Jumat, 29 April 2016

Berkat

Shalom saudaraku,
Siang ini saya mau berbagi cerita sedikit tentang kebenaran Firman Tuhan yang baru saya dapatkan. Selama seminggu ini saya dan dua orang teman mengikuti pelatihan Baca-Gali Alkitab yang diadakan oleh Scripture Union Indonesia. Secara umum pelatihan sangat bagus dan inspiratif sampai hari ini. Dan pagi ini kami mendengar paparan Dr. Yongky Karman tentang kitab Amsal.
Topik Amsal saya kira sudah akrab dengan telinga kita, bukan? Tapi pak Yongky memberikan perspektif yang berbeda tentang takut akan Tuhan. Beliau mengatakan bahwa takut akan Tuhan itu seharusnya tidak membuat kita menghindar dari-Nya, seperti kita takut macan dan menghindari macan. Tapi yang betul seharusnya adalah hormat terhadap Tuhan.  Tapi beliau lalu membuat komentar yang menarik tentang ayat 22:4 yang bunyinya: "Ganjaran kerendahan hati dan takut akan Tuhan adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan." Komentar beliau yang menggelitik saya adalah sebagai berikut: memang dalam Perjanjian Lama, takut akan Tuhan sering dihubungkan dengan keberhasilan dalam hal materi. Namun, dalam Perjanjian Baru kita mendengar berita yang berbeda, misalnya: "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah." (Luk. 6:20) Beliau menambahkan bahwa itu sebabnya orang-orang karismatik lebih menyukai PL dibandingkan PB, karena ada janji tentang keberhasilan materi. Sayangnya beliau tidak melanjutkan komentar tersebut, yang membuat saya agak penasaran tentang hal ini.
Waktu rehat tadi, saya sempat berdialog sebentar dengan pak Yongky, dan saya menanyakan benarkah bahwa banyak kontradiksi semacam itu dalam PL dan PB? Apakah tepat jika kita mengatakan bahwa ada elemen-elemen kontinuitas dan diskontinuitas antara PL dan PB? Beliau mengiyakan pertanyaan saya tersebut: "Ya, memang ada hal-hal yang kontinu dan diskontinu antara PL dan PB. Jika dalam PL salah satu tanda orang yang diperkenan Tuhan adalah keberhasilan materi, sementara itu dalam PB tidak apa-apa menjadi orang yang miskin."
Pernyataan dalam diskusi waktu rehat ini memancing otak saya untuk mencari jawab yang jelas, sejauh manakah ada diskontinuitas antara PL dan PB? Ataukah berita Alkitab itu konsisten? 

Semoga engkau baik-baik saja
Perenungan saya mengingatkan pada salah satu ayat yang cukup terkenal di kalangan teolog karismatik, yaitu 3 Yoh. 1:2 yang bunyinya: "semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja." Kalau saya tidak keliru, ayat ini sering dikutip dan diulas oleh para teolog karismatik sebagai pendukung konsep mereka tentang janji berkat yang bersifat holistik dalam Yesus: yaitu keselamatan jiwa, kesembuhan dari sakit-penyakit, dan juga kemakmuran material. Ayat ini juga dibahas dalam beberapa buku Pdt. David Yonggi Cho, bahkan salah satu buku beliau berjudul: Berkat Tiga kali lipat dalam Yesus (Threefold Blessings in Jesus). 
Benarkah ajaran semacam itu? 
Perenungan saya selama bertahun-tahun terhadap topik ini membawa saya pada kesimpulan bahwa ide tentang berkat holistik di dalam Yesus itu tidak begitu keliru secara alkitabiah, dan David Yonggi Cho mengembangkan pemikirannya berdasarkan latar belakang Korea Selatan tahun 50an ketika terjadi kemelaratan dan keputusasaan di mana-mana akibat Perang Korea. Beliau waktu itu menghadapi orang-orang yang sengsara, dan berpikir bagaimana dapat menyampaikan berita Injil kepada orang-orang yang lapar dan menderita waktu itu? Sehingga kemudian beliau mengembangkan ajaran seperti Dimensi Keempat dan lain-lain. 
Tentunya tantangan yang dihadapi pada dekade 50an sudah berubah dan Korea Selatan kini sudah menjadi salah satu negara termakmur di dunia, sehingga seharusnya tidak perlu lagi menekankan ajaran tentang berkat holistik ayat 3 Yoh. 1:2. Jadi berita Injil mesti dikontekstualisasikan dengan problema yang dihadapi masyarakat secara riil. Pergumulan kontekstual tersebut tentu saja berbeda dengan teologi Health and Wealth yang menjadi cikal bakal dari Teologi Kemakmuran yang berkembang di Amerika Serikat lalu merambat di negara-negara lain. Dalam Teologi Kenakmuran, kemakmuran material menjadi tolok ukur satu-satunya apakah seseorang memang diperkenan Tuhan atau tidak. Mereka juga mengajarkan, bahwa jika Anda sudah bekerja keras bertahun-tahun tapi tidak berubah menjadi kaya, maka itu adalah karena Anda kurang iman. 
Kadang-kadang mereka juga mengajarkan bahwa tidak ada tempat bagi orang-orang miskin di surga, karena mereka yang tidak berhasil di dunia berarti tidak hidup sebagai anak-anak Allah. Para pendukung teologi kemakmuran juga menyatakan bahwa semakin banyak Anda memberikan persembahan kepada gereja, maka Anda akan memperoleh berkat 50 kali sampai 100 kali ganda. (Penulis bahkan pernah mendengar seorang pengkhotbah mengatakan kira-kira begini: "Setelah pulang dai ibadah ini, jika Anda sungguh-sungguh yakin dengan iman maka ATM Anda akan bertambah malam ini juga. Ada Amin saudara-saudara?")
Dari apa yang saya dengar sejauh ini, banyak jemaat yang menyukai ajaran tentang berkat lipat ganda tersebut terutama tentang janji kemakmuran material yang digaungkan oleh para pengkhotbah Teologi Kemakmuran. Bahkan di benua Afrika yang minus, gereja-gereja yang mengusung Teologi Kemakmuran di negara-negara seperti Nigeria, Kongo dan Uganda dan lain-lain cenderung berkembang lebih pesat. Lihat ref. (1), (2)

Latar belakang pemikiran
Saya memang belum mengadakan studi secara mendalam tentang latar belakang ajaran Health and Wealth tersebut,tapi sejauh yang saya ketahui ada beberapa aliran pemikiran yang mirip pesan utamanya dengan itu, antara lain:
- New Thought
- New Mind
- New Age
Salah satu buku yang bercirikan New Thought itu misalnya adalah A New Christ karya Wallace Wattles & Henry Drummond dan telah diterjemahkan oleh Anand Khrisna. (Dulu saya ada satu copy buku ini, lihat ref. (3)). Sementara buku yang mengusung New Age misalnya adalah The Secret karya Rhonda Byrne. 
Meskipun sekilas buku-buku ini cukup rasional dan karena itu sangat laris, tapi kita mesti berhati-hati karena banyak di antara buku-buku ini menggunakan trik-trik yang agak mirip dengan mantra-mantra dari zaman kuno dahulu. Intinya adalah bagaimana mencari kekayaan dan kesehatan serta awet muda melalui penggunaan mantra-mantra yang diajarkan oleh para guru yang tercerahkan. Bahkan ada buku yang berjudul: Encyclopedia of Spells (ensiklopedi mantra), lihat ref. (4).
Tanpa bermaksud menyinggung gereja-gereja tertentu, bukankah kalau kita mau jujur kita juga seringkali tergoda untuk memperlakukan doa sebagai mantra? Padahal dalam Matius 6 Yesus mengingatkan kita agar jangan berdoa secara bertele-tele. Dalam bahasa aslinya, yang dimaksud dengan ayat itu adalah berdoa dengan kata-kata tidak bermakna yang diulang-ulang terus menerus, tepatnya itulah ciri-ciri dari "mantra" (spell). Bukankah itu namanya okultisme?  Contoh praktek Okultisme modern ada banyak, saya akan berikan dua saja:
a. misalnya menggunakan nama Yahoshua atau Yeshua Hamasiah ketimbang Yesus yang lebih lazim, dengan harapan tersembunyi bahwa jika kita memanggil nama Dia dalam bahasa asli, maka doa kita akan dijawab. Bukankah itu sikap orang-orang yang mempraktekkan magi? Memang dalam kepercayaan kuno, jika kita mengetahui nama seseorang dengan benar, itu berarti kita dapat menguasai orang tersebut.
b. mengajarkan jemaat untuk menggunakan media tertentu, misalnya roti dan anggur  perjamuan kudus atau minyak zaitun yang dipromosikan bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit dan kutuk. Bahkan kalau ada toko yang seret pengunjung, cukup diolesi saja dengan minyak tertentu, maka usaha dijamin laris-manis. Ajaran seperti itu cenderung ke arah okultisme modern.

Bagaimana sikap kita seharusnya?
Ada tiga hal yang perlu kiranya ditekankan:
a. Berita PL dan PB tentang janji berkat holistik tetap berlaku, artinya tidak perlu ditafsirkan bahwa janji kemakmuran hanya ada di PL.
b. sebagai orang Kristen tentu kita mesti bersikap positif terhadap harta, artinya mamon perlu digunakan dan dikelola sebaik-baiknya untuk melayani sesama tang membutuhkan.
c. Jika Tuhan mengaruniakan Anda kemakmuran dan kesehatan, syukurilah, tapi jangan jadikan itu sebagai alasan untuk menghakimi orang lain yang tidak seberuntung Anda. Sebaliknya Anda terpanggil untuk melakukan apa yang Anda bisa untuk meringankan penderitaan mereka.

Sekian perenungan saya, kiranya dapat menolong Anda. Bagaimana pendapat Anda? 

Jika ada komentar dan saran, silakan kirim ke email: victorchristianto@gmail.com

4 Juni 2015, pk. 13:07
VC

Ref.:
(1)http://www.christiantoday.com/article/prosperity.gospel.teachings.distort.bible.says.lausanne.group/24926.htm
(2) http://www.africanglobe.net/africa/prosperity-gospel-destroying-africa/
(3) http://trueacu.com/A_New_Christ
(4) https://books.google.co.id/books/about/Encyclopedia_of_5_000_Spells.html?id=K1X3IdHjVUYC&redir_esc=y

Tidak ada komentar:

Posting Komentar