Jumat, 29 April 2016

Kristus Kosmik

Beberapa hari yang lalu kita memperingati kebangkitan Yesus Kristus dari kubur. Setidaknya ada dua makna kebangkitan yang patut kita renungkan, yaitu: makna historis dan makna kosmik. Yang penulis maksudkan dengan makna historis adalah fakta bahwa Yesus Kristus benar-benar pernah disalibkan, mati dan bangkit pada hari ketiga. Sementara itu makna kosmik kebangkitan Yesus Kristus menunjukkan bahwa Ia adalah raja di atas segala raja yang tidak dapat dibelenggu oleh maut. 

Kristologi Kosmik
Makna kosmik tersebut erat kaitannya dengan pemahaman Kristologi Kosmik yang merupakan salah satu doktrin Kristen dasar yang paling banyak diperdebatkan dalam 40 tahun terakhir. Kristologi Kosmik amat berkaitan dengan pemahaman tentang pribadi Kristus Kosmik yang bertindak sebagai figur juruselamat yang universal sekaligus inklusif. (1) Ajaran Kristologi Kosmik merupakan warisan iman dari gereja perdana, yang antara lain ditunjukkan oleh prolog Injil Yohanes (hymne Yesus) dan prolog surat Paulus kepada umat di Kolose (Yoh. 1:1-18; Kol. 1:15-20), lihat juga hymne Kristus dalam Flp. 2:6-11.
Selain itu, beberapa teks juga kerap dirujuk dari Perjanjian Lama yang mengindikasikan personifikasi Hikmat Allah, yang menyatakan keberadaan Allah dan bertindak sebagai agen Allah dalam penciptaan, dan karakter tersebut digunakan untuk Yesus. (Ams. 8:22-31; Keb. Salomo 8:4-6; Sirakh 1:4-9).
Ada juga sumber-sumber ekstra-biblikal yang bisa dirujuk, misalnya naskah Putra Allah dalam teks Qumran (Bereh di El, 4Q246). Naskah tersebut mencerminkan pengharapan mesianik mazhab Eseni yang sangat dekat dengan iman gereja perdana akan Yesus Kristus.

Beberapa implikasi
Salah satu pumpun penelitian penulis sejak 3 tahun yang lalu adalah untuk menemukan implikasi Kristologi Kosmik dalam konteks fisika dan kosmologi. Gagasan ini dipicu oleh keprihatinan penulis akan ketegangan antara sains dan teologi, setelah keduanya terpisah sejak Galileo Galilei dikucilkan oleh Gereja. Salah satu buku yang menjadi inspirasi penulis adalah karya Tollefsen yang membahas Kosmologi Kristosentris.(3)
Penelitian penulis tersebut membawa pada beberapa hipotesis, lima di antaranya akan diuraikan secara ringkas di sini:
  (a) Yesus Kristus adalah Sabda Allah yang merupakan mitra dan agen Allah dalam penciptaan. Karena sabda berarti suara, dan suara berarti gelombang dan frekuensi, maka pemikiran ini membawa pada hipotesis akan adanya jejak suara primordial pada era awal penciptaan (6). Mungkin hal ini akan dapat diverifikasi kelak oleh pengamatan radiasi latarbelakang kosmik gelombang mikro (CMBR). Lihat misalnya (8).
(b) pemikiran lain adalah bahwa gelombang dan frekuensi (elektromagnetik) sangat berpengaruh sebagai asal mula setiap kehidupan. Hipotesis ini tampaknya didukung oleh penelitian Prof. Luc Montagnier dkk tentang sifat gelombang DNA; (4)(9)
(c) pemikiran tentang sifat gelombang alam semesta juga memimpin pada model gelombang dari elektrodinamika adipenghantar (superkonduktor). Dalam ilmu fisika, yang dimaksud dengan konduktor adalah materi yang dapat menghantarkan arus listrik, sementara itu adipenghantar adalah materi yang dapat menghantarkan arus listrik dengan hambatan nol. Penelitian penulis tentang adipenghantar telah dipublikasikan di jurnal ETET tahun 2015 lalu (5);
(d) frekuensi juga dapat digunakan untuk mengembangkan terapi kanker alternatif  (7);
(e) partikel cahaya yang disebut foton juga memiliki karakter gelombang. Gelombang foton tersebut dapat dimuati informasi, dan menurut penelitian metode ini berpotensi akan dapat membawa perbaikan signifikan dalam kapasitas internet nirkabel hingga lebih dari 100Gbps (10).
Jika di antara pembaca ada yang berminat untuk mengembangkan lebih lanjut penelitian di atas, silakan menghubungi penulis melalui email: victorchristianto@gmail.com.*
Demikianlah, kiranya uraian singkat di atas berguna dalam rangka merenungkan makna kosmik kebangkitan Yesus Kristus. 

versi 1.0: 26 maret 2016, pk. 8:53
VC

*url: http://researchgate.net/profile/Victor_Christianto

Referensi:
(1) Robbyanto Notomihardjo. Kristologi Kosmik: tinjauan ulang dari sudut biblikal, teologikal dan historikal. Veritas 1/1, April 2000, 29-38
(2) Larry L. Helyer. Cosmic Christology and Col. 1:15-20. JETS 37/2, June 1994.
(3) Thorstein Theodor Tollefsen. The Christocentric Cosmology of St. Maximus the Confessor. New York: Oxford University Press, 2008.
(4) Luc Montagnier et al. DNA waves and water. Journal of Physics: Conf. Series 306, 2011. Url: http://montagnier.org/IMG/pdf/DNA_waves_and_water.pdf
(5) Victor Christianto. Evolving Trends in Engineering and Technology vol. 4, 2015. Url: https://www.scipress.com/ETET.4.1
(6) Victor Christianto. An outline of cosmology based on interpretation of The Johannine Prologue. BSMaSS Vol. 11, 2014. Url: https://www.scipress.com/BSMaSS.11.4.pdf
(7) Victor Christianto. https://www.scipress.com/IFSL.4.7
(8) Amedeo Balbi. The music of the Big Bang. Berlin: Springer-Verlag, 2008.
(9) Victor Christianto. Url: http://vixra.org/pdf/1603.0230v1.pdf
(10) Victor Christianto. Url: http://rxiv.org/abs/1603.0229

Tidak ada komentar:

Posting Komentar