Jumat, 26 Januari 2018

Menjadi saluran berkat

Menjadi Saluran Berkat

Teks: Kisah Para Rasul 2:45
"dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing."


Shalom, saudara-saudari terkasih dalam Tuhan Yesus. Mungkin kita pernah mendengar atau menyanyikan lagu lawas ini:

Jadikan aku saluran berkat
(Ira B. Wilson, 1924 | SCHULER | George S. Schuler,1924 | 6/4 Do = C)

Di dalam hidup berliku – liku, banyak keluh dan kesah.
B'ri terangmu di tempat g'lap itu
Girangkanlah yang susah

Reff
Jadikan aku saluran berkat dan pemancar terang Yesus
Jadikan aku, oh Juru s'lamat, saluran berkat bagi s'kalian.

Bagian 2
Undangkanlah kasih-Nya yang murni, Yesus memb'ri ampunan
Yakinkan orang lain dengan bukti
Hidup yang penuh iman

Dahulu saya juga cukup sering menyanyikan lagu ini, namun kurang sungguh-sungguh menghayati arti lagu ini. Lagu ini boleh dibilang semacam nazar di hadapan Bapa di surga: "jika Engkau memberiku umur panjang dan kesehatan maka aku berjanji menjadi saluran berkat."
Terlalu banyak orang Kristen zaman now hanya mencari berkat-berkat Tuhan, makin banyak dan tidak ada kata puas, namun mereka acap lupa akan tugas menjadi saluran berkat.
Dalam kesempatan kebaktian Natal tahun lalu, Pdt. Stephen Tong bercerita tentang Rev. Joel Osteen, seorang televangelis yang sangat terkenal di Amerika. Dan gerejanya sangat besar di suatu bukit di Houston, negara bagian Texas.
Suatu kali Houston mengalami banjir, dan sebagian besar kota itu terendam. Di antara daerah yang tinggi adalah bukit tempat gereja Osteen. Tapi sungguh tidak disangka orang, dia memerintahkan untuk menutup rapat-rapat pintu gerejanya bagi pengungsi. Dia mengatakan bahwa gereja tersebut hanya untuk para anggota. Akhirnya, muncul kartun di surat kabar yang menyindir sikap Osteen.

Gereja yang cair
Demikian pula dengan banyak gereja di negeri ini, kita semua mesti bertobat dari sikap kaku dan legalis sebagai gereja, dan belajar menjadi gereja yang ramah, terbuka dan cair bagi masyarakat. Lihat buku Liquid Church karya Pete Ward.*
Saya juga sedang belajar menjadi seorang Kristen yang cair, mengalir dan menjadi saluran berkat bagi sesama saya. Kira-kira dua tahun lalu saya mulai mengganti doa saya, dari: "Tuhan berkati dan lindungi saya," menjadi "Tuhan, jadikan aku saluran berkat-Mu bagi sesama."
Dan kira-kira awal tahun 2017 Roh Kudus berbisik bahwa Ia akan menyediakan berkat yang cukup agar saya bisa menjadi saluran berkat. Mulai 2017 itulah saya lebih sering merasakan berkat Tuhan yang melebihi kebutuhan saya, sehingga mulai dapat menolong orang-orang di sekitar saya.

Memberi dan menerima
Saya makin dikuatkan juga oleh karya profesor bisnis dari Wharton, Adam Grant. Beliau menulis bahwa di antara pemberi, penerima dan penyeimbang, si pemberilah yang lebih berpeluang mencapai prestasi dalam hidup. Saya jadi tersadar akan kalimat Paulus: "Lebih berbahagia memberi daripada menerima." (Kis. 20:35)
Jika diringkas, prinsip memberi dahulu baru menerima ini dapat disebut "GaTE principle" (Give and Take Economy), dan ini merupakan antitesis daripada ekonomi berbasis keserakahan dan egosentrisme sebagaimana yang kita pelajari dari buku-buku teks ekonomi, misalnya Adam Smith.
Memang sikap keserakahan itu berawal dari ketakutan dan kecemasan akan hari esok. Namun bukankah Yesus mengajarkan kita untuk tidak perlu khawatir akan hari esok? Dalam tindakan memberi itulah sesungguhnya Anda mengambil tindakan iman akan Tuhan yang Mahabaik yang senantiasa membalas apa yang dilakukan orang. Bacalah janji Tuhan:

"Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Luk. 6:38)

Itulah prinsip ekonomi Kerajaan Surga, ekonomi berbasis rasa aman bukan rasa takut, belas kasihan bukan keserakahan. Karena justru dalam memberi dan berbagilah maka individu menemukan makna akan hidupnya.
Dan ekonomi yang sehat dan membahagiakan adalah jika masyarakat terbiasa untuk saling memberi, itulah landasan kohesi sosial. Saya kira nilai-nilai berbagi dan kohesi sosial itu juga merupakan amanat sila keadilan sosial dalam Pancasila.**
Kini saya terus berdoa, "Tuhan. Jadikan saya saluran berkat-Mu yang lebih baik lagi."

Bagaimana dengan Anda?

versi 1.0: 27 januari 2017, pk. 12:43
VC

Catatan:
*terimakasih kepada Bp. Pdt. Dr. Robby Chandra atas seminar beliau tentang Liquid Church, awal desember 2017.
**lihat artikel saya tentang budaya Cin-cai dan welasan dalam terang ekonomi hospitalitas. V. Christianto, Teologi Yesus sobat kita. Penerbit Nulisbuku.com, 2017.

Referensi:
(1) https://letlostgetfound.wordpress.com/2011/07/10/jadikan-aku-saluran-berkat/
(2) Pete Ward. Liquid Church. https://www.amazon.com/Liquid-Church-Pete-Ward/dp/0801047986
(3) Pete Ward. Liquid Ecclesiology. http://www.brill.com/products/book/liquid-ecclesiology
(4) Adam Grant. Give and Take. https://www.ted.com/talks/adam_grant_are_you_a_giver_or_a_taker
(5) Give and take and social solidarity. Url:





Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://nulisbuku.com/books/view_book/9694/sastra-harjendra-ajaran-luhur-dari-tuhan-a5
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains
http://nulisbuku.com/books/view_book/9693/jalan-yang-lurus-manual-anak-anak-terang-a5
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Fundamental problem with the Schrodinger's wave mechanics


For those who are interested in mathematical foundations of QM, here is an explanation by Prof. Akira Kanda on Fundamental problem with the Schrodinger's wave mechanics:

=======
So, why did Schrodinger put de Broglie's relation and Hamiltonian together to
achieve "particle-wave duality"? I can not find convincing scientific
reason for this.

1. Einstein and Planck showed a "successful" wave-particle duality of
light and photon. Einstein used relativistic energy-momentum to do this
[not knowing the contradiction coming from e=hf=0/0 which is
e=sqrt((cp)^2+(m0)^2c^4)=cp=m0cv/sqrt(1-(v/c)^2=(0/0)cv=c^2hhf].
This apparently "solved" the mystery of the double slit experiment for
light. Indeed, Schrodinger managed to "explicate" this using the
uncertainty principle for light/photon. [By the way, Suntora showed that
the blackbody radiation problem is resolved by considering the light wave
used to be monochromatic waves rather than harmonic waves. So, Planck's
quantization is not needed at all.]

2. De Broglie wanted to have the same duality for any particle to
explicate the double slit experiment. Following the steps of Planck who
quantized mathematical em waves, he tried to quantize mathematical plane
waves. In stead of  Einstein's relativization 0/0 of Planck's photon, he
relativized (transformed) wave "functions" not wave equations in terms of
wavenumber and frequency. [BTW this was a correct thing to do. As I have
been arguing for many years, wave functions and wave equations are not the
same thing. For example, Galilean transformation of wave functions are
wave functions but it is not the case for wave equations. But, I do not
see why it has to be Lorentz transformation rather than Galilean
transformation. The only reason seems to be because Einstein relativised
Plank's photon using Lorentz transformation.  0/0 comes from the gamma
factor which was the wrong thing to do.]

3. It turned out to be that the Lorentz transformation of plane wave
equation as "(wave number)-(wave frequency) relation" and that of
"energy-momentum relation" are mathematically the "same form. From this
"symbolic analogy", de Broglie concluded that "if there was a connection
between wave and particle, the following relation must be true:
                             p=(h/2pi)k and E=(h/2pi)f
where k is the wave number and f is the wave frequency." What is important
here is that de Broglie never said that there "is" a connection between
wave and particle. He said that "if" there is then it must be expressed as
the equations above. This is not to say that wave and particle are always
connected through the equations (de Broglie relation) above.

4. Schrodinger was looking for a mathematical formalism to connect
particles of Newtonian mechanics (not just a particle as de Broglie
presented) and desired wave representation of it. He represented classical
particles as Hamiltonian energy equations. Then using the hypothetical de
broglie relation namely p=(h/2pi)k, he converted Hamilton's energy
equation to the so called Schrodinger wave equation.

So, after all, Schrodinger's wave mechanics was developed upon "not the
fact but the assumption" that the wave particle duality exists in the form
of de Broglie relation. So, even today it is not clear if Schrodinger
really established a physical fact that wave-particle duality exists. He
just assumed the wave-particle duality and presented a mathematical
equation which describes such assumed duality.

This fundamental problem was never understood nor noticed. Physics
community was too busy with "harvesting " the fruits grown in the
forbidden garden. I do not see that Feynman-Landau-Lifschitz Lagrangian
formalism of QM resolved this very essential problem. Nobody really
understood what Schrodinger-Feynman-Landau-Lifschitz did including
themeselves. Worshipping of mathematical formulas is sticking its ugly
head as usual.

*********************************

Akira

Kata-kata terakhir Steve Jobs


Kekayaan Alm. Steve Jobs pemilik Apple Computer Rp. 67 Triliun.

Kata2 terakhir Steve Jobs sebelum meninggal:

"Dalam dunia bisnis, aku adalah simbol dari kesuksesan, seakan-akan harta dan diriku tidak terpisahkan, karena selain kerja, hobiku tak banyak.
Saat ini aku berbaring di rumah sakit, merenungi jalan kehidupanku, kekayaan, nama,dan kedudukan, semuanya itu tidak ada artinya lagi.

Malam yang hening, cahaya dan suara mesin di sekitar ranjangku, bagaikan nafasnya maut kematian yang mendekat pada diriku.

Sekarang aku mengerti, seseorang asal memiliki harta secukupnya untuk digunakan dirinya saja itu sudah cukup. Mengejar kekayaan tanpa batas itu bagaikan monster yang mengerikan.

Tuhan memberi kita organ-organ perasa, agar kita bisa merasakan cinta kasih yang terpendam dalam hati kita yang paling dalam. Tapi bukan kegembiraan yang datang dari kehidupan yang mewah — itu hanya ilusi saja.

Harta kekayaan yang aku peroleh saat aku hidup, tak mungkin bisa aku bawa pergi. Yang aku bisa bawa adalah kasih yang murni yang selama ini terpendam dalam hatiku. Hanya cinta kasih itulah yang bisa memberiku kekuatan dan terang.

Ranjang apa yang termahal di dunia ini? Ranjang orang sakit. Orang lain bisa bukakan mobil untukmu, orang lain bisa kerja untukmu, tapi tidak ada orang bisa menggantikan sakitmu. Barang hilang bisa didapat kembali, tapi nyawa hilang tak bisa kembali lagi.
Saat kamu masuk ke ruang operasi, kamu baru sadar bahwa kesehatan itu betapa berharganya.

Kita berjalan di jalan kehidupan ini. Dengan jalannya waktu, suatu saat akan sampai tujuan. Bagaikan panggung pentas pun, tirai panggung akan tertutup, pentas telah berakhir.

Yang patut kita hargai dan sayangi adalah hubungan kasih antar keluarga, cinta akan suami-istri dan juga kasih persahabatan antar-teman."

HARGAI SETIAP DETIK 
DALAM KEHIDUPAN KITA, ISI HIDUP KITA DENGAN PERKARA PERKARA YANG TIDAK BISA DIBELI DENGAN UANG.

Semoga bermanfaat...!

---
* terimakasih kepada Pak Kok Thai telah berbagi kisah ini


Dikirim dari ponsel cerdas Samsung Galaxy saya.

Yesus mengetuk

M E N G E T UK P I N TU*

Pernahkah Anda melihat gambar Tuhan Yesus yg sedang berdiri di depan sebuah pintu sambil mengetuk?
Gambar tersebut dibuat oleh seorang seniman bernama Holman Hunt.
Ada peristiwa menarik saat Holman Hunt membuat gambar tersebut.
Ketika ia sudah selesai menggambar, ia ingin mengetahui tanggapan dari rekan-rekannya terhadap gambar Tuhan Yesus yg sedang berdiri di depan pintu dan mengetuk.
Semua rekan-rekannya dgn teliti dan kritis mencoba menemukan kesalahan dalam gambar tersebut.
Namun, rekan-rekannya tersebut tidak dapat menemukan kesalahan, justru mereka memuji gambar tersebut.
Hal ini membuat Holman Hunt tidak merasa puas, ia memanggil rekan-rekannya yg lain dan memintanya mencari kesalahan dgn lebih teliti secara profesional.
Tetapi, mereka pun tidak dapat menemukan kesalahan.
Sampai salah seorang rekannya yg masih amatir merasa menemukan kesalahan yg sangat mendasar, yaitu bahwa Holman Hunt lupa membuat pegangan pembuka pintu.
Akhirnya semua orang setuju itulah kesalahan mendasar yg dibuat Holman Hunt dalam gambar tersebut.
Tetapi, Holman Hunt memberikan jawaban yg mengejutkan semua orang bahwa itu bukan suatu kesalahan atau keteledoran.
Ia sengaja membuat gambar Tuhan Yesus berdiri di depan pintu yg tidak memiliki handel pintu luar, karena itu adalah gambar Tuhan Yesus yg berdiri di depan
*PINTU HATI* , bukan pintu rumah..........
Pintu Hati hanya bisa dibuka dari *dalam*, sehingga tidak ada handel pintu luarnya.
*Dalam kemahakuasaan-Nya, Tuhan Yesus tidak pernah memaksa seseorang untuk percaya kepada-Nya.
Dia tidak pernah menggunakan kuasa-Nya untuk memaksa Saudara bertobat dari dosa-dosa saudara.
Tuhan Yesus mau setiap manusia menggunakan kehendak bebas yg mereka miliki untuk memilih Dia daripada hidup dalam dosa.
Pilihan ini muncul dari suara hati manusia sendiri yg sudah dicerahkan oleh Roh Kudus.*
*Bila saat ini kita masih jatuh bangun dalam dosa, masih menyembunyikan dosa, atau tidak bisa melepaskan dosa, ingatlah Tuhan Yesus sedang berdiri dan mengetuk pintu hati kita.
*Dia tetap menunggu sampai kamu mau membuka pintu hatimu untuk menerima-Nya.*

*Jadi, jangan kunci hatimu ...... bukalah pintu hatimu lewat heningnya doa dan biarkan Tuhan Yesus masuk dan tinggal di dalam hatimu..*


```TUHAN MEMBERKATI```

---
*Terimakasih untuk bu Nelly



Dikirim dari ponsel cerdas Samsung Galaxy saya.

Rabu, 24 Januari 2018

Energi pengganti kompor gas

Energi pengganti kompor gas

Shalom, selamat siang saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus. Kira-kira 2 minggu lalu ada sebuah email dalam grup kami.
Beliau berkabar bahwa ada rencana pemerintah untuk menggantikan seluruh penggunaan gas elpiji dengan energi listrik PLN, tampaknya dengan pertimbangan bahwa penggunaan elpiji untuk kompor dan lain-lain mengakibatkan adanya defisit LNG sekitar 20-40 trilyun rupiah setahunnya (angka persisnya saya tidak tahu).
Saya bukan ahli ekonomi energi yang biasa menghitung penggunaan energi rumah-tangga rata-rata per hari. Namun, dengan logika sederhana saja, jika konsumsi gas rumah tangga akan dialihkan semuanya akan memberatkan tidak saja para ibu rumah tangga karena mesti menggantikan kompor gas dengan kompor listrik yang pasti beberapa kali lebih mahal, namun juga memberatkan PLN karena mesti menyediakan tambahan kebutuhan energi listrik per hari. Sekarang saja kapasitas listrik PLN di Jawa kabarnya hanya sedikit di atas beban puncak. Jika ini ditambah dengan konversi dari kompor gas, maka tentu beban harian tersebut akan melonjak.
Jadi melalui artikel ini perkenankan saya mengajukan usulan, mungkin baiknya pemerintah khususnya Kementerian ESDM berdialog dulu dengan kalangan Perguruan tinggi dan juga para ahli di LIPI dan BPPT, khususnya para ahli energi terbarukan, untuk mengkaji solusi terbaik akan problem defisit energi karena impor gas alam. Sebab hal ini menyangkut bukan saja keperluan jangka pendek energi nasional, namun juga ketahanan energi di masa depan.
Pada hemat saya, solusi terbaik bagi problem defisit energi LNG bukanlah sekadar konversi ke kompor listrik (karena ini hanya memindahkan masalah), namun diversifikasi ke energi terbarukan. Untuk itu, ijinkan saya mengulas sedikit energi melalui suryakanta (solar thermal), dan energi dari sampah, sebagai alternatif dari 5 model kompor standar: kompor gas, kompor kayu bakar, kompor minyak tanah, kompor listrik dan kompor induksi.

1. Energi melalui suryakanta
a. Penerapan konvensional
Kita semua pasti pernah bermain-main dengan suryakanta (lup) atau juga disebut kaca pembesar, mungkin pernah mencoba membakar selembar kertas dengan lup tersebut. Jika gejala ini diterapkan dalam skala besar, namanya adalah solar termal.
Menurut Adi Santosa, Kepala Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronika LIPI, "Berbeda dengan hasil pengumpulan titik api sinar matahari dengan lup, aplikasi solarthermal ini menghasilkan titik api berupa garis memanjang dengan pengumpul sinar berupa talang parabola."[2, hal. 226-228]
Panas titik api pada aplikasi solar thermal inilah yang dimanfaatkan untuk menciptakan penguapan zat cair. Kemudian, penguapan itu menghasilkan sistem fluida kerja berupa efek tekanan yang akhirnya dimanfaatkan sebagai penggerak turbin.
Pusat Penelitian Telimek LIPI memulai riset ini sejak 2009 dan prototipe aplikasi solar thermal ini dipasang di Gunung Kidul, Yogyakarta. Rencananya, teknologi ini akan banyak diterapkan di Indonesia bagian timur yang merupakan daerah yang paling banyak menerima sinar matahari.

b. Penerapan non-konvensional
Jika talang-suryakanta memanfaatkan langung energi termal matahari, sebenarnya ada alternatif lain untuk memanfaatkan energi matahari. Bagaimana itu? Dengan membenahi konsep kita tentang foton (partikel cahaya). Jika kita mengasumsikan foton bukan sebagai lintasan garis lurus cahaya matahari, namun merupakan gelombang berpilin elektronagnetik (helicoidal wave), maka jika foton ini menumbuk suatu medium, misalnya itu air suling, maka akan terbentuk semacam turbulensi pada medium tersebut, dan ini berpotensi untuk membangkitkan energi listrik.
Secara ringkas dapat dijelaskan:
Talang surya: sinar matahari - titik api - panas termal - listrik
Foton helikoidal : sinar matahari - foton - titik api - listrik
Memang eksperimen skala prototipe belum kami lakukan, namun sekitar 2006 penulis sempat melakukan eksperimen sederhana di belakang rumah, dengan suryakanta dan segelas air suling, dan ternyata memang setelah beberapa menit air suling tersebut terpapar sinar matahari terik yang dipusatkan oleh suryakanta, maka teramati sekian volt arus listrik pada Avometer. Silakan lihat paper kami di [5]
Selain untuk energi, model helikoidal foton juga berimplikasi pada adanya momentum orbital sudut (OAM), dan ini dapat dikembangkan menjadi transmisi gelombang radio berkapasitas tinggi untuk menyampaikan paket data. Apakah radio soliton OAM berpotensi dikembangkan menjadi internet 5G atau 6G? Tentu memerlukan penelitian lanjutan. Lihat [6][7]
Untuk model klasikal foton, lihat misalnya [3][4].

2. Energi dari sampah (Albakos)
Gas metana memiliki dampak pemanasan global 21 kali lipat dahsyatnya dibandingkan dengan karbon dioksida. Gas ini banyak dihasilkan dari proses pelapukan biomassa di sekitar kita. Namun, daya rusaknya terhadap lapisan ozon mudah dikurangi dengan cara mengubahnya menjadi energi yang dikenal sebagai biogas.
Soelaiman Budi Sunarto, pendiri PT. Agro Makmur di kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, melakukan hal tersebut. Ia merancang alat yang diberi nama "albakos," singkatan dari alat biogas konsumsi sampah. Sampah dikonsumsi untuk menghasilkan energi. Lihat [2, hal. 79-81].
Albakos berupa tungku pembakaran tertutup atau tidak sempurna (anaerob). Bahan bakarnya harus berupa sampah organik atau disebut biomassa yang kering, seperti jerami, sekam padi, ranting pohon, kayu ataupun limbah organik lainnya (seperti kulit durian, kertas, atau potongan rambut dari tukang pangkas rambut).
Albakos, karya inovator yang pernah dianugerahi Usaha Kecil dan Menengah Award (2008), Entrepreneur Award (2006), Agrobisnis Award 2004 tingkat nasional. Alat ini ukurannya tidak terlampau besar. Tinggi albakos 95 sentimeter, berdiameter 50 sentimeter dan berbobot 60 kg.

Penutup
Artikel ini ditulis dengan harapan akan membantu para pengambil kebijakan energi nasional untuk mempertimbangkan opsi energi terbarukan. Dua pilihan di atas hanyalah sebagian kecil teknologi terbarukan yang dapat dilakukan dengan sedikit inovasi.
Sebenarnya ada banyak teknologi tepat guna lain yang juga dapat dikembangkan menjadi kompor alternatif, misalnya menggunakan frekuensi resonansi. Intinya segala hal di alam semesta ini memiliki frekuensi resonansinya sehingga jika partikel air digetarkan dengan frekuensi tersebut maka akan mendidih dengan cepat. Apakah mungkin menggetarkan air sampai mendidih dengan frekuensi yang dibangkitkan dari ponsel ? Ini merupakan tantangan yang menarik bagi para inventor (penemu). Bacalah misalnya Tintin edisi Penculikan Calculus...
Kiranya ini saat yang tepat untuk mempertimbangkan pemanfaatan energi terbarukan yang tersedia secara gratis di alam, untuk mengurangi defisit energi negeri ini. Jika kita tidak memulai dari sekarang maka akan terjadi krisis ketahanan energi yang akut dalam beberapa tahun mendatang. Lihat [1].

Versi 1.0: 25 januari 2018, pk. 12:40
VC

Referensi:
(1) Pria Indirasardjana. 2020: Indonesia dalam bencana krisis minyak nasional. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2014.
(2) Nawa Tunggal. 60 inovasi pilihan Kompas. Jakarta: Penerbit Bulu Kompas, 2013
(3) Robert Brady, Univ. Cambridge. Classical model of photon. Url: https://www.lightbluetouchpaper.org/2015/02/23/maxwell/
(4) Carroll. http://www.space-lab.ru/files/pages/PIRT_VII-XII/pages/text/PIRT_X/Carroll.pdf
(5) V. Christianto & F. Smarandache. Observation of Anomalous Potential Electric Energy in Distilled Water Under Solar Heating. Paper tidak diterbitkan. Url: http://vixra.org/abs/1003.0090
(6) V. Christianto & Y. Umniyati. Four possible methods to extend Lehnert's screw-shaped photon: Towards Soliton Orbital Angular Momentum Radio (SOAmR). Url: https://www.researchgate.net/profile/Victor_Christianto/publication/298788350_Four_possible_methods_to_extend_Lehnert%27s_screw-shaped_photon_Towards_Soliton_Orbital_Angular_Momentum_Radio_SOAmR/links/56eb915c08ae9dcdd82ad8c7.pdf?origin=publication_detail
(7) Yao, A.M., and Padgett, M.J. (2011) Orbital angular momentum: origins, behavior and applications. Advances in Optics and Photonics, 3 (2). Url: homepage.cem.itesm.mx/fdelgado/ciencia/cadi/ref12.pdf


Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://nulisbuku.com/books/view_book/9694/sastra-harjendra-ajaran-luhur-dari-tuhan-a5
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains
http://nulisbuku.com/books/view_book/9693/jalan-yang-lurus-manual-anak-anak-terang-a5
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Selasa, 23 Januari 2018

Dom Knigi

Dom Knigi


Shalom, selamat malam saudara-saudariku yang terkasih dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Kalau JesusFreak bercerita tentang perbincangan di pantry, perkenankan saya bercerita sedikit tentang pengalaman saya dulu waktu sedang studi di Moskow sekitar 8-9 tahun lalu.
Karena agak frustasi disebabkan tidak bebasnya mengakses perpustakaan di kampus waktu itu (buku yang akan dipinjam hanya diambilkan, tidak boleh memilih sendiri), maka waktu itu saya berusaha mencari informasi dari galeri seni atau toko buku. Salah satu toko buku yang terkenal adalah Dom Knigi, yang artinya Rumah Buku (dom: rumah, knigi: buku). Lihat (1). Toko buku ini cukup besar di Rusia dan banyak cabangnya di berbagai kota.
Saya merasa sangat terbantu dengan toko buku tersebut,* meski jarang membeli buku yang mahal (waktu itu kurs 1 dolar AS setara 33.3 rubel). Jadinya ya sering ditegur oleh penjaga Dom Knigi.
Namun saya justru sempat melihat berbagai judul buku yang ada, paling tidak judulnya. Jika beruntung, saya sempat membaca kata pengantar dan daftar isi. Di antara yang menarik adalah karya penyair keturunan Rusia, Joseph Brodsky, yang kini bermukim di Amerika.(5)
Dan juga novelis Pelevin yang bukunya, P generation, sudah difilmkan.(4) Sepintas saya menyimak bab awalnya, buku itu menyoroti budaya post-mo di kalangan generasi muda kala itu, khususnya di Moskow. Novel ini secara garis besar berkisah tentang Tatarsky seorang desainer kreatif yang hidupnya berisi dunia gemerlap, penyalahgunaan obat, minuman keras, dan hal-hal lain yang khas generasi P yang dikisahkan oleh Pelevin. Memang saya menjumpai sebagian generasi muda Moskow memang lumayan dekat dengan gambaran seperti itu. Kalau dijabarkan dalam dua kata adalah: hedonisme dan banalitas.
Apakah ini juga mencerminkan generasi muda tahun 2000an hingga kini di pelbagai kota besar termasuk Jakarta? Entahlah, saya bukan pengamat atau ahli sosiologi.

Homo sovieticus
Namun yang menarik adalah tampaknya gejala ini agak berbeda dari yang diamati oleh Masha Gessen, jurnalis The New Yorker asal Rusia. Di antaranya Masha menemukan adanya "spesies" baru yang disebutnya "homo sovieticus." (2)(3)
Yang dimaksud Masha dengan homo sovieticus tampaknya adalah kaum muda (Moskow) yang tidak mengalami susahnya masa komunisme di Rusia, dan akibatnya secara tidak sadar mendukung pemerintahan semi-totalitarianisme saat ini. Apalagi Putin tampaknya cukup cerdik membangkitkan semangat akan kejayaan Rusia dahulu.
Ke mana arahnya semi-totalitarianisme itu saya tidak tahu, namun yang menjadi salah satu kekhawatiran saya adalah kebebasan berpendapat dan berserikat bisa jadi kian dibatasi, khususnya jika ada politikus muda yang berani terbuka dan berbeda pendapat dengan Putin.
Memang dalam diskusi tentang teori pembangunan, sering muncul perdebatan klasik, manakah yang mesti didahulukan: demokrasi liberal atau pemerintahan yang kuat? (8)
Dalam hal RRC tampaknya mereka memilih yang terakhir, artinya mereka sangat tegas terhadap para oposisi, termasuk para sastrawan dan gerakan mahasiswa.**
Yang lebih buruk, kabarnya ada beberapa gereja besar yang dibuldoser oleh pemerintah kota atas perintah Xi Jinping, termasuk gereja injili dengan tuduhan gereja itu beroperasi tanpa ijin resmi.
Apakah budaya represi ini akan melahirkan homo zapiens di RRC yang mirip dengan homo sovieticus di Rusia? Entahlah.

***
Kembali pada Dom Knigi, alasan lain mengapa saya suka "berselancar" di sana adalah karena selain misi formal untuk studi kosmologi di Moskow, ada keinginan tersembunyi untuk mencari jejak Cawan Suci Yesus (Holy Grail). Selain karena penggemar serial Indiana Jones, saya juga termotivasi oleh buku memoar seorang pelancong asal Indonesia yang kabarnya menemukan jejak Holy Grail di salah satu kapel di Moskow.(6)(7)
Namun selama lebih dari 4 bulan saya menjelajahi baik Dom Knigi dan belasan kapel di area kota Moskow bersama beberapa kawan, ternyata saya tidak menemukan petunjuk yang konklusif akan hal itu.

Pesan penutup
Sebagai penutup, ijinkan saya menghimbau kepada para manajer toko buku, agar memberikan kenyamanan khususnya kepada para pelajar dan mahasiswa (asing), karena mungkin toko buku itulah tempat yang nyaman bagi mereka untuk menggali informasi tentang kota Anda. Biarkanlah toko buku menjadi cagar budaya, tempat orang dapat menemukan sejarah kota mereka yang mungkin telah tergusur oleh gegap gempita mal.
Saya teringat beberapa tahun lalu ada sebuah toko buku di daerah Pondok Indah di Jakarta Selatan, yang pernah mengadakan nobar film berjudul Dr. Zhivago. Itu pertama dan terakhir saya melihat film tersebut. Sayang sekali kabarnya toko buku tersebut kini sudah tutup.

Versi 1.0: 23 Januari 2018, pk. 19:51
VC

Catatan:
* thank you so much to management of Dom Knigi to allow "studenski" like me to browse many book titles
** mengenai negeri ini agaknya demokrasi kita terlalu Western alias liberal banget, bahkan mungkin yang paling liberal di Asia. Apakah hal ini mendekati cita-cita para pendiri bangsa atau justru pengaruh Washington Consensus yang diselipkan dalam perjanjian utang LN kita? Silakan para ekonom yang mendiskusikan hal ini.

Referensi:
(1) http://www.moscow.info/shopping/books/moskovskiy-dom-knigi/


(2) Masha Gessen. The future is history. Url: https://www.amazon.com/dp/159463453X/?tag=thneyo0f-20
(3) Masha Gessen. The New Yorker. Url: https://www.newyorker.com/contributors/masha-gessen


(6) Indiana Jones and the Last Crusade. Url: http://www.metacritic.com/movie/indiana-jones-and-the-last-crusade


(7)  Holy Grail in moscow? Url: http://www.moscowid.net/tag/holy-grail/


(8) Marek Matusiak. Georgian dilemmas: between a strong state and democracy. url: http://aei.pitt.edu/58899/1/pw_29_en_1.pdf





Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup

Senin, 15 Januari 2018

"... dan dengan segenap akal budimu."

"... dan dengan segenap akal budimu."

Teks: Matius 22:37
37 "Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu."

Shalom, selamat siang saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan. Baru-baru ini saya terlibat dalam suatu diskusi via surel dengan seorang profesor fisika asal Italia, namanya Prof. Adriano Orefice.
Saya lupa persisnya apa diskusi yang mengawali, kalau tidak salah saya menyinggung tentang perlunya semua orang bertobat, termasuk juga para ilmuwan. Saya lalu menyitir teks Mat.22:37, yaitu bahwa kita mesti mengasihi Tuhan "...dengan segenap akal budi."
Namun kemudian rekan saya tersebut mengajukan pendapat yang agak mengherankan. Kira-kira dia berpendapat begini, kata asli yang digunakan untuk "kasih" dalam teks Mat. 22:37 itu adalah "agapeisis," yang artinya adalah bersimpati atau menyambut. Jadi, menurut dia, dia dapat mencintai istrinya (yang sudah almarhum), dia mencintai anaknya, namun dia bersimpati kepada Tuhan. Dia tidak dapat mencintai Tuhan.
Lalu, saya membandingkan beberapa terjemahan teks Mat. 22:37 dalam bahasa Inggris, dan hampir semua menggunakan kata "love." Jadi saya sampaikan kepadanya memang itu maksudnya ayat ini, yaitu bahwa kita mesti mendahulukan Tuhan di atas rasio atau akal budi kita, bukankah Tuhan yang menciptakan semua kapasitas berpikir kita? Terlebih jika kita membandingkan teks ini dengan Ulangan 6:5. Ayat ini menggunakan kata Ibrani "aw-hab", yang menurut kamus Strong artinya adalah "to have affection to..."(1)
Dengan kata lain, saya tidak menemukan rujukan apapun baik untuk kata aw-hab atau agapeisis, yang dapat diterjemahkan sebagai "bersimpati."


A. Beberapa kisah Alkitab
Baiklah kita mengingat sejenak beberapa kisah tentang para sahabat Tuhan:

1. Simon Petrus. Kata "to have affection to" merupakan padanan dari kata "philia" (Yun.), dan itu dapat kita temukan dalam dialog antara Yesus dan Petrus dalam Yoh. 21.
Ketika Yesus menanyakan kepada Petrus: "Apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada semua ini?", Ia menggunakan kata agapas (ay. 15). Dan saya kira yang Yesus maksudkan adalah merujuk kepada Ulangan 6:5 (pada waktu dialog tersebut Injil Matius belum ditulis). Jadi frase "lebih dari semua ini" lebih menyatakan kualitas kasih itu mesti melampaui apapun, yakni Yesus menuntut kasih dengan segenap hati Petrus dan dengan segenap jiwa Petrus dan dengan segenap akal budi Petrus. Dan Petrus menjawab Dia dengan kata philo. Memang banyak tafsiran tentang ketiga pertanyaan Yesus ini, mengapa Dia bergeser dari agape menjadi philia dalam pertanyaan terakhir (ay. 17), namun penafsiran yang cukup bertanggung jawab adalah bahwa pertanyaan Yesus itu mengacu kepada Ul. 6:5 yang kemudian dikutip dalam Mat. 22:37.

2. Abraham. Demikian pula ketika Tuhan meminta Abraham mengurbankan anaknya, dan akhirnya itu dibatalkan setelah Tuhan melihat Abraham benar-benar akan melakukan hal itu. Jika kita membaca teks ini dalam terang Ul. 6:5, bukan persembahan anak-anak yang diminta Tuhan (seperti banyak terjadi dalam upacara penyembahan berhala tradisional), namun Tuhan menuntut Abraham meletakkan prioritas kasihnya yang terutama untuk Tuhan, bukan kepada anaknya yang diperoleh setelah penantian yang cukup lama.
Saya yakin Abraham juga berat hati ketika dalam perjalanan ke gunung bersama Ishak. Namun ternyata Abraham menunjukkan "aw-hab" kepada Tuhan di atas aw-hab kepada Ishak. Dan iman seperti itulah yang membuat Abraham diperhitungkan sebagai bapa orang beriman. Artinya Abraham menjadi teladan bagaimana kita semestinya menempatkan cinta kepada anggota keluarga kita tetap di bawah cinta kepada Tuhan.

3. Ayub. Dia diberkati dengan kekayaan yang berlimpah dan juga keluarga dan anak-anak yang banyak, namun Iblis menuntut untuk mencobai Ayub dengan mengambil semuanya itu. Ternyata kisah Ayub menunjukkan bahwa dalam keadaan tersulit dan berpenyakit parah pun Ayub tidak mau mengutuki Tuhan, bahkan saat istrinya menyuruhnya berbuat demikian.

Beberapa teladan tokoh Alkitab di atas kiranya menjadikan jelas apa maksudnya frase "lebih dari semua ini" yang diminta Yesus kepada Simon Petrus dan juga itu pertanyaan yang diajukan Yesus kepada kita semua yang mengaku pengikut Kristus.


B. "Dan dengan segenap akal budimu"
Dalam frase ini terletak perbedaan dengan Ul. 6:5 di mana kriteria ketiga adalah segenap kekuatan.

"Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu."

Jika demikian, maka kiranya cukup masuk akal untuk melihat bahwa dalam Mat. 22:37 akal budi dianggap lebih penting daripada kekuatan (tubuh). Mungkin dengan pertimbangan bahwa tidak akan ada kekuatan tanpa kehendak yang kuat, dan kehendak senantiasa diawali oleh akalbudi. Coba misalnya Anda diminta mengangkat sekarung terigu seberat 20 kg. Mungkin ada kekuatan namun tanpa kehendak maka niscaya Anda tidak akan mengangkatnya.
Pertanyaan yang langsung menyergap kita adalah: bagaimana caranya mengasihi Tuhan dengan segenap akal budi?
Izinkan saya memberikan 2 contoh:

1. Bagaimana kita menaati Firman Tuhan tanpa berusaha menundukkannya di bawah rasio. Memang kecenderungan dunia akademis modern terutama sejak era Pencerahan (Aufklarung) adalah segala hal maunya dirasionalisasikan. Misalnya dalam ilmu sejarah, para ilmuwan dilarang untuk memasukkan peran supranatural Tuhan ke dalam narasi sejarah.
Hal ini ikut berimplikasi pada bidang hermeneutik, yang disebut dengan metode "kritik historis"(2), intinya adalah mempreteli teks-teks Kitab Suci dan membedahnya seolah sebagai karya sastra biasa (menolak aspek supranaturalnya). Akibatnya? Ya lalu muncul bermacam teori serba aneh bin mustajab. Misalnya hipotesis JEDP untuk menjelaskan asal-usul 5 kitab Taurat, lalu proyek demitologisasinya Bultmann, dan juga proyek Yesus sejarah seperti yang digaungkan secara ekstrem oleh kelompok Jesus Seminar.(4)

2. Jika Kitab Taurat termasuk Kejadian dianggap merupakan hasil kerja tambal sulam dari kelompok-kelompok yang saling terfragmentasi (JEDP), maka narasi Kejadian lalu dianggap tidak lagi merupakan catatan yang secara historis akurat, melainkan sering disebut sebagai "narasi sakral" (lihat mis. artikel Dr. Anwar Tjen tentang Yerusalem dalam artikel di Kompas baru-baru ini), atau "mitologi sakral." Memang diakui sakralnya, tapi toh derajatnya diturunkan menjadi sekadar mitologi saja.
Kebetulan penulis lumayan menekuni bidang kosmologi, dan dalam salah satu paper terbaru kami (5), kami menunjukkan bahwa adalah mungkin menggagas model penciptaan awal tanpa melibatkan hipotesis titik singularitas di awal penciptaan (Georges Lemaitre). Paper-paper awal Lemaitre jika dibaca teliti lebih termotivasi oleh teori relativitas dan mekanika kuantum ketimbang bersumber dari penafsiran yang setia terhadap narasi Kej. 1:1-5.
Sementara itu, jika kita menafsirkan teks Kej. 1:2 dalam terang teologi Trinitarian, maka dimungkinkan untuk sampai pada hipotesis bahwa alam semesta dulunya memang sudah lama ada (meski tidak berbentuk dan kosong), namun mendadak mengambil bentuk yang mendekati bentuk saat ini (sudden burst into creation). Dengan kata lain, hipotesis "sudden burst creation" ini hendak menunjukkan bahwa penciptaan langit dan benda-benda penerang dalam waktu beberapa hari itu bukan hal yang tidak dapat dimodelkan secara matematis.

Penutup
Demikianlah beberapa contoh telah dipaparkan di atas seputar bagaimana kita semestinya mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi kita. Dengan kata lain, segala bentuk asumsi atau teori yang berasal dari (rasio) mesti ditundukkan di bawah otoritas Firman Tuhan.

Tuhan mengasihi Anda semua.

Versi 1.0: 16 januari 2018, pk. 13:21
VC

Referensi:
(1) http://biblehub.com/lexicon/deuteronomy/6-5.htm
(2) https://christianpublishinghouse.co/2017/01/16/historical-criticism/
(3) https://timeincosmology.com/
(4) http://www.mychristianmind.com/2014/03/the-jedp-theory-is-wrong/
(5) V. Christianto & F. Smarandache. Lihat paper no. 4 dalam buku kami: 10. NEW book! Let the Wind blow: Physics of Wave and Only Wave. (January 2018). Bisa diunduh secara cuma-cuma di url: http://www.academia.edu/35627925/Let_The_Wind_Blows_PHYSICS_OF_WAVE_AND_ONLY_WAVE


Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Http://www.facebook.com/vchristianto
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***books: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
http://nulisbuku.com/books/view_book/9694/sastra-harjendra-ajaran-luhur-dari-tuhan-a5
http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/ChristologyReloaded_Aug2016.pdf
http://fs.gallup.unm.edu/APS-Abstracts/APS-Abstracts-list.htm
http://independent.academia.edu/VChristianto
Http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto/
http://www.amazon.com/Victor-Christianto/e/B00AZEDP4E
http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-artikel-dialog-antara-teologi-dan-sains
http://nulisbuku.com/books/view_book/9693/jalan-yang-lurus-manual-anak-anak-terang-a5
http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Mukjizat Tuhan di gurun Negev


Mukjizat Tuhan di gurun Negev

*Mukjizat…!!! Menyaksikan Proses Detik–detik Lahirnya Sungai di Padang Gurun Israel*

Kemarau Panjang Melanda Seluruh Wilayah Israel. Banyak Doa Yang Sudah Di panjatkan Dan Inilah Jawaban Atas Doa Mereka.

Pihak pemerintah Israel mengumumkan kondisi negara dalam keadaan darurat soal pasokan air. Level merah menunjukkan keadaan ini benar – benar membahayakan kehidupan. Hal itu diakibatkan oleh kemarau panjang yang tak kunjung berakhir. Hampir empat tahun, kemarau terus melanda Israel tanpa henti. Parlemen Israel menyatakan belum mampu menemukan solusi untuk mengatasi keadaan sulit ini. Berbagai upaya telah dilakukan namun tidak banyak memberikan hasil. Pasokan air terus menyusut dan semakin gawat darurat. Sungai–sungai seakan hilang ditelan bumi dan level air danau terus menyusut sangat drastis.

Pemerintah tidak tinggal diam. Banyak upaya telah dilakukan termasuk mengadakan "Doa Nasional" untuk meminta hujan. Semua warga Israel yang dikenal dengan sebutan negara Yahudi itu berkumpul di rumah–rumah ibadah seperti Sinagoga. Dan kegiatan doa yang dilakukan terpusat di "Tembok Ratapan". Doa dipimpin oleh para rabi–rabi Yahudi. Siang malam mereka berdoa di Tembok Ratapan dengan tiada henti.

Pada puncak acara doa, Ovadiacq Elihu, seorang Rabi Yahudi berusia sekitar 80 tahun meniup Sangkakala diselingi dengan doa dan nyanyian pujian penyembahan kepada Tuhan Allah Israel yang MahaKuasa. Sesekali ia mengangkat Sangkakalanya tinggi–tinggi, mengingatkan kita kepada Nabi Musa yang selalu mengulurkan tangannya ke atas pada saat menghadapi musuh dan yang selalu berbuah kemenangan. Ia secara terus menerus memanjatkan doa yang tidak biasa dan sulit dipahami. Mirip dengan Doa dalam bahasa Roh. Sambil tak henti–hentinya memanjatkan doa, ia memerintahkan beberapa orang untuk pergi ke sebuah sungai di tengah padang gurun yang ada di dekat bukit–bukit berbatu. Tujuannya untuk melihat apakah sungai itu sudah ada tanda–tanda akan terisi oleh air. Tapi orang suruhan itu segera kembali dan melaporkan bahwa sungai masih tetap kering dan tidak ada tanda–tanda akan datangnya hujan.

Sang Rabi mengajak semua jemaah dan segenap para tua–tua Israel untuk terus berdoa dengan tidak henti – henti sampai sesuatu terjadi. Suara riuh Sangkakala ditambah dengan lantunan doa dalam bahasa Roh yang tiada henti seakan merobek langit di atas kota Suci Tembok Ratapan di Jerusalem. Mukjizatpun terjadi, yang dinantikan pun segera tiba dengan amat mencengangkan. 

Sekumpulan benda putih seperti gumpalan-gumpalan kristal tampak bergulung–gulung dari arah hulu Sungai. Yah, gumpalan putih itu adalah sekumpulan air jernih dalam jumlah yang sangat besar mengalir dengan begitu deras membawa suka cita hingga ke hilir sungai.

Dalam sekejap, sungai itupun dipenuhi oleh air seakan–akan sedang di musim hujan, padahal ini adalah siang bolong di tengah kemarau panjang. Itulah bukti kuasa doa sekaligus memberitahukan kepada kita semua bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang MahaKuasa dan pembuat segala mukjizat seperti yang sudah diberitahukan di dalam kitab suci Alkitab. Yang tampaknya tidak mungkin tapi semuanya menjadi mungkin. *SEBAB, BAGI TUHAN TIDAK ADA YANG MUSTAHIL (Lukas 1:37)*

GOD IS THE LORD WHO DOES MIRACLES


Dikirim dari ponsel cerdas Samsung Galaxy saya.

Senin, 08 Januari 2018

Relativity Theory against basic Logic


---------- Forwarded message ----------
From: Akira Kanda 


Einstein took another passage to God. He pushed this humane created
relativity theory which denies the absolute replacing it by relative.

Naturally he ended up with the problem of the Principle of Relativity
which was the last ditch effort to rescue the inevitable collapse of the
world view of Relativity. He reduced the relative motion to just constant
speed motion and yet, he ended up with the Time paradox and length
paradox. I debunked their last ditch effort to defend their relative
theory by showing that Einstein's proof for time dilation and length
contraction comes from a thought experiment which also contains a
contradiction. Einstein either did not see this or he deliberately ignored
it to make a case. In either way Physics must repent! [I am talking about
the train power pole thought experiment].

Naturally Time Dilation deduced the so called Twins paradox. Physicists
excuse was pathetic. They used acceleration to "debunk" this paradox. They
said, one of the twin goes out and come back and so he went through
acceperlation. According to them this prevents the paradox of each of the
twins see the other younger. What kind of brain the self-proclaimed King
of Science has? Their reasoning is much worse than elementary school
student's reasoning. I call it disgusting "freemason's reasoning".

1. Special Theory of Relativity works only under the assumption of no
acceleration. This is to protect the Principle of Relativity.

2. Granted it was possible to use acceleration accepting their STR
dynamics which is supposed to deal with accelerating frames without
violating the Principle of Relativity?! Use brain a little more. Again
even an elementary school science student will understand that when both
twins move away completely symmetrically and come back, we still have the
problem. Each will see the other younger.

3. They do not notice that this thought experiment has to discuss the
situation where two twins do not stop and meet. They have to assume that
they pass each other at very close distance.

I have no more time to baby sit these totally spoiled masonic morons who
take themselves too seriously. What kind of nerve do they have to call
themselves the King!? Enough is enough.

As a mathematical logician, I will tell these masonic morons exactly how
they reason and why it is all wrong.

They assume 8=1. From this they rightly conclude 7=0. Now they proceed,
1=0. Then they conclude x=0. Thus they make a stupid claim that all
numbers are equal to 0.


As a man of God, Newton knew all of this nonsense and so he completely
shut down the empiricism. Empiricists did not see anything wrong with this
kind of reasoning and they used it to get whatever they want. In most
cases, things like 8=0 was "induced" from incomplete and mostly invalid
experiments. All serious logicians know that we can don't conclude
anything from experiment. This was clearly warned by Popper and Kuhn. The
king of science had no intellectual capacity to understand the warning.

Another stupidest mistake of freemasons. It was the stupid Dutch man
called Lorentz who panicked when he discovered that the Galilean transform
of wave equation is not. Idiot, Galilean transform of a wave function is a
wave function. This is what led Lorentz to obtain this fake transformation
called Lorentz transformation, with which Einstein screwed up the entire
physics world. The reason why Galilean transformation failed to produce
wave equation when applied on a wave equation is simple. It is because
wave equations are not correct representation of waves.

It was Prof. Urquhart a mathematical logician, who said "Physicists have
no logic." So true! of course he refused to say it publically for the fear
of witch hunt by Physicists who controls Western Academia!

Akira



Selasa, 02 Januari 2018

Visiun sebelum pengangkatan


*BERTEMU YESUS - GEMPA BUMI DAN PENGANGKATAN ORANG PERCAYA KESAKSIAN SAVANNAH (9 TAHUN)*

Beberapa hari silam TUHAN memberi saya pesan bahwa akan ada *Gempa Besar* sebelum pengangkatan terjadi dan jutaan manusia akan terbunuh.

Bertemu Yesus – Gempa Bumi dan Pengangkatan orang percaya | Savannah. 9 Year Old Sees Jesus And This Is What He Told Her. Shalom, begini kisahnya:

Ibu Savannah:
Selamat sore semuanya. Saya ingin berbagi dengan saudara semua mengenai apa yang TUHAN telah wahyukan kepada anak perempuan saya yang berumur 9 tahun.
Anak saya berumur 9 tahun dan dia mendapatkan penglihatan atau mimpi dari TUHAN. Oke mari kita cermati sebagai berikut..."

Savannah :
Halo semuanya saya Savannah, waktu itu saya pergi ke kamar saya, berdoa dan TUHAN memberi saya sebuah visi. Dalam visi itu saya melihat TUHAN YESUS yang mengenakan pakaian serba putih dan selempang warna merah dan biru.

Dan DIA berkata kepada saya, 'Putri-KU ... AKU ingin kamu memberitahu semua orang bahwa : *AKU akan datang segera dan AKU ingin semua dari mereka untuk memintaKU masuk kedalam hati mereka dan percaya kepada-NYA.*'

Beberapa hari silam TUHAN memberi saya pesan bahwa akan ada gempa besar sebelum pengangkatan terjadi dan jutaan manusia akan terbunuh. Dan saya ingin berbagi dua ayat Alkitab favorit saya ....

Ibu Savannah :
Apa yang TUHAN katakan setelah gempa bumi itu terjadi ?

Savannah :
Setelah gempa bumi terjadi, pengangkatan terjadi dan semua orang yang percaya TUHAN YESUS akan diangkat.

Ibu Savannah :
Akan tetapi tidak tahu kapan hal itu akan terjadi, seberapa cepat, tapi setelah gempa bumi ?

Savannah : "Ya". Ibu Svenna : "Ayat Alkitab mana yang ingin kamu sampaikan ?"

Savannah :

"Yohanes 3:16, Karena begitu besar kasih ALLAH akan dunia ini, sehingga IA telah mengaruniakan ANAK-NYA yang Tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-NYA tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Dan Yohanes 14:6, Kata YESUS kepadanya: "AKUlah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada BAPA, kalau tidak melalui AKU."

Ibu Savannah : "Terima kasih telah mendengarkan."

Savannah : "Saya akan ke sorga."

Ibu Savannah :
TUHAN memberkati saudara semua saya berharap bahwa pesan itu akan mendorong saudara. Dan saya hanya mendorong saudara untuk terus melihat keatas karena

RAJA akan datang kembali sangat segera dan tidak ada lagi waktu yang tersisa. TUHAN memberkati saudara. TUHAN mengasihi saudara dan sampai ketemu lagi di lain waktu.


Dikirim dari ponsel cerdas Samsung Galaxy saya.

From Big Science to Deep Science

Physics beyond catching a mouse in the dark: From Big Science to Deep Science Abstract The Higgs particle has been detected a few year...