Sabtu, 17 Juni 2017

Berharga

Berharga

Teks: Yesaya 43:4
"Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu...". 

Shalom, selamat siang saudaraku. Dua hari yang lalu kami mengikuti seminar yang dipimpin oleh Pdt. Erastus Sabdono.* Tema seminar beliau kali ini sangat menarik yaitu tentang gambar diri. Berikut ini adalah refleksi saya tentang seminar tersebut.

Gambar diri
Memang menurut psikologi, gambar diri manusia adalah konsep yang berbeda antara: a. siapa diri kita menurut orang lain, b. siapa diri kita menurut diri sendiri, dan c. bagaimana diri kita sendiri yang sesungguhnya. Anda perlu tahu bahwa itu adalah konsep gambar diri yang dipengaruhi oleh humanisme.
Pdt. Erastus menekankan bahwa yang lebih penting adalah mengenali siapa diri kita menurut Allah. Menurut Kej. 1, manusia diciptakan sesuai gambar dan rupa Allah (tselem dan demuth). Maksud sebenarnya bukanlah manusia "adalah" gambar Allah, melainkan manusia diciptakan menurut Sang Gambar Allah sejati yaitu Yesus Kristus.
Demikianlah yang tertulis dalam surat Kolose dan Ibrani:

"Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan," (Kolose 1:15)

"Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi," (Ibrani 1:3)

Jika kita menyadari bahwa kita diciptakan seturut dengan Yesus Kristus, maka kita akan mulai melihat bahwa sebagai murid-murid Kristus kita juga dapat melakukan hal-hal seperti yang Yesus lakukan, dan bahkan lebih dari itu.
Yesus sendiri bernubuat untuk para murid-Nya:

"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;" (Yoh. 14:12)

Inilah sumber kepercayaan diri yang sehat, yaitu bahwa kita diciptakan oleh Tuhan untuk pekerjaan-pekerjaan hebat jauh melebihi yang dapat kita harapkan jika kita hanya mengandalkan gambar diri kita menurut orang-orang di sekitar kita. Banyak hal dahsyat yang dapat kita kerjakan jika saja kita bersandar kepada Allah, dan bukan kepada diri kita sendiri.
Percayakah Anda akan hal ini? Mari kita lihat kisah Michael Jordan, pemain bolabasket legendaris itu.

Kisah pencerahan bagi Michael Jordan kecil (3)
Berikut ini adalah sebuah kisah yang sudah sering dikutip, namun mungkin ada pembaca yang belum pernah mendengarnya.** Jadi saya mengutip lengkap di sini.
Michael Jordan, berkulit hitam, lahir pada tahun 1963, di daerah kumuh Brooklyn, New York. Ia memiliki empat orang saudara, sementara upah ayahnya yang hanya sedikit tidak cukup untuk menafkahi keluarga. 
Semenjak kecil, ia melewati kehidupannya dalam lingkungan miskin dan penuh diskriminasi, hingga ia sama sekali tidak bisa melihat harapan masa depannya.
Ketika ia berusia tiga belas tahun, ayahnya memberikan sehelai pakaian bekas kepadanya, "Menurutmu, berapa nilai pakaian ini?"
Jordan menjawab, "Mungkin 1 dollar."
Ayahnya kembali berkata, "Bisakah dijual seharga 2 dollar? Jika engkau berhasil menjualnya, berarti telah membantu ayah dan ibumu."
Jordan menganggukkan kepalanya, "Saya akan mencobanya, tapi belum tentu bisa berhasil."
Dengan hati-hati dicucinya pakaian itu hingga bersih. Karena tidak ada setrika untuk melicinkan pakaian, maka ia meratakan pakaian dengan sikat di atas papan datar, kemudian dijemur sampai kering. Keesokan harinya, dibawanya pakaian itu ke stasiun bawah tanah yang ramai, ditawarkannya hingga lebih dari enam jam. Akhirnya Jordan berhasil menjual pakaian itu. Kini ia memegang lembaran uang 2 dollar dan berlarilah ia pulang.
Setelah itu, setiap hari ia mencari pakaian bekas, lalu dirapikan kembali dan dijualnya di keramaian. Lebih dari sepuluh hari kemudian, ayahnya kembali menyerahkan sepotong pakaian bekas kepadanya, "Coba engkau pikirkan bagaimana caranya untuk menjual pakaian ini hingga seharga 20 dolar?"
Kata Jordan, "Bagaimana mungkin? Pakaian ini paling tinggi nilainya hanya 2 dollar."
Ayahnya kembali memberikan inspirasi, "Mengapa engkau tidak mencobanya dulu? Pasti ada jalan."
Akhirnya, Jordan mendapatkan satu ide, ia meminta bantuan sepupunya yang belajar melukis untuk menggambarkan Donal Bebek yang lucu dan Mickey Mouse yang nakal pada pakaian itu. Lalu ia berusaha menjualnya di sebuah sekolah anak orang kaya. Tak lama kemudian seorang pengurus rumah tangga yang menjemput tuan kecilnya, membeli pakaian itu untuk tuan kecilnya. Tuan kecil itu yang berusia sepuluh tahun sangat menyukai pakaian itu, sehingga ia memberikan tip 5 dolar. Tentu saja 25 dollar adalah jumlah yang besar bagi Jordan, setara dengan satu bulan gaji dari ayahnya.
Setibanya di rumah, ayahnya kembali memberikan selembar pakaian bekas kepadanya, "Apakah engkau mampu menjualnya kembali dengan harga 200 dolar?" Mata ayahnya tampak berbinar.
Kali ini, Jordan menerima pakaian itu tanpa keraguan sedikit pun. Dua bulan kemudian kebetulan aktris film populer "Charlie Angels", Farah Fawcett datang ke New York melakukan promo. Setelah konferensi pers, Jordan pun menerobos pihak keamanan untuk mencapai sisi Farah Fawcett dan meminta tanda tangannya di pakaian bekasnya. Ketika Fawcett melihat seorang anak yang polos meminta tanda tangannya, ia dengan senang hati membubuhkan tanda tangannya pada pakaian itu.
Jordan pun berteriak dengan sangat gembira, "Ini adalah sehelai baju kaus yang telah ditandatangani oleh Miss Farah Fawcett, harga jualnya 200 dollar!" Ia pun melelang pakaian itu, hingga seorang pengusaha membelinya dengan harga 1.200 dollar.
Sekembalinya ke rumah, ayahnya dengan meneteskan air mata haru berkata, "Tidak terbayangkan kalau engkau berhasil melakukannya. Anakku! Engkau sungguh hebat!"
Malam itu, Jordan tidur bersama ayahnya dengan kaki bertemu kaki. Ayahnya bertanya, "Anakku, dari pengalaman menjual tiga helai pakaian yang sudah kau lakukan, apakah yang berhasil engkau pahami?"
Jordan menjawab dengan rasa haru, "Selama kita mau berpikir dengan otak, pasti ada caranya."
Ayahnya menganggukkan kepala, kemudian menggelengkan kepala, "Yang engkau katakan tidak salah! Tapi bukan itu maksud ayah. Ayah hanya ingin memberitahumu bahwa sehelai pakaian bekas yang bernilai satu dolar juga bisa ditingkatkan nilainya, apalagi kita sebagai manusia yang hidup? Mungkin kita berkulit lebih gelap dan lebih miskin, tapi apa bedanya?"
Seketika dalam pikiran Jordan seakan ada matahari yang terbit. Bahkan sehelai pakaian bekas saja bisa ditingkatkan harkatnya, lalu apakah saya punya alasan untuk meremehkan diri sendiri?
Sejak saat itu, dalam hal apapun, Michael Jordan merasa bahwa masa depannya indah dan penuh harapan. Potensi diri kita begitu besar, jangan dipandang kecil hanya karena kita terlihat lecek, kumal, dan belum "diasah". Tetaplah berusaha dan teruslah mengasah kecerdikan dalam melakukannya.

Berjalan dengan iman
Ortberg menulis buku yang sangat inspiratif tentang bagaimana kita bisa belajar berjalan di atas air.(4) Ini hanya mungkin jika kita belajar melangkah dengan iman, atau lebih tepat lagi: berjalan menurut roh.
Dalam hubungan ini, Pak Erastus menyampaikan hal yang menarik, yaitu Roma 8:1

    1  "Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.  
    2  Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. "

Alkitab versi KJV hanya berhenti di sini, tapi teks asli dalam Yunani Koine menambahkan frase tambahan yang artinya sbb: "yang berjalan menurut roh, bukan menurut daging..." Artinya: jika Anda masih berjalan menurut daging, sesungguhnya Anda belum bebas dari kutuk (condemnation). 
Inilah kunci sebenarnya agar setiap umat percaya agar dapat melakukan hal-hal hebat seperti yang dilakukan Yesus: belajarlah untuk terus setia dan berjalan menurut roh, bukan menurut daging.

Penutup
Akhirnya, kita perlu merenungkan hal berikut: bagaimana seandainya Abraham memutuskan untuk tetap tinggal di Ur? Atau Musa tidak mau kembali ke Mesir? Atau Gideon menolak panggilan Tuhan untuk membebaskan umat-Nya? Atau Daud tetap menggembalakan kambing domba ayahnya? Atau Petrus dan para murid tetap menjadi nelayan?
Jawabnya: sejarah akan berubah dramatis jika umat percaya menolak untuk melangkah dengan iman dan mengemban tanggungjawab untuk melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan Bapa di bumi ini.
Kita mesti berdoa agar dianugerahi Bapa hati dan mata seperti Yesus:

Yoh. 4:34 
"Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya."

Yoh. 17:4
"Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya."

Bagaimana pendapat Anda?

Versi 1.0: 22 mei 2017, pk. 18:30
Versi 1.1: 24 mei 2017, pk. 11:39

*Note: terimakasih kepada bp. Pdt. Dr. Erastus Sabdono
**Note: terimakasih kepada Hadi Salis dan Mada.

Referensi:
(5) John Ortberg. Jika anda ingin berjalan di atas air, keluarlah dari perahu. Surabaya: Literatur Perkantas, 2016.
(6) Erastus Sabdono. Gambar diri. Rehobot Literature, 2017.
(7) Carl Gustav Jung. Psychology and religion. New Haven: Yale University Press, 1938.

---

Victor Christianto
*Founder and Technical Director, www.ketindo.com
E-learning and consulting services in renewable energy
**Founder of Second Coming Institute, www.sci4God.com
Twitter: @Christianto2013, Line: @ThirdElijah, IG: @ThirdElijah
***Papers and books can be found at: 
http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup http://www.mdpi.com/journal/mathematics/special_issues/Beyond_Quantum_Physics_Computation

Tidak ada komentar:

Posting Komentar