anak orang Kristen yang tadinya bersikap manis, sekarang ini menjadi susah diatur dan memberontak. Suami istri mendapati bahwa masalah sedikit saja bisa menjadi pertengkaran yang besar. Orang yang bekerja merasakan teman-teman di kantor tiba-tiba memusuhinya.

Di sekolah, anak-anak orang Kristen dikucilkan dari pergaulan dan dimusuhi. Mertua menjadi tidak bisa memahami menantunya dan bersikap keras. Semua yang tadinya biasa-biasa saja tiba-tiba menjadi begitu rumit dan menyusahkan.

Setiap orang Kristen di seluruh dunia dari anak-anak, orang dewasa sampai lansia, orang perorang dicobai dan diserang oleh setan untuk menampi, memisahkan orang Kristen gandum dan orang Kristen ilalang. Orang Kristen yang tidak tahan dan dari hati dan mulutnya keluar sumpah serapah, kutukan, bersungut-sungut, maka mereka langsung diberkas, dikumpulkan secara roh dalam kelompok ilalang. Orang Kristen yang tetap mengucap syukur dan memuji TUHAN di tengah semua masalah yang dihadapi, dikumpulkan TUHAN YESUS sebagai gandum.

Akan tetapi yang menyedihkan adalah, di dalam masa penampian ini ada lebih banyak orang Kristen di seluruh dunia yang bersungut-sungut dan mengutuki TUHAN dalam hati dan mulutnya. Lebih banyak orang Kristen yang menggerutu dan menyesali hidupnya yang dilanda berbagai masalah. Banyak orang Kristen di seluruh dunia yang menjadi dingin imannya dan sibuk dengan berbagai urusan duniawi seperti mengejar karier di kantor, jabatan di gereja, sibuk sekolah, sibuk kuliah, sibuk mempersiapkan masa depan, sibuk berinvestasi – semuanya sibuk dengan berbagai hal yang mengalihkan fokus iman Kristennya akan kekekalan hidup. Sekarang ini sangat banyak orang Kristen yang imannya sudah dingin dan apinya padam.

Melihat itu semua TUHAN YESUS sedih, karena ternyata di masa penampian ini DIA lebih banyak mendapati orang Kristen ilalang daripada gandum. Padahal penampian ini tidak akan berhenti sampai TUHAN YESUS datang. Hanya anak-anak TUHAN yang bertahan di masa penampian ini yang akan diangkat ke surga pada saat Rapture dan diluputkan dari aniaya iblis di masa Tribulasi yang melanda seluruh bumi. Hanya anak-anak TUHAN yang setiap hari bergaul intim dengan TUHAN saja yang dapat melewati masa penampian yang keras ini.

PERLINDUNGAN KHUSUS
==**==**==**==**==**==**==
Dalam vision ini, ternyata TUHAN YESUS memperlihatkan adanya orang-orang Kristen yang menghadapi penampian oleh setan ini dengan lebih mudah. Setan tidak bisa mendekati mereka dan hanya bisa menyerang dari jauh, tidak seperti orang-orang Kristen yang diserang setan dari dalam tubuhnya pada penglihatan sebelumnya.

Ternyata anak-anak Tuhan ini memiliki tubuh rohani yang berbeda. Mereka memakai baju perang seperti tentara romawi, memakai ikat pinggang, baju zirah, kasut, ketopong, perisai dan membawa pedang. Tubuhnya juga dibungkus oleh cahaya yang melindungi secara tertutup.

Terhadap mereka ini, setan tidak bisa mendekat dan hanya menembakkan panah-panah dari jauh. Dan panah itu lenyap ketika sampai pada cahaya yang meliputi seluruh bagian tubuh anak TUHAN itu. Serangan-serangan setan tidak mempan atas mereka karena pelindungan dari TUHAN yang berlapis-lapis.

Bukan hanya tidak mempan terhadap serangan setan, anak-anak TUHAN ini justru memiliki kuasa untuk menyerang dan mengalahkan setan dengan doa, pujian dan ketika memperkatakan Firman TUHAN. Hidup mereka penuh kuasa yang nyata dari surga.

Kemudian TUHAN YESUS menjelaskan, mereka ini adalah anak-anak TUHAN yang sekarang ini mempersiapkan diri dengan menjaga kekudusan hidup dan berkomitmen untuk menjadi pelaku Firman dengan setia. Mereka ini setiap hari membaca Firman TUHAN dengan tekun, merenungkan dan melakukannya dengan setia. Mereka selalu merendahkan diri di dalam doa dan puasa, dan bertemu secara pribadi dengan TUHAN YESUS dalam pujian dan penyembahan.

Pada saat semua orang Kristen disibukkan oleh segala macam urusan duniawi dan kekuatiran hidup, tetapi ternyata ada anak-anak TUHAN yang mau "membayar harga" dengan kekudusan hidup dan berkomitmen melakukan Firman TUHAN. Di seluruh dunia ada anak-anak TUHAN seperti ini, tetapi jumlah sangat sedikit sekali.

Mereka adalah laskar-laskar Kristus di akhir jaman, yang sekarang ini giat bersama-sama dengan TUHAN YESUS berperang di dalam doa dan puasa untuk merebut jiwa-jiwa diselamatkan. Setiap hari mereka membentengi tubuh Rohnya dengan seluruh perlengkapan senjata ALLAH mulai dari ikat pinggang kebenaran, baju zirah keadilan, kasut kerelaan memberitakan Injil damai sejahtera, ketopong keselamatan, perisai iman dan pedang ROH. Setiap kali doa itu diucapkan, di dalam ROH semua perlengkapan perang ALLAH itu muncul dan melindungi tubuhnya (Efesus 6:14-17).

BERTAHAN DALAM PENAMPIAN SAMPAI PENGANGKATAN - RAPTURE
==**==**==**==**==**==**==**==**==*
Ternyata di tengah masa penampian terhadap semua orang Kristen di seluruh dunia, TUHAN YESUS melindungi anak-anakNYA yang mau berkomitmen untuk merenungkan Firman TUHAN dan tekun melakukannya. TUHAN YESUS sangat menghargai anak-anaknya yang mau membayar harga memilih hidup dalam kekudusan dan merendahkan diri dalam doa puasa. Mereka ini bukan hanya dilindungi dan diluputkan tetapi bahkan diberi kuasa untuk berperang dan mengalahkan setan.

Karena engkau menuruti firman-KU, untuk tekun menantikan AKU, maka AKU pun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi. (Wahyu 3:10)

Dalam vision ini TUHAN YESUS mengingatkan semua orang Kristen bahwa masa penampian ini sedang berlangsung atas satu persatu orang Kristen di seluruh dunia, untuk memisahkan orang Kristen gandum dan ilalang. Penampian ini dilakukan secara keras oleh setan karena mereka tahu masanya sudah semakin singkat. TUHAN YESUS meminta semua orang Kristen untuk bertahan dan menang dengan menjaga hati dan mulutnya tidak bersungut-sungut, mengeluh, menggerutu atau bahkan mengutuki TUHAN karena berbagai masalah hidup yang dialami. Orang Kristen gandum adalah orang Kristen yang selalu mengucap syukur dan mengandalkan TUHAN YESUS dalam menjalani kehidupannya.

Penampian ini akan berlangsung terus menerus berlangsung sampai nanti TUHAN YESUS datang yang kedua pada saat Rapture (Pengangkatan). Hanya orang-orang Kristen yang bertahan dalam kesetiaan iman dan menang, yang akan diangkat ke surga dan mendapat mahkota kehidupan.

Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan ALLAH kepada barangsiapa yang mengasihi DIA (Yakobus 1:12)

Dalam menghadapi penampian yang dilakukan oleh setan ini TUHAN YESUS menjanjikan sebuah perlindungan khusus, jika anak TUHAN mau "mambayar harga" dengan cara hidup dalam kekudusan dan setia melakukan setiap kebenaran Firman TUHAN. Setiap hari bertemu dan bergaul intim dengan TUHAN YESUS di dalam pujian penyembahan dan doa puasa. TUHAN YESUS juga mengingatkan lagi satu pesan yang tegas : "Kerjakanlah keselamatanmu sendiri!"

Shalom Alecheim, 
salam Maranatha

Minggu, 10 Februari 2019

5G Gigantic health hazard

5G Gigantic health hazard: Discussion by Dr Barrie Trower & Sir Julian Rose
 

https://www.youtube.com/watch?v=DLVIbPtNrVo

Dr. Trower mentions the fact that 5G will cause 720 factorial different kinds of maladies to happen to humans, in a short while. 5G must be stopped. It is genocidal and ecocidal. The fact that China is rolling out 5G should concern the Chinese populace. All 5G technology should be destroyed and made permanently illegal.

Then all the WiFi and 3G and 4G need to get taken out. They are disastrous as well, but not nearly as bad as 5G. 5G is a microwave weapon system which was banned by international treaty which was constructed in the 1970, prohibiting microwave weapons. The US military abandoned those treaties, and many other weapons limitations treaties, during the GW Bush administration, just prior to the invasion of Iraq. 

There are perfectly safe ways to communicate that do not require high frequency radio broadcasts. If you want portable communications, go to QM and aether physics methods, relying on deviations from the expectation values of quantum noise in the Schrodinger equations, for example. 

The foundational circuit was designed and constructed and tested by me, in 1992. It works. So where are we now? Nothing has happened with it, since that time, because no one will fund the required holographic AI software development.

Best Wishes,

Neil

Rabu, 06 Februari 2019

ALQIDIS SAM'AN AL-KHARAJ DAN MUKJIZAT BUKIT MUQATAM CAIRO

Et'fatah ISCS, 1 Februari 2019

IMAN YANG MEMINDAHKAN GUNUNG: ALQIDIS SAM'AN AL-KHARAJ DAN MUKJIZAT BUKIT MUQATAM CAIRO*) 

Oleh: Dr. Bambang Noorsena
 
*) Artikel ini hasil rewriting salah satu bahan Refleksi Ziarah "Petra-Egypt-Holy Land Biblical Tours", 11-21 April 2018. 
  
1. CATATAN AWAL

Akibat gempa dan tsunami sebesar 7,4 SR, desa Petobo telah pindah kira-kira 1 km dari letak semula. Peristiwa pergeseran ini dapat dijadikan rujukan untuk memahami mukjizat berpindahnya gunung Muqatam yang terjadi pada tahun 975 M di Cairo pada masa dinasti Fatimiyyah. Sebelumnya gunung itu terletak di Birket el-Fil, dekat Al-Azhar sekarang, telah bergerak kurang lebih 3 km ke arah luar kota Cairo, hingga letaknya yang sekarang.

Terus terang sebelum peristiwa tsunami di Aceh tahun 2004, ketika masih tinggal di Cairo, saya belum bisa membayangkan bagaimana bukit Muqatam itu bisa pindah meskipun karena mukjizat Ilahi. Pasca-peristiwa tsunami Aceh ketika letak pantai bergerak dari tempat semula, saya mulai bisa membayangkan mukjizat itu. Lebih-lebih ketika melihat tsunami Palu tahun ini, khususnya berpindahnya desa Petobo, kini saya baru lebih bisa membayangkan peristiwa mukjizat Mokatam dengan lebih jelas lagi. Memang tidak ada deskripsi secara detail peristiwa Muqatam itu, tetapi tidak ada sumber sejarah sezaman yang menyangkal peristiwa ini. 

2. BERAWAL DARI PERDEBATAN AGAMA YAHUDI-KRISTEN

Kalifah Muiz lidinillah, seorang penguasa dinasti Fathimiyya (969-975 M), sangat terkenal dengan sikap toleransinya terhadap agama-agama lain, khususnya Yahudi dan Kristen, yang waktu itu hidup berdampingan secara damai dengan Islam. Tetap Kalifah. Mu'iz mempunyai hobi yang aneh, yaitu menyaksikan perdebatan agama. 

Pemimpin tertinggi Gereja Ortodoks Koptik saat itu, yaitu Patriarkh Abram Ibnu Zahra al-Suryani (975-979 M), hubungannya sangat dekat dengan Sang Khalifah. Hal itu menyebabkan iri hati Ya'kub bin Killis, seorang Yahudi berkedudukan tinggi, yang terkenal sangat ambisius. Anba Abram yang dikenal sebagai "manusia doa"  ini tinggal di دير السريان "Deir el-Suryan" (Biara Syria),  di Wadi el-Natroun, seorang putra Syria yang terpilih sebagai Patriarkh Gereja Ortodoks Koptik, menggantikan Baba Mina II pada bulan Toba 687 tahun Koptik, yang bertepatan dengan bulan Januari 975 M.  Ya'qub bin Kilis tidak suka kepadanya,  karena kedekatan Sang Patriarkh dengan Kalifah Mu'iz li Dinillah. 

Pada suatu hari,  Sang Kalifah memanggil Ya'qub bin Kilis dan Patriarkh Abram untuk mcengadakan perdebatan agama. Ya'qub bin Kilis  memanggil rekannya, Rabbi Musa,  sedangkan Patriarkh Abram menghadirkan teolog Koptik terkenal, Anba Saweris Ibn Al-Muqaffa', Uskup Asmunain, Mesir utara.  Anba Saweris dikenal ssbagai seorang teolog dan menulis beberapa buku,  antara lain: كتاب التوحيد  "Kitab At-Tauhid" (Kitab Monotheisme)  dan كتاب الاتحاد الباهر في الرد على اليهود  "Kitab al-Itihad al-Bahri fi al-Radd 'ala al-Yahudi" (Buku kesatuan pengajian dalam menjawab kaum Yahudi).

Perdebatan pun berlangsung. Rabbi Musa sangat marah ketika Anba Saweris menyebutnya  الجهل  "al-Jahlu" (bodoh,  ignorence),  karena sang rabbi sulit memahami kebenaran iman dalam Kristus.
"Jangan marah,  hai Rabbi Musa, karena memang seorang nabi telah menyebut kaum Yahudi demikian",  kata Anba Saweris. من يكون هذا النبي؟ "Man yakûnu hadzā al-nabi?" (Siapakah nabi yang telah berkata begitu?),  kejar Rabbi Musa. . انه إِشَعْيَاءَ النبي الذي قال عنكم "Innahu Ish'aya al-nabī alladzī qāla  'ankum" (Dialah Nabi Yesaya yang berkata demikian tentang kalian). "Lembu mengenal pemiliknya, tetapi bani Israel tidak", Anba Seweis mengutip Yesaya 1:3.  "Keledai mengenal. palungan yang disediakan tuanya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya". 

Kalifah tertawa terbahak-bahak. "Benarkah memang ada tertulis demikian dalam kitab Nabi Yesaya?", tanya Kalifah kepada rabbi Musa. "Betul,  Baginda",  jawabnya. Ya'qub bin Kilis sangat malu,  begitu juga rabbi Musa tambah naik pitam atas kejadian yang memalukan itu. Mereka merancang suatu perdebatan lanjutan untuk membalas perlakuan orang Kristen, bahkan kalau perlu menghabisinya.

Sampai suatu hari, ketika kedua orang Yahudi itu menemukan sabda Yesus dalam Injil yang mengatakan:

فَالْحَقَّ أَقُولُ لَكُمْ: لَوْ كَانَ لَكُمْ إِيمَانٌ مِثْلُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ لَكُنْتُمْ تَقُولُونَ لِهَذَا الْجَبَلِ: انْتَقِلْ مِنْ هُنَا إِلَى هُنَاكَ فَيَنْتَقِلُ وَلاَ يَكُونُ شَيْءٌ غَيْرَ مُمْكِنٍ لَدَيْكُمْ.
Falḥaqqa aqûlu lakum lau kāna lakum īmān mitslu ḥabbati khardalin likuntum taqûlûna li hadzā al-jabali: intaqil min hunā ila hunāka fayantaqil, wa lā yakûnu syai'un ghaira mumkin ladzaikum. 
Artinya: Sebab Aku berkata kepadamu: "Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu" (Injil Matius 17:20). 

Ya'qub bin Kilis menyampaikan ayat ini kepada Kalifah: "Kami menemukan ayat ini tertulis dalam Injil, bahwa kalau seorang mempunyai iman sebesar biji sesawi ia akan mampu memindahkan gunung". "Karena itu" , hasut Ya'qub bin Kilis, "Perintahkanlah mereka untuk membuktikan kebenaran ayat dalam kitab suci mereka, wahai Baginda Raja, apabila mereka tidak bisa melakukannya,  mereka harus dihukum karena kepalsuan dan kebohongan agama mereka".  

3. MUKJIZAT BERPINDAHNYA BUKIT MUQATAM 

Akhirnya,  demi keadilan Kalifah memanggil Patriarkh Abram bin Zahra,  supaya orang-orang Kristen membuktikan kebenaran yang ditulis dalam Kitab Injil.  Mereka disuruh meminta Allah untuk memindahkan bukit yang berdiri mengelilingi Birkat Elphil, dekat Al-Azhar sekarang. Tentu saja ini tantangan yang mustahil secara manusia. Tetapi sebagai pemimpin tertinggi umat Kristen di Mesir,  hal itu harus dilakukannya demi mempertaruhkan eksistensi hidup umat Kristen di Mesir pada zaman itu. 

Apalagi, Kalifah sudah setuju dengan empat opsi yang ditawarkanlan oleh kedua orang Yahudi itu:
1. Memenuhi dan mewujudkan perintah Injil untuk secara harfiah memindahkan gunung. 
2. Seluruh umat Kristen harus masuk Islam, apabila imannya tidak terbukti.
3. Jika tidak mau masuk Islam, umat Kristen haus meninggalkan Mesir dan berpindah ke negara lain.
4. Jika mereka tidak mau meninggalkan Mesir, sementara mereka tidak mau masuk Islam, mereka harus dibunuh (Anba Matheus, 2003:51).

Menghadapi pilihan yang sangat sulit itu, Sang Patriarkh menyerukan agar seluruh umat Kristen berdoa dan berpuasa selama tiga hari tiga malam.  Dan selama hari-hari puasa tersebut banyak fenomena surgawi terjadi untuk meneguhkan agar Patriarkh tetap berpegang teguh kepada imannya.  Pertolongan Allah terjadi tepat pada waktunya, ketika akhirnya datang seorang bernama سمعان الخراز‎ "Sam'ān al-Kharrāz" (Simon pengamat kulit),  yang mendapat pesan surgawi melalui Sayidatina Maryam al-Adra' (Bunda Perawan Maryam) agar disampaikan kepada imam terringgi Gereja Ortodoks Koptik itu. 

"Wahai Patriarkh yang mulia, naiklah ke bukit itu bersama-sama dengan semua pemimpin gereja,  imam-imam, diaken dan kepala-kepala diaken,  bawalah Alkitab, salib Kristus,  dan lilin-lilin sebagai penerang di bukit itu.  Setelah melakukan sakramen suci,  tegakkanlah mukamu ke surga, dan serukanlah dengan suara nyaring: كبريا ليسون "Kyrie eleison!"، كبريا ليسون "Kyrie eleison!"، يا رب ارحم "Ya Rabbu irham!" , يا رب ارحم  "Ya Rabbu irham!" .... Bersujudlah kepada Allah yang Maha tinggi,  setiap berdiri buatlah tanda salib ke arah bukit itu,  nanti engkau akan menyaksikan kemuliaan Allah tepat wpada waktunya! ". 

Setelah Kalifah dan seluruh warga kerajaan bertemu dengan Patriarkh Abraham,  mereka siap menyaksikan apa yang akan terjadi.  Sang Patriarkh melakukan apa yang disampaikan oleh Sam'an al-Kharaj.  Setelah melakukan sakramen dan doa-doa,  Patriarkh,  imam-iman, para rahib dan para diaken berseru dengan suara nyaring:  كبريا ليسون  "Kyrie eleison!" كبريا ليسون "Kyrie eleison!",  berulang-ulang sampai 400 kali ke arah timur,  barat,  utara dan selatan,  tiba-tiba bukit itu perlahan mulai bergerak,  kemudian benar-benar berpindah oleh kuasa Allah dalam nama Kristus. 

Menyaksikan mukjizat yang terjadi di depan mata semua orang,  Kalifah Mu'iz li dinillah berseru: عظيم هو الله تعلي  'Adzimu Huwallah ta'ala!",  عظيم هو الله تعلي  'Adzimu Huwallah ta'ala"،  تبارك اسمك  "Tabaraka ismuka" (Allah Maha Agung dan Maha Tinggi, Allah Maha Agung dan Maha Tinggi, Terpujilah nama-Mu). "Cukup. Cukup, ya Patriarkh!", seru Sang Kalifah.  لقد اثبتم ان أيمانكم هو ايمان حقيفي "Laqad atsbatam anna  imanukum huwa imanun haqiqi!" (Telah kalian buktikan bahwa  iman kalian adalah iman yang benar!).

Bukit yang semula berada di Birket Elphil itu memang benar-benar berpindah berjalan sekitar 3 kilometer dari tempatnya semua, suatu fenomena adikodrati yang mungkin mirip bergesernya pantai-pantai akibat tsunami beberapa tahun yang lalu. Karena itu bukit tersebut smapai kini dikenal  مقطم "Muqatam",  ynag berasal dari kata مقطع "maqtha'un"  (terbelah). Sampai hari ini,  Gereja Ortodoks Koptik memperingati mukjizat berpindahnya bukit Muqatam ini dengan puasa 3  hari sebelum 40 hari صوم الصغير "Shaum al-Shaghir" (Puasa kecil), yaitu tmenjelang perayaan Natal ('Id al-Milad), yaitu tanggal 25-27 Nopember. 

Mukjizat ini dicatat oleh seorang saksi mata dan pelaku peristiwa itu,  yaitu Anba Saweris Al-Muqaffa' dalam bukunya  تاريخ بطاركة كنيسة الإسكندرية القبطية  "Tarikh Al-Bathrikiyyah al-Kanisah al-Iskandariya al-Qibhtiya" (Sejarah Kepatriarkhan Gereja Koptik Alexandria). Bahkan Aziz S. Atiya dalam bukunya  تاريخ  المسيحية الشرقية "Tarikh Al-Masihiyya al-Syarqiyya" (Cairo, 2005:88), mencatat dari sumber lain demikian: شهد المعز بصحة الايمان المسيحي  و تعرف عليه، وتم تعميده. وقضي بقية حياته في دير، و تنازل عن العرش لإبنه  "shahada al-Mu'izz bishihat al-iman al-Masihi wa ta'rif 'alaihi watama ta'amidihi wa qudi baqiyat hayatihi fi dir wa tanazul 'an al-'arsy li ibnih" (Al-Mu'izz menyaksikan dan mengetahui keabsahan iman Kristiani akhirnya dibaptiskan, lalu menghabiskan sisa hidupnya di biara, setelah turun takhta dan mewariskannya kepada anaknya).

Sebuah tempat baptisan kuno yang berbeda dengan tempat-tempat baptisan Koptik lain di Gereja "Abu Sifain", Old Cairo, yang masih eksis sampai hari ini, dikenal sebagai معمودية السلطان  أن المعز لدين الله الخليفة الفاطمى قد تعمد فى هذه المعمودية "Ma'mudiya al-Sultan an Al-Mu'izz li Din Allah al-Khalifa al-Fathimi qad ta'amid di hadzihi al-Ma'mudiyah" (Baptisan Sultan, di sini "Mu'iz li dinillah, Khalifah Fatimiyyah, telah dibaptiskan dalam pembaptisan ini). Sebelum pengunduran dirinya, Al-Mu'iz telah menunjuk putranya, Abu Manshur Nizar Al-Aziz Billah ssbagai putra mahkota, yang akhirnya menjadi penggantinya, yang bertakhta antara  365-386 H/975-996 M. 

4. CATATAN PENUTUP 

Tentu saja, ada beragam sikap orang dalam menganggapi kisah mukjizat ini, khususnya di era sekarang. "Para penulis Muslim", tulis Aziz S. Atiya selanjutnya, "seperti Ahmad Zaki Basha dan 'Abdullah 'Enan, menolak kisah mukjizat ini". Meskipun tidak menulis terjadinya mukjizat Muqatam, penulis Muslim Muhammad Suheil dalam  تاريخ الفطميين "Tarikh al-Fathimiyyin" (2015:338), mencatat bahwa Al-Mu'iz sendiri mengawasi langsung pembangunan Gereja "Abu Sifain" dan Gereja "Al-Mua'alaqah", karena sekelompok kaum Muslim Sunni yang menghalang-halangi pembangunan kedua gereja tersebut.

Sejarah mencatat, Kalifah Al-Muiz li Dinillah meninggal di Cairo, pada tanggal 11 Rabi' al-Akhir 365 H/18 Desember 975 M. "Abu Manshur Nizar, putra mahkota. yang meggantikan takhtanya, selama delapan bulan tidak mengumumkan kematian ayahnya", tulis Muhammad Suheil Thaqqusy. Mengapa? Tidak ada catatan sejarah tentang hal itu. Namun seandainya tradisi Ortodoks Koptik yang sekilas  kita kutip benar, maka kebijakan Al-Aziz Billah tersebut dengan mudah bisa dijelaskan. Barangkali karena pertimbangan stabilitas politik, karena Kalifah Al-Mu'iz li Dinillah telah wafat di sebuah biara sebagai seorang pengikut Kristus.¶

Yogyakarta, 31 Januari 2019

Minggu, 03 Februari 2019

KISAH TUJUH PENGHUNI GUA EFESUS DAN RELASI AGAMA-NEGARA DALAM PERSPEKTIF PANCASILA

*ET'PATAH ISCS*
Jum'at, 25 Januari 2019


*ASHHAB AL-KAHFI: KISAH TUJUH PENGHUNI GUA EFESUS DAN RELASI AGAMA-NEGARA DALAM PERSPEKTIF PANCASILA*

Oleh *Bambang Noorsena*


*1. ADICARITA*

Syahdan, tersebutlah tujuh pemuda yang bersembunyi di sebuah gua dekat kota Efesus. Mereka adalah Akhilius, Dionisius, Uknius, Stefanus, Faritius, Sebastius, dan Fariakus, yang menyelamatkan diri karena dikejar-kejar oleh Dakius, Kaisar Roma yang sangat bengis dan tanpa ampun menyiksa para pengikut Kristus, karena mereka menolak penyembahan berhala.

Para pemuda itu merasa sangat letih lalu tertidur nyenyak. Mereka merasa tertidur hanya dalam hitungan jam atau hari, padahal Allah menidurkan mereka di gua itu lebih dari 200 tahun lamanya. Mereka masuk dalam gua pada zaman Kaisar Dakius memerintah antara tahun 249-251 M, dan tidak keluar dari gua itu sampai tahun 447 M, yaitu ketika Kaisar Theodosius II mendaki takhta kekisaran.

Ketujuh pemuda itu benar-benar tercengang, ketika terbangun dari tidur panjang mereka, sebab Kekristenan benar-benar telah tersiar luas. Salib yang dahulu adalah simbol aib dan kehinaan, saat terbangun dari tidur mereka, telah tersemat pada mahkota Kaisar dan para pembesar kerajaan. Sementara itu, pada waktu itu orang-orang Kristen lagi berdebat mengenai kebangkitan orang mati, karena sebagian rakyatnya tidak percaya. Sang Kaisar yang sedang memohon bukti dari Allah mengenai kebenaran ajaran itu, mendapat laporan bahwa tujuh orang pemuda dari Efesus ratusan tahun lampau telah dibangunkan dari tidur panjang mereka.

Mula-mula kisah itu diketahui dari seorang pemilik kedai makanan, karena salah seorang dari tujuh pemuda itu membeli makanan dengan "mata uang Dakius". *اعلم ايها الملك _"A'lam, ayyuhâ al-Malik!_ (Ketahuilah, wahai Baginda)"*, kata Akhilius *، ان الرب قد بعثنا لأجلك ببل الميعاد العظيم _"anna ar-Rabba qad ba'itsnâ li ajlika qabla al-mî'âd al-'adzîm"_ (Sesungguhnya Tuhan telah membangkitkan kami demi paduka sebelum kebangkitan pada akhir zaman)*.

Kaisar sangat bersyukur kepada Allah. *اذن عش في سلام في ايمانك الكامل _"idzan asya fî salâm fî îmânika al-kāmil"_ (Karena itu, hiduplah damai dalam iman yang sempurna)*, pesan seorang dari *_ashhab al-Kahfi_* itu. Setelah itu, mereka diwafatkan kembali oleh Allah, dan Kaisar membangun gereja di dekat gua tersebut, lengkap dengan *inskripsi _(raqîm)_* demi mengenang dan mengabadikan iman ketujuh pemuda Efesus itu *(Taufiq Hafidz, tt: 26-32)*.


*2. SUMBER KISAH DAN APLIKASINYA DALAM RELASI*
     *AGAMA-NEGARA DI TIMUR TENGAH*

Kisah *اصحاب الکهف‎ _"Aṣḥāb al-Kahfi"_ (Penghuni Gua)* yang sangat terkenal di gereja-gereja Timur ini dikenal sejak abad keenam Masehi, bersumber dari buku *مجد الشهداء _"Majdu as-Syuhada"_ (Glory of the Martyrs)*, yang ditulis oleh Mar Gregorius dari Tour (538-594), yang berasal dari sumber bahasa Syriac/Aramaik yang lebih tua lagi, antara lain Mar Ya'qub Serugh (450-521) dalam "Acta Sanctorum"-nya. Kisah Tujuh Pemuda Efesus ini sangat populer di Gereja Ortodoks Syria, karena dicatat dalam "Chronice" Moran Mar Dionysius I Tell Mahre *(ܕܝܘܢܢܘܣܝܘܣ ܬܠܡܚܪܝܐ, _Dionysius Telmaharoyo_)*, Patriarkh Antiokia (818-845).

Taufiq Hadidz dalam bukunya *_"Ahl al-Kahfi fī al-Mashādid al-Suryāniyyah"_* (Cairo: Nahdhat al-Mishr, t.t.), membandingkan paralel kisah ini dengan *surah ke-18 Al-Qur'an*, yaitu *Surah Al-Kahfi*. Kisah _Aṣḥāb al-Kahfi_ (baca: _Aṣḥābul Kahfi_ ) secara dramatis melukiskan sejarah perjumpaan agama dan politik pada masa-masa awal sejarah Kekristenan, bahwa agama akan kehilangan "asin garam"-nya dan tidak terdengar lagi fungsi profetisnya tatkala berselingkuh dengan kekuasaan.

Agama tersubordinasi di bawah kekuasaan akan menjadi "alat legitimasi" belaka dari kemauan politik kelompok yang sedang berkuasa. Tak jarang pula agama memaksakan klaim kebenaran teologisnya dengan meminjam tangan kekuasaan. Itulah awal tindakan kekerasan atas nama agama. Sejarah perkembangan agama-agama besar sendiri telah membuktikan itu.

Ketika Kaisar Theodoseus II (406-450) menjadikan Kristen sebagai "agama negara", Kekristenan seperti "naik kelas" dari agama rakyat teraniaya yang secara sembunyi-sembunyi beribadah di _katakombe-katakombe_ (gua-gua) menjadi agama penguasa dengan segala atribut kebanggaan-nya. Euphoria yang merayakan gegap gempitanya masa transisi dari "agama rakyat" ke "agama negara" ini yang hendak digambarkan dalam kisah para penghuni gua ini.

Ternyata situasi tidak menjadi lebih baik ketika Kristen menjadi "agama negara". Justru lembaran sejarah gereja selanjutnya dipenuhi dengan penindasan demi penindasan, yang ironisnya dilakukan oleh saudara seiman mereka sendiri. Gereja-gereja di wilayah Timur Tengah, yang paling sering menjadi korban sasaran fitnah, dicap sebagai aliran heresy (bidah).

Dan pada saat puncak penganiayaan sesama Kristen itu, justru tentara Arab Muslimlah yang membebaskan mereka. Misalnya, pengalaman Gereja Koptik di Mesir, seperti dicatat oleh Aziz S. Atiya, dalam bukunya *تاريخ المسيحية الشرقية _"Tārīkh Al-Masihīyyat al-Syarqiyyah"_* (Cairo: Maktabah Al-Mahabbah, 2003). Kisah kemartyran Mar Mina (St. Menas), saudara Patriarkh Koptik Benyamin, pada tahun 632 AD sebagai martyr di tangan Cyrus, utusan Kaisar Heraklius, yang dalam sejarah Islam dikenal dengan Mauwaqis ini, telah mendorong mereka lebih menyambut Islam sebagai pembebas, tujuh tahun sesudah peristiwa itu.

Tetapi lembaran hitam sejarah tak ayal terulang, ketika Islam juga dijadikan pendukung "status quo" dinasti Ummayah, seperti yang tampak pada zaman pemerintahan Kalifah 'Umar bin 'Abd al-Aziz atau Umar II (682-720) yang terkenal adil di kalangan rakyat jelata, dalam urusan agama bersikap sangat diskriminatif terhadap kaum Yahudi dan Kristen.


*3. SEKULARISASI BUKAN SEKULARISME ANTI-AGAMA _(LÂ DÎNIYAH)_*

Sayangnya, ide pemisahan agama dari negara ini sering disalahpahami dan dicap sebagai ide "sekuler". Istilah "sekuler" sudah sejak lama menimbulkan alergi dan reaksi yang apriori. Tetapi sebenarnya, reaksi itu lebih diarahkan pada penerapan sistem itu yang sebaliknya terlalu ekstrim di Barat, dimana proses penyelenggaraan negara disterilkan sama sekali dari moralitas agama.

Fenomena ini lebih populer disebut dengan sekularisme. Padahal istilah sekularisasi (Latin: _"saeculum"_, artinya "dunia"), justru mula-mula diarahkan untuk menghantam paham kekuasaan "totalitas kosmik" (ontokrasi) yang mengeramatkan segala yang ada, termasuk pendewaan terhadap raja dan negara. Nah, dalam kekuasaan-kekuasaan absolut inilah agama dijadikan justifikasi untuk merebut dan melanggengkan kekuasaan.

Sebaliknya, justru melalui sekularisasi ditempatkan kembali "(kekuasaan) dunia" yang selama itu disakralkan, sebagai dunia _(saeculum)_ yang bersifat _profan_ belaka. Dalam sejarah agama-agama semitik, proses desakralisasi kekuasaan itu dimulai dari Israel (agama Musa) yang dilukiskan oleh Th. Van Leuwen seperti _"a breaks is made with the everlasting cycle of nature and the timeless presentness of myth"_ (suatu pemutusan lingkaran alami yang melilit abadi dan mitos tanpa waktu).

Melalui proses tersebut selanjutnya Barat melalui _Renaisance_ dan _Aufklaerung_ – meminjam padanan istilah Cak Nur (Dr. Nurcholish Madjid) – melakukan proses desakralisasi tanpa ampun yang akhirnya menghantam dan membabat kekuasaan absolut _"droit divin"_ (kekuasaan ilahi raja), yang di belahan dunia Timur paralel dengan paham kekuasaan "dewa-raja".


*4. CATATAN PENUTUP*

Pengalaman sejarah ini yang telah mengantarkan Bung Karno untuk memilih paradigma simbiotik relasi agama dan negara. Bagi Bung Karno, gagasan yang bisa kita sebut *paradigma Pancasila* ini, sama sekali bukan berarti mendepak agama dari penyelenggaraan negara, melainkan justru *"memberikan kepada agama itu satu singgasana yang mahakuat di dalam kalbunya orang percaya" (Di bawah Bendera Revolusi, Jilid I, 1964)*.

Jadi, kita memilih Pancasila untuk menghindari 2 pilihan yang sama-sama buruk: *"bukan negara agama"*, dan *"bukan negara sekuler"*. Meminjam istilah Th. Van Leuwen dalam _Christinity in the World History_ (London: Edinburg House Press, 1986:331), dengan memilih Dasar Negara Pancasila yang sila pertamanya Ketuhanan Yang Mahaesa, _"a connection between the state and the religion could be maintained without the proclamation of an Islamic state"_ (hubungan antara negara dan agama dapat tetap dipertahankan, namun tanpa harus memproklamasikan sebuah negara Islam). ¶


*"De Museum Cafe" Malang, 25 Januari 2019*

*2018 ¶ ISCS©All Rights Reserved*



"Artikel Seri Natal" dalam *program ET'PATAH ISCS*, bisa diakses melalui tautan-tautan berikut ini:

*1. ET'PATAH ISCS*, Jum'at, 14 Desember 2018
_Answering The Anti-X'mas Myths_ : Sejarah Perayaan Natal 25 Desember

*2. ET'PATAH ISCS*, Jum'at, 21 Desember 2018
_Answering The Anti-X'mas Myths_: Migdal Eder, Natal dan Mitos Betlehem Bersalju

*3. ET'PATAH ISCS*, Jum'at, 28 Desember 2018
Dialog Imajiner St. Nicolas dari Myra dan Patriarkh Demetrius I dari Alexandria: 25 Desember Kelahiran Dewa Matahari?

*4. ET'PATAH ISCS*, Jum'at, 4 Januari 2019
Dialog Imajiner Kabar dari Efesus: Sejak Dulu Dajjal Nggak Suka Natalan

*5. ET'PATAH ISCS*, Jum'at, 11 Januari 2019
Dialog Imajiner Rahib Dionysius Exiguus dan Kyai Tunggul Wulung: Kontroversi Perayaan Tahun Baru

*6. ET'PATAH ISCS* Jum'at, 18 Januari 2019
Dialog Imajiner Rahib Dionysius Exiguus dan Kyai Tunggul Wulung: Bintang Betlehem dan The Magi Code

KANĪSAH AL-QIYAMAH (GEREJA KEBANGKITAN), YERUSALEM: SAKSI BISU PASANG SURUT TOLERANSI DI KOTA SUCI

KANĪSAH AL-QIYAMAH (GEREJA KEBANGKITAN), YERUSALEM: SAKSI BISU PASANG SURUT TOLERANSI DI KOTA SUCI  (Suatu Refleksi Menyambut Pilpres 2019) ...