Selasa, 26 Februari 2019

Dari hermeneutik konflik menuju hermeneutik dialog

Dari hermeneutik konflik menuju hermeneutik dialog:
Menemukan ulang bahasa cintakasih

Victor Christianto
The Second Coming Institute
www.sci4God.com

Prakata
Sudah sejak dahulu saya memiliki satu copy buku kontroversial Samuel Huntington: the clash of civilizations.
Tapi entah kenapa saya tidak pernah menyempatkan membaca tuntas buku tersebut, selain hanya membaca sekilas versi awalnya yang terbit di Foreign Affairs. Akhirnya, suatu kali saya berikan buku itu ke seorang sahabat.

Apa itu hermeneutika dialog?
Namun baru-baru ini ada artikel mas Bambang Noorsena yang mengutip seorang intelektual dari gereja Koptik, yaitu Milad Hanna, yang tidak setuju dengan pola pikir yang ditularkan baik oleh Marx maupun Huntington.
Jika boleh dicari kemiripan di antara kedua pemikir itu, adalah mereka mengembangkan sekaligus hermeneutika kecurigaan dan hermeneutika konflik. Baik itu disebut konflik antar kelas maupun antar -konon- peradaban.
Padahal, demikian argumen Prof. Milad Hanna, setiap kali manusia menjumpai Yang Lain, senantiasa terbuka kemungkinan untuk berdialog menuju saling pemahaman dan saling menerima sebagai sesama.
Pada hemat saya, hal tersebut sejalan dengan pemikiran Martin Buber, filsuf eksistensialis dan pelopor pendekatan dialogis, yang juga tidak setuju dengan pandangan Freud maupun Marx.

Sedikit catatan mengenai landasan Biblika
Kalau hendak menemukan landasan Biblika dari hermeneutika dialog, saya kira salah satu tempat terbaik adalah Kisah Para Rasul dan surat-surat Kiriman. Meski demikian, teladan Yesus yang berdialog secara terbuka dengan Rabbi Nicodemus dan perempuan Samaria di tepi sumur Yakub, kiranya membuka wawasan kita bahwa selain pilihan kesatuan dalam perbedaan dan konflik dalam perbedaan, juga ada pilihan ketiga:  dialog dalam perbedaan (tentunya dialog di sini dimaknai dalam terang I-Thou nya Martin Buber).

Bahwa memang ada perbedaan pendapat antara berbagai faksi dalam gereja perdana, itu mesti diakui (lihat Kis. 15 dan Surat Galatia). Namun juga ada kesatuan dan saling menghormati di antara para pelopor dalam gereja perdana, seperti terlihat dalam 3 ayat berikut:

Kisah Para Rasul 21:18
Pada keesokan harinya pergilah Paulus bersama-sama dengan kami mengunjungi Yakobus; semua penatua telah hadir di situ.

Galatia 2:9
Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat;

1 Korintus 3:6
Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. 

Dari hermeneutika dialog ke hermeneutika cintakasih.
Kalau kita bisa melangkah lebih maju dari hermeneutika konflik menjadi hermeneutika dialog, maka selangkah lagi kita akan menjumpai hermeneutika cintakasih.
Apakah itu hermeneutika cintakasih?
Secara sederhana, hermeneutika adalah Kacamata yang kita gunakan untuk melihat dan memahami segala hal yang ada dalam ruang pengalaman kita. Seperti ada tertulis:

Lukas 11:34
Matamu adalah pelita tubuhmu. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu.

Demikianlah orang yang telah menerapkan hermeneutika cintakasih, mungkin pekerjaannya tetap mengepel lantai atau memelihara bebek atau memotong bambu. Namun ia akan mengepel dengan sukacita, dan memelihara bebek dengan ucapan syukur, atau mengubah bambu menjadi seruling yang berbunyi merdu.

Ada sebuah kisah yang sangat saya sukai dari Ps. Anthony de Mello, alkisah ada seorang murid Zen di pertapaan yang protes kepada gurunya: "Guru, kenapa bapak tidak pernah mengajar hal-hal atau pengetahuan yang istimewa kepada saya?  Pasti Guru menyembunyikan sesuatu, ya kan?"
Setelah didesak berulangkali, Gurunya hanya menjawab: "Apakah kau mendengar bunyi burung berkicau di pohon itu? ". Jawab sang murid: "ya."
Lalu gurunya menyahut: "Lihat, aku tidak menyembunyikan apapun, kan? "

Demikianlah juga yang kita dengar dari pengajaran Yesus orang Nazaret itu:

Matius 6:26
"Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?"

Pertanyaan untuk direnungkan:
- dapatkah Anda merasakan bisikan kasih Tuhan yang mengalir dalam denyut nadi Anda?
- dapatkah Anda mendengar suara Tuhan dalam angin sepoi?

1 Raja-raja 19:12
Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa.

Penutup: Menemukan kembali bahasa cintakasih.
Kiranya menjadi jelas bahwa perjumpaan bisa membuka ruang dialog. Seperti ditegaskan oleh Prof. Milad Hanna dari gereja koptik, perjumpaan dengan The Other (yang lain) tidak harus menghasilkan konflik, namun lebih mungkin dialog yang saling mencerahkan.(3) Itu sebabnya Martin Buber,  pelopor pendekatan dialogis, juga tidak setuju dengan Marx (dan Freud). (2)
Karena hermeneutika bukan saja tentang pemahaman, namun juga tentang eksplanasi (1), maka sebagaimana kacamata yang baik menolong kita melihat lebih jelas demikianlah hermeneutika yang baik mengarahkan bahasa yang kita keluarkan dari hati.
Karena apa yang keluar dari mulut asalnya dari hati.

Matius 5:22
"Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala."

Dan jika hati kita telah dicerahkan oleh hermeneutika cintakasih, maka apapun yang kita lakukan dam katakan akan senantiasa diwarnai dengan bahasa kasih.
Ijinkan saya menutup tulisan ini dengan doa St. Fransiskus dari Asisi:(5)

Tuhan,
jadikanlah aku pembawa damai
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cintakasih
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kebenaran
Bila terjadi kecemasan, jadikanlah aku pembawa harapan
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang
Tuhan,
Semoga aku ingin menghibur daripada dihibur,
Memahami daripada dipahami,
Mencintai daripada dicintai
Sebab
Dengan memberi aku menerima
Dengan mengampuni aku mengampuni
Dengan matisuci aku bangkit lagi
Untuk hidup selama-lamanya
Amin.

Bagaimana dengan Anda?

Kiranya Tuhan yang Mahabaik dan Mahacinta memberkati Anda.

Versi 1.0:  24 February 2019, pk. 21:58
VC

Referensi
(1)  Paul Riceour. Interpretation theory. URL: https://books.google.co.id/books/about/Interpretation_Theory.html?id=TS98mJVaxqIC&redir_esc=y
(2) Martin Buber. The self in relationship. URL:  http://selfinrelationship.blogspot.com/2011/03/martin-bubers-i-thou-relationships.html?m=1
(3) Milad Hanna. Acceptance of the other. https://www.amazon.com/Acceptance-other-Dr-Milad-Hanna/dp/9772271613
(4)  V. Christianto. Kesatuan dan perbedaan dalam Gereja Perdana. IJT, 2014. URL: https://www.researchgate.net/publication/272831753_Kesatuan_dan_Perbedaan_dalam_Gereja_Perdana_IJT_Volume_2_Nomor_2_Desember_2014
(5)  doa Fransiskus Dari Asisi, dikutip dari liturgi Ibadah di salah satu gereja di Jakarta sore ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sudahkah Anda memperoleh kelegaan dari Tuhan?

My Utmost (B. Indonesia) ... Aku akan memberi kelegaan kepadamu. — Matius 11:28 "Marilah kepada-Ku .... Aku akan memberi kelegaa...