Rabu, 10 Oktober 2018

Bencana karena dajjal?

Bencana karena simbol dajjal?

MEMANDANG BENCANA DENGAN MATA LANGIT:
TSUNAMI, RITUAL BALIA DAN DAJJAL SI MATA SATU

Oleh Dr. Bambang Noorsena


*1. CATATAN AWAL*

Bencana Palu disikapi dengan beragam tanggapan, dari yang wajar sampai yang aneh, dari yang pasrah tawakal hingga sikap saling menyalahkan. "Bencana ini terjadi gara-gara ritual menundang arwah", kata beberapa orang. Maksudnya, ritual Balia dari suku Kahili yang tiga tahun terakhir ini rutin digelar. Allah murka karena syrik merajalela. Konon, gara-gara itu pula, Walikota dan wakil walikota Palu sembunyi selama lima hari karena takut mau dibunuh oleh warga masyarakat.

Ada pula yang menyalahkan LGBT, seraya menganggap Palu sebagai "Sodom-Gomora" yang sudah sepantasnya diazab Allah. Lebih seram lagi, peristiwa gempa dan tsunami berkekuatan 7,4 SR itu dikaitkan dengan simbol Dajjal si mata satu. Postingan berita disertai foto udara sebuah anjungan dekat pantai, yang dari kejauhan tampak mirip mata satu. "Alhamdulillah, begitu selesai dan tinggal diresmikan, telah dihancurkan oleh Allah", tega-teganya kalimat ini keluar dari mulut sebagian orang.

Secara geologis gempa dan tsunami yang mengguncang Sulawesi Tengah karena patahan Palu Koro (Palu-Koro fault) yang membelah dari kota Palu ke arah selatan dan utara. Gempa dan tsunami secara alami bisa dijelaskan karena pergerakan lempeng tektonik itu. Perlu dicatat pula, 90% wilayah Indonesia terletak di cincin api (Ring of Fire) di mana gempa bumi terjadi pada lokasi strategis ini.


*2. MEMANDANG BENCANA DENGAN MATA LANGIT*

*2.1. Ritus-Ritus Lokal?*
Melihat bencana dengan "mata bumi", tidak berarti menafikan sama sekali aspek adikodrati di balik semua kejadian itu, yang mestinya dilihat dengan "mata langit". Meskipun demikian, kita juga tidak boleh memandang fenomena ini secara "oversimplicity". Sodom dan Gomora dihancurkan Tuhan karena murka-Nya, tak usah dipertanyakan, namun serta merta menyamakannya dengan bencana Palu adalah sikap teologis yang "suka menghakimi".

Selanjutnya, menyoal acara tahunan "Palu Nomoni" (Palu berbunyi) yang dilatarbelakangi ritual suku Kaili sebagai penyebab bencana, harus juga dianggap bentuk "imperialisme doktriner" anti kearifan lokal yang "notabene" budaya bangsa kita sendiri. Jauh sebelum masuknya Hindu, Buddha, Kristen dan Islam ke Nusantara, nenek moyang kita sudah mempunyai religi lokal (the folk religion) yang memuja Tuhan melalui ritus-ritus dan simbol-simbolnya sendiri, seperti agama-agama dunia (the world religions) juga membungkus pesan-pesan abadinya dengan simbol-simbol yang berasal dari "tanah air" tempat kelahiran agama-agama itu.

Sebagai bagian dari spiritualitas Nusantara yang kaya simbol sarat makna, ritual Balia (ritual pengobatan suku Kaili di Sulawesi Tengah) sejak ratusan tahun silam selalu identik dengan membakar dupa, lengkap dengan keranda, buah-buahan, hingga hewan kurban (ayam, kambing, atau kerbau, tergantung kelas sosial sang penyelenggara). Seorang pawang lalu memimpin upacara dengan japa mantera yang menghubungkannya dengan dunia roh para leluhur.

Boleh saja kita tidak setuju dengan praktek spiritisme, namun mengaitkan bencana semata-mata karena ritual itu, juga miskin argumentasi. Sebab ada ribuan suku di negeri ini yang masih mempraktekkan ritual serupa, namun wilayah mereka aman-aman saja. Apalagi kalau alasannya karena kesan sekilas praktek keagamaan kita sekarang asing dengan dupa, persembahan buah-buahan dan korban, bukankah simbol-simbol serupa juga dikenal dalam agama-agama Ibrahim (The Abrahamaic religions) dalam perjalanan sejarahnya yang panjang?

Bukankah korban binatang juga dikenal dalam perayaan 'Id al-Adha? Apakah bedanya membakar dupa di pantai dengan ukupan di Bait al-Maqdis Yerusalem (Lukas. 1:5), yang kemudian dilanjutkan gereja Ortodoks dan Katolik? Bahkan kalau praktek ukupan ini tidak ada lagi di gereja-gereja Protestan, minimal kita masih mendengar doa: "Kiranya persembahan ini menjadi dupa yang harum di hadapan hadirat-Mu, ya Tuhan". Ini menjadi bukti bahwa ritual pedupaan mempunyai akar historis yang kuat, meskipun kini hanya tersisa dalam "biblical term" ketika kita berdoa di gereja.

*2.2. Mata Tuhan atau Mata Dajjal?*
Simbol "mata satu" yang diidentikkan sebagai mata Dajjal telah meramaikan opini gempa Sulawesi Tengah. Padahal anjungan yang tampak dari kejauhan mirip simbol mata satu itu, ternyata letaknya di kota Mamuju yang berjarak sekitar 192 km dari lokasi gempa. Bahkan kalau pun itu terletak di Palu, apa pula relevansinya dengan bencana yang terjadi?

Simbol mata satu dalam bingkai segi tiga mula-mula muncul dalam lukisan "The Lord's Supper"-nya Jacopo Pontormo (1525), yang melambangkan mata Tuhan dengan sifat Trinitas-Nya yang mengawasi segala sesuatu. Pada 1782 simbol "mata Trinitas" diusulkan menjadi lambang Amerika Serikat. Meskipun usulan itu tidak disetujui, namun simbol itu kini masih ada pada uang 1 USD. Tentu saja, "mata Trinitas" berbeda dengan simbol Freemansory, Illuminasi atau Dajjal dalam eskatologi Islam.

Lebih jelasnya, simbol mata satu dalam eskatologi Islam merujuk kepada sosok Dajjal, seperti yang disebutkan dalam Hadits Nabi:

إِنَّهُ أَعْوَرُ، وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ، مَكْتُوْبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ: كافر (يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُسْلِمٍ).
Innahu a'war wa inna rabbukum laysa bi a'war, maktubu baina 'ainaihi: Kafir, yaqra'uhu kullu muslim.
Artinya: "Sesungguhnya Dajjal itu matanya buta sebelah, sedangkan Tuhanmu tidak buta sebelah. Dan tertulis di antara kedua mata Dajjal: Kafir, yang bisa dibaca oleh setiap Muslim" (H.R. Bukhari dan Muslim).

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ وَفِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَشَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
Allahumma inni a'udzu bika min 'adzab al-qabri wa 'adzab an-nar wa fitnat al-mahya wa al-mamat, wa syarri fitnat al-Masih ad-Dajjal.
Artinya: "Ya Allah, aku mohon perlindungan kepada-Mu dari siksa kubur, siksa neraka, penyimpangan ketika hidup dan mati, dan dari fitnah Al-Masih ad-Dajjal" (H.R. Muslim).

Perlu dicatat pula, bahwa istilah الْمسيح الدَّجَّالِ "Al-Masih ad-Dajjal" adalah bukan bahasa Arab asli, tetapi serapan dari bahasa Suryani (Syriac-Aramaik) ܡܫܝܚܐ ܕܓܠܐ "Mshiha Daggala" (penentang Sang Mesias), seperti yang disebutkan dalam Injil Perjanjian Baru.

ܡܢܘ ܕܓܠܐ ܐܠܐ ܐܢ ܐܝܢܐ ܕܟܦܪ ܕܝܫܘܥ ܠܐ ܗܘܐ ܡܫܝܚܐ ܗܢܐ ܗܘ ܡܫܝܚܐ ܕܓܠܐ ܗܘ ܕܟܦܪ ܒܐܒܐ ܟܦܪ ܐܦ ܒܒܪܐ ܀
Manu daggala ella in eina d'kafar d'Yeshua la hwa Mshiha, hna Hu Mshiha daggala, hu d'kafar b'Aba kafar ak b'Bra. Arrinya: "Siapakah Dajjal itu, kalau bukan dia yang menyangkal Yesus sebagai Mesiah, dia adalah Mshiha Daggala, yaitu dia yang menentang Bapa dan sekaligus menentang Putra" (1 Yokhanan 2:22, Peshitta).

Ciri كافر "kafir" yang tertulis diantara kedua mata Dajjal dalam Hadits, paralel dengan kata Aramaik ܟܦܪ "kafar" yang artinya "menyangkal", seperti diterapkan pada ungkapan ܕܟܦܪ ܕܝܫܘܥ ܠܐ ܗܘܐ ܡܫܝܚܐ "d'kafar d'Yeshua la hwa Mshiha" (menyangkal bahwa Yesus adalah Sang Mesiah). Sedangkan Ciri-ciri fisik Dajjal yang أَعْوَرُ "a'war" (buta sebelah) hanya terdapat dalam Hadits Nabi. Dengan demikian, Dajjal si Mata satu adalah original simbol eskatologi Islam.

Selanjutnya, lebih penting untuk dicatat bahwa dalam tradisi Kristiani abad pertengahan "simbol mata Trinitas" maknanya positif, berbeda dalam Hadits yang memakainya secara negafif sebagai simbol Dajjal musuh Allah. Karena itu, kita tidak bisa memakai simbol yang mungkin mirip tetapi lahir dari latarbelakang filosofi yang berbeda, tidak bisa di otak-atik untuk menafsir bencana alam yang selalu berulang dari sepanjang sejarah dunia.


*3. CATATAN AKHIR*

Bencana adalah bencana. Tidak bisa kita menyederhanakannya dalam perspektif yang serba sesisi. Kita bisa belajar dari filsafat Hindu, Tuhan dalam manifestasi "Siwa"-Nya sebagai pelebur (pralina) justru sedang mendaur-ulang ciptaan-Nya. Semua ciptaan tunduk pada "rta" atau hukum abadi dalam kendali-Nya, yaitu hukum tumbuh, kembang dan musnah. Jika alam semesta lahir dan berkembang saja, tidak pernah ada kematian, maka jagad raya ini pasti akan penuh.

Gunung meletus menelan banyak korban, tetapi juga menyuburkan tanah-tanah sekitarnya yang disiram dan dilalui oleh laharnya, dan anak-anak kita di kemudian hari yang akan menikmatinya. Tuhan tidak pernah menciptakan alam sekali jadi, dan membiarkannya berkembang sendiri di luar kendali-Nya, melainkan sebagai suatu "creatio continuo" (penciptaan terus menerus), laksana sebuah gerak dinamis tarian Siwa untuk selalu dan selalu memperbaharui semesta raya.

Jadi, dalam sederap langkah-Nya pula Sang Pencipta bisa saja menjadikan setiap bencana sebagai azab sekaligus rahmat. Bencana bukan hanya hukuman, sebab tidak membedakan siapa saja korban akibat murka-Nya dan siapa saja yang dikehendaki-Nya mati tanpa kesalahan. Ingatlah, di sana juga ada orang-orang yang baik dan tidak bersalah (minimal di mata kita) yang menjadi korban. Mungkin saja dari antara mereka adalah saudara-saudari kita yang kita cintai.

Lebih baik kalau kita renungkan, mengapa Tuhan membiarkan Ayub yang saleh itu menderita? Ketika melihat wajah Tuhan yang menyeramkan dalam gempa dan tsunami, mungkin kita ini seperti seorang awam medis melihat dokter ahli bedah dengan pisau operasi yang seakan mau membunuh pasiennya. Padahal yang dilakukan justru mau menyelamatkan pasien itu. Sang Pencipta dalam karya "creatio continuo"-Nya, mungkin harus mendahulukan keselamatan kosmis, dan sengaja melewatkan keselamatan personal ciptaan-Nya demi rancangan ilahi yang secara rinci kita tidak pernah mampu memahami-Nya.

MERDEKA !!
2018 ISCS © All Rights Reserves

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Britain's Supreme Court rules in favour of two Christian bakers

Britain's Supreme Court rules in favour of two Christian bakers source: from The Economist Magazine url:  https://www.economist.com/eras...