Minggu, 03 Februari 2019

KISAH TUJUH PENGHUNI GUA EFESUS DAN RELASI AGAMA-NEGARA DALAM PERSPEKTIF PANCASILA

*ET'PATAH ISCS*
Jum'at, 25 Januari 2019


*ASHHAB AL-KAHFI: KISAH TUJUH PENGHUNI GUA EFESUS DAN RELASI AGAMA-NEGARA DALAM PERSPEKTIF PANCASILA*

Oleh *Bambang Noorsena*


*1. ADICARITA*

Syahdan, tersebutlah tujuh pemuda yang bersembunyi di sebuah gua dekat kota Efesus. Mereka adalah Akhilius, Dionisius, Uknius, Stefanus, Faritius, Sebastius, dan Fariakus, yang menyelamatkan diri karena dikejar-kejar oleh Dakius, Kaisar Roma yang sangat bengis dan tanpa ampun menyiksa para pengikut Kristus, karena mereka menolak penyembahan berhala.

Para pemuda itu merasa sangat letih lalu tertidur nyenyak. Mereka merasa tertidur hanya dalam hitungan jam atau hari, padahal Allah menidurkan mereka di gua itu lebih dari 200 tahun lamanya. Mereka masuk dalam gua pada zaman Kaisar Dakius memerintah antara tahun 249-251 M, dan tidak keluar dari gua itu sampai tahun 447 M, yaitu ketika Kaisar Theodosius II mendaki takhta kekisaran.

Ketujuh pemuda itu benar-benar tercengang, ketika terbangun dari tidur panjang mereka, sebab Kekristenan benar-benar telah tersiar luas. Salib yang dahulu adalah simbol aib dan kehinaan, saat terbangun dari tidur mereka, telah tersemat pada mahkota Kaisar dan para pembesar kerajaan. Sementara itu, pada waktu itu orang-orang Kristen lagi berdebat mengenai kebangkitan orang mati, karena sebagian rakyatnya tidak percaya. Sang Kaisar yang sedang memohon bukti dari Allah mengenai kebenaran ajaran itu, mendapat laporan bahwa tujuh orang pemuda dari Efesus ratusan tahun lampau telah dibangunkan dari tidur panjang mereka.

Mula-mula kisah itu diketahui dari seorang pemilik kedai makanan, karena salah seorang dari tujuh pemuda itu membeli makanan dengan "mata uang Dakius". *اعلم ايها الملك _"A'lam, ayyuhâ al-Malik!_ (Ketahuilah, wahai Baginda)"*, kata Akhilius *، ان الرب قد بعثنا لأجلك ببل الميعاد العظيم _"anna ar-Rabba qad ba'itsnâ li ajlika qabla al-mî'âd al-'adzîm"_ (Sesungguhnya Tuhan telah membangkitkan kami demi paduka sebelum kebangkitan pada akhir zaman)*.

Kaisar sangat bersyukur kepada Allah. *اذن عش في سلام في ايمانك الكامل _"idzan asya fî salâm fî îmânika al-kāmil"_ (Karena itu, hiduplah damai dalam iman yang sempurna)*, pesan seorang dari *_ashhab al-Kahfi_* itu. Setelah itu, mereka diwafatkan kembali oleh Allah, dan Kaisar membangun gereja di dekat gua tersebut, lengkap dengan *inskripsi _(raqîm)_* demi mengenang dan mengabadikan iman ketujuh pemuda Efesus itu *(Taufiq Hafidz, tt: 26-32)*.


*2. SUMBER KISAH DAN APLIKASINYA DALAM RELASI*
     *AGAMA-NEGARA DI TIMUR TENGAH*

Kisah *اصحاب الکهف‎ _"Aṣḥāb al-Kahfi"_ (Penghuni Gua)* yang sangat terkenal di gereja-gereja Timur ini dikenal sejak abad keenam Masehi, bersumber dari buku *مجد الشهداء _"Majdu as-Syuhada"_ (Glory of the Martyrs)*, yang ditulis oleh Mar Gregorius dari Tour (538-594), yang berasal dari sumber bahasa Syriac/Aramaik yang lebih tua lagi, antara lain Mar Ya'qub Serugh (450-521) dalam "Acta Sanctorum"-nya. Kisah Tujuh Pemuda Efesus ini sangat populer di Gereja Ortodoks Syria, karena dicatat dalam "Chronice" Moran Mar Dionysius I Tell Mahre *(ܕܝܘܢܢܘܣܝܘܣ ܬܠܡܚܪܝܐ, _Dionysius Telmaharoyo_)*, Patriarkh Antiokia (818-845).

Taufiq Hadidz dalam bukunya *_"Ahl al-Kahfi fī al-Mashādid al-Suryāniyyah"_* (Cairo: Nahdhat al-Mishr, t.t.), membandingkan paralel kisah ini dengan *surah ke-18 Al-Qur'an*, yaitu *Surah Al-Kahfi*. Kisah _Aṣḥāb al-Kahfi_ (baca: _Aṣḥābul Kahfi_ ) secara dramatis melukiskan sejarah perjumpaan agama dan politik pada masa-masa awal sejarah Kekristenan, bahwa agama akan kehilangan "asin garam"-nya dan tidak terdengar lagi fungsi profetisnya tatkala berselingkuh dengan kekuasaan.

Agama tersubordinasi di bawah kekuasaan akan menjadi "alat legitimasi" belaka dari kemauan politik kelompok yang sedang berkuasa. Tak jarang pula agama memaksakan klaim kebenaran teologisnya dengan meminjam tangan kekuasaan. Itulah awal tindakan kekerasan atas nama agama. Sejarah perkembangan agama-agama besar sendiri telah membuktikan itu.

Ketika Kaisar Theodoseus II (406-450) menjadikan Kristen sebagai "agama negara", Kekristenan seperti "naik kelas" dari agama rakyat teraniaya yang secara sembunyi-sembunyi beribadah di _katakombe-katakombe_ (gua-gua) menjadi agama penguasa dengan segala atribut kebanggaan-nya. Euphoria yang merayakan gegap gempitanya masa transisi dari "agama rakyat" ke "agama negara" ini yang hendak digambarkan dalam kisah para penghuni gua ini.

Ternyata situasi tidak menjadi lebih baik ketika Kristen menjadi "agama negara". Justru lembaran sejarah gereja selanjutnya dipenuhi dengan penindasan demi penindasan, yang ironisnya dilakukan oleh saudara seiman mereka sendiri. Gereja-gereja di wilayah Timur Tengah, yang paling sering menjadi korban sasaran fitnah, dicap sebagai aliran heresy (bidah).

Dan pada saat puncak penganiayaan sesama Kristen itu, justru tentara Arab Muslimlah yang membebaskan mereka. Misalnya, pengalaman Gereja Koptik di Mesir, seperti dicatat oleh Aziz S. Atiya, dalam bukunya *تاريخ المسيحية الشرقية _"Tārīkh Al-Masihīyyat al-Syarqiyyah"_* (Cairo: Maktabah Al-Mahabbah, 2003). Kisah kemartyran Mar Mina (St. Menas), saudara Patriarkh Koptik Benyamin, pada tahun 632 AD sebagai martyr di tangan Cyrus, utusan Kaisar Heraklius, yang dalam sejarah Islam dikenal dengan Mauwaqis ini, telah mendorong mereka lebih menyambut Islam sebagai pembebas, tujuh tahun sesudah peristiwa itu.

Tetapi lembaran hitam sejarah tak ayal terulang, ketika Islam juga dijadikan pendukung "status quo" dinasti Ummayah, seperti yang tampak pada zaman pemerintahan Kalifah 'Umar bin 'Abd al-Aziz atau Umar II (682-720) yang terkenal adil di kalangan rakyat jelata, dalam urusan agama bersikap sangat diskriminatif terhadap kaum Yahudi dan Kristen.


*3. SEKULARISASI BUKAN SEKULARISME ANTI-AGAMA _(LÂ DÎNIYAH)_*

Sayangnya, ide pemisahan agama dari negara ini sering disalahpahami dan dicap sebagai ide "sekuler". Istilah "sekuler" sudah sejak lama menimbulkan alergi dan reaksi yang apriori. Tetapi sebenarnya, reaksi itu lebih diarahkan pada penerapan sistem itu yang sebaliknya terlalu ekstrim di Barat, dimana proses penyelenggaraan negara disterilkan sama sekali dari moralitas agama.

Fenomena ini lebih populer disebut dengan sekularisme. Padahal istilah sekularisasi (Latin: _"saeculum"_, artinya "dunia"), justru mula-mula diarahkan untuk menghantam paham kekuasaan "totalitas kosmik" (ontokrasi) yang mengeramatkan segala yang ada, termasuk pendewaan terhadap raja dan negara. Nah, dalam kekuasaan-kekuasaan absolut inilah agama dijadikan justifikasi untuk merebut dan melanggengkan kekuasaan.

Sebaliknya, justru melalui sekularisasi ditempatkan kembali "(kekuasaan) dunia" yang selama itu disakralkan, sebagai dunia _(saeculum)_ yang bersifat _profan_ belaka. Dalam sejarah agama-agama semitik, proses desakralisasi kekuasaan itu dimulai dari Israel (agama Musa) yang dilukiskan oleh Th. Van Leuwen seperti _"a breaks is made with the everlasting cycle of nature and the timeless presentness of myth"_ (suatu pemutusan lingkaran alami yang melilit abadi dan mitos tanpa waktu).

Melalui proses tersebut selanjutnya Barat melalui _Renaisance_ dan _Aufklaerung_ – meminjam padanan istilah Cak Nur (Dr. Nurcholish Madjid) – melakukan proses desakralisasi tanpa ampun yang akhirnya menghantam dan membabat kekuasaan absolut _"droit divin"_ (kekuasaan ilahi raja), yang di belahan dunia Timur paralel dengan paham kekuasaan "dewa-raja".


*4. CATATAN PENUTUP*

Pengalaman sejarah ini yang telah mengantarkan Bung Karno untuk memilih paradigma simbiotik relasi agama dan negara. Bagi Bung Karno, gagasan yang bisa kita sebut *paradigma Pancasila* ini, sama sekali bukan berarti mendepak agama dari penyelenggaraan negara, melainkan justru *"memberikan kepada agama itu satu singgasana yang mahakuat di dalam kalbunya orang percaya" (Di bawah Bendera Revolusi, Jilid I, 1964)*.

Jadi, kita memilih Pancasila untuk menghindari 2 pilihan yang sama-sama buruk: *"bukan negara agama"*, dan *"bukan negara sekuler"*. Meminjam istilah Th. Van Leuwen dalam _Christinity in the World History_ (London: Edinburg House Press, 1986:331), dengan memilih Dasar Negara Pancasila yang sila pertamanya Ketuhanan Yang Mahaesa, _"a connection between the state and the religion could be maintained without the proclamation of an Islamic state"_ (hubungan antara negara dan agama dapat tetap dipertahankan, namun tanpa harus memproklamasikan sebuah negara Islam). ¶


*"De Museum Cafe" Malang, 25 Januari 2019*

*2018 ¶ ISCS©All Rights Reserved*



"Artikel Seri Natal" dalam *program ET'PATAH ISCS*, bisa diakses melalui tautan-tautan berikut ini:

*1. ET'PATAH ISCS*, Jum'at, 14 Desember 2018
_Answering The Anti-X'mas Myths_ : Sejarah Perayaan Natal 25 Desember

*2. ET'PATAH ISCS*, Jum'at, 21 Desember 2018
_Answering The Anti-X'mas Myths_: Migdal Eder, Natal dan Mitos Betlehem Bersalju

*3. ET'PATAH ISCS*, Jum'at, 28 Desember 2018
Dialog Imajiner St. Nicolas dari Myra dan Patriarkh Demetrius I dari Alexandria: 25 Desember Kelahiran Dewa Matahari?

*4. ET'PATAH ISCS*, Jum'at, 4 Januari 2019
Dialog Imajiner Kabar dari Efesus: Sejak Dulu Dajjal Nggak Suka Natalan

*5. ET'PATAH ISCS*, Jum'at, 11 Januari 2019
Dialog Imajiner Rahib Dionysius Exiguus dan Kyai Tunggul Wulung: Kontroversi Perayaan Tahun Baru

*6. ET'PATAH ISCS* Jum'at, 18 Januari 2019
Dialog Imajiner Rahib Dionysius Exiguus dan Kyai Tunggul Wulung: Bintang Betlehem dan The Magi Code

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apakah itu masyarakat High-Trust?

Apakah itu masyarakat High-Trust? Catatan kecil dari seminar Trialog Shalom para sahabat dalam Yesus Kristus, selamat sore. Hari ini s...