SEJAUH TIMUR DARI BARAT
SEJAUH TIMUR DARI BARAT
Dear readers,
Mazmur 103:12 kirḥōq mizrāḥ mimmaʿărāḇ hirḥîq mimmennû 'et-peshaʿênû
"Sejauh timur dari barat, demikian Ia menjauhkan dari kita pelanggaran-pelanggaran kita."
Sejauh apakah jarak dari timur ke barat? Jika seseorang berjalan ke arah timur, ia akan terus berjalan ke timur tanpa pernah mencapai "ujung timur." Demikian pula jika ia berjalan ke barat, ia akan terus ke barat tanpa pernah mencapai "ujung barat." Timur dan barat tidak pernah bertemu; keduanya tidak memiliki titik temu atau batas akhir.
Hal ini berbeda dengan utara dan selatan. Arah utara memiliki kutub utara, dan arah selatan memiliki kutub selatan. Keduanya mempunyai batas yang jelas. Tetapi timur dan barat adalah arah yang terus berjalan tanpa akhir.
Karena itu, ketika Alkitab berkata bahwa Tuhan membuang dosa kita sejauh timur dari barat, maknanya sangat tegas: dosa kita yang telah diampuni tidak akan pernah kembali bertemu dengan kita lagi (bdk. Yes. 43:25; Mi. 7:19). Dosa lama tidak muncul kembali, sebab sudah dibuang oleh Tuhan.
Namun, sering kali orang berkata, "Saya jatuh dalam dosa yang sama." Sesungguhnya, yang muncul bukanlah dosa lama yang sudah diampuni, melainkan dosa baru yang serupa. Akar masalahnya bukan pada dosa yang telah dibuang, melainkan pada tabiat lama yang belum disalibkan. Tabiat lama inilah yang melahirkan dosa-dosa baru yang mirip dengan dosa lama. Karena itu, tabiat lama harus dimatikan, dan tabiat baru harus terus-menerus diperbarui di dalam Tuhan.
Secara konkret, timur (mizrah) adalah arah terbitnya matahari, dan barat (ma'arab) adalah arah tenggelamnya matahari. Ini bukan sekadar keterangan geografis, melainkan gambaran perjalanan hidup manusia. Hidup manusia bergerak dari timur ke barat—dari terbit sampai tenggelam—bukan dari utara ke selatan.
Umur manusia dapat dipahami sebagai jumlah matahari terbit dan tenggelam yang ia alami. Seseorang yang berusia 20 tahun, misalnya, telah menyaksikan matahari terbit dan tenggelam sekitar 20 × 365 = 7.300 kali. Inilah perjalanan hidup. Karena itu pemazmur berdoa, "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami" (Mzm. 90:12).
Memang benar, menurut sains yang berotasi adalah bumi, bukan matahari. Namun Alkitab tidak sedang mengajarkan sains, melainkan bahasa kehidupan. Alkitab berbicara dari sudut pandang manusia tentang perjalanan hidupnya. Berapa banyak matahari terbit dan tenggelam dalam hidupmu—itulah umurmu. Hidup bergerak dari terang menuju senja. Karena itu, hiduplah dengan bijaksana.
Dengan demikian, jarak sejauh timur dari barat adalah bahasa puitis tentang seluruh perjalanan hidup manusia. Ketika Tuhan membuang dosa kita sejauh timur dari barat, artinya Ia menyingkirkan dosa dari jalur kehidupan kita, sehingga dosa itu tidak lagi menjadi bagian dari narasi hidup kita. Kita tidak lagi bertemu dengan dosa yang telah dibuang.
Makna ini sejalan dengan Mazmur 113:3:"Dari terbitnya matahari sampai kepada masuknya, terpujilah nama TUHAN." Artinya, sepanjang perjalanan hidup—dari awal hingga akhir—hidup kita harus dipenuhi dengan pujian kepada Tuhan. Pujian yang tidak ada batasnya.
Selamat Tahun Baru 2026, Selamat menghitung hari-hari Tuhan.*
Maranatha
*note: meneruskan dari seorang sahabat
Komentar
Posting Komentar