Sabtu, 08 September 2018

DI BALIK AKAR MULTILINGUAL TEKS PANCASILA: SILA KETUHANAN YANG MAHA ESA (Tulisan Kedua dari Tujuh Tulisan)

DI BALIK AKAR MULTILINGUAL TEKS PANCASILA:
SILA KETUHANAN YANG MAHA ESA

(Tulisan Kedua dari Tujuh Tulisan)

Oleh: Dr. Bambang Noorsena

 

1. CATATAN AWAL

Selain mengacu kepada dokumen historis pidato Bung Karno, "Lahirnya Pantja-Sila", pada tanggal 1 Juni 1945, perlu diuraikan pula akar multilingual teks Pancasila. Teks Pancasila yang multilingual itu bisa dilacak dari fase-fase zaman yang berbeda-beda, yang membuktikan bahwa dalam perjalanan sejarahnya selama ribuan tahun, kita telah menyerap berbagai nilai yang kini memperindah mozaik keindonesiaan kita.

Dalam teks Pancasila yang terdiri dari 26 kata, selain dari bahasa Malayu yang berakar pada rumput bahasa-bahasa Austronesia, juga terdapat banyak kata serapan dari bahasa Sanskerta, Arab, Yunani, bahkan Latin, yang menunjukkan fase-fase masa pra-Hindu dan Buddha, fase Hindu Buddha, fase Islam, dan fase zaman modern. Kita akan membahas sila demi sila dalam teks Pancasila dan makna filosofisnya.

 

2. KETUHANAN YANG MAHA ESA

Ketuhanan Yang Maha Esa terdiri dari kata "Tuhan" (dengan imbuhan "ke-an"), kata sambung "yang" dan kata sifat "esa" (keduanya bahasa Melayu) dan kata sifat penyangatan (superlatif) "maha" yang berasal dari bahasa Sansekerta मनुष्य "mahi" (sangat). Lebih lanjut dapat kita uraikan satu demi satu:

Kata "Tuhan" adalah istilah Melayu asli, yang juga dijumpai padanannya dalam bahasa-bahasa kuno Nusantara lainnya, seperti bahasa Jawa kuno. Kata "Tuhan" (sepadan dengan "tuan"), baru bermakna sebagai Tuhan sebagai Sang Pencipta alam semesta setelah melewati proses sejarah bahasa yang panjang.

Sebelum kata "Tuhan" dalam perkembangannya dimaknai "the supreme being", kata dari bahasa-bahasa Nusantara pra-Hindu Buddha yang lazim dipakai adalah ꦲꦾꦁ "hyang", seperti yang tampak dari naskah Sunda kuno "Siska Kandha ing Karesyan" (abad V M): "Mangkubumi berbakti kepada Raja, Raja berbakti kepada Dewata, Dewata berbakti kepada hyang" (Mangkubumi bhakti di Ratu, Ratu bhakti di Dewata, Dewata bhakti di Hyang).

Juga, disebutkan dalam prasasti Balitung (907 M) bahasa Jawa kuno: "si Galigi memainkan wayang untuk menyembah Tuhan" (si Galigi mawayang bwat Hyang). Istilah "Hyang" terus dipakai pada zaman Hindu-Buddha secara bersinambung, berdampingan dengan kata Sanskerta देवता "Dewata".

Pada zaman Majapahit, kebebasan beragama dijamin oleh negara di bawah prinsip ketuhanan nasional yang disebut oleh Mpu Prapanca dalam Kekawin Nagarakrtagama (1367 M): "Hyang ning hyang inisthi" (Tuhan yang mengatasi konsep Tuhan dalam agama-agama). Kata asli "hyang" dari masa pra-Hindu/Buddha ini, sampai sekarang masih tersimpan dalam bahasa Jawa dan Indonesia "sembahyang" yang berasal dari kata "sembah" (menyembah) dan "Hyang" (Tuhan).

Selanjutnya, ketika Islam mula-mula masuk ke tanah Nusantara, kata الله "Allah" bahkan masih diterjemahkan "Dewata Mulia Raya", seperti tercantum dalam Prasasti Terengganu (1386 M). Ungkapan "Dewata Mulia Raya" berdampingan dengan kata "Allah", sementara itu kata "Tuhan" dalam prasasti ini masih dipakai sebagai gelar raja. Tetapi dan prasasti Melayu lain yang se zaman, kata "Tuhan" sudah mulai dimaknai sebagai gelar Sang Pencipta, seperti tertulis dalam Prasasti Minye Tujuh, Aceh (1380 M) yang berbunyi:
"Ilahi ya rabbi tuhan samuha taruh dalam svargga tuhan tatuha".
Artinya: "...Ilahi Tuhanku semua, taruhlah Baginda ke dalam surga Tuhan" (Fauziah, 2006).

Selanjutnya, terjemahan Injil Matius pertama kali dalam bahasa Melayu oleh Albert Cornelis Ruyl (1629 M) memakai istilah "Tuhan" dalam makna "Lord", menerjemahkan bahasa Yunani "Kurios". Disusul kemudian Kitab Tarjuman Al-Mustafid, terjemahan Al-Qur'an pertama dalam bahasa Melayu oleh 'Abd ar-Rauf al-Sinkili (1690 M), menggunakan kata "Tuhan" sebagai terjemahan dari kata Arab رب "Rabb". Contohnya, ungkapan "Alhamdulillahi rabb al-'alamin (الحمد رب العالمين) diterjemahkan "Segala puji bagi Allah Tuhan yang mempunyai segala makhluk"
(
سكل فوج بكى الله توهن يع ممفيأى سكل محلق)
(Q.s. Al-Fatihah/2:1).

Begitu pula, Leyddeker pada tahun 1733 M, juga menggunakan kata "Tuhan" sejajar dengan bahasa Yunani "Kurios" (ΚΥΡΙΟΣ) atau bahasa Ibrani "Adonay" (אדני), seperti terjemahan Markus 12:29 yang berbunyi:
"Maka sahutlah 'Isa padanja, bahuwa jang pertama deri pada sakalijen panjurohon inilah: dengerlah hej' awrang Jisra'ejl, maha besar Tuhan 'ilah kamij, itulah Tuhan jang 'asa adanja" (Markus 12:29).

Selanjutnya, kata "maha" berasal dari bahasa Sanskerta, yang sudah diserap dalam bahasa Jawa Kuno maupun Melayu. Misalnya, Mpu Kanwa dalam Kekawin Baratayudha menyebut azimat Prabu Yudistira "Kalimahosaddha" (kali "zaman kegelapan"; maha, "besar", usadha, "penyembuhan"), atau istilah yang masih bertahan dalam bahasa Malaysia maupun Indonesia "maharaja" महाराज, "mahārāj").

Sedangkan kata "esa" adalah berasal dari bahasa Melayu, yang berakar dari rumpun bahasa-bahasa Austronesia yang lebih kuno. Karena itu, kata "isa", "asa", "esa" (artinya "satu"), bisa dijumpai dalam bahasa Tagalog, Dayak, Rote, bahkan Malagasi. Penggunaan kata ini dalam bahasa Melayu, misalnya tampak dari peribahasa: "esa hilang, dua terbilang". Istilah Melayu "esa" ini, kemudian menjadi terjemahan dari bahasa Arab الأحد "al-ahad", الواحد "al-wahid", seperti dalam kitab "Tarjuman al-Mustafid", Q.s. Al-Ikhlas/112:1 yang berbunyi: قُـُلْ هُـوَاللهُ اَحَـدٌ. "Qul huwallaahu Ahad", diterjemahkan: "Kata olehmu Ya Muhammad pekerjaan itu Ia jua Tuhan Yang Esa" (Tarjuman, 1990).

 

3. CATATAN PENUTUP

Jadi, apabila kata "maha" dan "esa" dikaitkan dengan "Ketuhanan" maka maknanya bukan hanya percaya kepada Tuhan, tetapi juga semua kepercayaan tentang Ketuhanan. Maksudnya ide-ide atau gagasan tentang keberadaan mutlak dan kekal (The Supreme Being), baik monotheisme, monisme, maupun non-theisme.

Bahkan kalau dimaknai secara theistik, kata "maha" yang menekankan keesaan-Nya, juga tidak sebatas kesatuan numerik, seperti satu batu atau satu roti, tetapi secara metafisik mengatasi ruang dan waktu. Dan pengertian seperti ini, maka sila Ketuhanan Maha Esa bisa diterima semua agama, sekalipun diungkapkan dalam simbol dan bahasa teologis yang berbeda-beda. Dan perbedaan interpretasi ini termasuk ranah privat setiap agama dan tentu saja di luar domain negara.

 

2018 © ISCS All Rights Reserved

 


Victor Christianto
Founder of The Second Coming Institute, www.sci4God.com
Founder of www.DigiMBA.com, Preparing Leaders for 21st Century
Founder of www.acaraindo.com, Promoting cultural and music events in Jakarta and other cities
Founder of www.ketindo.com, A renewable energy consultant 
My books and papers can be found at:
 You can also check the Neutrosophic Journal: 

http://fs.unm.edu/NSS/NSSArticles.htm  

==
We love you all nations, but time is very very limited. Be hurry to repent and receive Jesus Christ. Find a guide to help you repent and receive Jesus Christ, in this link http://www.esnips.com/web/Guidetorepent,
http://www.esnips.com/web/RepentanceGuide.
Print this guide, copy as many as you can, and distribute this to as many countries as you can, including Asian countries such as China, Burma, Thailand, Campuchea, Laos, Srilanka, and Vietnam. Pray and ask to God first before you select a language for your country. That is the message: be hurry be very very very very very hurry to repent and receive Jesus Christ, all corners of the world.
Don't you know that Jesus Christ will come again soon? That is why you should be hurry and quickly to repent and do your repentance. Tweet this message quickly and distribute this message to as many countries as you can including to all your friends quickly, quickly, quickly today. Follow Jesus only at http://www.twitter.com/Christianto2013.
Send this message quickly to all your colleagues and to all your friends. Thank you, Jesus Christ already help you. 

blog: http://guidetorepent.blogspot.com, http://findtheTruthnow.blogspot.com,
http://evangelismwithsocialmedia.blogspot.com
guide: http://GoodNews.getfreehosting.co.uk/digfile/cms/index.php (login with 'visitor')
video: http://youtube.com/guidetorepent,
facebook: http://www.facebook.com/VChristianto,
and follow Jesus only at www.twitter.com/Christianto2013

**KINDLE BOOKS:
authorpage: http://www.amazon.com/-/e/B00AZEDP4E
Articles dictated by Jesus Christ. Book Two. http://www.amazon.com/dp/B00AYR3F9C
Articles dictated by Jesus Christ. Book One. http://www.amazon.com/dp/B00AYR6TJU
by Jesus Christ: How social darwinism ruin America and the World. http://www.amazon.com/dp/B00AZDJJQI
by Jesus Christ: Evangelism for Difficult People. http://www.amazon.com/dp/B00AZDJCLA
by Jesus Christ: How you can do Evangelism with Social Media. http://www.amazon.com/dp/B00AZDXZLI
by Jesus Christ: The Nicene Creed. http://www.amazon.com/dp/B00AZDYMJ2
by Jesus Christ: Logos, Memra, and other letter for Economists. http://www.amazon.com/dp/B00AZDY7JW
by Jesus Christ: our Father in Heaven prayer. http://www.amazon.com/dp/B00AZKZUNM
Some problems of Nuclear Energy development in Asia: A literature survey. http://www.amazon.com/dp/B00B4LW5ZW

Some papers at www.vixra.org:
www.vixra.org/abs/0912.0036
www.vixra.org/abs/0912.0037
www.vixra.org/abs/1001.0005
www.vixra.org/abs/1001.0003
www.vixra.org/abs/0912.0053

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Genesis video at long last!

Genesis video at long last! Two exciting things to share with you today, friends. First: A new video—and it’s a doozy. The Whiteboard Bibl...