Senin, 30 Juli 2018

Bincang-bincang Kebangsaan Peringati 639 Tahun Bhinneka Tunggal Ika


"Bincang-bincang Kebangsaan Peringati 639 Tahun Bhinneka Tunggal Ika"
Senin, 30 Juli 2018 18:00
Laporan Wartawan Tribun Bali, Busrah Hisam Ardans

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Institute for Syriac Culture Studies (ISCS), LBH Apik Bali, PW Ansor Bali, dan Peacemakers of Indonesia Society (PIS) bersama-sama mengadakan bincang-bincang kebangsaan memperingati 639 tahun lahirnya Bhinneka Tunggal Ika, Sabtu (28/7/2018) kemarin, di The Banjar, Jalan Raya Kuta.

Tercatat pada tahun 1380 istilah Bhinneka Tunggal Ika pertama kali dikemukakan seorang penulis yakni Mpu Tantular, dalam karyanya yang berjudul Porusaddasanta (atau yang lebih dikenal dengan Kekawin Sutasoma).

Abraham Aji sebagai ketua panitia saat dikonfirmasi Tribun Bali mengatakan, Bhinneka Tunggal Ika hadir dari lontar Sutasoma yang juga bermakna berbeda-beda tetapi tetap satu.

Aji menyebutkan, maksud dan tujuan dari diadakannya acara tersebut ialah kembali mengingat nilai-nilai kebhinnekaan dan mempererat tali kebangsaan yang akhir-akhir ini mulai renggang.

"Tatkala perekat kebangsaan kita mulai melonggar akhir-akhir ini, ironisnya agama-agama yang seharusnya membawa misi: rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi semesta alam), jagaddhita (kebahagiaan di dunia), atau pax in terra (damai di bumi), justru acap kali dijadikan alat justifikasi politik kekerasan "atas nama Tuhan". Maka kita kembali mencari rujukan sejarah demi perekatan kembali kesatuan dan keutuhan bangsa," sebut dia.

Menurut istilah Bung Karno ucapnya, "Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah" (JASMERAH).

Ini merupakan hal yang substansi agar tidak keliru memahami sejarah.

Apalagi tambahnya, bangsa Indonesia memiliki seorang pujangga dalam merumuskan Bhinneka Tunggal Ika.

"Kita belajar dari sejarah agar tidak tergelincir di masa depan. Dalam sejarah kebangsaan, kita menemukan acuan dari Mpu Tantular, seorang pujangga dari zaman Majapahit. Pada tahun 1380 Mpu Tantular menulis karyanya yang berjudul Porusaddasanta (atau yang lebih dikenal dengan Kekawin Sutasoma). Dari lontar Sutasoma tersebut kita memperoleh seloka Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu). Pandangan Mpu Tantular sangat penting kita kedepankan kembali di tengah-tengah situasi bangsa sekarang ini," paparnya.

Ia berharap bincang-bincang tersebut menjadi nilai perekat dalam kesatuan bangsa, juga upaya mengantisipasi dini menghadapi bahasa disintegrasi.

"Lebih menanamkan nilai-nilai "spiritualitas semesta" kepada setiap umat beragama, agar dapat hidup ber-pro-existense, bersama-sama umat beragama lainnya demi masa depan bangsa dan umat manusia," lanjut dia.

Acara ini juga menghadirkan pembicara Cok Sawitri dengan tema "Memahami Kakawin Sutasoma dan Filosofi Bhinneka Tunggal Ika", Dr. Bambang Noorsena dengan tema "Banawa Sekar Tanakung dan Masa Akhir Majapahit (Sebuah Refleksi Kebangsaan), dan Prof. Dr.Sumanto Al-Qurtuby "Arus, Cina-Islam-Jawa: Peranan Tionghoa Dalam Perubahan Peta Politik Nusantara Abad Ke XV-XVI". (*)

Penulis: Busrah Ardans
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali

Dikutip dari http://bali.tribunnews.com/amp/2018/07/30/bincang-bincang-kebangsaan-peringati-639-tahun-bhinneka-tunggal-ika


Dikirim dari ponsel cerdas Samsung Galaxy saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Orang-orang Majus dan Bintang Betlehem

Orang-orang Majus dan Bintang Betlehem Teks: Matius 2:1 "Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, d...